Share

Bab 5

"Cukup Vano! Aku tidak mau membahas masalah ini lagi," Kenzi tiba-tiba saja menggebrak meja kerjanya.

"Berikan dia ruang untuk membuatmu percaya bahwa dia bukan wanita seperti itu, Kenzi. Beri dia kesempatan setidaknya uji coba selama 7 hari kedepan, ok?" bujuk Vano.

"Terserah kau saja!" Kenzi pun akhirnya mengalah, dia tak ingin berselisih dengan teman satu-satunya yang dia miliki itu hanya karena seorang gadis, Kenzi memilih untuk mengalah dan memberikan Freya kesempatan.

"Tapi ingat, Vano. Hanya satu minggu dan tidak lebih! Jika dia bisa bertahan dan membuktikan dia tidak seperti yang ku katakan, aku baru akan mengakuinya! Tapi jika dia berani menggoda atau bahkan memanjat ke ranjangku, kau tau apa yang akan ku lakukan, Vano!" tegas Kenzi pada Vano yang sudah merasa lega mendengar jawabanya.

"Tenanglah aku yakin, Freya tidak tertarik padamu. Apalagi setelah apa yang kau katakan tadi, dia pasti sangat membencimu," gumam Vano pelan sambil berjalan meninggalkan ruangan Kenzi dan kembali ke ruang interview untuk memberitahukan kabar baik ini pada Freya.

Saat dia kembali ke ruang interview, Freya sudah tidak berada di sana dan membuatnya bingung mencari keberadaan Freya, padahal dia sudah menyuruh Freya menunggunya di sana.

"Kemana gadis itu? Ku suruh dia menunggu, tapi dia malah pergi?" Vano pun membuka CV milik Freya yang tadi sudah di ambilnya kembali setelah dia lemparkan pada Kenzi.

"Untung saja ada nomor telefonya," Vano pun merogoh sakunya, dan menelfon nomor Freya yang tertulis di CVnya.

Freya saat ini sudah berada di luar perusahaan berjalan gontai tanpa tujuan dengan muka masam, dan sedih yang tampak di wajah cantiknya.

"Ya tuhan! sial sekali aku hari ini, masalah datang bertubi-tubi padaku, bisakah semua ini menjadi lebih buruk?!" gumam Freya sambil terus berjalan tanpa arah.

Gluduk!! Gluduk!! Gluduk!!

Seketika terdengar bunyi guntur di langit, awan mendung yang sudah sejak tadi menemani perjalanan Freya saat keluar dari perusahaan itu pun, mulai menjatuhkan rintik air hujan, membuat Freya merasakan penderitaanya benar-benar lengkap sudah.

"Apa kau sedang bermain-main denganku tuhan?? Kau bahkan benar-benar membuat penderitaanku hari ini selengkap ini?" Freya pun mencari tempat berlindung dari hujan dan memilih masuk ke sebuah kedai kopi kecil untuk sekedar berteduh, sambil memesan segelas kopi dan menghangatkan badanya yang basah karena gerimis.

"Mbak, coffee latte panas satu ya." Freya pun memesan segelas kopi, dan menunggu pesananya sambil duduk di kursi pojokan kedai itu.

Drtt ... Drtt ... Drtt ...

Baru saja duduk dan meletakkan hpnya di atas meja, benda pipih itupun bergetar dan sebuah nomor asing tampak di layar hpnya. Dengan malas Freya pun menekan tombol hijau di layar hpnya, dan menjawab panggilan orang di seberang sana.

"Halo?" sapa penelfon dari seberang sana.

"Ya halo, siapa ini?" tanya Freya.

"Ini aku, Vano yang tadi mewawancaraimu di kantor," jawab Vano.

"Oh, ada apa tuan menelfon saya?" Freya pun menanyakan keperluan Vano nenelfonya.

"Dimana anda sekarang, nona? Bisa kita bertemu sebentar?" Tanya Vano tanpa menjawab pertanyaan Freya barusan.

"Aku ada di kedai kopi dekat perusahaan, ada apa tuan mau bertemu dengan saya?" jawab Freya.

"Apa nama kedai kopinya?" Vano kembali bertanya dan tidak mengindahkan pertanyaan Freya.

"Kopiku," jawab Freya singkat.

"Tunggu sebentar disana nona, aku akan sampai kesana sebentar lagi," ucap Vano dari seberang sana dan langsung menutup telfonya begitu saja.

