Share

4

Author: goshxx
last update publish date: 2026-01-02 16:51:31

CHAPTER 4

Tidak semua orang tenggelam ketika air menutup kepalanya.

Bagi sebagian orang, justru di sanalah dunia menjadi paling sunyi—tempat napas bisa diatur, pikiran dipaksa patuh, dan segalanya kembali berada dalam kendali.

Kolam renang Royal Crest Academy terletak tersembunyi di sayap timur kampus, terpisah dari gedung utama oleh deretan kaca tinggi dan pilar batu pucat yang menjulang angkuh. Airnya membentang luas, berkilau biru pucat di bawah cahaya lampu kristal mewah yang memantul di permukaan, seolah tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk akademi elit di luar sana.

Lelaki itu sudah berada di dalam air.

Tubuhnya bergerak dengan presisi yang hampir tanpa suara, membelah kolam lap demi lap. Setiap tarikan napas terukur. Setiap dorongan kaki terkendali. Tidak ada gerakan berlebih, tidak ada keindahan yang dipertontonkan. Hanya ritme yang konsisten, disiplin yang berulang—seperti perintah yang ditanamkan jauh di dalam tubuhnya.

Di bawah permukaan air, dunia menyempit.

Suara langkah kaki, bisikan, dan tuntutan kesempurnaan menghilang, digantikan oleh dentuman teredam dari detak jantungnya sendiri. Air menekan telinga, memaksa segalanya menjadi sederhana: masuk, dorong, buang napas, ulangi. Tidak ada nama. Tidak ada wajah. Tidak ada ruang untuk kesalahan.

Hanya kendali.

Di tepi kolam, Tom duduk di bangku panjang dengan kamera kecil tergeletak di sampingnya. Lensa tertutup. Ia tidak merekam apa pun. Dre bersandar santai pada pagar besi, handuk tersampir di bahunya, sementara Axl berdiri sedikit menjauh dengan tangan terlipat, matanya mengikuti gerakan di dalam air dengan ekspresi malas yang khas.

Cloud duduk di ujung bangku, menunduk mengikat ulang tali sepatunya.

“Berapa lap lagi?” tanya Dre akhirnya, memecah keheningan.

“Lima,” jawab lelaki itu singkat, tanpa memperlambat gerakannya.

Axl mendengus kecil. “Pelatih renang aja belum datang.”

“Gue tahu.”

Tom melirik jam di pergelangan tangannya. “Latihan basket nanti?”

“Masih cukup,” jawabnya datar.

Cloud mendongak. “Jangan maksain. Badan lo bukan mesin.”

Tidak ada jawaban.

Lelaki itu berbalik di ujung kolam dengan satu gerakan bersih, kakinya menekan dinding keramik, tubuhnya meluncur kembali ke arah berlawanan. Napasnya tetap stabil, ekspresinya nyaris tak berubah bahkan saat ia muncul sesaat ke permukaan sebelum tenggelam kembali.

Air selalu bekerja seperti ini padanya.

Ia tidak menuntut apa pun. Tidak menanyakan alasan. Tidak memaksa ingatan keluar. Air hanya menerima tubuhnya, menahannya, lalu melepaskannya kembali—berulang kali—selama ia tetap bergerak.

Lap terakhir.

Ia berhenti di ujung kolam, kedua tangannya mencengkeram pinggiran keramik yang dingin. Dengan satu gerakan singkat, ia mengangkat tubuhnya keluar dari air. Tetesan air mengalir dari rambutnya, menyusuri rahang dan lehernya, jatuh ke lantai ubin dengan bunyi pelan yang teratur.

Ia berdiri di sana beberapa detik, napasnya tenang, dadanya naik turun perlahan. Secara fisik, semuanya terkendali. Namun ketenangan itu terasa… tidak lengkap. Seolah ada sesuatu yang tertinggal di luar air—sesuatu yang tidak bisa ditekan hanya dengan disiplin dan pengulangan.

Ia mengambil handuk dari Axl tanpa berkata apa-apa, menyekanya ke rambut dan leher, lalu meraih tasnya. Tanpa menoleh, ia berjalan menuju pintu keluar kolam renang, meninggalkan ruangan megah itu kembali tenggelam dalam kesunyian.

