LOGINCHAPTER 3
“Oh no...” Jess buru-buru menarik pelan lengan Summer. “Summer...” bisiknya cepat. “Kamu nggak dengar aku tadi?!” Namun Summer tidak mengalihkan pandangannya dari charm kecil di dekat sepatu pria itu. Ia melangkah sedikit mendekat sambil berkata pelan, “Itu gelangku.” Pria itu tetap diam dan tidak bergeser sedikitpun, sedangkan tatapan Summer masih terpaku pada charm itu. Ia bisa mendengar beberapa suara di sekitarnya, tetapi tidak benar-benar memedulikannya. “Dia barusan ngomong nggak punya mata?” “Gue suka dia.” “Ini bersejarah sih.” Summer perlahan berjongkok, lalu mendorong pelan ujung sepatu pria itu agar charm kecilnya bisa diambil. “SUMMER?!” suara Jess kali ini terdengar jauh lebih panik. Dari tempatnya berdiri, Jess melihat tatapan pria itu perlahan turun ke bawah, tepat ke charm kecil di dekat sepatunya, lalu bergeser ke gelang tipis yang melingkar di pergelangan tangan Summer. Begitu sepatunya sedikit bergeser, Summer buru-buru mengambil charm itu dan langsung menggenggamnya erat di telapak tangannya. Di sisi lain, Axl sudah tidak bisa menahan tawanya. “Anjir…” Dre ikut terkekeh sambil menggeleng. “Dia literally geser kaki Dylan.” Bahkan Cloud yang sejak tadi hanya diam terlihat tersenyum tipis. Baru saat berdiri lagi Summer seperti benar-benar menyadari siapa yang ada di depannya. Wajahnya sedikit berubah sebelum akhirnya berkata pelan, “…maaf. Aku cuma mau ambil gelangku.” Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik. Jess refleks menyusul di sampingnya, lalu menahan lengannya pelan. “Apa kau gila?!” bisiknya panik. “Kau nggak dengar ucapanku tadi?! Itu Dylan Seo!” Namun Summer hanya menunduk sebentar sambil tetap menggenggam charm kecil itu erat di tangannya. “Kau yang paling tahu ini berharga buatku, Jess.” Jess langsung terdiam. Ia tahu betul betapa berharganya gelang itu bagi Summer. Sejak kecil, Summer tidak pernah sekalipun melepaskannya. ── ☀︎ ── Jess masih menarik lengan Summer bahkan setelah mereka masuk ke koridor menuju kafetaria. Sesekali ia menoleh ke belakang sebelum kembali memandang Summer dengan wajah panik. “Aku serius, Summer. Kau tadi benar-benar nyuruh Dylan Seo pakai mata.” “Aku refleks,” jawab Summer pelan sambil memasang kembali charm bintang laut di gelangnya. Jess langsung memegang dadanya sendiri. “Refleksmu bikin umurku pendek.” Summer hanya menunduk sebentar. “Maaf.” Mereka kembali berjalan, tetapi semakin dekat ke kafetaria, semakin banyak tatapan yang mengarah pada mereka. “Itu dia…” bisik seorang siswi sambil melirik ke arah Summer. “Cewek taxi itu." “Berani banget nyentuh Dylan.” “Seperti itulah sikap orang miskin…” sahut temannya pelan. Beberapa murid lain ikut melihat Summer dari atas sampai bawah lalu salah satu dari mereka berkomentar sinis, “Gelang murah begitu dibela mati-matian.” “Ya iyalah,” balas temannya sambil menyandarkan siku ke meja. “Mungkin itu barang paling mahal yang dia punya.” Jess langsung melotot ke arah meja mereka, tetapi sebelum sempat mengatakan apa-apa, Summer sudah lebih dulu menarik pelan ujung blazernya. “Sudah…” Jess membuang napas pelan, masih terlihat kesal, tetapi akhirnya memilih tetap berjalan masuk ke dalam bersama Summer. Begitu pintu kafetaria terbuka, beberapa kepala langsung menoleh ke arah mereka. “Lihat tuh, Taxi Girl. Masih berani muncul.” “Orang kayak dia biasanya memang nggak tahu aturan,” sahut yang lain sambil memutar sedotannya asal. Summer hanya menggenggam tali tasnya sedikit lebih erat dan berpura-pura tidak mendengar. Ia terus mengikuti Jess sampai mereka menemukan meja kosong di dekat jendela. Jess meletakkan tray makanannya sedikit lebih keras dari seharusnya lalu langsung