Menaklukkan CEO Narsis!
Menaklukkan CEO Narsis!
Author: Shiraa Sue
Prolog

Dari semua hal yang Darren benci adalah melihat perdebatan dua wanita dengan adegan saling jambak menjambak di depannya. Apalagi jika mereka saling menunjuk dan saling melontarkan hinaan seperti jalang, pelacur, murahan dan serentetan kata kasar lain seraya berteriak-teriak. Itu sungguh mengganggu gendang telinganya.

Meskipun Darren sudah menduga- dan berkali-kali melihat adegan yang sama, tetap saja rasa risih mengalunginya. Oh astaga, Darren tengah berada di salah satu hotel terbaiknya untuk membahas rencana peluasan resort di salah satu pulau dengan pemandangan terbaik di Kyoto, dan tentunya dengan harga yang sepadan atas apa yang akan dia dapatkan di pulau itu untuk memanjakan dirinya sendiri dan royal guest, para tamu setia yang akan mengunjungi dan menginap di hotelnya meskipun bertarif fantastis.

Semula rapatnya berjalan dengan sangat baik. dia sudah mendapatkan desain hotel yang akan dia buat, investor yang akan bekerja sama dengannya, dan sederetan keperluan kecil lainnya. Namun saat dia akan membahas harga tanah dipulau berpanorama sempurna itu, tiba-tiba saja dua orang wanita mendobrak masuk dan mengait lengan Darren tepat di depan para rekan bisnisnya dengan posesif lalu saling melempar tatapan membunuh mengibarkan bendera perang tak kasat mata.

Satu wanita berambut pirang mengait lengan kanan Darren dan satu wanita berambut red wine mengait lengan kiri Darren dengan posesif.

"Asal kau tahu bahwa aku sudah terlebih dahulu menghabiskan malam dengannya! dan aku yakin dia akan memilihku." si wanita berambut red wine berujar dengan sangat percaya diri mempererat apitan tangannya pada lengan Darren. Meskipun di awal Darren merasa bingung, kini sepertinya dia mulai mengerti maksud dari kedatangan dua wanita yang menurutnya begitu kampungan ini.

Untuk memperebutkannya, tentu saja.

"Kau mungkin berpikir bahwa kau mempunyai peluang menang lebih besar dariku hanya karena Darren bertemu denganmu lebih dahulu. tetapi asal kau tahu, jika Darren memilihmu dia tidak mungkin berpaling kepadaku!" seakan tak ingin kalah si wanita berambut pirang menarik lengan Darren mengklaim bahwa Darren hanya miliknya.

"Apa kau bilang? Dasar jalang penggoda kekasih orang!" si rambut red wine tersulut emosi dan melepas paksa apitan tangan si pirang dari lengan Darren. lalu kembali menarik Darren lebih dekat ke arahnya.

"Apa yang kau katakan? Kau menyebutku jalang? Dasar pelacur tak laku!" balas si pirang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan si wanita berambut red wine, yaitu menarik Darren ke arah tubuhnya.

"Jal-"

"Pel-"

"Dengar nona jalang dan nona pelacur, sekarang aku tengah melakukan meeting penting menyangkut hotelku, dan tiba-tiba kalian berdua datang meracau tak jelas,” Darren terlihat menarik napas sejenak "Bisakah kalian melanjutkan kicauan kasar kalian di luar ruanganku?''

Setelah kesal berada dibagian dimana dia menjadi bahan rebutan dua pelacur atau jalang menyebalkan ini, Darren memutuskan untuk membuka suara. Mengusir penyebab terhambatnya meeting penting itu segera.

"A-pa? apa kau baru saja menyebutku jalang atau pelacur?" si pirang bertanya dengan tatapan tak percaya seperti ekspresi tokoh protagonis dalam telenovela hiburan yang biasa menjadi tontonan ibu rumah tangga.

Dan demi Tuhan Darren sungguh membencinya. Wanita berambut red wine tersenyum puas seakan dia baru saja mendapatkan jackpot. Lalu dia menatap sang gadis pirang dengan tatapan mengejek.

