4 || Canggung

Rara saat ini sedang berada di dalam mobil Aldebaran. Dia tengah duduk diam sambil sesekali menoleh ke arah pria arogan itu. Suasana canggung menyelimuti, entah bagaimana dengan Aldebaran. Rara menimbang sejenak sebelum melontarkan pertanyaan yang sejak tadi mengganggunya.

“Apa aku terlihat seperti sopir pribadimu?!” tegas Aldebaran masih dengan atensinya lurus ke depan. “Aku tidak suka basa-basi,” lanjutnya lagi.

Rara menggigit bibir bawahnya. Aldebaran memang sangat tanggap. Dia bisa menebak gerak-gerik Rara. Rara sedikit membalikan badan ke arahnya.

“Kita kau ke mana? Dan pekerjaan yang Pak Al maksud itu apa?” tanya Rara sedikit ragu-ragu.

Tidak ada jawaban. Aldebaran memutar kemudi, lalu mengambil jalan lain. Alis Rara berkerut, ini jalan menuju rumahnya. Rara menoleh lagi, tidak ada penjelasan sedikit pun. Sebenarnya apa yang mau dilakukan Aldebaran. Dia ingin kembali bertanya—mengurungkan niat, menatap wajah Aldebaran dari samping membuat nyali Rara sedikit menciut. Jangan sampai  diturunkan di jalan, mengingat sifat Aldebaran yang arogan, Rara tidak mau mengambil risiko.

Rara mengalihkan pandangannya keluar. Lebih baik melihat pemandangan jalan, suasana masih tampak ramai. Akibat macet yang panjang, Rara terlambat pulang. Ibunya pasti khawatir.

Rara menarik napas kecil, dia mengusap kaca yang berembun. Pikirannya membaur bersama rinai hujan, kembali pada beberapa waktu yang lalu.

Rara melepas diri dalam dekapan Aldebaran. Aroma parfumnya yang khas membuat Rara hampir saja  terbuai.

“Ayo, Jihan. Aku akan mengantarmu pulang!” Angga menarik tangan Rara lagi.

Rara menahan langkah. Angga menoleh diam melihat Rara melepaskan tangannya dari genggaman Angga.

“Maaf, Pak Angga. Aku tidak bisa ikut pulang. Pak Al sudah berbaik hati memperkerjakan aku. Pak Angga tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diri.”

Aldebaran melipat kedua tangannya di depan dada. Senyumnya tersungging tipis menatap Angga yang tidak bisa berbuat apa pun.

“Kau tidak boleh melakukan apa pun, Al. Aku hanya mengingatkanmu!” tukas Angga.

“Kau sudah dengar sendiri. Gadis itu sudah mengatakannya dengan jelas. Lagi pula, dia tidak masuk dalam daftar wanita yang biasa kukencani. Kau tenang saja!”

“Aku juga punya pacar, Pak. Bahkan wajahnya masih lebih tampan darimu!” sanggah Rara merasa tidak terima.

“Pria itu pasti sakit mata!” cibir Aldebaran lalu berbalik masuk ke dalam kamarnya.

“Dasar ....” Rara mendesah kasar. Dia menahan ucapannya. Rara kembali merapalkan kata sabar dalam hatinya.

“Apa kau bisa tahan dengan sikap Al padamu?”

“Tidak masalah, Pak. Aku bisa menghadapinya.”

“Dia suka mengencani banyak wanita, kau jangan sampai lengah.” Angga mengulas senyum sembari menepuk bahu Rara.

“Iya, Pak. Aku akan mengingatnya.” Rara tersenyum canggung. Dia memandang punggung Angga yang sudah hilang di balik pintu.

Rara terperanjat saat Aldebaran menginjak rem mobil mendadak. Hampir saja keningnya menyentuh dashboard. Aldebaran menoleh kesal padanya. Alis Rara bertaut, melihat Aldebaran mendadak mendekatkan wajahnya.

“Apa mau aku turunkan di jalan?!”

Rara sontak menjauhkan diri. Dia meneguk ludah melihat tatapan Aldebaran berubah murka. Apa yang membuat Aldebaran begitu marah? Rara merasa bingung. Dia sejak tadi tidak melakukan apa pun, hanya duduk diam dan .... raut wajah Rara berubah. Apa dia melakukan kesalahan?

“Turun!” titah Aldebaran.

Rara melihat ke luar. Mereka berada di jalanan senggang. Rumah Rara masih sedikit jauh. Ini juga bukan jalur angkutan umur yang biasa lewat. Keadaan sekitar juga sepi, apalagi di luar masih hujan. Rara juga tidak punya payung. Masa iya dia harus pulang dengan basah kuyup dan berjalan kaki?

Rara menutup mulutnya saat suara menggelegar terdengar dari bagian dalam perutnya. Dia belum makan sejak siang. Hanya sarapan bubur tadi pagi itu pun tiga suap saja. Astaga, memalukan!

Aldebaran tidak melepaskan tatapannya sejak tadi. Tanpa tahu apa kesalahannya, Rara hanya bisa menuruti perintah Aldebaran dan segera turun dari mobil.

Baru saja satu kakinya hampir menyentuh permukaan tanah yang basah, tangan panjang Aldebaran sudah lebih dulu menahan pergerakannya dengan menarik ujung lengan kaos Rara. Dia bahkan enggan menyentuh lama-lama. Secepat mungkin Aldebaran menurunkan tangannya. Rara menoleh kaget dan mengangkat kakinya kembali.

“Ada apa, Pak?” tanya Rara bingung.

“Tutup pintunya!”

Rara mengangguk pelan. Dalam hatinya dia berucap syukur. Setidaknya Aldebaran tidak sekejam itu.

