LOGINCHAPTER 5
Keesokan paginya, rasa nyeri akibat serangan panik dan insiden klinik kemarin masih melekat erat pada Summer, seperti kabut tipis yang enggan pergi dari nadinya. Bagi Summer, masuk ke Gedung A sama sekali tidak terasa seperti sebuah kemenangan. Sebaliknya, berada di gedung paling bergengsi, tempat para elit berkuasa, rasanya seperti berdiri telanjang di bawah sorotan lampu sorot raksasa yang menolak untuk dipadamkan Summer merasakan tekanan itu begitu ia melangkah melewati pintu kaca otomatis Gedung A yang megah. Tatapan mata para penghuninya—anak-anak dari kasta tertinggi—mengikuti setiap langkahnya di sepanjang koridor marmer. Mereka sedang menilai, menimbang, dan memutuskan di mana posisi gadis ini dalam rantai makanan mereka. Bisik-bisik kejam seolah menempel di setiap jejak kakinya, bergema di antara pilar-pilar tinggi. Peringkat satu. Gadis taksi. Gedung A. Menjelang jam makan siang, rumor itu telah menumbuhkan duri-duri yang tajam. Kafetaria utama berdengung lebih keras dari biasanya, dipenuhi aura persaingan yang menyesakkan. Summer mengambil nampan makanannya dan melangkah dengan hati-hati, memilih meja di area tepi yang paling tidak mencolok. Ia bahkan belum sempat duduk ketika ia merasakan sebuah niat buruk mengunci punggungnya. Blair—senior dengan julukkan ratu tak bermahkota di RCA—sudah menyadari kehadirannya. Blair menatap Summer dengan tatapan yang bisa membekukan darah. Di matanya, Summer adalah ancaman: Cantik, peringkat satu, dan kini berada di wilayahnya. Blair mencondongkan tubuh ke arah teman-temannya di meja senior, bibirnya melengkung sinis yang mematikan. Sora menyilangkan tangan dengan angkuh, sementara Eve mendengus meremehkan. “Jadi, itu dia,” suara Blair terdengar ringan namun tajam, memecah kebisingan di sekitar mereka. “Gadis yang terus dibicarakan semua orang seolah-olah dia adalah keajaiban dunia.” Summer baru saja hendak menurunkan tubuhnya ke kursi. Sedetik kemudian—brak! Nampan di tangannya terjungkal dengan kasar. Makanan tumpah membasahi seragam RCA-nya yang pucat. Saus kental mengotori roknya, dan aroma tajam bumbu makanan menyeruak lebih dulu sebelum tawa penghinaan pecah di seluruh kafetaria. “Ya Tuhan,” kata Blair, menutup mulutnya dengan tangan, berpura-pura terkejut dengan akting yang sangat buruk. “Aku ceroboh sekali, kakiku sepertinya terpeleset.” Tawa murid-murid lain menggelembung, mengisi ruangan yang luas itu. Summer membeku. Ia tidak berteriak, tidak menangis, dan tidak terlihat terkejut. Ia berdiri di sana dalam keheningan yang janggal, bernapas dengan sangat hati-hati, tangan mengepal erat di sisi tubuhnya demi menahan guncangan trauma yang mencoba bangkit. Lalu—udara di kafetaria mendadak berubah. Dingin dan berat. Langkah kaki yang stabil memasuki area kafetaria. Suara kursi-kursi yang bergeser karena orang-orang menyingkir secara refleks terdengar serentak. Percakapan merendah dengan cepat, lalu mati total. Lima anak laki-laki itu masuk. Tanpa tergesa. Tanpa butuh pengumuman. Di tengah barisan itu, dia berdiri—Dylan. Tinggi, tenang, dan tampak tak tersentuh oleh hiruk-pikuk dunia di sekitarnya. Suaranya yang rendah membelah keheningan yang mencekam itu. Datar, namun penuh otoritas. “Siapa pun yang melakukan ini,” ucapnya. Suaranya tidak keras, namun memiliki sisi tajam yang membuat suasana kafetaria seketika mendingin. Ia tidak menatap Summer, tidak juga menatap kerumunan yang ketakutan. Matanya tertuju lurus pada kekacauan makanan di lantai marmer—noda kotor pada tatanan sempurna