LOGINKeesokan harinya....
Alya baru saja selesai mengganti air di vas bunga kecil di meja saat pintu kamar Risa diketuk pelan.
Sebelum sempat menjawab, pintu itu sudah terbuka, dan muncul sosok Arka dengan setelan kasual—jaket denim dan kaus putih—membawa kantong berisi boneka kecil dan buku gambar.
Risa yang tengah duduk bersandar langsung membelalakkan mata. “I... ini beneran Kak Arka?!”
Arka tersenyum sambil melambai. “Hai, Risa. Boleh aku masuk?”
Risa mengangguk cepat, masih tampak gugup dan tak percaya. “Boleh banget! Ya ampun... Kak Arka Mahendra beneran masuk kamar aku…”
Alya terkikik kecil melihat ekspresi adiknya yang seperti fangirl ketiban rezeki nomplok.
Arka berjalan mendekat dan menyerahkan kantong ke Risa. “Aku nggak tahu kamu suka apa, jadi aku bawa beberapa hal... mudah-mudahan cocok.”
Risa membuka kantong itu perlahan. Matanya berbinar saat melihat boneka kelinci lucu dan buku gambar warna-warni. “Ini... ini lucu banget!”
Arka duduk di kursi sebelah ranjang. “Senang kamu suka. Kamu kelihatan lebih sehat hari ini.”
“Karena Kakak datang,” jawab Risa spontan, lalu menutup mulutnya, malu sendiri. “Eh, maksudku... karena Kakak Alya datang... eh, dua-duanya maksudnya!”
Alya dan Arka sama-sama tertawa. Setelah beberapa menit obrolan ringan dan candaan kecil, suasana kamar menjadi lebih hangat. Risa mulai terbuka dan bercerita tentang kegiatan membosankan selama di rumah sakit—dari drama yang ia tonton sampai suster yang diam-diam nge-fans berat sama Arka.
Lalu, di tengah obrolan, Risa menoleh ke Alya. “Kak, aku seneng banget kalian dateng bareng gini. Tapi... kalau cuma pernikahan kontrak, kenapa Kak Arka bisa sepeduli ini?”
Suasana langsung sedikit tegang. Alya melirik Arka, ragu harus menjawab atau membiarkan pria itu yang bicara.
Tapi Arka hanya tersenyum kecil. Ia menatap Risa lembut—tatapan yang sangat berbeda dari sorotan kamera yang biasa menangkap wajah dingin dan penuh aura bintang itu.
“Risa,” katanya pelan, “aku tahu mungkin kamu dengar banyak hal buruk soal aku di luar sana. Media suka melebih-lebihkan. Tapi apa pun yang orang pikirkan, aku bukan orang yang bisa pura-pura peduli kalau aku nggak benar-benar peduli.”
Risa mengerjap pelan.
“Aku dan Kakakmu memang punya kesepakatan di awal. Tapi selama waktu yang kita lewati bareng... aku lihat sesuatu yang beda dari Alya. Dia kuat. Dia jujur. Dia tulus. Dan aku rasa, orang kayak dia nggak pantas ngerasa sendiri dalam semua ini.”
Alya membeku. Kalimat itu—cara Arka mengucapkannya—terlalu nyata untuk sekadar akting.
Risa menatap mereka bergantian. “Kak Arka baik banget... jauh dari yang orang-orang bilang.”
Arka tertawa pelan. “Mungkin karena orang lebih suka sensasi daripada kebenaran. Tapi buatku, yang penting sekarang... kalian sehat dan tetap bisa senyum.”
Risa tersenyum lebar, seakan mendapat jawaban yang membuatnya lega.
Setelah itu Arka berdiri dan bersiap pergi. “Aku harus ke lokasi sebentar. Tapi nanti sore aku balik lagi bawa sesuatu yang kamu suka. Burger dan milkshake cokelat, ya?”
“Yeay!” seru Risa. “Tapi jangan bilang-bilang suster!”
“Rahasia kita,” kata Arka sambil berkedip.
Begitu Arka keluar dari ruangan, Risa langsung menatap Alya penuh arti. “Kak... kamu yakin ini masih kontrak?”
Setelah Arka pergi dan Risa tertidur karena efek obat, Alya memutuskan untuk keluar sejenak dari kamar. Ia berjalan di lorong rumah sakit, sekadar ingin menghirup udara segar dari balkon kecil di ujung koridor.
