Clarity of Love (Indonesia)
Clarity of Love (Indonesia)
Author: Liliay
Prolog

Embun menuruni tangga kampus dengan terburu-buru. Ia beberapa kali menampar pipinya sendiri karena merasa bersalah. Embun sudah janji pada pacarnya kalau dia akan menonton pemuda itu tanding basket. 

Tapi lihatlah dirinya, ia keasikan menulis sampai lupa waktu. Kalau saja Fahra tidak mengingatkan maka sudah pasti Embun akan kena amuk nanti. 

Embun menyentuh lututnya, napasnya terengah-engah. Pertandingan basket sudah selesai, orang-orang mulai meninggalkan bangku mereka. Embun mengumpat kesal. 

"Mati deh gue." 

Embun melihat para pemain yang mulai memasuki ruang ganti. Embun berlari menghampiri seorang pemuda dengan bandana hitam di dahinya. 

"Dit, Kaivan mana?" 

Radit yang di hampiri mendengus. "Dit siapa? Panggil gue kakak, gue kating njir!" 

Embun menjilat bibirnya, ia menyentuh dahinya yang berkeringat. "Serah dah, mana tuh anak?" 

"Elo gak lihat pertandingan lagi ya? Wah parah, bisa ngamuk tuh bocah entar." Radit benar, sudah dua kali Embun melewatkan pertandingan Kaivan. Ini menjadi yang ketiga kalinya. 

"Iya, jawab gue ih. Dia kemana?" 

"Dia di klinik kampus, cidera dia." 

Embun membulatkan matanya. "Kok tumben dia cidera?" 

Radit menjitak kepala Embun dengan gemas. "Musibah gak ada yang tahu. Samperin gih, sebelum di samperin cewek lain." 

Embun meniup poninya. Ia teringat satu orang cewek jelmaan kuntilanak yang selalu mengganggu ketenangan hubungannya. Embun tidak bisa membiarkan kuntilanak itu mendekati pangeran pujaan hati. 

Embun berlari ke klinik dengan cepat, ia menabrak beberapa orang yang berjalan di depannya. But, Embun don't care. Jangan sampai si nenek lampir ada. Sial! Nenek lampir ada ternyata. 

Embun menyipitkan mata kemudian mengucek matanya. Ia tidak salah lihat, 'kan? Kaivan sedang berciuman mesra di atas kasur klinik. Embun meniup poninya, ia masuk dengan kasar. Melihat sekeliling yang sepi, kemana sih orang yang bertugas? 

Mereka makan gaji buta, ya? 

Embun berjalan dengan aura yang mencekam. Sepertinya ciuman mereka sangat menyenangkan sampai tidak menyadari malaikat maut datang. 

Embun menendang kursi di samping ranjang, membuat keduanya membelalak kaget. Embun menunjukkan seringainya. Ia menjambak rambut Raya, memaksa gadis itu turun dari ranjang, lalu melempar gadis itu ke lantai. 

Kaivan mengerjap, terkejut sekaligus ngeri melihat Embun yang selama ini kalem dan tidak banyak tingkah kali ini menjelma menjadi singa. 

"Dasar gak tahu diri elo ya, gue udah bilang jauhi Kaivan, goblok!" 

Embun menampar keras pipi Raya sampai tangannya panas. "Sialan! Gue pingin bakar elo hidup-hidup!" 

Kaivan turun dari ranjang, ia menghampiri Embun dengan nyeri di kaki kanannya. "Embun udah, jangan mode macan gini." 

Embun mengepalkan tangannya. Pemuda di belakangnya juga salah besar. Mereka berdua salah sudah berurusan dengan Embun. 

Kaivan meneguk ludah ketika Embun berbalik dan berjalan mendekat, membuat Kaivan sendiri mati kutu. Pemuda itu berjalan mundur dengan tangan terangkat berusaha menenangkan Embun. 

"Sayang, aku bisa jelasin," kata Kaivan. 

Tapi telat, satu pukulan sudah mendarat di pipinya. 

Comments (1)
goodnovel comment avatar
kurniamamang
Can't wait for the next updates!!! This is so great! I wish you could share any social media I could follow so I can send you lots of love!!
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status