yang selalu ia jaga. “Bersihkan.” Blair, yang tadinya angkuh, mundur seketika. Telapak tangannya terangkat secara refleks seperti sedang menghadapi ujung senjata. “Bukan aku,” katanya cepat, suaranya yang tadi sinis kini bergetar hebat. “Itu kecelakaan. Eve yang tidak sengaja menabraknya!” Eve, yang berada di samping Blair, mendadak memucat. Wajahnya berubah seperti hantu yang kehilangan nyawa. Lelaki itu menatap Eve. Tatapannya tidak keras, namun menyimpan keheningan yang menuntut kepatuhan mutlak. “Sekarang,” katanya. Kata itu meluncur sebagai perintah datar, tanpa ruang untuk bernapas, apalagi untuk beradu alasan. Eve langsung berlutut di lantai yang kotor. Tangannya gemetar hebat saat ia mulai memunguti sisa makanan dan mengumpulkan nampan. Bunyi plastik yang beradu dengan lantai marmer terdengar seperti gemuruh di ruangan yang sunyi senyap itu. Tak ada lagi yang tertawa. Tak ada yang berani berbisik. Summer tidak menatap lelaki itu, tidak juga menatap Eve yang sedang dipermalukan. Ia hanya merapikan tasnya, wajahnya sedatar air tenang. “Terima kasih,” katanya pelan—sebuah ucapan yang entah ditujukan kepada siapa di ruangan itu. Lalu ia berbalik dan pergi. Tidak tergesa. Tidak gemetar. Ia hanya… menghilang dari pandangan, meninggalkan harga dirinya yang tetap utuh meski seragamnya ternoda. Sesuatu berkelebat di mata lelaki tersebut. Terkejut. Ia terbiasa dengan air mata. Ketakutan. Pelarian. Bukan ini. Kepalanya tidak menoleh—namun sudut pandangnya mengikuti langkah Summer hingga gadis itu benar-benar lenyap di balik pintu kaca. ⸻ Keheningan yang ia tinggalkan di kafetaria tadi seolah berubah menjadi beban fisik yang menekan punggung Summer, semakin berat di setiap langkah. Summer tidak menunggu untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya. Ia berjalan cepat—hampir berlari—menyusuri koridor panjang menuju asrama. Kepalanya tertunduk, napasnya pendek dan memburu. Ia tidak berhenti sampai pintu kamar asramanya tertutup rapat dan terkunci di belakangnya. Baru saat itulah, pertahanannya runtuh; tangannya mulai gemetar hebat tak terkendali. Dengan gerakan panik, Summer mengganti seragamnya yang ternoda saus dengan seragam cadangan yang ia temukan di dasar koper. Masih sedikit kusut. Masih terasa lembap karena udara asrama yang dingin. Tidak sempurna—tapi setidaknya cukup bersih untuk menutupi kehancurannya. "Siapa pun laki-laki itu, dia membuat rasa sakit ini terdiam seketika. Dan aku takut... aku takut betapa aku mulai membutuhkannya untuk sekadar bernapas," bisiknya pada pantulan dirinya di cermin. Ia menekan telapak tangannya kuat-kuat ke pinggiran wastafel, menatap matanya sendiri yang tampak lelah, lalu segera menyelinap pergi. Ia membutuhkan pelarian. Kakinya membawanya menuju kandang kuda di tepi kampus yang terpencil. Aroma jerami kering, kulit pelana, dan tanah basah membungkusnya seperti sesuatu yang akrab, mengingatkannya pada sedikit sisa kedamaian yang pernah ia miliki. Summer meletakkan tangannya di pagar kayu, mengusap leher seekor kuda cokelat yang mendekat. “Hai,” bisiknya lirih, suaranya parau. “Menurutmu... aku benar-benar bisa bertahan melakukan ini?” Kuda itu mendengus pelan, seolah memahami duka yang ia bawa. “Hari ini… sangat berat,” gumam Summer lagi. “Jujur, aku tidak baik-baik saja. Tapi kalian pendengar yang baik. Terima kasih sudah ada di sini.” Krak. Suara langkah kaki yang menginjak kerikil tajam terdengar di belakangnya. Sebelum Summer sempat menoleh untuk melihat siapa yang datang— Bugh! Ia didorong dengan