Share

2. Aku Mau Ketemu Lonte?!

“Kenapa kamu bisa lalai dan membuat Janu meninggal, Emir?” Sonya memperbaiki pertanyaannya yang tadi terlalu frontal.

“Sonya, aku sudah bilang sama kamu berkali-kali aku ke kamar mandi dan aku nggak tahu kalau Janu jalan balik lagi ke kolam renang,” bisik Emir menahan amarahnya akibat pertanyaan awal Sonya sembari menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya merutuki kebodohannya karena melakukan sebuah kesalahan fatal saat menjaga anak semata wayangnya yang mengakibatkan anaknya itu meninggal akibat tercebur ke kolam renang.

“Kamu ngapain di kamar mandi? Kamu ngapain sampai selama itu di kamar mandi, setengah jam Janu berjuang di kolam, Emir?!” sentak Sonya sembari menunjuk kolam renang di samping rumahnya dengan telunjuk yang bergetar akibat menahan amarah dan kesedihan.

“Aku sudah bilang kalau aku di kamar mandi, Sonya?!” teriak Emir dengan nada suara yang sama-sama tinggi, dia benar-benar tidak mau disalahkan atas kematian Janu. Ego lelakinya memaksa dirinya untuk tidak mengakui kelalaiannya dalam menjaga Janu.

Sonya dengan cepat mencengkeram kerah baju Emir dan mengentaknya dengan kasar, “Sialan kamu, Emir?! Jawab aku, kamu apa di kamar mandi?!”

Amarah Emir meledak saat merasakan cengkeraman tangan Sonya di kerahnya, “Sonya, kamu budek atau apa sudah aku jawab dari tadi kalau aku di kamar mandi?!”

“Ya, kamu apa?! Jarak kamar mandi dan kolam renang itu nggak jauh, kalau ada teriakkan atau apa pun juga pasti kamu bisa denger, Emir?!” sentak Sonya sembari menatap Emir dengan tatapan tajam, andai tatapan bisa membunuh mungkin saat ini Emir hanya tinggal nama saja.

“Aku di kamar mandi, Sonya. Kamu mau tanya sampai kapan pun jawaban aku sama, aku di kamar mandi?!” Emir mencengkeram keda tangan Sonya lebih erat lagi hingga membuat istrinya itu kesakitan.

Sonya merasakan rasa sakit di lengannya namun, Sonya menolak untuk melepaskan cengkeraman tangannya di lengan Emir. Dia butuh jawaban dari Emir apa yang sebenarnya Emir lakukan di kamar mandi sampai-sampai dia tidak sadar kalau anaknya tenggelam di kolam renang yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kamar mandi.

“Ya, kamu ngapain?! Ini Janu meninggal loh, Janu anak kita. Dia meninggal gara-gara kamu nggak becus ngejagain dia. Anak kita meninggal, Emir?!” teriak Sonya sekeras mungkin hingga seluruh uratnya terlihat di kulitnya yang putih.

“Hai ... kok jadi aku yang nggak becus? Kamu ke mana saat kejadian?” tanya Emir yang tidak mau di salahkan sama sekali atas kejadian yang membuat Janu meninggal sebulan yang lalu.

“Aku ... kamu tanya aku ke mana?” tanya Sonya sembari melepaskan cengkeramannya dan menunjuk dadanya dengan tubuh yang bergetar hebat karena menahan amarah.

“Iya, kamu ke mana? Kamu ibunya harusnya kamu yang jaga dia,” sentak Emir sembari membalas tatapan Sonya.

“Aku kerja, Emir?! Aku kerja di rumah sakit banting tulang sampai gila karena kamu yang harusnya suami aku dan yang harusnya kerja banting tulang buat keluarga ini malah nggak becus?!” teriak Sonya yang kesal bercampur marah dengan perkataan Emir.

“Aku kerja, sialan?! Maksud kamu apa aku nggak kerja?” seru Emir sembari menunjuk Sonya dengan membulatkan matanya, harga dirinya tergerus saat mendengar untaian kalimat Sonya.

“Hahaha ... kamu kerja? Mana hasilnya? Sudah hampir dua tahun, dengar Emir dua tahun kamu nggak nafkahi aku?! Kamu selalu meminjam uang untuk modal ke aku untuk membiayai semua proyek kamu. Tapi, mana hasilnya?! Mana?!” teriak Sonya sembari mendorong bahu Emir sekeras mungkin hingga membuat suaminya itu terdorong ke belakang dan menabrak dinding.

“Aku capek?! Aku lelah sama kamu, Emir?!” teriak Sonya sembari meremas rambutnya dengan kedua tangannya frustrasi.

“Kamu sangka aku nggak capek sama perempuan kaya kamu, sialan?!” teriak Emir di depan wajah Sonya membuat Sonya terkesiap dan menahan tangisnya.

“Ya udah sekarang kamu mau apa?! Mau cerai? Ayo ... cerai aku udah nggak sanggup sama kamu, sumpah yang bikin aku tahan itu Janu, sekarang Janu nggak ada aku udah nggak mau lagi sama kamu?! Aku muak?!” teriak Sonya sembari mendorong tubuh Emir berkali-kali menumpahkan segala amarahnya yang sudah Sonya pendam bertahun-tahun.

