05. Tanda Tanya Atas Adam

Terik matahari masih berkuasa di langit saat Sari dan Mega tiba di rumah Felix. Meski ini bukan kali pertama mereka datang, tapi tetap saja kagum. Melihat rumah Felix yang besar dan sudah berkeramik lengkap. 

Hanya saja ada yang berbeda. Mobil putih yang biasanya terparkir di depan rumah itu tidak ada di tempatnya. Rumah tertutup rapat dan tidak terdengar suara sibuk dari dalam. 

"Aku yang ketuk pintunya ya," kata Mega. Sari mengangguk setuju.

Mega pun mengetuk pintu kayu besar itu tiga kali. "Permisi, Feliiix!"

Tidak ada sahutan dari dalam. Mega mengulum bibir ke dalam sambil menunggu ada suara yang datang. Namun sampai hitungan lima, tidak ada sahutan dari dalam. Mega pun hendak kembali mengetuk pintu, namun suara tiba-tiba terdengar.

"Iya, sebentar!"

Mega tersenyum lega. Itu suara Felix.

Sari bisa mendengar suara langkah Felix mendekat. Ia menjadi sedikit lega, tidak sabar untuk menengok keadaan Felix dan memberikan beberapa buah jeruk. Kata di buku IPA, buah jeruk punya kandungan vitamin C yang tinggi. Semoga saja Felix bisa membaik setelah ini.

Pintu pun akhirnya dibuka. Menampilkan seorang Felix Wang dengan raut wajah tengil bahagia yang khas saat menganggu Mega. "Gimana? Kangen kan, gak ada—"

Felix tersentak kaget dan tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat Sari berdiri di belakang Mega. Seketika ia membanting pintu dan menguncinya rapat. Membuat Sari dan Mega terkejut melihat hal itu.

Tidak. Ini bukan perihal kalimat sapaan absurd dari Felix atau pun wajah tengilnya yang masih saja bahagia walau tak berangkat sekolah. Ini tentang wajah Felix, dengan lebam membiru penuh. Terutama di mata dan bawah tulang pipinya. 

"Lix? Kamu kenapa, Lix?" tanya Mega panik. Ia langsung mengetuk pintu agresif. "Buka dulu, Lix! Itu kenapa? HEH!"

"Pulang aja, pulang!" usir Felix berteriak dari dalam.

"Apanya yang pulang! Sini diobatin dulu itu mukanya!" sahut Mega tak menyerah begitu saja setelah diusir. "HEH ANAK SETAN, BUKA PINTUNYA! FELIX!"

Sari terdiam melihat semua ini. Mega yang khawatir dan setengah marah, dan Felix sendiri yang memilih menghindar. Semua ini bukan tanpa alasan. Kalau saja Sari tidak ada di sini, Felix akan membukakan pintu untuk Mega. Terbukti ketika Felix masih mau membuka pintu, tapi tidak saat ia melihat kehadiran Sari ada di sana.

Juga untuk luka lebam itu. Dan Felix yang masih bisa tersenyum menutupi semua rasa sakitnya tanpa bercerita. Nama seseorang langsung terlintas di kepalanya. Dan semua itu membuat hati Sari sakit.

"Ga, udah," ujar Sari pelan. "Ayo pulang aja."

"Hah!? Apanya yang pulang, orang temen kita lebam gitu, gila ya!" bentak Mega justru marah melihat Sari yang terkesan acuh dan mudah menyerah. Mega pun kembali mengetuk pintu, kali ini lebih keras lagi. "FELIX BUKA PINTUNYA!"

"Ga, udah..." kata Sari, kali ini semakin pelan.

Tapi Mega tidak menggubris sama sekali. Sama dengan Felix yang tidak menggubris Mega sama sekali. Padahal Mega tahu Felix masih ada di balik pintu.

"FELIX BUKA, GAK!? CUMA MAU DIOBATIN AJA KOK—" Mega tersentak saat Sari menaruh sekantung jeruk yang mereka bawa di depan pintu, kemudian berbalik pergi begitu saja. "Ri, mau ke mana?"

Sari diam tak menjawab dan pergi berlalu begitu saja. Ia menghapus titik air mata yang jatuh dari ekor matanya. Tanpa menggubris Mega yang makin frustasi dengan keadaan.

"Ri! Sari!"

Egois? Bukan. Mudah menyerah juga bukan. Ini hanya bentuk kekalahan Sari dari semua yang terjadi. Semua yang seharusnya tidak terjadi. Sari tahu alurnya seharusnya bukan seperti ini. Melihat Felix yang tersenyum dengan wajah penuh lebam seperti itu tidak termasuk dalam alur masa lalunya. 

Ada yang salah dari semua ini. Dan Sari pasti penyebabnya. Entah apa, dan baik secara sengaja mau pun tidak. Hanya saja Sari tahu, tatanannya bukan seperti ini.

***

"Baru pulang, Nok?"

