Share

Bab 2907

Author: Rexa Pariaman
Tetua Keenam mengincar senjata ilahi di tangan Ewan, jadi mana mungkin dia berhenti begitu saja? Dia berkata, "Kamu nggak usah ikut campur sama urusanku. Peramal Sakti, cepat beri tahu aku, di mana dia?"

Peramal Sakti mengulurkan tangan dan menunjuk ke arah utara.

Tetua Keenam tidak mengerti maksudnya, lalu mendesak, "Jangan pura-pura misterius. Katakan langsung padaku, di mana dia sebenarnya?"

"Dataran es ...."

Baru saja Peramal Sakti mengucapkan dua kata itu, darah mengalir dari sudut bibirnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2907

    Tetua Keenam mengincar senjata ilahi di tangan Ewan, jadi mana mungkin dia berhenti begitu saja? Dia berkata, "Kamu nggak usah ikut campur sama urusanku. Peramal Sakti, cepat beri tahu aku, di mana dia?"Peramal Sakti mengulurkan tangan dan menunjuk ke arah utara.Tetua Keenam tidak mengerti maksudnya, lalu mendesak, "Jangan pura-pura misterius. Katakan langsung padaku, di mana dia sebenarnya?""Dataran es ...."Baru saja Peramal Sakti mengucapkan dua kata itu, darah mengalir dari sudut bibirnya dan kondisinya langsung melemah."Guru!" Anak laki-laki itu sangat terkejut. Dia buru-buru menopang Peramal Sakti dengan wajah panik.Tetua Keenam berkata, "Dia berada di dataran es? Peramal Sakti, jangan-jangan ramalanmu salah?"Kalau dulu, Tetua Keenam tidak akan pernah meragukan Peramal Sakti. Hanya saja, dia benar-benar tidak mengerti. Dataran es berada di dekat wilayah utara dan berjarak lebih dari lima juta kilometer dari Kota Ampat. Bagaimana mungkin Ewan bisa sampai ke sana secepat itu?

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2906

    Beberapa jam kemudian.Tetua Keenam dan Ananta muncul di puncak sebuah gunung yang diselimuti kabut. Saat mendongak, mereka melihat sebuah gubuk jerami reyot berdiri di antara pepohonan pinus hijau."Peramal Sakti tinggal di sini?" Ananta agak terkejut.Peramal Sakti adalah peramal nomor satu di Hutan Belantara Timur dan namanya tersohor di seluruh penjuru. Bahkan sekte-sekte besar seperti Aliran Hitam Putih dan Sekte Pedang Cakrawala terkadang harus meminta bantuannya.Bagaimana mungkin tokoh seperti itu tinggal di tempat sesederhana ini?"Benar. Peramal Sakti tinggal di sini."Setelah berkata demikian, Tetua Keenam membawa Ananta menuju gubuk jerami.Tak lama kemudian, mereka tiba di depan gubuk. Mereka melihat seorang pria tua dan seorang anak laki-laki sedang bermain catur di bawah sebatang pohon pinus tua.Rambut pria tua itu tergerai acak-acakan. Pakaiannya compang-camping, kakinya telanjang, dan penampilannya persis seperti pengemis.Sementara itu, anak laki-laki tersebut baru b

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2905

    Hampir pada saat yang sama, hewan ilahi di bawah berhenti mengaum dan menjadi sangat tenang.Bodhisattva Naga menyadari bahwa orang yang menyelamatkannya pasti memiliki latar belakang yang luar biasa. Dia pun bertanya, "Siapa Senior?"Detik berikutnya, dua mata muncul di tebing terjal. Yang satu putih bersih, transparan seperti kristal, sedangkan yang satunya hitam pekat seperti tinta, tampak menyeramkan dan aneh."Aku adalah pemimpin Aliran Hitam Putih, Agniraga!"Hati Bodhisattva Naga bergetar hebat. Pemimpin Aliran Hitam Putih adalah salah satu dari beberapa tokoh besar di Hutan Belantara Timur.Tanpa ragu, Bodhisattva Naga langsung berlutut dan berkata, "Hormat kepada Senior. Terima kasih atas kebaikan Senior yang sudah menyelamatkan nyawaku.""Jangan buru-buru berterima kasih padaku. Aku akan memberimu sebuah ujian hidup dan mati. Kalau kamu beruntung dan berhasil bertahan hidup, aku akan menerimamu sebagai murid pribadiku. Kalau kamu mati, itu sudah menjadi takdirmu."Setelah Agn

