CEO Cassanova & Pelakor
CEO Cassanova & Pelakor
Author: Rindu Rinjani
Life of A Cassanova

Mobil sports hitam itu berhenti di sebuah pub, seorang pria blasteran tampak memperbaiki tatanan rambut dan juga kerah bajunya. Kemudian menyerahkan kunci mobil pada petugas vallet parking. 

Dengan penuh percaya diri, ia berjalan memasuki pub langganannya. Membalas sapaan petugas keamanan yang mengenalnya dengan sedikit senyuman. Kemudian perhatiannya teralihkan pada dua orang gadis greeter yang mengenakan celana super pendek dan nyaris mempertontonkan pantatnya.

"Hai Darell!" sapa salah seorang dari mereka.

"Oh hai, kamu mmm,-" Darell mengayun-ayunkan telunjuknya sambil mencoba mengingat siapa nama gadis itu.

"Aku Vero, sudah lupa ya?" tanyanya dengan manja.

"Ah maaf-maaf aku banyak tekanan hari ini, pekerjaan hari ini benar-benar membuatku pusing," balas Darell berbohong.

Tentu saja Darell tak ingat siapa nama perempuan itu. Terlalu banyak perempuan yang menghabiskan waktu semalam di atas ranjang dengannya. Namun harga dirinya terlalu tinggi untuk mengatakan yang sebenarnya. Bagaimanapun juga ia harus terlihat sempurna di mata perempuan.

"Teman-temanku sudah masuk Vero?" tanyanya.

"Ya, tadi aku lihat Bastian dan Rio di dalam, juga dia," balas Vero dengan sedikit ketus saat mengucapkan kata dia.

"Dia siapa?" 

"Yah, lihat saja sendiri," jawab Vero sedikit acuh.

"Hmm rupanya dia cemburu. Ha ha Vero sayang kau tahu aku senang melihatmu cemburu, tapi hubungan kita sudah berakhir. Hanya sebatas percintaan semalam di atas ranjang," batin Darell sambil tersenyum tipis.

Pria tiga puluh tahun itu pun mencubit hidung Vero yang tak terlalu mancung lalu menggodanya, "Kamu cemburu ya? Makin imut deh kalau gini."

Darel kemudian berpamitan untuk masuk ke dalam sambil merangkul Vero dan tangannya sedikit nakal. Mengelus bongkahan pantat gadis greeter itu dengan cepat kemudian berlalu sambil melirik gadis greeter lain yang berdiri di seberang Vero.

"Tak lama lagi giliranmu," Darell berkata dalam hati.

                                                                                              ***

Iringan musik R&B menggema seantero ruangan. Sosok berjas biru navy yang senada dengan celana panjangnya melangkah sambil memasukkan tangannya ke dalam saku.

Melangkah tanpa mengindahkan sisi kanan kirinya seolah sudah tahu tempat duduk yang tersedia untuknya. Sebagai member VIP tentu saja membuatnya mendapatkan tempat khusus, begitu juga dua orang temannya.

Seorang pria berkacamata melambai ke arahnya dan disambut dengan senyuman. Ia pun mempercepat langkahnya menuju tempat duduk VIP.

"Hei Bro, kirain gak datang," sapa seorang yang berkacamata.

"Gak mungkinlah gue gak dateng, Rio," jawabnya sambil menghempaskan tubuhnya pada kursi, menyandarkan tubuh. 

"Habisnya loe lama banget baru ke sini Rel!" tegur salah satu temannya yang berambut nyaris plontos, Bastian.

Darell tersenyum penuh kebanggaan sambil memperhatikan kedua sahabatnya Bastian dan Rio. Mereka berdua teman kuliahnya saat menempuh pendidikan di Columbia University, New York.

"Gue ditahan Evi di tempat dia Man," balas Darell sambil menjentikkan jari ke arah waitress dan memesan bourbon whiskey.

Rio dan Bastian pun tertawa mendengar jawaban Darell. Mereka sudah paham dengan maksud Darell ditahan di tempat dia. Apalagi kalau bukan diajak berhubungan badan.

"Ha ha ha, apa dia menyenangkan?" tanya Rio.

Dengan tenang Darell menjawab, "Hell, she got a nice ass to grab." 

Darell pun menegak minuman yang tadi dipesannya. Kemudian mengayunkan telapak tangannya seolah sedang memukul sesuatu.

"Ulala, loe main belakang bro!" ledek Rio.

"Gila aja, gue masih waras man, yang depan lebih enak," balas Darell.

Bastian yang sedari tadi diam tiba-tiba angkat bicara, "Loe gak lupa pake pengaman kan?"

