로그인Ewan melirik Dodo dengan heran dua kali. Dia sama sekali tidak menyangka, seorang anjing penjilat seperti dia masih bisa mengucapkan kata-kata yang begitu berbobot."Hahaha ...." Dharmadaya tertawa terbahak-bahak."Menurut Master, jawabanku benar?" tanya Dodo.Dharmadaya tersenyum dan menyahut, "Jawaban Tuan Dodo sangat baik. Sepertinya Tuan Dodo memang berjodoh dengan Buddha.""Ya dong. Kalau nggak berjodoh, mana mungkin aku bisa bertemu Master." Dodo terkekeh-kekeh.Ewan menatap Dharmadaya dengan saksama. Dia selalu merasa tingkah laku biksu tua ini agak aneh. Jangan-jangan Dharmadaya tertarik pada si penjilat ini? Ingin menarik Dodo ke ajaran Buddha?Ewan segera mengingatkan, "Master, sepupuku ini adalah satu-satunya anak laki-laki generasi ketiga Keluarga Kunantara di Soharia. Sebaiknya jangan ada niat lain terhadapnya.""Amitabha," ujar Dharmadaya dengan tenang. "Tuan Ewan terlalu serius. Gerbang Buddha hanya menyeberangkan mereka yang memang berjodoh."Dia melirik Dodo, lalu berk
Mendengar suara itu, akhirnya senyuman muncul di wajah Ewan.Dodo menoleh dan melihat seorang biksu tua keluar dari pintu kuil yang rusak itu. Usia biksu tua itu sudah lewat 60 tahun. Dia mengenakan jubah berwarna merah, berwajah bulat dengan daun telinga lebar, raut mukanya tampak agung dan penuh wibawa.Penampilan biksu tua itu membentuk kontras yang sangat jelas dengan kondisi kuil yang rusak."Eh, ternyata benar ada biksu di sini." seru Dodo heran. Dia menatap biksu tua itu, lalu bertanya, "Biksu Tua, aku mau tanya, apa ini Kuil Naga Langit?""Dodo, jangan nggak sopan kepada Master," tegur Ewan, lalu sedikit membungkuk ke arah biksu tua itu dan berkata, "Master Dharmadaya, sudah lama nggak bertemu!"Benar, biksu tua ini adalah kepala Kuil Naga Langit yang dikenal Ewan di ibu kota, seorang ahli tingkat atas yang menempati peringkat keempat di Daftar Naga, Dharmadaya!Dharmadaya berjalan mendekati Ewan. Dia tersenyum sambil berkata, "Tuan Ewan, sejak perpisahan kita di ibu kota, aku
Setelah Ewan, Lisa, dan Dodo tiba di Dadaru, mereka berganti kendaraan dan menuju Gunung Bentang. Kuil Naga Langit terletak di sana.Satu jam kemudian, mobil tiba di Gunung Bentang. Ketiganya turun, lalu terdengar suara lonceng berbunyi.Tang! Suara lonceng itu menggema panjang, seketika membuat hati dan pikiran terasa tenang.Ewan mengangkat kepala dan melihat sebuah anak tangga dari batu yang berkelok naik ke atas, langsung menuju puncak gunung.Ketiganya pun menaiki anak tangga itu. Anak tangga batu itu panjangnya 1 meter dan lebarnya 30 sentimeter. Setelah bertahun-tahun diterpa angin dan hujan, permukaannya menjadi sangat usang dan tidak rata, membuat telapak kaki terasa tidak nyaman saat menginjak.Mereka sudah berjalan seribu langkah, tetapi ujung tangga masih belum terlihat. Di sepanjang jalan, tak satu pun peziarah terlihat.Dodo mengeluh, "Kak Ewan, di Soharia ada begitu banyak kuil, kenapa kamu nggak ke sana saja untuk sembahyang, malah jauh-jauh datang ke Kuil Naga Langit i