duduk. “Kalau gue boleh mukul orang di RCA, mungkin sekarang udah ada korban.” Summer membuka botol minumnya pelan lalu menoleh ke arahnya. “Jesselle, please.” Jess menatapnya beberapa detik sebelum mengembuskan napas panjang dan menggeleng pelan. “Kau benar-benar nggak tahu siapa Dylan Seo?” Summer menggeleng kecil. "Aku kan baru datang ke RCA." “Oh iya... lupa.” gumam Jess sambil menyandarkan tubuh ke kursinya. “Senior tahun lalu pernah bikin masalah kecil sama dia di lapangan basket.” “Lalu?” tanya Summer pelan." “Besoknya dia dikeluarkan dari RCA,” jawab Jess sambil menurunkan suaranya sedikit. Summer sedikit mengernyit. “Pria itu yang suruh?” Jess langsung menggeleng cepat. “Justru itu masalahnya.” Ia melirik sekeliling lebih dulu sebelum kembali menatap Summer. “Dylan nggak pernah perlu ngomong apa-apa.” Summer masih memikirkan ucapan itu ketika suara-suara di sekitar mereka perlahan mengecil. Beberapa murid yang tadi masih mengobrol mulai menoleh ke arah pintu, sementara yang lain tanpa sadar menyingkir memberi jalan. Jess ikut melirik ke sana lalu mengembuskan napas pelan. “…mereka datang.” Summer menoleh mengikuti arah pandang Jess. Kelima pria itu berjalan seperti biasa. Namun entah kenapa, pandangan Summer selalu berakhir pada pria yang berjalan di tengah tanpa ia sadari. ── ☀︎ ── Suara pengumuman tiba-tiba terdengar dari seluruh speaker akademi. “Seluruh murid baru diharapkan segera menuju aula utama untuk pengumuman hasil penempatan akademik.” Hampir seketika suasana kafetaria berubah ramai. Murid-murid mulai berdiri sambil mengambil tablet dan membereskan barang mereka. Dari meja di dekat Summer, seorang murid laki-laki langsung memegang kepalanya dramatis. “Ya Tuhan... gue berdoa pada Tuhan, Dewa, dan Buddha gue masuk Gedung A.” Temannya langsung melirik heran. “Agama lo apa sih sebenarnya?” “Semua gue sembah hari ini.” Suasana langsung berubah kacau. Suara kursi bergeser dan langkah kaki memenuhi seluruh kafetaria ketika para murid mulai bergegas keluar. Jess langsung mengangkat kepala lalu meraih tasnya. “Bagus,” katanya cepat. “Ini kesempatan kita buat lari.” Summer refleks menoleh ke arahnya. Jess buru-buru berdiri lalu menarik lengan Summer pelan. “Ayo, Sum!” Summer segera mengambil tasnya lalu ikut berjalan di sampingnya. Tanpa sadar ia sedikit menundukkan kepala dan mempercepat langkah, berharap bisa melewati kafetaria tanpa menarik perhatian siapa pun, terutama meja tempat kelima pria itu duduk. ── ☀︎ ── Aula utama Royal Crest Academy hampir penuh saat Summer masuk. Suara murid-murid memenuhi ruangan besar itu, bercampur dengan bunyi kursi bergeser dan notifikasi tablet yang terus berbunyi dari berbagai arah. Summer langsung berjalan ke deretan kursi dekat jendela lalu duduk di sana sambil merapikan rok seragamnya pelan. Ia meletakkan tablet di pangkuan dan tanpa sadar menggenggamnya sedikit lebih erat. Pandangannya beralih ke halaman akademi di balik kaca besar. Melihat area luar yang tenang seperti itu sedikit membantu menenangkan dadanya yang sejak pagi belum benar-benar tenang. “Ah, kau di sini.” Sebuah suara terdengar dari sampingnya. Summer menoleh dan melihat Emma langsung menjatuhkan diri ke kursi di sebelahnya lalu mengembuskan napas panjang sambil memeluk tabletnya sendiri. “Aku deg-degan.” Summer menatapnya sebentar lalu tersenyum tipis. “Aku juga.” Emma tiba-tiba mendekat lalu menurunkan suaranya seperti sedang membawa gosip besar. “Kamu sudah dengar belum?” bisiknya cepat. “Katanya ada murid baru yang datang ke RCA naik taksi.” Summer terdiam sesaat sebelum menjawab pelan, “Itu aku.” Mata Emma langsung membesar. Tablet di tangannya nyaris terlepas kalau saja tidak buru-buru dipegang lagi. “Oh Tuhan...” Ia spontan menutup wajahnya sendiri sebentar, lalu buru-buru menoleh ke arah Summer. “Summer, maaf. Aku nggak tahu.” Summer hanya menggeleng pelan. “Tidak apa-apa.” Baginya, taksi hanyalah kendaraan. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa semua orang mempermasalahkannya. Emma menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi sambil mengerang pelan. “Aku benar-benar harus berhenti ngomong sembarangan.” Summer tersenyum, tapi belum sempat mengatakan apa-apa lagi, pandangannya sudah tertuju ke depan saat seorang guru senior naik ke podium sambil membawa tablet tipis di tangannya. Suara-suara di seluruh aula perlahan mengecil dengan sendirinya hingga akhirnya benar-benar sunyi. “Harap tenang.” Layar digital besar di belakang podium perlahan menyala sementara data mulai dimuat satu per satu. Di sampingnya, Emma langsung duduk lebih tegak sambil menggigit bibir bawahnya sendiri. Jemarinya terus bergerak gelisah di atas tablet yang dipeluknya erat. Summer tanpa sadar ikut menggenggam tangannya sendiri di atas pangkuan. Bagaimana kalau ia gagal dan akademi ini menolaknya? Ia tidak punya pilihan lain. Dan yang paling tidak ia inginkan adalah kembali ke Jepang. Summer memejamkan mata sejenak lalu menarik napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Aku benci bagian ini,” gumam Emma lirih di sampingnya. Summer perlahan membuka mata dan ikut melihat ke depan. Nama-nama mulai bermunculan di layar besar, lalu beberapa detik kemudian tampil satu nama di urutan paling atas. Peringkat 1. SUMMER BONG. GEDUNG A. Tubuh Summer langsung menegang. Tanpa sadar jemarinya kembali memainkan charm bintang laut di pergelangan tangannya sementara pandangannya masih terpaku pada layar besar di depan. Di sekelilingnya, bisik-bisik mulai terdengar pelan dan semakin lama semakin ramai. “Summer Bong?” “Yang naik taxi itu?” “Dia ranking satu?” Di Royal Crest Academy, Gedung A adalah tempat yang hanya bisa dimasuki murid-murid terbaik. Gedung B masih dianggap membanggakan. Gedung C menjadi batas paling bawah. Di sekolah lain, murid Gedung C dianggap pintar, tetapi di dalam akademi ini kemampuan mereka justru sering dipertanyakan. Setelah Gedung C tidak ada lagi gedung berikutnya. Hanya ada satu pilihan, yaitu keluar. Seorang siswi di barisan depan melirik kecil ke arah Summer lalu berbisik ke temannya, “Dia cantik, sih.” Temannya ikut melihat ke arah Summer lalu mengangguk kecil. “Pintar juga.” Beberapa kursi di belakang mereka, seorang murid lain menyilangkan tangan sambil terus menatap layar. “Tapi dia bukan salah satu dari kita,” katanya pelan. “Pasti dibiayai donatur.” Summer perlahan menundukkan pandangannya. Jemarinya tanpa sadar mulai menggenggam rok seragamnya pelan di atas lutut. Entah kenapa ia sama sekali tidak merasa bangga. Semakin banyak tatapan mengarah kepadanya, semakin sesak pula dadanya. Ia bahkan mulai kesal pada dirinya sendiri. Kalau saja nilainya tidak setinggi ini, mungkin tidak akan ada begitu banyak orang yang terus memperhatikannya. Di sampingnya, Emma yang sejak tadi masih terpaku pada layar akhirnya menoleh dengan mata membesar. “Summer…” katanya pelan, masih terdengar tidak percaya. “Aku nggak nyangka ternyata aku sekamar sama seorang jenius. Selamat!” Emma perlahan menepuk bahunya. “Sum?