Permukaan air merata lagi. Tenang. Patuh.

Di tempat lain, air tidak memberikan ketenangan yang sama.

Kaki Summer kehilangan kekuatannya. Ia merosot perlahan, membiarkan tubuhnya jatuh di atas lantai keramik yang dingin dan basah. Suara air yang jatuh menimpa lantai menjadi satu-satunya melodi yang menemaninya saat kesadarannya perlahan memudar. Kegelapan mulai menelannya sepenuhnya.

Saat kegelapan itu menariknya jauh ke bawah, Ia tidak mencoba meraih bayangan ayah atau ibunya. Anehnya, dalam kehampaan itu, Summer justru meraih sebuah bayangan lain—sosok asing yang terasa seperti keselamatan. Sebuah keheningan yang tidak menyakitkan. Sebuah pelarian yang selama ini ia cari secara tak sadar.

“Summer! Summer! Buka pintunya!” 

Suara Emma yang semula ceria kini berubah menjadi teriakan penuh ketakutan. Ia menggedor pintu kayu kamar mandi yang kokoh itu berkali-kali hingga tangannya memerah. Tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara gemericik air yang terus mengalir dari dalam—sebuah tanda yang justru membuat bulu kuduknya berdiri. 

Kepanikan hebat menghantam Emma. Tanpa berpikir dua kali, ia berlari keluar kamar, kakinya yang tanpa alas menghantam lantai koridor yang dingin. Suaranya pecah saat ia berteriak meminta bantuan pada pengawas asrama. 

Beberapa menit yang terasa seperti selamanya berlalu. Dua petugas keamanan bertubuh tegap tiba dengan langkah terburu-buru. Dengan satu hentakan kuat, pintu kamar mandi itu didobrak hingga terbuka. 

Emma memekik pelan. Ia segera menghambur masuk, memeluk tubuh Summer yang sudah tergeletak tak berdaya di atas lantai keramik yang basah. Tubuh gadis itu terasa dingin dan pucat di bawah guyuran air. Tak lama kemudian, dua petugas medis berseragam abu-abu bergegas masuk membawa tandu lipat. 

Suara radio panggil dari petugas keamanan berderak nyaring, memecah kesunyian malam di asrama putri yang biasanya sangat tenang. "Pasien tidak sadarkan diri di Kamar 204, butuh bantuan darurat segera." 

Kegaduhan itu menyebar cepat seperti api. Lorong asrama yang mewah kini dipenuhi oleh murid-murid yang keluar dari kamar mereka dengan balutan baju tidur sutra mahal. Namun, tidak ada rasa khawatir di wajah mereka. Mereka hanya berdiri bersandar di pintu, menonton proses evakuasi itu seolah-olah itu adalah tontonan drama picisan. Mata mereka penuh dengan rasa ingin tahu yang dingin, seolah-olah mereka sedang membedah sebuah spesimen baru. 

“Bukankah itu gadis taksi yang peringkat satu tadi pagi?” bisik seorang murid dengan nada sinis. 

“Dia terluka? Atau cuma cari perhatian?” timpal yang lain sambil menyilangkan tangan di dada. 

“Apa yang terjadi padanya? Baru sehari sudah tumbang karena tekanan?” 

Bisik-bisik kejam itu terus berdengung di sepanjang koridor saat petugas medis mengangkut tubuh Summer melewati kerumunan. Di tengah kemewahan RCA, kehancuran seseorang hanyalah bahan obrolan menarik sebelum mereka kembali tidur di ranjang empuk masing-masing. 

Saat ia terbangun, cahaya lampu fluorescent yang tersembunyi di balik plafon klinik terasa terlalu terang, menusuk matanya hingga ia harus mengernyit pedih. Summer tidak terbangun di ruangan yang sempit; ia berbaring di atas ranjang medis dengan sprei sutra putih di sebuah ruangan privat yang luas. Aroma antiseptik di sini bercampur dengan wangi aromaterapi lavender yang mahal, mencoba menyamarkan kesan klinik. 

Dinding ruangan itu dicat dengan warna broken white yang bersih, dihiasi dengan peralatan medis digital terbaru yang sesekali mengeluarkan bunyi bip pelan dan ritmis. Di balik jendela besar yang tertutup tirai tipis, bayangan pepohonan akademi bergoyang tertiup angin malam. 