Sari tidak menggubris ucapan ibunya dari dapur. Ia langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu rapat. Sari mengambil salah satu kertas kosong, lalu membuat sebuah garis alur dari runtutan kejadian yang ia ingat betul dalam ingatannya.

Kemungkinan besar orang yang memukuli Felix adalah Adam. Walau sangat aneh dan bertolak belakang dengan kepribadian Adam, tapi bukan berarti tidak mungkin. Terlalu kebetulan kalau Felix dan Adam sama-sama memiliki luka bekas berkelahi pada waktu berdekatan.

Adam tidak mungkin berkelahi dengan orang yang tidak ia kenal. Pada puncak kesal, Adam selalu memilih pergi dari pada berdebat. Apa mungkin Adam dirampok? Tapi kalau memang benar sebuah perampokan, kenapa sulit bagi Adam untuk jujur pada Sari sore itu?

Sari menghela napas panjang, lalu bersandar pada dinding. Ia tidak ingin menuduh, tapi kalau semua teka-tekinya ternyata berhubungan, maka Sari yang bodoh karena sudah membutakan diri. 

Sari mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Sampai Sari tiba pada baju yang sering ia pakai bernyanyi di panggung. Ah, seketika Sari teringat. Sari sudah melewatkan satu perform sore ini. Seharusnya saat ini Sari sedang bernyanyi di panggung, bukan menjenguk Felix di rumahnya. Karena itu yang Sari lakukan belasan tahun lalu.

Jadi, seharusnya hari ini Sari tidak menilik Felix.

Iya, alurnya salah di sana. Salah pada keputusan Sari yang kali ini lebih memilih persahabatan dari pada mimpinya. Karena dari Felicia, Sari sudah melihat dunia dari sisi yang berbeda. 

"Permisi, Bu Puji?"

Sari tersentak mendengar suara yang memanggil ibunya dari luar. Ya, itu adalah suara Adam yang berkunjung. 

Tubuh Sari diam membeku. Entah kenapa jadi merasa takut dengan Adam. Karena Sari tahu, pada alur yang seharusnya, Adam tidak begini. Harusnya tidak ada yang berubah dari Adam.

Tapi terbukti, seharian di sekolah tadi mereka tak bicara sama sekali. Adam yang memilih untuk mengabaikan Sari. Bersikap dingin seakan mereka adalah orang yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya. 

Sari tahu, hal itu bukan tanpa alasan.

"Oalah, Adam! Cah bagus. Sari! Sini, Nok! Ada temenmu!" seru ibu Sari.

"Mampus!" Sari mengumpat pelan. Tangannya yang mengepal itu sudah bergetar hebat, seakan tidak siap untuk bertemu Adam. Sari menarik napas panjang lalu bangkit dan keluar dari kamarnya. 

Sari berjalan ke ruangan depan dengan langkah tenang. Adam berdiri di dekat pintu dengan kaos putih dan celana hitam pendek. Di tangannya ada rantang putih, membuat bayangan Adam yang ada di depan matanya berganti menjadi film hitam putih dalam kaset rusak.

Belasan tahun lalu pada alur aslinya, ibu Sari sedang menyapu halaman ketika Sari pulang setelah bernyanyi. Sari masuk dan mendapati rantang putih yang berisi daging, dan ibu bilang itu dari ibunya Adam yang memasak daging lebih. 

"Nggak usah, Bu. Ini cuma mau ngasih ini dari Ibuk, terus pulang."

Kalimat Adam menyadarkan Sari dari lamunannya. Lamunan di mana seharusnya Sari tidak melihat Adam di sini.

Sari tahu, memang ada yang salah dengan Adam. Apalagi saat ini Adam tersenyum, dan bukan senyuman biasa. Kedua mata sipitnya itu pun ikut tersenyum. Padahal sekedar menarik ujung bibir atau berekspresi lebih pun, Adam sangat jarang. 

"Udah, gak papa. Masuk dulu, Nang. Wong ada temennya gini," ujar ibu Sari nampak ramah. "Sari di sekolah belajar tenanan to?"

"Iya, Bu." jawab Adam masih enggan masuk. "Saya pulang duluan ya, Bu. Masih harus nganter daging lagi."

"Oalah, gak bisa mampir sek ya. Ya udah sana, ati-ati, Nang. Bilangin makasih sama Ibuk ya, nanti tak balikin besok rantangnya."

Adam mengangguk singkat. Kemudian berpamitan dengan ibu Sari dan berbalik pergi begitu saja. Meninggalkan Sari dengan tanda tanya dan sisa rasa takut berserta khawatir dalam benaknya. 

Tapi Sari tahu, diam bukanlah jawaban. Sari tidak mau terus menerka-nerka sendiri. Jadi Sari menyusul Adam dengan langkah cepat. Sari menarik ujung baju Adam. Membuat Adam berhenti melangkah dan menoleh ke belakang.

"Kamu yang mukul Felix?" 

Itu kalimat tanya Sari. Langsung ke intinya.