"Apa semua orang kalangan atas memang semuanya seperti itu? Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan dan mematikan telfon seenaknya?" gumam Freya saat Vano mematikan telfonya begiu saja.

"Ini kopi anda nona, selamat menikmati," akhirnya kopi pesanan Freya pun datang, dia menyeruput sedikit demi sedikit kopinya dan membuatnya merasa relax setelah semua kesialan yang menimpanya hari ini.

Vano pun segera keluar dari perusahaan, namun saat keluar dia baru menyadari kalau di luar sedang hujan.

"Pak satpam, apa anda punya payung?" Vano bertanya pada security di sana.

"Ada tuan Vano, Ini silahkan," Security itu pun memberikan payung miliknya untuk Vano pakai.

"Terimakasih pak, aku pinjam dulu." Vano pun segera pergi menuju ke tempat yang Freya katakan tadi, tempatnya memang tidak jauh dari perusahaan, jadi jalan kaki pun juga tidak membutuhkan waktu yang lama.

Freya yang tengah menikmati kopinya sambil memainkan hpnya itu, di kejutkan oleh Vano yang menepuk pundaknya pelan.

"Nona Freya?"

"Eh pak, anda sudah datang?" tanya Freya canggung.

"Tidak usah panggil pak panggil nama saja," ucap Vano sambil tersenyum manis.

"Tidak bisa pak, kita kan tidak saling kenal. Mana bisa aku memanggil anda hanya dengan nama," jawab Freya.

"Baiklah, kalau begitu perkenalkan namaku Reyvano William, kau bisa memanggilku Vano." Vano pun mengulurkan tanganya untuk berjabat dengan Freya.

Dengan canggung dan bingung Freya pun mengulurkan tanganya untuk menyambut jabatan tangan Vano.

"Kenapa kau tidak menungguku tadi nona Freya? Bukankah aku sudah bilang padamu, tunggu sebentar?" Vano melambaikan tanganya pada waiters.

"Tidak ada, hanya saja menurut saya itu tidak penting. Bukankah tuan Kenzi sudah dengan tegas menolak saya? Lalu untuk apa lagi saya masih berdiam diri disana?" Freya menyeruput kopinya.

"Ehmm? benar juga sih. Pertama, maafkan atas apa yang terjadi tadi nona Freya. Kenzi memang seperti itu jadi mohon di maklumi," ucap Vano mewakili Kenzi meminta maaf pada Freya.

"Anda tidak perlu minta maaf, yang seharusnya minta maaf itu dia bukan anda," Freya pun tersenyum kecut.

"Dia punya alasan sendiri, kenapa dia bersikap se keterlaluan itu jadi aku mohon padamu maafkan dia, dan aku kemari juga untuk memberitahukan kabar baik padamu nona Freya," ucap Vano yang membuat Freya tersenyum kecut.

"Berita baik? Masih adakah berita baik yang bisa ku dapat di hari yang sial ini?" gumam Freya yang membuat Vano tersenyum karena menganggap ekspresi Freya itu sedikit menggemaskan di matanya.

"Kenzi bersedia memberikan anda waktu satu minggu sebagai masa uji coba, apa kau bersedia nona Freya?" tanya Vano pada Freya yang auto membuat Freya tersedak.

"Uhuk!! Uhuk!!" Vano pun memberikan tisyu untuk Freya.

"Aku serius nona Freya,"

"Tentu saja aku setuju, aku sangat membutuhkan pekerjaan ini," jawab Freya tanpa fikir lama lagi.

"Tapi, aku bisa mulai berkerja besok kan? Aku tidak mungkin bekerja dengan style seperti ini," ucap Freya enggan sambil memandangi dirinya sendiri.

"Tentu saja nona Freya, kau bisa mulai kerja besok pagi," ujar Vano mengiyakan.

"Terimakasih banyak tuan Vano, terimakasih atas kebaikanmu," Freya pun tersenyum manis pada Vano dan membuat Vano kembali terpana.

"Tuan Vano? Tuan Vano?" panggil Freya mencoba menyadarakan Vano.

"Ah, maaf nona Freya aku jadi melamun," jawab Vano gelagapan plus malu.

"Apa kalian berdua bersaudara? Ehm ... maksudku anda dan si tuan CEO itu," tanya Freya mencoba mencari topik pembicaraan.

"What!!"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status