"Hei—pelan-pelan," kata Jess segera. Sahabatnya itu duduk di kursi kulit di samping ranjang, tangannya dengan erat menggenggam tangan Summer yang terasa dingin dan pucat. 

“Jess…?” Summer mengerjap berkali-kali, mencoba memfokuskan pandangannya pada wajah Jess di tengah pening yang berdenyut di kepalanya. 

“Kamu pingsan di kamar mandi,” kata Jess lembut, suaranya sedikit bergetar. “Emma meneleponku dengan suara hampir menangis.” 

Summer mengalihkan pandangannya ke ujung ruangan. Di sana, dokter sekolah yang mengenakan jas putih rapi baru saja meletakkan tablet digitalnya. Sang dokter menjelaskan bahwa itu adalah akibat kelelahan ekstrem dan stres yang menumpuk—burnout yang membuat sistem tubuhnya menyerah. Meski tidak mengancam nyawa, tubuhnya baru saja memberikan peringatan keras. 

Summer meminta maaf. Suaranya serak, nyaris hilang. Ia meminta maaf lagi, dan lagi—sampai kata-kata itu terasa hampa, kehilangan maknanya di tengah rasa bersalah yang menyesakkan. 

Emma berdiri tak jauh dari kaki ranjang, bersandar pada dinding yang dingin. Wajahnya masih pucat pasi, matanya yang sembab menunjukkan betapa ia ketakutan saat menemukan Summer tergeletak tak berdaya di lantai kamar mandi tadi. 

“Maaf,” bisik Summer, suaranya parau. “Aku nggak bermaksud merepotkan kalian... bukan di hari pertama kita.” 

Jess tidak tahan lagi, ia memajukan tubuhnya dan memeluk Summer erat, seolah takut gadis itu akan hancur jika dilepaskan. “Kamu nggak harus menanggung semuanya sendirian, Summer. Berhenti bersikap seolah kamu terbuat dari baja.” 

Summer tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang layu. “Aku baik-baik saja.” 

Jess tahu itu adalah kebohongan paling nyata yang pernah ia dengar. Tapi di dalam ruangan klinik yang sunyi dan terlalu mewah ini, ia memilih untuk tidak memaksa Summer mengakuinya. 

Malam itu, setelah kembali dari klinik ke kamarnya, Summer tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya menolak untuk beristirahat; ingatan-ingatan itu terasa seperti pecahan kaca tajam yang mengiris setiap kali ia mencoba menutup pelupuk matanya. Setiap detak jantungnya terasa seperti peringatan. 

Ia bangkit dari ranjang dengan langkah gontai, lalu berjalan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke area luar akademi. Summer menempelkan keningnya pada permukaan kaca yang sedingin es, berusaha mencari apa pun di dunia luar yang bisa mengalihkan perhatiannya dari kegelapan yang sedang meluap di dalam kepalanya sendiri. 

Di lapangan basket jauh di bawah sana, beberapa anak laki-laki sedang bermain di bawah siraman cahaya lampu sorot yang benderang. Suara pantulan bola dan teriakan mereka teredam oleh tebalnya kaca, namun mata Summer tidak mengikuti pergerakan bola tersebut. 

Pandangannya justru terkunci pada satu titik. 

Di sana, berdiri terpisah dari keriuhan permainan, adalah dia—anak laki-laki yang ia lihat di gerbang akademi saat pertama kali tiba. Ia berdiri bersandar pada sebuah tiang lampu yang tinggi, sosoknya tampak absolut dan sunyi di bawah langit malam yang luas. Bagi Summer, laki-laki itu terlihat seolah ia adalah satu-satunya pilar yang mampu menahan langit RCA agar tidak runtuh menimpa tempat itu. 

Itu adalah sebuah kesadaran yang mengerikan bagi Summer. Ia sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki itu, namun tubuhnya memberikan reaksi yang aneh. Seperti hewan terluka yang mendadak menemukan tempat persembunyian yang aman, detak panik di jantung Summer berangsur-angsur melambat hanya dengan memandangi siluet laki-laki itu dari kejauhan. 