Langkahnya pelan, pikirannya masih dipenuhi campuran rasa: lega karena melihat Risa bahagia, bingung karena sikap Arka, dan... bayangan pesan misterius semalam yang masih menghantuinya.
Saat berbelok ke lorong utama, tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
“Maaf—” Alya segera menunduk, tapi suara yang menyahut membuat tubuhnya membeku.
“Alya?”
Ia mendongak pelan. Pria itu mengenakan jas dokter berwarna putih, nametag tergantung di saku dada. Wajahnya... sangat familiar. Dan suaranya—dalam dan hangat, seperti yang ia ingat dulu.
“Reyhan?” suara Alya nyaris tak terdengar.
Reyhan tersenyum kecil. Senyuman yang sama seperti bertahun-tahun lalu, saat mereka masih berseragam putih abu-abu.
“Wow. Dunia sempit banget, ya. Aku nggak nyangka ketemu kamu di sini. Alya yang dulu suka nyoret-nyoret meja belakang kelas ternyata sekarang jadi... istri artis terkenal?”
Alya tertawa gugup. “Iya... hidup kadang aneh.”
Reyhan menatapnya sejenak, matanya tajam tapi hangat. “Kamu kelihatan beda. Tapi aku bisa langsung tahu itu kamu.”
Alya mencoba tersenyum, tapi hatinya sedikit berdebar. Bukan karena Reyhan—tapi karena betapa masa lalu dan masa kini bisa bertabrakan begitu cepat tanpa peringatan.
“Risa adikku dirawat di sini,” jelas Alya. “Kanker tulang stadium awal.”
Ekspresi Reyhan berubah lembut. “Aku ikut prihatin. Nama Risa... itu pasien yang di lantai tiga, kan? Yang suka gambar-gambar tokoh kartun di binder periksaannya?”
Alya mengangguk, agak terkejut. “Kamu tahu?”
“Aku dokter jaga di rumah sakit ini. Aku memang nggak langsung tangani Risa, tapi kadang aku sering jenguk kalua dia bosan. Anaknya ceria. Mirip kamu versi kecil.”
“Mau duduk sebentar?” tawar Reyhan, menunjuk bangku panjang dekat vending machine. “Kita belum ngobrol
“Kita belum ngobrol sejak... ya, sejak kelulusan.”
Alya ragu sesaat, tapi akhirnya mengangguk dan duduk di sana bersamanya.
Obrolan mereka mengalir ringan. Tentang masa SMA, tentang teman-teman lama, dan bagaimana hidup membawa mereka ke tempat yang tak pernah mereka bayangkan.
“Jujur ya,” kata Reyhan sambil menyesap kopi dari gelas kertas, “aku kaget waktu lihat berita soal kamu dan Arka Mahendra. Aku kira kamu bakal jadi dosen seni atau pelukis keliling dunia, bukan... menantu publik figur.”
Alya tertawa, tapi tawa itu getir. “Sebenarnya... semua ini juga di luar rencana.”
Reyhan menoleh. Tatapannya serius. “Alya... kamu bahagia?”
Pertanyaan itu membuat Alya terdiam. Bahagia?
Ia teringat senyum Arka saat memeluk pinggangnya di red carpet. Tatapan tulusnya saat menjenguk Risa. Tapi juga teringat ancaman lewat ponsel, suara dari masa lalu yang kembali menghantuinya.
“Aku... masih belajar untuk bahagia,” jawab Alya jujur. “Tapi untuk sekarang, aku cuma mau Risa sembuh. Itu aja dulu.”
Reyhan mengangguk pelan. “Kalau kamu butuh bantuan apa pun, bilang aja. Buat Risa... atau buat kamu.”
Alya menatapnya, dan untuk sesaat, ia merasa seperti Alya yang dulu—yang masih polos dan penuh mimpi. Tapi hidupnya sekarang terlalu rumit untuk kembali ke masa itu.“Terima kasih, Reyhan,” ucapnya tulus.
Tak lama, ponsel Alya bergetar. Sebuah pesan dari Arka.
“Aku udah beli burger dan milkshake. OTW ke RS. Kamu di mana?”
Alya mengetik balasan cepat, lalu berdiri. “Aku harus balik. Tapi senang bisa ketemu kamu lagi.”
Reyhan ikut berdiri. “Sama-sama. Jaga diri ya, Alya.”Begitu Alya berjalan menjauh, Reyhan masih memandang punggungnya. Senyum samar muncul di wajahnya—campuran antara nostalgia dan rasa penasaran.