“Aku mau ceraiin kamu, dengan senang hati aku ceraiin wanita sialan nggak tahu diuntung kaya kamu, Sonya!” balas Emir sembari mencengkeram wajah Sonya yang pas di tangannya.

“Aku nggak tahu diuntung? Kamu yang nggak tahu diuntung?!”

“Hahaha ... kamu lupa, hah? Kamu lupa siapa yang biayain kamu sekolah spesialis anestesi?” tanya Emir sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Sonya dan menatapnya dengan tatapan yang membuat bulu kuduk Sonya berdiri saking seramnya. “Almarhum Bapakku?! Almarhum Bapakku, Sialan!?”

“Lepas?!” sentak Sonya sembari mendorong tubuh Emir sekeras mungkin hingga membentur dinding. “Lepasin aku, Mir.”

“Kamu mau cerai ayok, tapi, kamu bilang ke ibu aku. Bilang ke dia kamu mau cerai sama aku, bilang?!” tantang Emir yang tahu kalau Sonya sangat menyayangi ibunya seperti orang tuanya sendiri, Emir tahu kalau ibunya adalah orang yang membuat Sonya bertahan di rumah tangga bobrok ini selain Janu.

Emir membutuhkan Sonya, dia membutuhkan Sonya sebagai trophy wife miliknya. Seorang istri cantik, pintar, bisa di banggakan ke semua orang dan yang terpenting dia membutuhkan Sonya untuk mendanai semua proyek perusahaannya walaupun dia sudah muak dengan sikap Sonya yang dingin juga selalu menyalahkan dirinya atas kematian Janu, yang sejujurnya itu memang kesalahan dirinya namun, sampai kapan pun Emir tidak akan mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi saat itu.

“Bilang sama ibu?!” Emir menyusupkan tangannya ke sela-sela rambut Sonya dan menariknya ke belakang membuat wajah Sonya menengadah dan melihat Emir.

“Sakit, Emir?!” teriak Sonya yang kembali menantang Emir dengan tatapannya, Sonya berjuang menahan air matanya. Pantang baginya untuk menangis dan mengiba di hadapan suami berengseknya ini.

“Ayo ... bilang sama ibu, biar jantung ibu kumat dan masuk rumah sakit. Kamu tahu sendiri kan, apa yang terjadi kalau ibu masuk rumah sakit lagi akibat jantungnya? Ibu akan meninggal, kamu mau, hah?!” teriak Emir sembari menatap Sonya.

Sonya terdiam mendengar perkataan Emir, Sonya tidak akan sanggup melihat wanita yang sudah sangat menyayanginya itu harus bersedih dan masuk ke dalam rumah sakit akibat serangan jantung akibat mendengar kabar rumah tangganya ini. Sonya dan Emir memang menutupi kebobrokan rumah tangganya ini dari semua orang demi nama baik keluarga Emir yang mantan pejabat pemerintahan dulunya.

Almarhum ayah Emir adalah mantan anggota DPR yang sudah meninggal empat tahun yang lalu, dulu Emir bisa berfoya-foya dan mendapatkan uang dengan mudah karena dirinya selalu dimudahkan mendapatkan proyek negara berkat bantuan ayahnya, namun, semenjak ayahnya meninggal Emir sama sekali tidak bisa mendapatkan semuanya itu lagi dan mulai bergantung pada Sonya istrinya yang seorang Dokter anestesi terkenal, berprestasi dan bekerja di rumah sakit terkenal di Jakarta.

“Kamu nggak mungkin bisa nyakitin ibu, kan?” tanya Emir yang merasa sudah mendapatkan kartu as Sonya, dengan penuh kemenangan Emir melepaskan cengkeraman rambut Sonya dan mendorongnya hingga terjatuh di lantai.

“Kurang ajar kamu, Emir?!” bisik Sonya yang merasa kalah.

“Aku memang kurang ajar, tapi, aku ini suami kamu dan kamu nggak bisa sangkal itu semua?!” teriak Emir sembari berjalan ke arah pintu keluar dan membukannya.

“Mau ke mana kamu?” tanya Sonya.

Emir menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya dan menatap Sonya dengan tatapan memuakkan, “Bukan urusan kamu.”

“Emir mau ke mana kamu?!” tanya Sonya sembari berdiri.

“Bukan urusan kamu?!” sentak Emir.

“Jangan bilang kamu mau ke tempat lonte sialan itu?!” teriak Sonya.

Emir tersenyum dan berkata pelan sebelum menutup pintu kamar mereka, “Tentu, Sayang, tentu aku bakal ke tempat lonte-lonte itu. Mereka tidak cerewet kaya kamu?!”

Sonya melemparkan tatapan tajam pada Emir. Meraih vas bunga yang ada di dekatnya dan melemparkan ke arah Emir dengan geram. Sedetik kemudian vas itu hancur menghantam daun pintu yang ditutup Emir tepat waktu. Suara tawa Emir di luar terdengar menjauhi pintu.

***

Comments (19)
goodnovel comment avatar
Nietha
jangan bilang emang pas selingkuh emirnya anknya kecebur.....
goodnovel comment avatar
cutetylytis pretty
dasar biawak hidup
goodnovel comment avatar
alistebalsinchan
dendam kesumat ini sm emir
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status