Athena

De Lange Corp, Dua Tahun Yang Lalu...

Sorot matanya yang lembut, serta lengkung senyum tipis di bibirnya itu membuatku meleleh. Sejujurnya, ini pertama kalinya aku bertemu dengan orang setampan dia, tetapi...

"Aku tahu," katanya, suaranya serak seperti derak es di danau musim dingin. "Ya, aku sangat tahu bahwa kita baru bertemu dua jam yang lalu," lanjutnya. Ia mencondongkan wajahnya ke wajahku, lalu memicingkan matanya seakan tengah mencoba mengulik sesuatu dibalik mata hijauku.

Aku menundukkan wajah, tak berani membalas tatapannya. Aku terlalu malu. Jantungku berdegup kencang. Belum pernah ada lelaki yang menatapku sebagaimana ia menatapku. Seintens ini. Setajam ini.

"Tapi cinta bukan tentang siapa yang lebih lama bersamamu." Setelah cukup lama mendiamkanku, pria bermata cokelat terang itu mulai berfilosofi. Aku ingin membalas, namun meskipun begitu banyak kata-kata berkeliaran di kepalaku, bibirku kelu. Akhirnya tak ada apapun yang keluar dari mulutku kecuali uap napas putih dingin.

"Cinta, sayang, cinta selalu tentang siapa yang paling berkesan buatmu," lanjutnya, membuatku merasa sedikit tersipu malu karena ia mengatakan "Sayang". Melihatnya melihatku, memindai tubuhku saja sudah membuatku merasa sangat perempuan. Apalagi ini.

Betapapun, aku harus mengendalikan diri. Aku menarik napas, lalu menegakkan kepalaku.

"Benarkan? Cinta selalu tentang siapa yang paling berkesan bagimu?" Pria itu terus berbicara. "Kau boleh mengenal seorang pria seratus tahun lamanya, tetapi kalau dia tidak cukup kuat menggenggam hatimu, maka ia tetap saja tidak berkesan," lanjutnya terus.

"Benarkan kataku?" Kali ini ia meminta persetujuan. Aku mengangguk begitu saja bagai terhipnotis. Mungkin karena nada suaranya yang terlalu lembut, atau kalimatnya yang terlalu puitis, atau makna dalam tiap katanya yang mengandung kebenaran. Entahlah...

Udara disekitar kami terasa hangat meskipun ini musim dingin. Aku bisa mendengar hembusan angin diluar, menerbangkan salju putih. Aku juga mendengar suara percikan-percikan api di perapian yang mempertegas kesunyian diantara kami.

Setelah sempat mengangkat wajah, lagi-lagi aku tertunduk. Tapi kali ini, pria itu langsung mengulurkan jemarinya lalu mengangkat daguku, sedikit mengusapnya lembut. Deg!

Aku dan pria itu, keberadaan kami berdua hanya dipisahkan oleh meja kayu selebar satu meter. Cukup jauh untuk ia meraihku, namun itu tidak masalah rupanya. Sebab ia bisa naik ke atas meja, lalu seperti hewan buas yang menemukan daging buruannya, ia bergerak mendekat, lebih dekat, dekat dan.. deg! Ia menciumku. Pas di bibir.

Pria itu mengalungkan kedua tangannya di leherku. Sambil terus melumat bibirku, ia mendorongku ke dalam pelukannya.

"Mmmphh…" Aku berusaha melepaskan diri dari dirinya yang mencoba mengunci tubuhku. Akan tetapi tenaga lelaki itu begitu kuat, mengalahkan tenagaku yang lemah dan tidak seberapa.

Jam berdetak.

Tik! Tok! Tik! Tok!

Pria itu melumat habis bibir merah delimaku. Kemudian, ia memasukkan lidahnya dan berputar-putar di rongga mulut, menyesapi air liur dengan ganas.

"Arrgh!" Aku menjerit, merongrong ingin segera menyudahi aksi brutal ini.

Pria itu menjambak rambutku dari belakang, membuat kepalaku sontak menengadah ke atas. Dengan memburu, ia menciumi tengkukku. Napasnya keras, kasar mengenai ceruk leherku.

"Oh God, stop!" Aku mendorong pria itu menjauh. Secepat kilat aku mengelap bibirku dan menutupi tengkukku yang terbuka.

"Apa yang kau lakukan?!" Bentakku, terlanjur meledak. Pipiku merah padam. "Kau sudah gila!"

Aku terengah-engah mengatur napas. "Kau pikir aku semacam hewan buruan yang bisa kau mangsa kapan saja? Huh??"

"Ck!" Pria itu hanya menyeringai, seperti tak peduli. Ia kembali mendudukan pantatnya di atas kursi. Tangannya dilipat di atas meja. Sepasang manik matanya tak pernah beralih dariku walau sedetik.

Aku merasa ngeri dengan pria bermata cokelat ini. Sang Predator berjas hitam. Berkamuflase sebagai orang terhormat, padahal aslinya bejat. Aku bergidig membayangkan sudah berapa banyak wanita yang jadi korbannya. Sudah banyak wanita yang ia permainkan dan ia pakai, huh? Benar-benar tidak bisa dipercaya. Bahkan aku yang baru dua jam bertemu dengannya saja sudah dimangsa. Padahal aku kesini hanya untuk melamar pekerjaan.

"Kau cantik sekali, Athena," goda pria itu. Aku tak termakan pancingannya. Dengan cepat, aku beranjak dari kursi, buru-buru keluar dari ruangan namun-

"Bugh!"