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2904

    Puspita membawa Bodhisattva Naga dan langsung menuju Jurang Pemusnah Jiwa. Tak lama kemudian, mereka tiba di depan sebuah tebing.Bodhisattva Naga melihat ke arah tebing itu dan mendapati tingginya sekitar puluhan kilometer. Di bawahnya diselimuti kabut hitam yang dipenuhi aura suram dan menyeramkan.Meskipun dia tidak bisa melihat keadaan di dasar tebing dengan jelas, sesekali terdengar auman rendah hewan ilahi yang membuat bulu kuduk merinding.Pada saat ini, Bodhisattva Naga benar-benar ketakutan dan memohon ampun, "Senior, kumohon, jangan bunuh aku.""Asalkan kamu melepaskanku, mulai sekarang aku akan mengabdikan diri padamu dan melakukan apa pun yang kamu perintahkan. Aku juga bisa membantumu mencari bocah itu."Namun, Puspita sama sekali tidak terpengaruh. Dengan wajah tanpa ekspresi, dia berkata, "Kakak seperguruanku sudah memerintahkan agar kamu dilempar ke bawah untuk menjadi makanan hewan ilahi. Nggak ada seorang pun yang berani melanggar perintahnya.""Lagi pula, cuma menang

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2903

    Wajah Tetua Keenam juga tampak muram.Di dalam Cermin Penyingkap Langit, gambarnya terus berubah. Setelah Fathan membunuh ribuan prajurit, dia bertarung mati-matian melawan Ewan.Fathan mengeluarkan segala macam jurus dan bahkan menggunakan beberapa pusaka sihir, tetapi sama sekali tidak mampu menahan Ewan.Tetua Keenam menyipitkan mata, menatap Cambuk Penghancur Dewa di tangan Ewan, lalu berkata, "Cambuk kayu itu benar-benar aneh."Tiba-tiba, sebuah kaldron raksasa muncul dalam gambar dan melayang di angkasa. Meskipun hanya sedang menelusuri kembali ruang dan waktu, Tetua Keenam tetap bisa merasakan aura seorang maharaja."Senjata ilahi!" Hati Tetua Keenam bergetar hebat, wajahnya dipenuhi keterkejutan. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Ewan ternyata memiliki sebuah senjata ilahi.Tepat pada saat itu, tiba-tiba muncul sebuah retakan pada Cermin Penyingkap Langit. Krek!"Celaka." Tetua Keenam segera berhenti menyalurkan energi murni dan menarik kembali Cermin Penyingkap Langit. Mel

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2902

    Di dalam Cermin Penyingkap Langit tampaklah Kota Purnama. Kemudian, gambarnya berubah. Kediaman Penguasa Kota pun muncul.Saat itu, Kediaman Penguasa Kota dihiasi dekorasi meriah, dipenuhi suasana sukacita. Di luar gerbang, banyak orang berkumpul untuk menyambut putra Penguasa Kota, Ian, pulang.Tak lama kemudian, Ian muncul dengan menunggangi kuda perang, tampak gagah dan penuh semangat.Fathan memimpin sekelompok orang berdiri di depan gerbang. Melihat Ian kembali, dia tersenyum sambil mengatakan sesuatu.Puspita mengerti bahwa Tetua Keenam sedang menggunakan Cermin Penyingkap Langit untuk menelusuri kembali ruang dan waktu serta menampilkan kembali kejadian yang terjadi saat itu.Matanya terus terpaku pada Cermin Penyingkap Langit. Dia sangat ingin tahu siapa sebenarnya pelakunya.Bodhisattva Naga yang terbaring di lantai juga mengangkat kepala dan menatap Cermin Penyingkap Langit.Tiba-tiba, sebuah cambuk kayu muncul dari udara dan menghantam Ian yang sedang menunggang kuda hingga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status