Ada rasa benci yang tiba-tiba muncul di hatinya. Summer membenci kenyataan bahwa seorang asing, yang bahkan tidak mengetahui keberadaannya, memiliki kuasa sebesar itu atas napasnya sendiri. Ia membenci betapa rapuhnya dirinya di hadapan kehadiran laki-laki itu yang begitu tenang. 

“Siapa kamu sebenarnya…?” bisiknya ke arah ruangan yang kosong dan sunyi. Napasnya yang hangat meninggalkan uap yang mengaburkan kaca jendela yang dingin di depannya. 

Laki-laki di bawah sana sama sekali tidak menoleh. Ia tidak perlu melakukannya. Namun, untuk pertama kalinya sejak bayangan darah menghantui pikirannya di kamar mandi tadi, kebisingan di dalam diri Summer mulai mereda. Ia merasa tenang. 

Itu bukan cinta—bukan sesuatu yang seindah itu. Itu adalah sebuah permohonan sunyi yang sangat putus asa akan sebuah perlindungan, sebuah ketenangan yang bahkan Summer sendiri tidak menyadari bahwa ia sedang mencarinya. 

BERSAMBUNG…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   54

    CHAPTER 54Royal Crest Academy bukan sekadar sekolah. Ia adalah sebuah wilayah.Sebuah kompleks pendidikan yang membentang luas di pinggiran kota London, menempati ratusan hektar lahan yang dipagari bukan oleh tembok tinggi—melainkan oleh reputasi yang jauh lebih kokoh daripada beton mana pun.Dari udara, RCA tampak seperti kota kecil yang dirancang dengan presisi. Gedung-gedungnya tersusun rapi, dipisahkan oleh taman, jalan setapak berbatu, dan danau buatan yang memantulkan langit Inggris yang sering murung. Tidak ada sudut yang dibiarkan tumbuh liar. Setiap pohon dipangkas. Setiap jalur ditata. Segalanya terkontrol.Di sisi timur kompleks berdiri RCA High School—tempat murid-murid berusia belasan tahun ditempa sejak dini. Gedung-gedungnya tinggi, bergaya klasik Eropa, dengan pilar marmer dan jendela besar yang membiarkan cahaya masuk tanpa memberi ruang bagi bayangan untuk bersembunyi. Di sinilah Summer, Emma, Jess, dan murid-murid lain menghabiskan hari-hari

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   53

    CHAPTER 53Di balik bar chef yang terbuat dari kayu hinoki pucat, Dylan berdiri dengan apron hitam yang membungkus kemeja gelapnya.Tangannya bergerak dengan kecepatan yang menakutkan namun penuh presisi—irisan ikan salmon toro itu jatuh dengan rapi, nasi ditekan dengan tekanan yang pas agar tidak hancur namun tetap lembut. Ia seharusnya fokus pada seni memotong, sebuah cara yang biasanya ia gunakan untuk menenangkan pikirannya yang selalu berisik dengan data dan strategi akademi. Ia tidak berniat memperhatikan meja di sudut itu.Namun pikirannya, matanya, dan seluruh syaraf tubuhnya… tidak sepakat.Tanpa sadar, pandangannya melayang ke arah Summer. Di bawah temaram lampu lampion, Dylan melihat cara gadis itu duduk—sedikit kaku, seolah ia takut merusak estetika tempat ini. Ia melihat bagaimana Cloud condong sesekali saat bicara, mencoba memecah jarak. Dan ia melihat Summer menanggapi dengan senyum tipis—sopan, tenang, namun sama sekali tidak mengundang.Dyla

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   52

    CHAPTER 52Malam itu, Summer duduk sendirian di bangku taman dalam. Berbeda dengan taman-taman lain di Royal Crest Academy yang terbuka dan luas, taman ini adalah sebuah courtyard tersembunyi yang dikelilingi oleh dinding kaca Building A yang menjulang. Di sini, kemewahan RCA terasa lebih tenang dan sunyi. Lantainya bukan rumput biasa, melainkan susunan batu kuarsit putih yang berpendar lembut di bawah cahaya bulan. Di tengahnya, terdapat kolam refleksi yang airnya tidak bergerak sedikit pun, tampak seperti cermin hitam yang sangat mahal. Bangku yang diduduki Summer terbuat dari kayu eboni yang dipoles hingga permukaannya terasa sedingin porselen. Udara di sini terasa lebih tipis, membawa aroma bunga Night-Blooming Jasmine yang ditanam di sepanjang koridor kaca. Lampu-lampu taman di sini berupa pilar-pilar kristal minimalis yang tertanam di lantai, memantulkan cahaya kekuningan yang redup ke dedaunan pohon perak yang rimbun, menciptakan bayangan yang bergerak stat