"Jelas lah. Pengaman adalah barang yang wajib ada dalam dompet gue, gak tahu lagi kalo loe Bas," Darell balas meledek dan tercipta tawa membahana di antara mereka bertiga.

Diantara ketiganya Bastian bisa disebut paling alim. Dia yang paling menjaga komitmen jika berhubungan dengan seseorang.

"Ya kalo gue kan main cuma sama cewek gue bro! Gak perlu lah pake-pake pengaman."

"Gak asik loe ah, sekali-sekali loe mesti coba, tuh mumpung banyak cewek-cewek sexy," bisik Rio sambil menunjuk ke arah lantai dansa.

"Bodo ah, mending loe liat ke sana deh Rel, ada yang merhatiin loe dari tadi!" seru Bastian melirik ke samping.

Seorang gadis dengan dress halterneck berwarna merah maroon. Satu tangannya memegang minumam pada gelas berkaki. Sejak tadi ia melirik genit ke arah Darell.

Garis senyuman terkembang sedikit di wajah Darell kemudian ia memanggil waitress kembali.

"Cosmopolitan, untuk perempuan di sana!" pinta Darell sambil menunjuk ke arah perempuan yang meliriknya dan memberikan sejumlah uang pada waitress.

"Ambil kembaliannya!" tambah Darell.

"Terima kasih bos," jawab waitress itu berlalu.

Tak perlu menunggu lama, perempuan itu pun berjalan berlenggak-lenggok ke arah Darell dan kedua temannya. 

"Permisi," tegur perempuan itu sambil meletakkan gelas minuman pemberian Darell.

Sontak tiga laki-laki itu menoleh ke arahnya dan menghentikan pembicaraan mereka. Sepertinya gelas yang diletakkan di meja lah yang telah mengusik mereka bertiga, karena suaranya cenderung lirih di tengah-tengah hingar bingar musik.

Mata Darell mulai nakal, memandangi perempuan itu dari atas ke bawah. Dilihat dari kulit tubuhnya yang masih mulus dan kencang, perempuan ini usianya masih kepala dua. 

"Bisa kubantu, Nona," sapa Darell yang sudah berdiri di hadapannya agar dapat melihat wajah perempuan itu lebih dekat.

"Maaf, apa loe yang kirim minuman ini buat gue?" 

"Ah iya Nona, maaf apa ini bukan minuman favoritmu?" tanya Darell sambil menatap tajam dengan tatapan yang menghipnotis. Siapapun takkan mampu menolak tatapan mata tajam dari Darell dan tak lama kemudian pasti akan jatuh ke pelukannya.

"Suka koq, gue di sini mau ngucapin makasih," jawabnya kemudian mengulurkan tangan.

"Gue Reta," tambahnya sambil mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Darell.

"Darell, dan ini temen gue Bastian dan Rio," balas Darell, namun Reta terlihat tak terlalu merespon sapaan Bastian dan Rio yang melambai ke arahnya.

Darell pun mengundang Reta duduk di sebelahnya. Tentu saja Reta begitu senang sampai-sampai ia menempelkan tubuhnya. Gadis itu terlihat sangat manja pada Darell, dan tentu saja hal ini tak akan disia-siakan oleh Darell.

"Loe keliatan capek Reta, balik yuk, sama gue," ajak Darell menggandeng tangan Reta.

"Ayo, loe temenin gue pulang ke kos an gue ya," Reta mulai merajuk sambil melingkarkan tangannya pada lengan Darell.

"Iya, masa tega sih gue liat cewek secakep loe naik taxi malem-malem," balas Darell diselingi rayuan.

Sambil merangkul Reta, Darell pun berpamitan pada kedua temannya. Berdua mereka berjalan menuju pintu keluar. Mereka pun menunggu petugas vallet menyerahkan mobil Darell.

Reta, dia sama seperti perempuan-perempuan yang dikencani Darell. Selalu saja tak mampu mengedipkan mata ketika melihat penampakan mobil Darell yang mewah.

"Ini mobil loe?" tanya Reta.

"Iya."

Darell membukakan pintu untuk Reta sebelum ia duduk di bangku kemudi. 

"Biar gue bantu pasang seatbeltnya!" tawar Darell tanpa menunggu persetujuan Reta. 

Wajah mereka nyaris bersentuhan dan membuat jantung Reta berdegup kencang, terlebih saat Darell menghembuskan napas di telinganya. Gadis itu pun memejamkan kedua matanya sejenak. Darell tentu paham apa yang dirasakan oleh Reta sekarang.

"Loe masih bisa tunjukin gue jalan ke kos an loe kan?" tanya Darell.