kasar. Tubuhnya terlempar ke depan, dan tanah istal yang kotor menyergap wajahnya. Debu dan serpihan jerami mengotori lengan serta rok seragamnya yang baru saja ia ganti. Rasa sakit menyala di sikunya, lalu meredup menjadi denyut yang menyiksa. Suara tawa yang melengking segera bergema di bangunan kayu itu. “Ups,” kata Blair dengan nada ringan yang dibuat-buat, berdiri angkuh bersama kelompoknya. “Sepertinya itu yang terjadi kalau kamu mencoba menarik perhatian Dylan. Murahan sekali.” Sora dan Eve tertawa kompak di belakangnya, menikmati pemandangan Summer yang jatuh di tanah. Summer tidak membalas. Ia langsung bangkit berdiri, mengabaikan rasa perih di kulitnya. Jantungnya berpacu liar, bukan lagi karena takut, tapi karena waktu yang terus mengejarnya. Ia mengikat rambutnya menjadi sanggul berantakan dengan jari-jari yang masih gemetar. Ini adalah seragam bersih terakhir yang ia miliki. Tidak ada waktu untuk kembali, tidak ada pilihan lain. Beberapa helai jerami menempel kuat di kain seragamnya, menolak lepas. Seragamnya ternoda debu tanah, dan bekas kemerahan terlihat di pipinya. Teng! Teng! Bel tanda masuk berbunyi nyaring. Tajam dan tanpa ampun, membelah kesunyian area istal. Summer tidak menoleh ke belakang untuk melihat Blair. Sebuah pikiran tersangkut di kepalanya saat ia mulai berlari. Dylan? Siapa…? Oh. Orang itu. Ah, sudahlah. Summer menggeleng keras, seolah mencoba mengusir pikirannya sendiri. Nama itu tidak penting sekarang, katanya dalam hati, tegas—bukan untuk siapa pun, selain dirinya sendiri. Ia tahu betul satu hal: sekolah ini tidak memberi ruang untuk kesalahan sekecil apa pun. Nanti aku terlambat. Langkahnya refleks dipercepat. Terlambat satu menit saja, pikirnya lagi, dan kali ini nadanya nyaris seperti peringatan, aku benar-benar tamat di sekolah ini. Ia mulai berlari sekuat tenaga menuju gedung utama, membiarkan debu istal tertinggal di belakangnya. ⸻ Di sisi lain area akademi itu—jalur setapak menuju arena berkuda biasanya menjadi wilayah mati di antara jam pelajaran. Hanya embusan angin yang menyapu debu di atas jalur kerikil, serta aroma khas kuda dan pupuk organik yang tertinggal. Sebagian besar murid RCA menghindari tempat ini karena dianggap terlalu "kotor", kecuali mereka adalah anggota inti klub berkuda. Dylan melangkah memotong jalur itu dengan aura yang mendominasi kesunyian. Cloud berjalan di sampingnya, bicaranya mengalir tentang jadwal latihan dan cedera ligamen yang belum pulih total. Dylan hanya mendengarkan setengah hati, matanya menatap lurus ke depan, hingga sebuah suara membelah udara. Tawa itu tidak ceria. Bunyinya tajam, penuh ejekan yang sengaja disuarakan agar terdengar. Langkah Dylan melambat secara naluriah. Di seberang jalur kerikil, sebuah sosok muncul dari arah istal kayu yang gelap. Summer. Pemandangan itu kontras dengan kemegahan gedung-gedung Gotik di sekeliling mereka. Seragam RCA yang pucat dan mahal itu kini ternoda tanah kecokelatan. Salah satu lengannya menyisakan garis gelap—bekas hantaman keras dengan tanah. Debu istal melekat di kulit lengannya yang putih, dan ada goresan tipis di pipinya yang mulai memerah akibat iritasi. Namun, Summer tidak berhenti. Tidak ada air mata. Tidak ada tanda-tanda kehancuran. Ia meluruskan posturnya, mengangkat dagu, dan terus berjalan dengan mata lurus ke depan—seolah ia tidak baru saja bangkit dari tanah kotor. Tawa itu kembali meledak di antara kerumunan kecil murid yang lewat. “Lihat dia. Penampilan yang pantas.” “Gadis taksi memang cocok dengan noda tanah