Karena meski dunia mereka telah berubah. Satu hal belum benar-benar padam ─rasa ingin tahu Reyhan pada Alya yang dulu… ia kagumi diam-diam.
Reyhan menghela napas panjang, lalu duduk di kursi plastik sebelah Alya. Map cokelat itu masih ia genggam erat, seolah belum siap melepaskannya begitu saja."Ly, sebelum gue mulai," katanya pelan, "gue mau kamu tarik napas dulu. Ini bukan berita buruk."Alya menatapnya lekat. "Tapi tanganmu gemetar.""Karena ini penting banget, bukan karena ini buruk." Reyhan mencoba tersenyum, meski senyum itu terlihat kaku di wajahnya yang masih lelah. "Selama gue di Kyoto, gue nggak cuma nemenin kamu sama Arka. Tiap malam, sela-sela waktu kosong, gue selalu telepon Dr. Hiroshi. Nanyain perkembangan program bantuan pengobatan buat Risa."Jantung Alya berdebar lebih cepat. "Program yang katanya kuotanya udah ketat itu?""Iya. Yang itu." Reyhan akhirnya membuka map di pangkuannya, mengeluarkan beberapa lembar dokumen berlogo yayasan yang tak asing bagi Alya, karena logo itu pernah muncul di salah satu email penolakan yang membuatnya menangis semalaman tiga bulan lalu."Ly," Reyhan menyodorkan lembar p
Ruang tunggu rumah sakit terasa lebih sepi malam itu. Alya duduk di kursi plastik dekat jendela, memandangi lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan. Tubuhnya masih menyimpan lelah dari perjalanan panjang Kyoto, ditambah beban baru yang belum sempat ia cerna sepenuhnya sejak pertemuan dengan Pak Tama kemarin.Ia melirik jam di ponselnya. Sebentar lagi jadwal minum obat Risa. Sebentar lagi juga sidang minggu depan akan tiba, membawa nama Raka dan segala kebusukan yang selama ini tersembunyi di baliknya.Pikirannya berputar tanpa henti. Antara kekhawatiran soal kesehatan adiknya dan ketakutan menghadapi persidangan, entah mana yang lebih berat untuk dipikul sendirian.Koridor rumah sakit dingin seperti biasa, dengan aroma antiseptik yang sudah begitu akrab di indra penciumannya. Sudah berbulan-bulan ia menghabiskan malam di tempat ini, cukup lama sampai ia hafal bunyi decit roda troli obat yang lewat setiap pukul sepuluh malam, hafal wajah petugas kebersihan yang selalu tersenyum keci
Lift membawa mereka ke lantai sepuluh, berhenti dengan bunyi pelan sebelum pintunya terbuka. Seorang resepsionis muda sudah menunggu, langsung mengarahkan keduanya ke sebuah ruangan di ujung koridor tanpa banyak basa-basi. Ruangan itu dingin, jauh lebih dingin dari yang Alya bayangkan. Dinding putihnya polos tanpa hiasan, hanya menyisakan meja panjang di tengah, beberapa kursi berjajar rapi, dan sebuah layar besar yang tergantung di dinding depan. Bau kertas baru dan kopi yang sudah setengah dingin bercampur di udara, menciptakan atmosfer yang kaku. Alya duduk di sebelah Arka, jemarinya saling bertaut erat di atas pangkuan. Sepanjang perjalanan tadi, kepalanya masih penuh dengan gema kata-kata Kevin di dalam mobil: Raka menemui Rio dua kali. Sekali beberapa bulan sebelum keberangkatan ke Kyoto, dan sekali lagi sehari sebelum penculikan itu terjadi. Ia sudah mendengar ringkasannya. Tapi mendengar cerita dan benar-benar melihat buktinya adalah dua hal yang jauh berbeda. Pintu terbuk
Raungan klakson mobil dan deru mesin di luar jendela terasa seperti melodi kacau yang mengiringi setiap detak jantung Alya. Ia bersandar di jok mobil, mencoba menstabilkan napasnya yang tercekat. Flash kamera yang masih terbayang di kelopak matanya terasa seperti luka bakar di retinanya, dan bisikan tajam wartawan seolah masih bergaung di telinganya. Jakarta memang berbeda. Jauh lebih brutal.Arka meremas tangannya erat, menarik perhatian Alya. "Kamu nggak apa-apa?" Suara Arka lebih lembut dari yang Alya kira, penuh kekhawatiran yang tulus.Alya menggeleng pelan. "Aku... aku nggak siap, Ka." Matanya menatap Arka, mencari kekuatan. "Maksudku, aku tahu kita akan menghadapi masalah di sini. Tapi ini... ini terlalu cepat."Kevin yang duduk di kursi depan, memutar tubuhnya sedikit ke belakang. Ekspresinya serius, sorot matanya tajam. "Maaf, Al. Gue tahu ini berat. Tapi kita nggak punya banyak waktu. Pak Tama itu pengacara hebat. Dia bilang kesaksian lo bisa jadi penentu banget buat kasus Ri
