Share

3

Otomatis, badanku tiba-tiba terdiam kaku dengan tangan yang menyentuh pintu kamar, dekat toilet yang kusinggahi tadi.

Saat kepalaku berbalik, aku menjumpai lima pria yang salah satunya ada Pak Raden di sana.

"Kamu kan anaknya Pak Adibal, ngapain ke sini, Nak?" tanya Pak Raden. Perlahan kegugupan menyelimuti perasaanku, terlebih lagi keempat pria yang sedang menatapku dengan lekat dari atas sampai bawah.

"Ta-tadi saya denger orang nyanyi suaranya bagus, Pak. Jadi saya mengintip karena penasaran, tau-taunya Bapak datang ngagetin saya deh," jawabku jujur, karena kejujuran adalah kebenaran yang dapat membuat perasaanku semakin lega kemudian tapi belum bisa menghilangkan sedikit kegugupan yang tersisa.

Author Pov

"Ngomong-ngomong mamah pengen nikah lagi sama seorang duda anak satu dan ternyata dialah anaknya," sahut pria yang bernama Agam, anak kedua dari kelima saudaranya.

"Wah, cantik juga, kenapa mamah harus nikah sama bapaknya? Kalau begini Adnan enggak bisa macarin dia, nih," goda laki-laki yang bernama Adnan, Adnan ini merupakan anak yang paling bungsu.

"Anak kecil tau apa tentang pacaran?" tanya satunya lagi yang bernama August.

"Masih kecil main pacar-pacaran, tidak boleh Adnan!" tambah kakaknya yang satu lagi, bernama Adelard.

Agam yang sedari tadi memerhatikan Aristela kini mendekati gadis tersebut, semakin dekat hingga Aristela hampir terjatuh karena terus memundurkan langkah dan tanpa sadar pintu yang menjadi sandarannya terbuka akibat tidak tertutup rapat.

Seseorang yang paling digilai oleh Aristela tadi adalah Abraham, sang anak sulung dari kelima saudaranya.

Susunan dari anak Cahyani adalah. Abraham (27) merupakan anak pertama, disusul oleh Agam (24), lalu August (22) terus ke Adelard (20) dan berakhir di Adnan (17).

Sewaktu Abraham bernyanyi, pria tersebut diintip oleh Aristela dengan keadaan tidak memakai baju, hanya celana boxer yang menutupi bagian bawahnya karena kebetulan pula Abraham habis mandi di saat tersebut.

"Ada apa ini? kenapa ramai sekali?" tanya Abraham yang akhirnya keluar karena pintu kamarnya yang terbuka, tak hanya itu, pandangannya pun menyelusuri tubuh Aristela untuk mengenali siapa wanita itu.

"Lalu, dia siapa? Sepertinya Abang baru liat."

"Dia anaknya ...." Adnan berpikir keras, hingga Pak Raden yang berada di tengah mereka pun menyahut, "Anaknya Pak Adibal, calon ayah baru kalian."

Setelah Raden meneruskan perkataan Adnan, maka keempatnya pun kaget. Untuk Agam, dia tentu biasa saja karena dirinya tidak sengaja mendengar percakapan ibunya dengan seseorang tadi sore dan kalimat yang ia dengar membahas pernikahan.

"Haish ... kenapa kalian baru kaget? Terutama August, Adelard, dan Adnan, tadi Abang kan udah kasih tau pas si cewek ini tertangkap basah," ujar Agam dan ketiga adiknya hanya cengengesan.

"Shit! Kau tau dari mana Mamah bakalan nikah?"

"Tadi sore pas lagi teleponan sama seseorang, kemungkinan bapaknya si cewek itu," jawab Agam, setelah mengatakan 'cewek itu' Agam mencari-cari keberadaan Aristela, dia pun kebingungan, ke mana gadis tersebut padahal tadi dia ada di depan pintu kamar Abraham.

"Anaknya Pak Adibal sudah pergi dari tadi, kalau begitu, Bapak pergi juga yah, masih banyak yang mau saya kerjakan."

"Astaga, Bapak kenapa enggak kasih tau kami kalau dia itu lagi kabur, Pak?" tanya Agam frustasi dan Pak Raden hanya mengangkat kedua bahunya, lalu meninggalkan kelima pria itu.

Agam pun menghampiri kakaknya dan mengatakan, "Kita disuruh ke ruang tamu, kata Pak Raden, Mamah ingin membicarakan hal yang serius, kemungkinan ini akan membahas pernikahannya nanti," ujar Agam.

Abraham yang mendengarnya pun merespon, "Kalau gue setuju aja kalau Mamah menikah, apalagi Papah udah lama meninggal, kurang lebih sepuluh tahun dan kemungkinan Mamah butuh seorang suami supaya dapat dibelai-belai setiap malam jumat," balas Abraham, dan keempat adiknya tertawa.

"Gue juga setuju sih, Bang. Apa pun keputusan Mamah Adnan bakalan terima, asal Mamah bahagia aja," sahut Adnan dan mendapatkan picingan mata dari August.

"Bilang aja lo demen sama anaknya Pak Adibal."

"Iyalah, cantik gitu orangnya. Mau saudara tiri kek, gue bakalan embat."

"Ho ho ho, enggak semudah itu burung cekukur, lo enggak inget punya empat Abang?"

"Adnan ingetlah, Adnan kan punya empat Abang yang laknat, mesum pula semuanya, gue jadi ngeri."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status