"Sudah kubilang, kau dimata Darren tidak lebih dari seorang jalang." ledeknya mengapit lengan Darren semakin erat. Darren kini mengalihkan tatapannya pada si gadis berambut red wine dengan tatapan horor. Apakah wanita di sampingnya ini baru saja menyimpulkan bahwa Darren memilihnya?

"Sebenarnya aku juga mengatakan hal itu untukmu." jawab Darren jujur seraya berusaha melepas kaitan tangan si rambut red wine, membuat si gadis menatap speechless Darren.

"Kau tak memilihku?" tanyanya saat dia menyadari bahwa Darren memang tak berpihak padanya.

"Setelah aku mengucapkannya tadi, kau baru menyadari maksudnya? lambat sekali otakmu bekerja." ungkap Darren dengan tatapan miris. Kini di banding sakit hati, gadis itu merasa perasaan terhina yang amat dalam.

"W-what? katakan kau bercanda! kau memilihku kan?" ucapnya dengan nada memaksa seraya menggoyangkan lengan kekar Darren.

"Demi Tuhan! aku bahkan tak mengenalmu, bagaimana aku bisa memilihmu?" ungkap Darren terlihat sedikit frustrasi. dia sudah membuang banyak waktu percuma karena dua wanita asing ini, bagaimana dia tidak frustrasi?

"Aku Yuri! pasanganmu ke pesta Jack dua bulan yang lalu." Gadis menatap Darren kecewa.

"Maaf tetapi aku tidak ingat. dan kau-" jawab Darren cepat seraya menunjuk gadis berambut pirang yang hendak membuka mulutnya untuk menanyakan apakah Darren mengingatnya.

"Aku juga tidak mengenalmu, kalian mungkin salah orang. maaf aku tak punya banyak waktu. bisakah kalian pergi sekarang?" pinta Darren lalu melepas kaitan tangan wanita tadi sedikit kasar.

"T-tetapi Darren," sanggah si pirang kembali hendak meraih tangan Darren, namun belum sempat dia melakukannya dua orang body guard menariknya keluar dari ruangan itu secara paksa.

"SIALAN KAU DARREN!" teriak si gadis pirang tak terima. sementara si gadis berambut red wine hanya bisa berjalan ke arah Darren yang tengah merapikan jasnya dan hendak kembali pada meja meetingnya sebelum dengan gerakan cepat gadis rambut merah anggur itu melayangkan tangannya menampar pipi kanannya dengan keras terhempas ke samping kanan. Bunyi tamparan itu membuat seisi ruangan hening seketika.

"Bajingan kau Darren! Aku sumpahkan kau akan dipermalukan oleh orang yang kau cintai! Kau akan merasakan malu seperti yang aku rasakan sekarang!" ungkapnya lalu tanpa menunggu body guard Darren menyeretnya lebih jauh, gadis itu berjalan pergi mengentakkan kakinya dengan kasar melampiaskan kemarahannya.

Darren hanya bisa memegang pipi kanannya yang terasa perih dan panas. Ia sebenarnya bisa saja balas menampar jalang bernama Yuri itu. tetapi tak mungkin dia menampar wanita di depan investor dan rekan kerjanya bukan? Dia tidak akan mempertaruhkan citranya hanya demi membalas tamparan itu.

Darren kembali merapikan dasinya lalu tersenyum ke arah peserta meeting yang menatapnya dengan tatapan tak enak. Cih dia benci dilihat seperti ini, tetapi dia akan berusaha tak peduli. Bukan Darren Williams jika dia tak profesional bukan?

Darren menghembuskan napas tenang. Setidaknya dua wanita penyihir itu sudah pergi dari ruangan ini, sekarang dia bisa kembali melanjutkan meetingnya yang teramat penting. Darren mengeluarkan segaris senyum profesionalnya lalu hendak kembali menghampiri meja meeting.

"Sampai di mana kita tad-"

"Aku mencari yang namanya Darren William Sirius, dimana dia?" ucapan Darren terpotong saat dia melihat seorang gadis berambut hitam di ikat satu tiba-tiba menerobos masuk ke ruangannya dengan tatapan tajam seperti seseorang yang hendak menagih utang. Darren terdiam, seraya menatap lelaki paruh baya yang terduduk di kursi utama meja meeting tengah menatapnya tajam.

"Kau mencari masalah dengan  wanita mana lagi Darren?"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status