"Tapi, modal untuk membeli batu giok itu cukup besar. Aku nggak punya uang."Meskipun di sakunya ada satu kartu ATM berisi 20 miliar, uang itu harus diberikan kepada Anika. Selain itu, dia hanya punya 10 miliar dari ganti rugi Tukul waktu itu."Sepuluh miliar jelas nggak cukup untuk bisnis batu giok. Sepertinya aku harus putar otak." Dodo mengernyit, lalu sebuah ide muncul di benaknya.Tok, tok!Setelah kembali ke vila, Dodo langsung mengetuk pintu kamar Mayang, lalu berdiri di luar sambil bertanya, "Ibu, sudah tidur belum?""Belum, aku lagi nonton TV," jawab Mayang dari dalam kamar.Dodo mendorong pintu dan masuk. Dia melihat Mayang bersandar di sofa sambil menonton TV, tetapi tidak melihat Arie."Ayah ke mana?" tanya Dodo."Ayahmu lagi minum sama beberapa rekan bisnis di luar," kata Mayang. "Kakek sudah minta kita pindah kembali ke rumah lama. Aku dan ayahmu sudah membicarakannya. Rencananya dalam dua hari ini cari hari baik, lalu pindah."Mata Dodo langsung berbinar. "Kalau begitu,
Tanggal duel sudah ditetapkan. Ewan menghitung waktunya. Saat ini masih tersisa tepat 20 hari sebelum tanggal yang disebutkan.Dia berniat memanfaatkan waktu ini untuk pergi ke Kuil Naga Langit, menelaah Pedang Enam Nadi, sekaligus menemani Lisa membeli batu giok. Dari segi waktu, semuanya sepenuhnya masih memungkinkan.Begitu turun dari mobil, Ewan berkata, "Kak Lisa, segera pesan tiket. Besok pagi kita berangkat ke Dadaru.""Oke," jawab Lisa sambil mengangguk."Kak Ewan dan Kak Lisa mau ke Dadaru buat apa?" tanya Dodo dengan bingung.Lisa menjawab, "Aku mau beli batu giok.""Ajak aku juga dong," ujar Dodo. "Di rumah aku bosan setengah mati."Orang ini bukan cuma penjilat, tetapi juga pengangguran."Boleh saja kalau kamu mau ikut," sahut Ewan. "Tapi gimana dengan gadis di rumah sakit itu? Kamu nggak berniat mengurusnya?"Semalam di Klub Silver, setelah Iris terluka, Dodo yang mengantarnya ke rumah sakit untuk dirawat."Jangan asal bicara," kata Dodo. "Aku dan Iris nggak pernah ngapa-n
Bagaimana cara menanganinya?Ewan sempat ragu sejenak, lalu berkata kepada Dodo, "Kasih aku ponselmu."Dodo tertegun. "Buat apa?""Telepon Kak Anika.""Ngapain telepon Kak Anika sekarang?" Dodo berkata, "Kamu nggak mungkin mau tanya pendapat Kak Anika, 'kan? Menurutku nggak usah telepon Kak Anika, langsung saja kubur hidup-hidup binatang ini."Wajah Ewan tampak murung. "Jangan banyak omong. Cepat kasih ponselmu."Baru setelah itu Dodo menyerahkan ponselnya kepada Ewan.Ewan menyingkir ke samping, menghubungi Anika. Setelah berbicara beberapa saat, dia kembali. Wajahnya kini semakin dingin.Lanjar masih terus memohon, "Pak Ewan, tolong jangan bunuh aku. Kumohon ...."Plak! Ewan menampar Lanjar hingga terlempar. "Binatang!""Ada apa, Kak Ewan?" tanya Dodo buru-buru. Dia bisa melihat Ewan sedang sangat marah.Ewan berkata, "Demi memaksa Kak Anika cerai, bajingan ini sengaja membawa perempuan itu ke rumah dan melakukan perbuatan itu di depan anak.""Setelah Kak Anika setuju cerai, dia mema