“Aku sejak tadi bertanya di mana rumahmu? Apa karena lapar sampai telingamu tidak berfungsi dengan baik?!” Aldebaran kembali melanjutkan perjalanan.

Kata-katanya selalu saja kasar! Tapi memang benar aku lapar sekali. Aku juga tidak mendengar karena membayangkan kejadian tadi, batin Rara.

“Pak Al mau ke rumah aku? Bukankah tadi katanya masih ada pekerjaan?!”

“Lanjutkan besok pagi. Hari ini sudah cukup!”

Rara berkomat-kamit tidak jelas. Sikap pria arogan itu benar-benar susah ditebak. Sering sekali membuat Rara kesal. Benar kata Angga, apa mungkin Rara bisa menghadapi sikap arogannya itu?

“Belok kanan, Pak!” Rara berseru setelah hampir saja mobil Aldebaran berbelok ke arah lain.

“Maaf, Pak,” katanya lagi.

Rara memperbaiki posisi duduknya. Dia mengulum bibir melihat lirikan maut dari Aldebaran seperti akan menerkamnya.

“Berhenti di sini, Pak!”

Aldebaran menghentikan mobilnya. Dia memandangi rumah Rara yang sangat sederhana. Rara melepas sabuk pengaman lebih dulu. Hujan juga tampak mulai reda.

“Ambil ini!” Aldebaran menyodorkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu.

“Untuk apa, Pak?”

“Hasil kerjamu hari ini!”

Rara menggeleng pelan. “Aku tidak bisa menerima sebanyak ini, Pak.”

“Ambil atau kau bisa cari pekerjaan lain!”

Rara terdiam. Ancaman Aldebaran membuat Rara tidak ada pilihan lain. Itu uang yang cukup untuk membeli obat ibunya.

“Terima kasih, Pak. Aku pasti akan bekerja dengan baik!”

Tidak ada tanggapan. Seperti biasa—acuh dan dingin.

Rara lantas turun. Dia melambaikan tangannya melihat mobil Aldebaran yang memelesat pergi.

Rara mendadak terdiam di tempat saat melihat Ivan—kekasihnya berjalan ke arahnya.

“Apa itu yang kaulakukan di belakangku?!” sentak Ivan memegang satu tangan Rara yang menggenggam uang pemberian Aldebaran.

Rara menyentak tangan Ivan. “Aku tidak seperti apa yang kau pikirkan!”

“Siapa pria yang mengantarmu pulang dan uang apa itu?!” Ivan menatap penuh selidik.

“Aku bekerja dengan pria itu. Ini upahku hari ini!” Rara memalingkan wajah—marah.

“Kata ibumu kau bekerja sebagai OB di perusahaan?”

“Tidak lagi. Aku bekerja sebagai asisten pribadi pria tadi.” Rara masih enggan menatap Ivan.

“Rara! Uhuk ... uhuk ....” Nirmala berjalan sedikit membungkuk, tangannya menumpu pada dinding yang terbuat dari kayu itu.

“Ibu!” Rara berlari kecil ke arah Nirmala.

“Kenapa baru pulang? Bukankah kata Rara pulangnya jam lima?” Nirmala lantas menoleh ke arah Ivan yang mendekati mereka.

“Nak Ivan sudah menunggu dari tadi,” kata Nirmala lagi.

Rara menoleh kesal. Dia masih marah dengan Ivan yang tidak ada kabar seminggu lebih. Bukankah wajar jika Rara bereaksi seperti itu?

Ivan mengulas senyum manis. “Tidak masalah, Bu. Aku juga belum lama menunggu.”

Rara tahu itu pengalihan suasana hanya untuk merebut perhatian Nirmala. Entah mengapa, Rara merasa hubungannya dengan Ivan tidak seperti dulu lagi.

“Kita masuk, Bu. Di luar dingin,” ujar Rara merangkul bahu Nirmala.

Setelah berganti pakaian, Rara menemui Ivan yang duduk di depan rumah. Teras rumah Rara yang berukuran kecil. Hanya ada bangku panjang yang terbuat dari bambu. Sekeliling hanya dipenuhi pohon pisang dan kebun kecil yang dibuat Rara untuk bercocok tanam.

“Ke mana saja kau selama seminggu?” tanya Rara tanpa basa-basi.

“Aku sibuk kerja di luar kota!” jawab Ivan lembut. Dia memegang kedua tangan Rara. “Apa kau marah padaku?”

“Tentu saja! Kau tidak memberikan kabar selama seminggu lebih. Ponselmu juga tidak bisa dihubungi!” Rara merengut.

“Maaf, aku terlalu sibuk sampai tidak sempat mengabarimu. Aku janji tidak akan melakukannya lagi, karena sekarang aku sudah menetap di sini,” terang Ivan sembari mencium punggung tangan Rara.

“Apa aku masih satu-satunya perempuan di hatimu? Kenapa rasanya hubungan kita seakan menjauh? Kehadiranmu bahkan tidak membuatku merasa berdebar seperti sebelumnya,” ungkap Rara. Dia menunduk menatap fotonya bersama Ivan yang dijadikan wallpaper layar ponsel.

Ivan menarik Rara dalam dekapannya. “Jangan berkata seperti itu. Kau satu-satunya di hatiku. Kali ini aku akan selalu berada di sisimu.”

Rara melepas pelukan Ivan. Dia menatap lekat wajah kekasihnya itu lalu menaruh kepalanya di bahu Ivan.

“Kau tahu, aku selalu percaya padamu.”

 “Ya, aku tahu itu.” Ivan menggenggam tangan Rara. []

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status