seperti itu.” Summer tidak bereaksi. Ia memperlakukan ejekan itu seolah-olah itu hanya deru angin yang tidak berarti. Orang-orang di sekitar melambat, sengaja berhenti untuk menatap pemandangan memalukan itu. Namun Dylan tetap melangkah. Itu adalah aturannya: jangan mengintervensi hal-hal yang tidak efisien. Namun, dari sudut matanya, ia menangkap setiap detail gerakan Summer—stabil, terkendali, dan penuh penolakan untuk memberikan reaksi yang diinginkan para perundungnya. Pengekangan yang sama. Sifat keras kepala yang sama dengan yang ia lihat di kafetaria. Tiba-tiba, Cloud berhenti tanpa berpikir. “Summer?” Dylan mendengar nama itu. Ia tidak bereaksi. Saat Cloud memanggil namanya— Jantungnya jatuh. "Oh tidak. Tolong jangan. Bagaimana dia tahu namaku? Belum cukupkah semua ini? Kenapa ini terus menumpuk?" gumam Summer pelan, nyaris tak terdengar. Cloud melangkah lebih dekat. “Kamu nggak apa-apa?” Summer terus berjalan setengah detik lagi sebelum akhirnya terpaksa berhenti. Hanya satu tarikan napas pendek. Itu cukup baginya untuk memasang topeng ketenangan. “Tunggu, Bro,” kata Cloud pada Dylan, menghentikan langkah sahabatnya itu. Dylan tidak menjawab, namun matanya—hanya sepersekian milimeter—bergeser ke arah Summer. BERSAMBUNG…CHAPTER 54Royal Crest Academy bukan sekadar sekolah. Ia adalah sebuah wilayah.Sebuah kompleks pendidikan yang membentang luas di pinggiran kota London, menempati ratusan hektar lahan yang dipagari bukan oleh tembok tinggi—melainkan oleh reputasi yang jauh lebih kokoh daripada beton mana pun.Dari udara, RCA tampak seperti kota kecil yang dirancang dengan presisi. Gedung-gedungnya tersusun rapi, dipisahkan oleh taman, jalan setapak berbatu, dan danau buatan yang memantulkan langit Inggris yang sering murung. Tidak ada sudut yang dibiarkan tumbuh liar. Setiap pohon dipangkas. Setiap jalur ditata. Segalanya terkontrol.Di sisi timur kompleks berdiri RCA High School—tempat murid-murid berusia belasan tahun ditempa sejak dini. Gedung-gedungnya tinggi, bergaya klasik Eropa, dengan pilar marmer dan jendela besar yang membiarkan cahaya masuk tanpa memberi ruang bagi bayangan untuk bersembunyi. Di sinilah Summer, Emma, Jess, dan murid-murid lain menghabiskan hari-hari
CHAPTER 53Di balik bar chef yang terbuat dari kayu hinoki pucat, Dylan berdiri dengan apron hitam yang membungkus kemeja gelapnya.Tangannya bergerak dengan kecepatan yang menakutkan namun penuh presisi—irisan ikan salmon toro itu jatuh dengan rapi, nasi ditekan dengan tekanan yang pas agar tidak hancur namun tetap lembut. Ia seharusnya fokus pada seni memotong, sebuah cara yang biasanya ia gunakan untuk menenangkan pikirannya yang selalu berisik dengan data dan strategi akademi. Ia tidak berniat memperhatikan meja di sudut itu.Namun pikirannya, matanya, dan seluruh syaraf tubuhnya… tidak sepakat.Tanpa sadar, pandangannya melayang ke arah Summer. Di bawah temaram lampu lampion, Dylan melihat cara gadis itu duduk—sedikit kaku, seolah ia takut merusak estetika tempat ini. Ia melihat bagaimana Cloud condong sesekali saat bicara, mencoba memecah jarak. Dan ia melihat Summer menanggapi dengan senyum tipis—sopan, tenang, namun sama sekali tidak mengundang.Dyla