Dan bukannya jawaban berupa 'iya' atau 'tidak', Adam justru diam. Namun perlahan dua sudut bibirnya naik, menggambarkan sebuah senyum. 

Ya, Adam menjawab dengan senyuman.

Sari terdiam membeku melihat hal itu. Batinnya bertanya-tanya, apa yang lucu dari memukuli Felix sampai Adam bisa tersenyum. Bahkan matanya sampai menyipit, menandakan bahagia yang dari hati. Sungguh, Sari benar-benar tidak paham.

Melihat Sari yang membeku, Adam pun melepaskan tangan Sari dari ujung bajunya kemudian berjalan pergi begitu saja. Meninggalkan Sari yang masih bertanya-tanya dalam hampa ketidakpercayaan.

***

"Dam, duluan." Sadewo keluar dari kelas sembari menepuk pundak Adam yang sedang menyapu di dekat pintu. Adam pun hanya menjawab dengan anggukan singkat karena memang hari ini jadwal piketnya. 

Sementara anak-anak lain ada yang sedang merapikan meja guru, menghapus tulisan di papan tulis, dan membersihkan jendela. Adam mengumpulkan kotoran yang sudah ia sapu, memasukannya dalam cikrak dan berjalan ke arah tempat sampah di ujung.

Ia memastikan semuanya masuk sampai cikrak kembali bersih. Namun saat Adam berbalik, Sari sudah berdiri di belakangnya persis. Membuat Adam nyaris terlonjak kaget. "Kamu—"

"Bener kamu yang mukul Felix?" tanya Sari mengulang percakapan mereka sore lalu. Adam pun terdiam melihat sorot mata Sari yang menggambarkan rasa sakit. "Apa alasannya? Kenapa harus gitu? Felix salah apa sama kamu, Dam?"

Adam mendengus kasar, membuat Sari seketika terdiam. Adam menatap Sari tajam, sejenak ia melirik sekitar. Mendapati sekolah yang sudah sepi. Kemudian tersenyum tipis dan mendekatkan wajahnya.

"Gimana, ya? Emang dia pantes dipukul, sih." jawab Adam.

Sari tersentak kecil. Tangannya mengepal erat, menahan emosi yang membara di dalam hatinya mendengar kalimat itu.

"Kenapa? Mau marah? Gak terima?" Adam tertawa pelan. Ia memundurkan diri, lalu menarik napas panjang. "Gimana, dong? Udah terlanjur kejadian."

Sari yang sudah tidak tahan langsung melayangkan tangannya ke arah wajah Adam. Tapi Adam dengan sigap langsung menahan tangan Sari sebelum mendarat di tempat tujuan. Hal itu membuat mereka terdiam dalam hening, saling menatap sengit satu sama lain.

"Keterlaluan kamu, Dam!" ujar Sari marah.

"Kenapa? Gak suka?" sahut Adam menantang.

"Gak! Aku gak suka! Minta maaf sana sama Felix!"

"Kalo gak mau gimana?"

"Kamu gengsi? Sini minta maaf ke aku! Yang penting minta maaf!"

Adam tersenyum menyeringai. Ada kekehan pelan yang seakan menertawakan Sari, lalu ia melepas tangan Sari dalam genggamannya dengan kasar. Membaut Sari termundur beberapa langkah dan hampir terjatuh.

Adam mengambil sapu dan cikrak yang tadinya ia bawa. Kemudian kembali ke kelas hanya untuk melemparkan sapu dan cikrak itu ke pojok kelas secara tidak beraturan. Membuat sisa murid lain yang sedang bersih-bersih tersentak kaget melihat Adam yang tidak biasanya marah.

Adam menyambar tasnya di atas meja lalu pergi dengan langkah berderap. Ketika berpapasan dengan Sari di lorong, Adam hanya  melirik tajam kemudian membuang muka. Namun Sari malah mengejar dan menarik kemeja Adam dari belakang.

"Aku nungguin kamu selesai piket itu cuma buat denger kamu minta maaf, Dam! Minta maaf gak!?" ujar Sari masih saja belum menyerah. 

Adam berbalik, lalu melepaskan tangan Sari kasar. "Kamu itu gak pantes punya siapa-siapa! Harusnya kamu sendirian!"

Sari tersentak kecil, tidak menduga jawaban Adam akan jadi seperti itu. Namun Sari hanya membalas dengan kekehan pelan. "Tau apa kamu? Kamu yang gak pantes punya siapa-siapa, Dam!" ujar Sari tak tertahankan hingga tak sadar ada amarah dan kekecewaan Felicia dalam kalimatnya itu. Mengingat Adam yang meninggalkan Felicia dan Zenna begitu saja.

Mendengar kalimat itu, Adam hanya menatap dingin pada Sari. Lalu ia berbalik dan pergi begitu saja. 

Tipikal Adam. Adam yang selalu pergi ketimbang berdebat. Sari tahu, Adam yang ia lihat di depannya ini benar-benar Adam Adijaya. Lalu siapa yang memukuli Felix?

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status