… Summer?” Summer langsung berkedip beberapa kali lalu buru-buru menoleh ke Emma. “Kamu… masuk gedung mana?” tanyanya pelan, mencoba terdengar normal. “B,” jawab Emma sambil mengangkat bahu kecil. “Agak kecewa sih, tapi lumayan.” “Itu bagus.” Emma tertawa pelan. “Terima kasih karena sudah berusaha menghiburku, Sum.” Summer menatap Emma sejenak lalu tersenyum kecil. Di sekitar mereka, ketegangan semakin jelas. Beberapa murid berbisik terang-terangan dengan jari mengarah padanya. Yang lain menatapnya dengan penuh kebencian. Seorang guru terlihat bingung, ia memeriksa tabletnya berulang kali. Tapi tidak ada yang salah. Setiap jawaban yang Summer isi, benar. Tapi bagi Summer, peringkat satu bukanlah kemenangan. Itu hanya awal dari masalah baru. ོ☼𓂃BERSAMBUNG𓂃𓇼 𓂃 𓈒𓏸CHAPTER 136Summer dan Jess menemukan Emma di ruang tengah suite dengan laptop terbuka di hadapannya. Beberapa lowongan pekerjaan memenuhi layar, sementara percakapan dengan ibunya masih terbuka di ponsel yang tergeletak di atas meja.“Kamu mencari pekerjaan?” tanya Summer.Emma mengangkat wajah. Matanya sudah memerah meskipun ia berusaha tersenyum seperti biasa. “Usaha katering orang tuaku mengalami kerugian. Mesin pendingin mereka rusak dan sebagian besar bahan untuk pesanan besar tidak dapat digunakan. Mereka harus mengembalikan uang muka, membayar pemasok, dan memberikan ganti rugi kepada pelanggan.”Jess langsung duduk di sebelahnya. “Lalu pesan ibumu tadi?”“Untuk sementara mereka tidak bisa mengirim biaya hidup.” Emma menutup laptopnya sebelum Summer sempat membaca lowongan yang dipilihnya. “Beasiswaku memang menanggung biaya kuliah, tetapi tidak termasuk makan dan kebutuhan sehari-hari.”“Kamu tidak boleh bekerja di luar kampus tanpa izin RCA,” u
CHAPTER 135Di pusat latihan negaranya, Logan Miller baru menyelesaikan putaran terakhir ketika pelatih meniup peluit dan memintanya keluar dari kolam. Ia melepas kacamata renang, lalu melihat catatan waktu yang ditunjukkan dari tepi.“Masih lebih lambat daripada kemarin,” ujar pelatihnya.“Hanya sepersekian detik.”“Sepersekian detik cukup untuk membuatmu kehilangan rekor.”Logan tertawa dan mengangkat tubuhnya dari kolam. Sikap santainya sering membuat orang lupa bahwa dirinya belum pernah kalah selama empat tahun. Namun begitu pertandingan dimulai, Logan tidak pernah memberikan kesempatan kepada lawannya untuk mendekat.Seorang anggota tim menyerahkan handuk dan tablet kepadanya. “Kamu harus melihat wawancara Dylan Seo.”Nama tersebut langsung menarik perhatian Logan. Dua minggu sebelumnya, ia hanya terdaftar pada nomor 100 meter gaya bebas. Namun catatan waktu Dylan pada kejuaraan nasional membuatnya meminta federasi menambahkan namanya ke nomor
CHAPTER 134Dua minggu kemudian, latihan Dylan mulai mendapat perhatian lebih besar sejak pemegang rekor dunia memutuskan mengikuti nomor 200 meter gaya bebas. Beberapa stasiun televisi bahkan menunggu di luar pusat olahraga RCA sejak pagi untuk meliput persiapannya.Dylan tidak membiarkan keberadaan mereka mengubah jadwal latihan. Ia sudah berada di dalam kolam selama hampir dua jam, mengulang jarak yang sama hingga tubuhnya mulai terasa berat. Pelatih berdiri di tepi kolam dengan stopwatch di tangan, sementara beberapa anggota tim mencatat setiap perubahan waktu.“Sekali lagi,” ujar Dylan setelah melihat hasil terakhir.Pelatihnya menggeleng. “Kecepatanmu menurun pada lima puluh meter terakhir. Kalau dipaksakan sekarang, hasilnya tidak akan berubah.”“Selisihnya masih terlalu jauh.”“Kurang dari satu detik bukan selisih yang jauh.”“Cukup jauh untuk membuatku kalah.”Dylan kembali memasang kacamata renangnya, tetapi sang pelatih menahan bahunya