CHAPTER 52Malam itu, Summer duduk sendirian di bangku taman dalam. Berbeda dengan taman-taman lain di Royal Crest Academy yang terbuka dan luas, taman ini adalah sebuah courtyard tersembunyi yang dikelilingi oleh dinding kaca Building A yang menjulang. Di sini, kemewahan RCA terasa lebih tenang dan sunyi. Lantainya bukan rumput biasa, melainkan susunan batu kuarsit putih yang berpendar lembut di bawah cahaya bulan. Di tengahnya, terdapat kolam refleksi yang airnya tidak bergerak sedikit pun, tampak seperti cermin hitam yang sangat mahal. Bangku yang diduduki Summer terbuat dari kayu eboni yang dipoles hingga permukaannya terasa sedingin porselen. Udara di sini terasa lebih tipis, membawa aroma bunga Night-Blooming Jasmine yang ditanam di sepanjang koridor kaca. Lampu-lampu taman di sini berupa pilar-pilar kristal minimalis yang tertanam di lantai, memantulkan cahaya kekuningan yang redup ke dedaunan pohon perak yang rimbun, menciptakan bayangan yang bergerak stat
CHAPTER 51Sunyi kembali merambat di antara mereka. Summer menggeser berat badannya dengan canggung, sebelum akhirnya memilih kata-kata yang paling aman untuk memecah kebuntuan. "Ah... tentang jas Kak Dylan... yang malam itu," Summer membuka suara dengan ragu. “Aku sudah masukkan ke laundry,” lanjut Summer cepat. “Laundry internal RCA. Mereka bilang butuh dua hari karena bahannya khusus.” Nada suaranya hati-hati, seolah takut dianggap sembarangan."Kau simpan saja dulu," jawabnya singkat. "Tidak perlu terburu-buru." Kalimat itu memutus pembicaraan sebelum sempat berkembang lebih jauh. Dylan kemudian melirik ujung koridor yang mengarah ke area asrama putri, tempat lampu-lampu menyala redup dan lorong tampak memanjang tak berujung. "Sudah malam," ucap Dylan kemudian. Nada suaranya netral, sebuah pernyataan waktu yang objektif, tanpa bumbu kepedulian yang nyata. "Biar aku antar sampai depan lift." Tidak ada nada memaksa, tidak ada alasan yang dibuat-bua
CHAPTER 50Dylan mencondongkan tubuh sedikit, jarak mereka menyempit. Tatapannya tidak berkedip. “Meski dia kuat,” ujar Dylan, “kekuatan tanpa senjata hanya bertahan—bukan menang.” Ia mencondongkan kepala sedikit. “Dan kau,” katanya tenang, “belum menjadi senjata itu.”Cloud terpaku. Ia menelan ludah yang terasa pahit. Dre, Tom, dan Axl mematung, tidak percaya Dylan akan bersikap sefrontal itu.Dre berdehem, mencoba menarik napas. “Ehmm. Jadi… apa yang harus kita lakukan?”“Setiap kali kalian mendengar rumor itu,” perintah Dylan tanpa ragu, “dari siapa pun. Entah anak bangsawan atau putra presiden. Ancam mereka. Pastikan mereka mendapat surat peringatan dari administrasi. Dan jika perlu—keluarkan dari akademi ini.” “Gue setuju,” Tom menyeringai. “Gue udah lama pengen ngeluarin beberapa siswa.”“Ini bukan permainan,” potong Dylan dingin.Dre langsung melempar bantal sofa ke arah Tom. “Mulut lo dijaga.”Cloud tidak berkata apa-apa. Ia menunduk, me
CHAPTER 49Di sisi lain kampus, di sebuah kamar yang jauh lebih sederhana dan sunyi, Summer Bong sedang menenggelamkan diri di meja belajarnya. Buku-buku teks terbuka lebar, catatan tersusun dengan urutan yang sangat rapi, dan ujung penanya bergerak tanpa henti. Ia memaksa angka dan rumus matematika tingkat tinggi mengisi setiap inci otaknya, mencoba membangun benteng agar pikirannya tidak kembali terseret ke malam lelang itu. Ke aula. Ke nama yang terus menghantuinya. Di seberang meja Summer, Emma fokus pada rangkaian kecil di atas mejanya—prototipe robotik yang setengah jadi. Tangannya cekatan, matanya tajam, pikirannya tenggelam pada mekanisme dan logika.Tidak ada musik. Tidak ada percakapan. Namun, di kamar ini tidak ada ketegangan yang menyesakkan. Hanya ada ketenangan yang mereka pilih dengan sadar untuk bertahan hidup.Dua kamar.Dua dunia.Dua cara bertahan yang sangat berbeda.Dua kamar. Dua dunia yang bertolak belakang. Dan