Pria itu menarik tanganku sehingga aku terjatuh di pangkuannya. Secara kurang ajar, ia langsung membenamkan wajahnya di rambutku, menciumiku, memberikan bekas merah di leher.

"Argh!" Aku mengerang. Dia benar-benar hewan buas. Dan sedetik kemudian, ia menuntunku kembali duduk di kursi.

"Jangan pergi," katanya, tidak seperti menyuruh. Aku tak mengindahkan, aku mau berdiri lagi tapi pria itu menarikku lagi.

"Duduk," katanya, kini dengan nada yang sedikit keras.

"Kau mau aku ikat? Huh? Perkara duduk saja susahnya minta ampun!"

Oke, sekarang pria itu benar-benar mengancam. Aku diam tak berkutik.

Lelaki itu menyalakan lampu yang tersisa di ruangan supaya keadaan lebih terang. Nampak rambut hitamnya berkilauan tertimpa cahaya lampu, juga garis-garis wajahnya yang kuat, alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tipis. Damn! ia benar-benar memikat!

Aku merasa tercekik ketika pria itu fokus menyorotku lagi.

"Kau mau apa?" Akhirnya aku bertanya. Satu detik kemudian, aku menyesal menanyakan itu karena jawaban dari pria itu sangat…

"Aku menginginkan tubuhmu."

Damn!

"Kau pikir aku pelacur?!"

"Kau yang tanya tadi aku mau apa. Ya aku jawab saja. Aku menginginkan tubuhmu."

"Aku bertanya bukan menawarkan diri, bodoh!" Aku benar-benar kesal. Bisa-bisanya ada pria tak tahu diri semacam ini? Maka, secara kurang ajar, aku pun mengucapkan sumpah serapah untuknya. "Dasar kau lelaki buaya! Baj*ngan!"

"Sssttt!" Pria itu menempelkan telunjuknya di bibirku, menyuruhku diam tanpa komplain apapun. Aku tertekuk diam. Ia tersenyum.

"Butuh seumur hidup untuk mempersiapkan semua ini." Nah, pria itu mulai bicara filosofis lagi.

"Butuh dua jam untuk menyakinkan," lanjutnya.

"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," jawabku, tak simpatik.

"Dan butuh lima menit untuk menyampaikannya," Pria itu tak bergeming, pun tak menjawab omonganku.

"Maaf, Tuan. Aku tidak pandai menerjemahkan ucapanmu. Langsung to the point saja," aku makin protes.

"Oke to the point."

Pria itu merogoh kantungnya dan mengeluarkan sebuah cincin emas dengan berlian berbentuk bunga daisy sebagai mata cincinnya. Aku terkesiap.

"Aku tahu perempuan itu begitu berharga," jelasnya. "Dan rasanya, aku akan merasa bersalah kalau menikmati tubuhmu tapi tidak memberikan sebuah penghargaan."

Aku masih tak mengerti kemana arah pembicaraan ini.

"Aku telah mempersiapkan momen ini seumur hidupku, dan hanya butuh waktu dua jam untuk aku yakin bahwa kau adalah orangnya."

Aku mengernyitkan dahi.

"Ya, kau. Kau adalah gadis yang aku cari selama ini. You are my soulmate, my love and my life."

Aku membulatkan mataku, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Pria yang mengatakan "You are my love and my life", itu, Apakah ia adalah pria yang sama yang tadi bilang ingin menikmati tubuhku? Benarkah? Benar??

Ah, namun, betapapun, aku tetap merasa tersentuh.

Pria itu memakaikan cincin di jari manisku. Cantik sekali. Manis.

"Marry me, baby," seru pria itu, lembut sekali.

Aku benar-benar meleleh. Mataku berkaca-kaca, terharu.

"Marry me...and f*ck with me untill we die."

Aku terkejut.

Sekonyong-konyong, pria itu langsung menghambur ke pelukanku. Ia menciumiku lagi dan membenamkan diri di rambut panjang kecokelatanku.

"Arrghh!"

Aku tak mengantisipasi serangan tiba-tiba begini. Aku mengumpat berkali-kali.

"F*ck! F*ck! F*ck!"

Hah… hah… hah…

Nafas memburu. Keringat mengucur sampai lengket.

Aku bertanya-tanya apakah ada orang di dunia ini yang menikah hanya karena nafsu?

"Ayo dimana aku harus tanda tangan?"

"Apa?" Aku bingung.

Pria itu mengeluarkan buku nikah. Dan sebelum ia melorotkan celananya serta bertindak lebih jauh, ia bertanya sekali lagi.

"Aku harus tanda tangan disini?" Pria itu membolak-balik buku nikah.

"Dimana?"

"Ahh?" Tiba-tiba Aku seperti hilang kesadaran.

"Athena…" seru pria itu. Suaranya buru-buru antara khawatir dan panik.

"Aaa…aaa…aa…" Aku tergugu.

"Athena…" pria itu terus memanggilku.

"Dddii…aa…aa..aaa…"

"Athena…" pria itu memberondong memanggilku.

"Athena…"

"Athena…"

"Athena…"

"Athena!"

"Athena!!"

"ATHENA!!!"

"WHAT??!!"

Aku tersadar dari lamunanku. Hampir saja kursi yang dari tadi kududuki terjatuh. 

"Dipanggil dari tadi juga!" seru seorang pria di depanku.

Aku terbelalak mendapati Willem yang tengah melihatku penuh kekesalan.

"Kau ngapain dari tadi? Huh?!"

Astaga, jadi dari tadi aku cuma mimpi?

DMCA.com Protection Status