LOGIN"Aku datang khusus untuk mencari Abadi," jawab Dewa Pedang Kecapi sambil tersenyum. "Dalam perjalanan kembali ke sekte, aku melaporkan semua kejadian di dataran es melalui pesan giok. Setelah mendengarnya, Ketua Sekte menjadi sangat tertarik dengan Abadi dan ingin menerimanya sebagai murid. Karena itulah, beliau memerintahkanku untuk membawa Abadi kembali ke Sekte Pedang Cakrawala."Ini kabar bagus!Nazar berkata dengan penuh semangat, "Bocah Tengik, kamu dengar itu? Ketua sekte terbesar di Hutan Belantara Timur ingin menerimamu sebagai murid!"Ewan menjawab, "Senior, sebenarnya sikapku sudah sangat jelas ....""Abadi, jangan buru-buru menolak," potong Dewa Pedang Kecapi. "Ketua Sekte bilang, kalau kamu bersedia menjadi muridnya, beliau akan menerimamu sebagai murid terakhirnya.""Mungkin kamu belum tahu, Ketua Sekte adalah seorang ahli tingkat mahasuci!"Ewan terkejut. Seorang ahli tingkat mahasuci ingin menerimanya sebagai murid?"Bocah Tengik, kesempatan seperti ini nggak datang dua
"Terus ke barat?"Begitu mendengar kata itu, Ewan langsung teringat sebuah film. Dia pun bertanya, "Tua Bangka, kamu terlalu banyak nonton film ya? Kenapa harus terus ke barat? Kenapa nggak terus ke utara saja?""Jangan banyak omong. Kalau percaya padaku, ikuti saja aku." Setelah berkata demikian, Nazar lebih dulu bergerak ke arah barat.Ewan segera mengikutinya.Dataran es itu begitu luas dan seolah tidak berujung. Di tengah hamparan yang tak terbatas itu, mereka berdua tampak begitu kecil, bagaikan dua ekor semut.Mereka berjalan selama beberapa jam.Tiba-tiba, angin kencang menderu dan salju turun dengan lebat. Udara yang sangat dingin membuat tubuh mereka menggigil.Namun, mereka masih belum berhasil keluar dari dataran es.Nazar tidak tahan lagi dan mulai mengeluh, "Bocah Tengik, ini semua gara-gara kamu! Kalau saja kamu mau bergabung dengan Sekte Pedang Cakrawala, sekarang kita pasti sedang minum arak dan makan daging di atas pusaka terbang. Kita nggak perlu menderita begini!""A
Ewan mendongak menatap langit, lalu berkata dengan suara berat, "Tua bangka, aku punya firasat dunia kultivasi akan mengalami guncangan besar."Nazar bertanya dengan bingung, "Apa maksudmu?"Ewan menjawab, "Kali ini, tiga tanah suci bahkan berani menyerang Dewa Pedang Mabuk untuk membunuhnya. Ini menunjukkan kalau ketiga tanah suci itu sudah bersekutu.""Menurutku, tujuan mereka bukan sekadar untuk menghadapi Sekte Pedang Cakrawala.""Kalau tebakanku benar, mereka ingin menaklukkan seluruh Hutan Belantara Timur."Nazar terkejut. "Ambisi tiga tanah suci sebesar itu?""Kalau nggak punya ambisi, mana mungkin mereka bisa jadi sekte-sekte terkemuka di Hutan Belantara Timur dan tetap berjaya selama bertahun-tahun?" jawab Ewan."Para ahli dari tiga tanah suci membunuh Dewa Pedang Mabuk. Ini menunjukkan mereka sudah siap berperang melawan Sekte Pedang Cakrawala.""Selain itu, Aliran Hitam Putih sejak lama menyimpan ketidakpuasan terhadap Sekte Pedang Cakrawala. Ditambah lagi, tetua keenam mere
Ewan menggenggam liontin giok pemberian Bella. Permukaannya terasa begitu halus dan hangat di telapak tangannya.Saat menunduk untuk melihatnya, dia mendapati bahwa liontin itu terbuat dari batu giok ungu kualitas terbaik. Di atasnya terukir sebilah pedang kecil dengan inisial "B" di sampingnya.Setelah itu, Ewan mendekatkan liontin itu ke hidungnya dan mengendusnya. Dia mencium aroma harum khas seorang gadis yang belum pernah menikah. Harus diakui ... harum sekali!Ewan menyimpan liontin itu baik-baik, lalu menoleh ke belakang. Dia melihat Nazar duduk di tanah dengan kepala tertunduk lesu. Wajahnya muram seperti terong yang layu."Tua bangka, kamu kenapa?" tanya Ewan.Nazar menjawab dengan kesal, "Kamu masih berani tanya begitu? Kesempatan sebagus itu sudah ada di depan mata, tapi kamu malah menolaknya. Rasanya aku ingin memukulimu sampai mati!""Kamu tahu nggak, Sekte Pedang Cakrawala adalah sekte terbesar di Hutan Belantara Timur. Entah berapa banyak kultivator yang bermimpi bisa me
"Karena harus mencari ayahku, aku nggak bisa bergabung dengan Sekte Pedang Cakrawala."Rupanya begitu."Manusia memang harus mengutamakan bakti pada orang tua. Abadi, kamu benar-benar anak yang baik." Dewa Pedang Mabuk terkekeh dan bertanya, "Jujurlah, apa hubunganmu dengan Dewi Kembang?"Ewan tidak menyembunyikannya. "Dia adalah orang yang kucintai."Dewa Pedang Mabuk tersenyum. "Aku sudah menduganya. Hubungan kalian berdua memang nggak sesederhana itu."Ewan berkata, "Istana Kembang dimusnahkan dalam semalam. Guru Dewi Kembang serta saudari seperguruannya semuanya dibunuh dengan kejam. Dia juga orang yang bernasib malang.""Aku harus pergi mencari ayahku. Aku nggak tahu bahaya apa yang akan kuhadapi. Selain itu, kali ini aku sudah membunuh murid-murid dari lima sekte besar. Setelah mereka mengetahui hal ini, mereka pasti nggak akan melepaskanku.""Senior, tolong jaga Dewi Kembang dengan baik."Dewa Pedang Mabuk menjawab, "Tenang saja. Dia akan aman di Sekte Pedang Cakrawala.""Terima
Ewan dan Dewa Pedang Mabuk berjalan ke samping."Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Dewa Pedang Mabuk."Apa Senior pernah mendengar tentang Istana Kembang?" tanya Ewan.Dewa Pedang Mabuk menggelengkan kepala.Ewan merasa sedikit kesal. Sepertinya, keberadaan Istana Kembang jauh lebih tidak dikenal daripada yang dia bayangkan."Ehem ...." Ewan berdeham untuk menutupi kecanggungannya, lalu meneruskan, "Sejujurnya, Dewi Kembang adalah pemimpin Istana Kembang."Dewa Pedang Mabuk melirik Dewi Kembang, lalu bertanya, "Maksudmu, dia?""Ya," jawab Ewan. "Menurutku, perkataan Senior tadi ada benarnya. Aku nggak bisa membiarkan teman-temanku menjalani hidup dengan terus bersembunyi hanya karena mereka mengikutiku."Wajah Dewa Pedang Mabuk langsung berseri-seri. Dia bertanya, "Jadi, kamu bersedia ikut denganku ke Sekte Pedang Cakrawala?""Bukan begitu," jawab Ewan. "Aku ingin meminta bantuan Senior untuk membawa Dewi Kembang ke Sekte Pedang Cakrawala.""Oh, itu perkara mudah. Nggak masalah." D







