Share

Bab 211

Author: Rexa Pariaman
"Ewan, ikut aku ke dalam," kata Ammar sambil melangkah terlebih dahulu masuk ke ruang pendingin.

Ewan dan Jessie segera menyusul di belakangnya.

Begitu memasuki ruang pendingin, Ewan langsung melihat 12 jenazah berbaring rapi di lantai. Ada yang tua, ada juga yang masih muda. Semua jenazah dalam keadaan telanjang, jelas menunjukkan bahwa mereka telah menjalani pemeriksaan forensik sebelumnya.

"Apa kata para forensik yang memeriksa mereka sebelumnya?" tanya Ewan.

Ammar menjawab, "Ada tiga ahli fo
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Edo Edo25
kecewa kenapa dibatasi waktunya,harus nunggu sekian jam untuk lanjut membaca
goodnovel comment avatar
Ajat Sudrajat
Sangat mengasikan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1800

    Semalam berlalu.Keesokan harinya, langit tampak mendung.Sesuai waktu yang dipilih Nazar, pukul 3 sore tepat diadakan upacara perpisahan untuk Satria.Pukul 2.30 sore, lebih dari 40 ribu murid Organisasi Draken serta lebih dari 300 tamu telah berkumpul di alun-alun.Saat Ewan bertarung melawan Dewa Hyang hari itu, alun-alun hancur parah. Kirin memimpin orang-orang untuk membangunnya kembali.Di bawah tebing, didirikan sebuah aula duka. Di tengah aula duka, terletak sebuah peti mati kayu paulownia berwarna hitam pekat. Satria mengenakan pakaian hijau, wajahnya tenang, berbaring di dalam peti mati, dikelilingi bunga-bunga dan cemara hijau.Mini dan Cantika mengenakan pakaian berkabung berwarna polos, dengan ikat kepala duka, berlutut di depan peti mati sambil membakar uang kertas persembahan.Ewan, Naga Hijau, Kirin, Abyaz, Ricky, serta para pemimpin Organisasi Draken dari berbagai daerah, semuanya mengenakan pakaian putih dan berdiri di kedua sisi peti mati.Pukul 2.40 sore."Amitabha!

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1799

    Nazar melirik Ewan dan berkata, "Nggak banyak lagi, cuma belasan lembar."'Sial, masih sebanyak itu?' Ewan langsung berkata, "Begini saja, satu Jimat Pedang 400 miliar. Kamu jual semuanya kepadaku."Nazar tidak puas. "Bocah, tadi kau bilang satu triliun."Ewan berkata, "Lagi pula, Jimat Pedang sebanyak itu kamu pegang juga nggak ada gunanya. Lebih baik kamu jual padaku. Coba pikir, sepuluh Jimat Pedang kamu bisa dapat 4 triliun. Dengan uang sebanyak itu, kamu bisa makan enak, minum enak, bahkan menggoda bule."Bule? Mata Nazar langsung berbinar.Ewan melanjutkan, "Bayangkan saja, kamu berbaring di atas kapal pesiar sambil berjemur, di sekelilingmu ada sekelompok bule melayanimu.""Mereka semua berkulit putih dan cantik, bertubuh indah, mengenakan bikini dan bersandar di sisimu. Ada yang menyuapimu buah, ada yang menyuguhkan minuman, ada yang memijatmu, bahkan ada yang melemparkan tatapan manja kepadamu ...."Nazar menutup mata. Dalam benaknya sudah terbayang adegan itu. Air liurnya ham

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1798

    Nazar berhenti melangkah. Setelah semua orang pergi, barulah dia bertanya kepada Ewan, "Ada urusan apa, Bocah?"Ewan bertanya, "Kenapa kali ini cuma kamu yang datang? Di mana Samudra?""Samudra lagi berkultivasi, mengasingkan diri." Nazar terkekeh, lalu berkata, "Samudra memang pantas disebut orang suci sejak lahir. Kemajuannya sangat besar. Saat bertemu lagi nanti, dia pasti akan membuatmu terkejut.""Benarkah?" Ewan agak tidak percaya.Nazar mendengus. "Jangan nggak percaya. Setelah Samudra keluar dari pengasingan, aku bakal suruh dia memukulmu.""Asal dia bisa mengalahkanku, kapan saja aku siap," kata Ewan. Setelah itu, dia mengeluarkan sebuah kartu bank dari sakunya dan menyerahkannya kepada Nazar.Hati Nazar langsung waspada. Dia bertanya, "Tanpa alasan memberi perhatian, pasti ada maksud tersembunyi. Apa yang ingin kamu dapatkan dariku?"Ewan berkata, "Terima kasih karena beberapa hari ini kamu membantu menata aula duka untuk Sida. Uang ini adalah upah atas kerja kerasmu."Barula