CHAPTER 133Minggu pagi biasanya menjadi waktu bagi Summer untuk membantu para pekerja di sekitar kampus, lalu beristirahat di bangku dekat danau. Kebiasaan itu sudah dimilikinya sejak masa SMA dan tidak pernah benar-benar berubah, bahkan setelah ia mulai tinggal bersama Emma dan Jess.Dylan mengetahui hal tersebut. Karena itu, ketika dua panggilannya tidak dijawab dan pesannya hanya bertanda terkirim, ia memutuskan mencari Summer ke arah danau.Dari balik deretan pohon, ia melihat Summer berjongkok tidak jauh dari jalur batu. Sebuah pouch kecil terbuka di sampingnya, sedangkan Naoki berada di dekat gadis itu.Dylan tidak dapat melihat apa yang sedang dipegang Summer, tetapi cara Naoki membantu merapikan barang-barangnya membuatnya tahu mereka hendak pergi.Saat Summer berdiri dan berjalan bersama Naoki menuju arah klinik, laki-laki itu akhirnya mengangkat wajah.Tatapan Naoki bertemu dengan Dylan.Tidak ada perubahan berarti pada wajahnya. Naoki han
CHAPTER 132Sore berikutnya, sebuah mobil dari perusahaan Dylan menunggu Summer di depan Fakultas Seni. Pengemudinya membawa Summer menuju kantor pusat perusahaan yang berada tidak jauh dari RCA, lalu berhenti di depan gedung berdinding kaca tersebut.Ethan telah menunggu di dekat pintu masuk ketika Summer tiba.“Selamat sore, Nona Summer.”“Selamat sore. Maaf merepotkanmu. Dylan masih bekerja?”“Nona tidak merepotkan saya. Tuan Muda sedang rapat, tetapi beliau meminta saya langsung membawa Anda ke ruangannya begitu Nona tiba.”Summer mengikuti Ethan memasuki gedung. Tepat di balik pintu utama terdapat area pemeriksaan yang harus dilewati seluruh pegawai dan pengunjung sebelum memasuki lobi. Summer hendak meletakkan tasnya pada mesin pemindai, tetapi Ethan menghentikannya.“Tidak perlu, Nona.”Summer menatapnya dengan heran.“Tuan Muda sudah memberikan izin khusus untuk Anda.”Petugas keamanan membuka pintu di sisi mesin pemeriksaan setel
CHAPTER 131Menjelang malam, Studio Dua hanya menyisakan beberapa mahasiswa yang masih menyelesaikan persiapan pameran. Summer berdiri di depan lukisannya bersama Yuta dan Naoki. Mereka kembali memeriksa pencahayaan setelah Naoki mengubah posisi salah satu lampu, sementara Yuta membacakan penjelasan karya yang akan dikirimkan Summer kepada galeri.“Kalimat terakhirnya lebih baik kalau tidak terlalu panjang,” ujar Yuta. “Kamu sudah menjelaskan makna dua bayangan itu. Tidak perlu mengulangnya lagi.”Summer membaca layar tabletnya. “Kalau aku menghapus bagian ini, penjelasannya jadi terlalu singkat.”“Tidak.” Yuta menunjuk satu kalimat di tengah draf. “Yang ini sudah cukup kuat.”Naoki ikut melihat layar dari sisi lain meja. “Aku setuju. Orang-orang akan lebih penasaran kalau kamu tidak menjawab semuanya.”“Kalian berdua selalu menyuruhku menghapus bagian yang kusukai.”“Karena kamu terlalu suka menjelaskan,” kata Naoki.Summer menoleh kepadanya. “A
AUTHOR’S NOTE & DISCLAIMER 𓂃✍︎Selamat datang, dan terima kasih karena sudah membuka halaman pertama dari cerita ini.Sebelum kalian memulai perjalanan bersama Summer, izinkan penulis menyampaikan beberapa hal terlebih dahulu.Cerita ini adalah karya fiksi yang lahir dari imajinasi, emosi, dan ban
CHAPTER 4 Keesokan paginya, Summer berdiri beberapa detik di depan pintu kelas A-1 sambil memeluk tablet di dadanya. Begitu pintu terbuka, suara obrolan di dalam langsung mengecil dan beberapa kepala serempak menoleh ke arahnya. “Oh, ranking satu datang.” “Yang kemarin ngomong ke senior Dylan it
CHAPTER 2 Kamar asrama itu sunyi. Summer duduk di tepi tempat tidurnya sambil memegang buku asesmen yang terbuka di pangkuannya. Beberapa pulpen sudah berjajar rapi di sampingnya, sementara seragam RCA untuk besok tergantung rapi di pintu lemari. Semua sudah siap, tetapi tangan Summer masih salin
CHAPTER 1 PROLOG 👧 Saat itu Summer baru berusia lima tahun. Dorr!! Suara tembakan tiba-tiba mengguncang ruangan hingga telinganya langsung berdenging dan kaca-kaca jendela bergetar keras. Summer refleks menoleh, lalu membeku saat melihat pria yang sedetik lalu masih berdiri di dekatnya kini r