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   51

    CHAPTER 51Sunyi kembali merambat di antara mereka. Summer menggeser berat badannya dengan canggung, sebelum akhirnya memilih kata-kata yang paling aman untuk memecah kebuntuan. "Ah... tentang jas Kak Dylan... yang malam itu," Summer membuka suara dengan ragu. “Aku sudah masukkan ke laundry,” lanjut Summer cepat. “Laundry internal RCA. Mereka bilang butuh dua hari karena bahannya khusus.” Nada suaranya hati-hati, seolah takut dianggap sembarangan."Kau simpan saja dulu," jawabnya singkat. "Tidak perlu terburu-buru." Kalimat itu memutus pembicaraan sebelum sempat berkembang lebih jauh. Dylan kemudian melirik ujung koridor yang mengarah ke area asrama putri, tempat lampu-lampu menyala redup dan lorong tampak memanjang tak berujung. "Sudah malam," ucap Dylan kemudian. Nada suaranya netral, sebuah pernyataan waktu yang objektif, tanpa bumbu kepedulian yang nyata. "Biar aku antar sampai depan lift." Tidak ada nada memaksa, tidak ada alasan yang dibuat-bua

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   50

    CHAPTER 50Dylan mencondongkan tubuh sedikit, jarak mereka menyempit. Tatapannya tidak berkedip. “Meski dia kuat,” ujar Dylan, “kekuatan tanpa senjata hanya bertahan—bukan menang.” Ia mencondongkan kepala sedikit. “Dan kau,” katanya tenang, “belum menjadi senjata itu.”Cloud terpaku. Ia menelan ludah yang terasa pahit. Dre, Tom, dan Axl mematung, tidak percaya Dylan akan bersikap sefrontal itu.Dre berdehem, mencoba menarik napas. “Ehmm. Jadi… apa yang harus kita lakukan?”“Setiap kali kalian mendengar rumor itu,” perintah Dylan tanpa ragu, “dari siapa pun. Entah anak bangsawan atau putra presiden. Ancam mereka. Pastikan mereka mendapat surat peringatan dari administrasi. Dan jika perlu—keluarkan dari akademi ini.” “Gue setuju,” Tom menyeringai. “Gue udah lama pengen ngeluarin beberapa siswa.”“Ini bukan permainan,” potong Dylan dingin.Dre langsung melempar bantal sofa ke arah Tom. “Mulut lo dijaga.”Cloud tidak berkata apa-apa. Ia menunduk, me

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   49

    CHAPTER 49Di sisi lain kampus, di sebuah kamar yang jauh lebih sederhana dan sunyi, Summer Bong sedang menenggelamkan diri di meja belajarnya. Buku-buku teks terbuka lebar, catatan tersusun dengan urutan yang sangat rapi, dan ujung penanya bergerak tanpa henti. Ia memaksa angka dan rumus matematika tingkat tinggi mengisi setiap inci otaknya, mencoba membangun benteng agar pikirannya tidak kembali terseret ke malam lelang itu. Ke aula. Ke nama yang terus menghantuinya. Di seberang meja Summer, Emma fokus pada rangkaian kecil di atas mejanya—prototipe robotik yang setengah jadi. Tangannya cekatan, matanya tajam, pikirannya tenggelam pada mekanisme dan logika.Tidak ada musik. Tidak ada percakapan. Namun, di kamar ini tidak ada ketegangan yang menyesakkan. Hanya ada ketenangan yang mereka pilih dengan sadar untuk bertahan hidup.Dua kamar.Dua dunia.Dua cara bertahan yang sangat berbeda.Dua kamar. Dua dunia yang bertolak belakang. Dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status