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1797

    Mariadi berkata dengan nada hati-hati, "Kak, saudara-saudara lain mengalami sedikit masalah ....""Biar aku saja yang mengatakan," ujar Magana. "Kak, Makuta, Marwanto, dan Marsudi sudah mati.""Apa yang kamu katakan? Ulangi sekali lagi!" Mata Maprana membelalak. Dari tubuhnya memancar tekanan aura yang besar.Magana ketakutan hingga tak berani mengangkat kepala, tetapi dia tetap memaksakan diri berkata, "Mereka semua sudah mati.""Bajingan!" Maprana mengentakkan kaki kanannya.Bam! Lantai langsung retak.Maprana murka. "Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang membunuh Makuta dan yang lainnya? Apa mungkin Ega?"Mariadi segera berkata, "Bukan Ega, tapi Ewan."Ewan? Maprana memikirkannya sejenak dan memastikan bahwa dia tidak mengenal nama itu. Dia bertanya, "Siapa dia?"Mariadi lalu menjelaskan secara singkat asal-usul serta perbuatan Ewan. Setelah mendengarnya, Maprana menjadi sangat marah."Tak kusangka, setelah bertahun-tahun aku mengasingkan diri untuk berkultivasi, begitu keluar, be

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1796

    Ratusan kilometer jauhnya, di ibu kota.Setelah diguyur hujan musim gugur, langit tampak biru jernih, membuat hati terasa lapang.Di Kota Terlarang, di depan gerbang sebuah aula besar.Mariadi dan Magana tampak cemas. Mereka berjalan mondar-mandir, sesekali melirik ke arah pintu aula yang tertutup rapat."Kak, kita sudah di sini tiga hari. Kenapa Kak Maprana belum keluar juga?" tanya Magana pelan. "Jangan-jangan latihannya bermasalah, jadi ...."Kalimat selanjutnya tidak dia teruskan, tetapi dia yakin Mariadi mengerti maksudnya.Mariadi melotot pada Magana dan membentak, "Nggak bisa kamu bicara yang baik-baik? Sekarang ini masa penuh gejolak. Kota Terlarang nggak boleh mengalami kecelakaan apa pun lagi. Kalau aku dengar kamu bicara seperti itu lagi, nanti kupukul kamu."Magana bergumam, "Kalau semuanya lancar, kenapa Kak Maprana belum juga keluar dari pengasingan?"Mariadi menatap Magana tajam, ingin membantah, tetapi tidak tahu harus berkata apa. Mereka sudah menunggu tiga hari, tetap

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1795

    "Ada pepatah lama bilang, kesempatan nggak datang dua kali. Aku sarankan kamu manfaatkan kesempatan ini. Ayo, cepat pukul aku!" Setelah berkata demikian, Ewan menggerakkan jarinya ke arah Nazar, penuh provokasi."Kamu ini benar-benar keras kepala ya. Sudah tahu bukan lawanku, masih juga minta dipukul. Sebenarnya kamu mau apa?"Nazar memasang ekspresi tak berdaya, lalu meneruskan, "Karena kamu sudah bicara sampai sejauh ini, kalau aku nggak memukulmu, bukankah itu namanya nggak menghargaimu?""Baiklah, akan kupukul kamu. Tapi kuberi tahu dulu, nanti saat aku memukulmu, kamu boleh melawan kok.""Walaupun kamu melawan juga nggak ada gunanya, setidaknya kamu bisa merasakan betapa hebatnya aku. Bagaimanapun, aku adalah orang yang telah melatih dua aliran energi murni."Setelah berkata demikian, Nazar langsung menyerbu ke arah Ewan. Ewan berdiri di tempat, tersenyum menyaksikan Nazar mendekat.Begitu Nazar tiba di depan Ewan dan hendak menyerang, tiba-tiba dia melihat senyuman Ewan yang begi

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 41

    "Sebulan kemudian, kamu pergi ke sebuah kelab untuk nyanyi. Kamu memesan banyak minuman impor berkualitas tinggi. Tapi saat harus bayar, kamu dan anak buahmu malah mencari-cari alasan, bilang minuman itu palsu. Kalian menghancurkan tempat itu dan memeras pemilik kelab 200 juta," lanjut Henry."Bukan

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 56

    Tripta langsung mengangkat telepon dan bertanya, "Bagaimana hasilnya? Sudah beres?""Pak Tripta, sesuai perintah Anda, saya sudah menyalin videonya. Akan segera saya kirim ke e-mail Anda.""Bagus!" Tripta menutup telepon, lalu membuka e-mailnya dan sebuah rekaman kamera pengawas pun muncul. Video it

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 38

    Ewan menatap Tigor dengan dingin dan tanpa sedikit pun emosi di matanya. "Coba kamu bilang sendiri, mau mati dengan cara gimana?"Sejak Tigor menampar Aruna, Ewan sudah berniat membunuhnya.Tigor memang merasa gentar terhadap Ewan, tapi mulutnya tetap mengeyel. Dia berkata dengan muram, "Bocah, kamu

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 73

    Ewan mendorong pintu dan masuk. Dia melihat Neva sedang duduk di balik meja kerja, menunduk memeriksa dokumen."Bu Neva," panggil Ewan."Ada apa?" Neva menjawab tanpa mengangkat kepala."Begini, rumah sakit sudah mengeluarkan surat pengangkatanku sebagai dokter tetap. Aku ingin menanyakan tentang pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status