"Iya gue bisa, gue tinggal di kos Anyelir deket City Mall," jawab Reta.

"Oh di situ, iya gue tahu tempatnya."

Kos Anyelir memang salah satu hunian kos mewah di Ibukota. Kebanyakan yang tinggal di sana adalah karyawan dengan gaji lima belas juta ke atas atau mahasiswa yang orang tuanya kaya raya. 

Beberapa bulan lalu Darell beberapa kali datang ke Kos Anyelir lantaran salah satu pacarnya tinggal di sana. 

Darell kemudian memacu mobilnya menembus jalanan Ibukota. Sesekali tangan kirinya mengusap paha Reta yang terbuka. Reta pun tak keberatan dengan itu, malah kadang balas mengusap paha Darell.

Sengaja pria bermata hazel ini menghabiskan malamnya di tempat perempuan atau hotel. Bagi cassanova sejati sepertinya pantang untuk membawa perempuan ke rumahnya. Tak seorangpun perempuan boleh mengetahui dimana tempat tinggalnya, kecuali perempuan yang berhasil menghilangkan sifat playboynya dan entah berapa tahun lagi itu terjadi.

                                                                                      ***

Darell mengusap kedua matanya dan segera bangun. Gadis di sampingnya masih tertidur pulas. Sejenak Darell mengintip ingin mengetahui seperti apa wajah asli Reta. Tanpa polesan make up tebal dan berada dalam pencahayaan yang cukup.

"Huft, cukup sekali saja," gumamnya setelah mengetahui seperti apa wajah asli Reta, kemudian ia beranjak mengenakan pakaiannya.

Perlahan Reta meembuka matanya dan mendapati Darell yang tengah memasang arloji di pergelangan tangannya. Dengan rambut yang masih acak-acakan gadis itu pun bangun dan mendekat ke arah Darell untuk memeluk pinggangnya.

"Sayang, buru-buru amat," tegurnya melihat Darell yang seperti tergesa-gesa.

Pria bertubuh tinggi itu hanya mengangkat pundaknya dan menepiskan tangan Reta perlahan lalu mengenakan jas nya. Dia memang terburu-buru karena pagi ini ia harus menemui Ayah dan Ibunya di kediaman mereka. Selain itu jerawat yang memenuhi wajah Reta membuatnya tak betah berlama-lama.

"Aku ada janji dengan klienku pagi ini," balasnya berbohong.

"Kerja? Di hari minggu?" tanya Reta dengan memberi penekanan pada nada suaranya.

"Klienku malam ini akan pergi ke Dubai, jika pagi ini aku tak menemuinya proyekku terancam gagal," tambah Darell.

"Tulis nomer ponselmu di sini, ntar gue hubungi!" Darell menyodorkan smartphonenya ke arah Reta dan memintanya mengisi nomornya di sana.

Dengan cepat Reta pun segera melakukan permintaan pria tampan di depannya. Secepat kilat pula ia menekan tombol call ke nomornya sendiri agar bisa menyimpan nomor Darell.

"Nih."

"Ok, Reta sayang, gue pergi dulu," pamitnya mencium pipi Reta.

"Ok, see you later, ganteng," balasnya melambaikan tangan pada Darell yang tahu-tahu sudah memegang handle pintu.

"Untung gue sempet misscall nomer gue pake HP loe, kalo nggak kan gak bakal dapet nomer loe gue. Gue dah tau akal-akalan loe Rell, pasti loe minta nomer gue tapi gak bakal pernah ngubungin gue," batin Reta.

                                                                                              ***

Darell mempercepat langkahnya menuju teras belakang rumah orang tuanya.

"Daddy, Mommy!" sapanya pada kedua orang tuanya yang tengah duduk menikmati sarapan mereka.

"Daddy kira kamu nggak datang," balas pria paruh baya berdarah Australia itu.

"Mana mungkin aku lupa," balas Darell mencium pipi Ibunya, Iswari kemudian menarik kursi di hadapan Sang Ibu.

"Hmm, sebenarnya Dad manggil kamu karena ada hal penting yang mau Mom dan Dad kabari,"James Maxwell, Ayah Darell memulai.

"Ada apa Dad? soal proyek atau Dad mau buka cabang baru?"

"Soal masa depan kamu," balas Ayah Darell.

"Oh, kenapa?"

"Kamu kan sudah tiga puluh tahun lebih, sudah saatnya menikah," Kembali Ayah Darell memulai.

Darell nyaris tersedak dan langsung mengambil air minum.

"Menikah? Oh my goodness, please Dad!" 

"Ya, dan Kirana, putri dari Oom Ridwan yang akan jadi istri kamu nanti."

"What?" protes Darell.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status