Alya menghela napas lega, bersandar di jok mobil, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih kencang. Ia menatap Arka yang juga terlihat tegang, rahangnya mengeras. Kevin, yang duduk di kursi penumpang depan, menoleh ke belakang, ekspresinya berubah khawatir."Lo berdua nggak apa-apa kan?" tanya Kevin, suaranya berat.Arka mengangguk. "Aman kok, Vin. Kaget dikit doang gue. Itu orang-orang kayak nggak ada habisnya, sumpah.”"Maaf, Ka. Gue nggak nyangka bakal seramai itu," Kevin meminta maaf, menggaruk tengkuknya. "Berita kalian balik dari Kyoto itu nyebar cepat banget. Apalagi gosip soal Raka sama Sasha di sana juga ikut nyebar. Jadi ya, jackpot buat wartawan."Alya menatap Arka. Jadi kabar kita sudah sampai ke Jakarta?Kevin menatap Arka, lalu beralih ke Alya. Ekspresinya mendadak berubah serius. "Tapi ada yang lebih penting dari ini, Ka. Ini soal Rio Aditya."Suasana di dalam mobil tiba-tiba terasa dingin. Alya merasakan perutnya melilit. Arka menatap Kevin lurus, ekspresinya te
Alya memeluk leher Arka erat, hatinya penuh dengan cinta dan harapan, saat suaminya menggendongnya keluar dari lift. Tawa mereka memenuhi koridor hotel yang sepi, seolah mengusir segala kecemasan yang sempat hinggap di hati mereka. Arka menurunkan Alya perlahan di depan pintu kamar. Ia menatap Alya dengan senyum yang hanya bisa Alya mengerti."Malam ini cuma milik kita," bisik Arka, sebelum membuka pintu dan menarik Alya masuk ke dalam, menjauh dari dunia luar yang menunggu.*Pagi terakhir mereka di Kyoto tiba, membawa serta nuansa perpisahan yang manis pahit. Cahaya matahari pagi menembus celah gorden, membasuh kamar hotel dengan kehangatan lembut. Arka dan Alya bangun lebih awal dari biasanya, tidak ada pesan misterius atau panggilan telepon yang mengganggu ketenangan mereka. Hanya keheningan yang nyaman, diisi dengan sentuhan ringan dan tatapan penuh arti.Mereka mulai mengemas barang-barang. Gerakan mereka sinkron, terbiasa dengan ritme satu sama lain. Arka melipat pakaian dengan
“Sial. Barusan seseorang memotret!” Arka langsung berlari ke arah lorong, tapi yang tertinggal hanya bayangan langkah tergesa menjauh dan suara pintu darurat yang menutup pelan. Sasha berdiri membeku. Wajahnya masih memerah. "Tadi… itu—" "Tutup mulutmu," desis Arka, matanya tajam, panik. "Kalau f
Arka menatap layar ponsel Alya yang masih menyala. Pesan ancaman itu terpampang jelas di sana, dan di bagian atas hanya tertulis nomor asing, tanpa nama kontak.Ia menarik napas panjang, menahan gelombang amarah yang mulai menguasai dadanya. Tangannya terulur pelan, meraih ponsel itu dari meja samp
Ponsel Alya kembali bergetar. Ia menatap layar itu dengan napas tertahan. Kali ini, hanya ada satu kalimat dari Rio. “Aku sudah pikir-pikir, aku nggak minta banyak. Aku dengar Arka mendapat tawaran main film internasional. Jika kamu ingin melindungi suamimu, aku cuma satu hal kecil. Satu hal aja ya
Revano menyandarkan tubuh ke kursi, sementara Reyhan tetap sibuk dengan peralatan medisnya. Tak ada kata-kata berlebihan. Tak ada tatapan tajam, hanya gestur-gestur kecil yang tak disadari Alya. Sesekali, sorot mata mereka saling bersinggungan, tapi tidak cukup untuk menciptakan keributan. Al







