11

Di rumah Fluffy, Bardolf hanya duduk di depan perapian, sembari menunggu kedatangan mereka yang pergi entah ke mana. Berjam-jam lamanya, Aponi dan peri kecil itu belum juga datang, hatinya sedikit khawatir dan berniat untuk mencari mereka.

Bardolf pun beranjak dari kursi dan menuju pintu luar, ingin meraih gagang pintu, pintu terbuka begitu saja dan menabrak wajahnya.

Di luar, Aponi mendengar sesuatu yang terjatuh, dia menengok, ternyata Bardolf terduduk di lantai dengan mengusap hidungnya yang berdarah.

"Oh, tidak. Bardolf!" khawatir Aponi, gadis tersebut merobek pakaiannya, tepat di lengan, kemudian mengusap darah di hidung pria tersebut.

"Ish, darahnya semakin merembes. Bagaimana ini?"

"Jangan banyak bertanya, lakukan sesuatu!" bentak Bardolf.

Di belakang Aponi, Fluffy menggelengkan kepalanya, dia tahu isi pikrian Bardolf yang sengaja membentak Aponi dengan tujuan untuk melukai hati gadis tersebut.

Aponi cemas, darahnya semakin banyak keluar dan membasahi lantai rumah. Fluffy mengambil alih sekarang, dicegahnya Aponi dan menyuruhnya duduk di kursi. "Turuti saja, duduk di sana!" Aponi menurut saja.

Fluffy merunduk dan menyajarkan dirinya kepada Bardolf dengan berusaha karena tubuhnya yang kecil.

"Aku tahu, seorang werewolf, memiliki kemampuan healing yang luar biasa. Jangan membuatnya cemas dan sakit hati karena balas dendammu, akan ada waktunya, kau benar-benar membutuhkannya, serigala keparat!"

Seorang Elf, berani mengatakan hal itu kepada sang alpha dan baru kali ini, seseorang berani kepadanya, kecuali orang tuanya.

Bardolf berusaha menahan gejolak emosi, wolf dalam dirinya ingin sekali mengoyak tubuh peri kecil itu, akan tetapi, tidak bisa! Karena Fluffy sudah tahu pergerakan pria tersebut sehingga menguncinya di lantai.

"Semakin kau bergerak, area yang kuhiasi dengan api, akan mengecil dan membakar tubuhmu hingga hangus dan menjadi abu. Kali ini, aku tidak menahan diri lagi."

Bardolf mengumpat, peri sialan itu memberinya batasan yang menyakitkan, bahkan hawa panas sangat terasa di sekitarnya. Di sisi lain, Aponi tida tega melihat itu, sehingga dia memohon kepada Fluffy agar Bardolf dibebaskan.

"Aku curiga kalau kau gila, Poni. Dia membencimu, kenapa kau mengkhawatirkannya?!"

"Karena aku mencintainya, itu sudah paten dalam hatiku. Walau dia telah me-reject-ku, tapi ... aku selalu berharap agar Dewi Bulan kembali menghubungkan tali takdir kami," jawab Aponi, Fluffy yang mendengar itu, tersenyum konyol dan menatap gadis di depannya dengan aneh.

"Baru kali ini, aku bertemu dengan gadis aneh bin mengherankan."

Area yang menahan pergerakan Bardolf, perlahan menghilang. Aponi berterima kasih lalu menghampiri Bardolf dan menanyakan keadaannya.

"Bukan urusanmu!"

Pria itu keluar begitu saja, meninggalkannya dengan tatapan yang kecewa. Di belakangnya ada Fluffy yang menghela napas frustasi, juga menggeram kesal. "Kenapa cinta dapat membodohi seseorang?"

Bardolf berganti shift dengan serigalanya yang bernama Wolfe. Di pertengahan jalan, dua serigala berpapasan, dia adalah ayahnya, yaitu Alaric.

Wolfe mengabaikan ayahnya dan terus berlari secepat mungkin, sedangkan Alaric, memanggil anaknya dengan auman. Wolfe tidak peduli ayahnya yang mengejar di belakang sana, semakin cepat dia berlari, semakin cepat pula Alaric mengejar hingga dia berhasil dilumpuhkan oleh ayahnya sendiri.

Alaric berganti shift ke Jeavy. Jeavy menahan pergerakan Bardolf dan bertanya padanya, "Di mana Aponi?!"

Aura alphanya begitu menguar, Wolfe sempat bergetar beberapa saat, dan semakin bergetar kala ayahnya mengilaukan mata hijaunya.

"Jangan kau ikutkan masalahmu dengan gadis kecil itu, Bardolf! Dia bukan mate-mu lagi."

"Dia mencintaiku, dan aku senang mengetahuinya. Semakin aku menyakitinya, semakin puaslah dendamku, Ayah."

"Sialan kau, deritanya deritamu juga, bodoh!"

Jeavy mencengkram leher Wolfe dengan erat, hampir membuatnya tak bernapas jika Alaric tak menegurnya dalam telepati.

"Shit! Jika kau bukan anakku, sudah kubunuh kau!"

ლ(́◉◞౪◟◉‵ლ)


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status