Share

3

Author: goshxx
last update publish date: 2026-01-02 16:13:35

CHAPTER 3

Anak laki-laki di tengah tidak menatapnya. Tidak sekali pun. Namun ketika ia lewat—

Summer menyadari sesuatu yang mengusik. Selama beberapa detik itu, ketegangan yang selalu ia bawa di dadanya… mereda. Sedikit saja. Dan itu lebih menakutkan daripada apa pun.

Di dalam, Jess dan Summer duduk di dekat sudut kafetaria. Kebisingan kembali membungkus Summer—suara, tawa, kursi bergeser—namun terasa jauh, seolah terjadi di balik kaca. Jess segera terseret oleh wajah-wajah yang dikenalnya, tawa memanggil namanya dari berbagai arah.

“Aku balik lagi,” katanya dengan gerak bibir minta maaf sebelum menghilang ke kerumunan.

Summer mengangguk dan tetap di tempatnya. Sendirian.

Ia menundukkan pandangan, jari-jarinya melingkar ringan di tepi meja, berusaha menambatkan dirinya pada sesuatu yang solid. Ketenangan aneh tadi belum sepenuhnya menghilang—namun terasa rapuh, seperti bisa pecah jika seseorang menatapnya terlalu lama. Saat itulah ia merasakannya.

Tatapan.

Di seberang ruangan, Axl—salah satu dari lima anak laki-laki yang secara naluriah diberi ruang—bersandar di kursinya, mata tertuju padanya. Senyum malas melengkung di bibirnya. “Banyak anak beasiswa di sini,” katanya santai pada yang lain. “Tapi entah kenapa, mereka terus menatap gadis itu.”

Tom terkekeh. “Mungkin karena dia datang naik taksi.”

“Itu butuh nyali,” kata Dre, melirik—tidak terkesan, hanya terkejut.

Dua lainnya tidak berkomentar. Salah satu dari lima itu berdiri. Ia tidak meninggikan suara. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun. Namun kursi-kursi bergeser. Percakapan terhenti di tengah kalimat. Tatapan mengikuti tanpa berpikir. Ia berjalan keluar. Yang lain mengikutinya tanpa pertanyaan.

Baru setelah pintu menutup, kafetaria bernapas kembali—alat makan beradu, suara kembali, kebisingan jatuh ke tempatnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Summer menatap ruang kosong yang ditinggalkannya. Kulitnya merinding, jantungnya berdegup sedikit terlalu cepat. Ia tidak tahu siapa dia, tetapi ia tahu satu hal—di sekolah yang penuh predator, dialah satu-satunya yang ditakuti predator lain.

Bel berbunyi, suaranya yang nyaring dan elegan bergema di seluruh penjuru koridor modern.

“Seluruh murid baru, silakan kembali ke aula utama untuk pengumuman hasil penempatan akademik.”

Summer segera bergegas menuju aula. Begitu sampai di ruangan dengan pilar-pilar raksasa itu, ia langsung memilih bangku di sudut, dekat jendela. Ia tidak tahu mengapa, tetapi melihat ruang terbuka di luar membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan—seolah ia diizinkan bernapas, meski hanya sesaat.

Tak lama, Emma muncul dari kerumunan dan segera menemukannya. “Kamu dengar? Ada yang datang ke sekolah naik taksi kemarin.”

Summer menatap matanya. “Itu aku.”

Emma membeku seketika. Ekspresi bersemangatnya lenyap, digantikan oleh rona merah yang merambat cepat ke pipinya. “Oh—Tuhan. Summer, maaf sekali... aku benar-benar tidak tahu.”

“Tidak apa-apa,” kata Summer pelan, kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Baginya, taksi itu hanyalah alat transportasi, bukan identitas yang harus ia malukan.

Beberapa saat kemudian seorang guru senior melangkah ke podium dan mengangkat tangan, meminta perhatian. “Tenang semuanya, harap diam.”

Seketika, aula yang tadinya bising menjadi sunyi senyap. Suasananya begitu tegang. Layar digital raksasa di depan aula berkedip, memancarkan cahaya biru yang menerangi wajah-wajah cemas para murid. Data sedang dimuat. Nama-nama mulai tersusun.

Summer merapatkan kedua tangannya di atas pangkuan, meremas jemarinya hingga memutih.

Kalau aku gagal…

kalau aku tidak pantas di sini—

kalau ini memang tidak pernah dimaksudkan untuk bertahan—

kalau aku harus kembali—

Layar kembali berkedip. Summer menatap—

Summer menatap layar tablet raksasa di depan aula Royal Crest Academy (RCA) yang megah. Tubuhnya menjadi sepenuhnya kaku. Untuk sesaat, ia tidak bisa memastikan apa yang sedang ia rasakan. Senang? Takut? Mati rasa? Semua emosi itu terjerat satu sama lain hingga tak satu pun lagi masuk akal.

Lalu, kepanikan dingin mulai merayap masuk. Tekanan familiar itu mengencang di dadanya. Aula yang dipenuhi pilar-pilar tinggi dan lampu kristal itu terasa menjauh. Suara-suara riuh ratusan murid melembut, seolah seseorang menurunkan volume dunia terlalu rendah.

Tidak. Jangan sekarang. Tolong—jangan sekarang. Summer memohon dalam hati. Kalau kamu panik di sini, di tengah keramaian ini, semuanya akan jadi lebih buruk. Ia mengepalkan jari-jarinya, kuku menancap di telapak tangan, menambatkan diri pada kenyataan, memaksa napasnya tetap stabil dan dangkal.

Layar itu menyegarkan tampilan. Dan kemudian—

Namanya muncul tepat di posisi paling atas.

PERINGKAT 1

SUMMER BONG — Penempatan Keseluruhan

GEDUNG A

Aula membeku selama satu detak jantung. Keheningan yang aneh mencengkeram. Lalu, semuanya pecah bersamaan. Bisik-bisik meledak bagai bom waktu. Beberapa murid menatap dengan tak percaya, mata mereka melotot. Yang lain menegang, wajah mereka memanas karena marah atau iri. Murid-murid beasiswa tersebar di sepanjang daftar—sebagian berhasil ditempatkan di Gedung A yang prestisius, banyak yang terdorong ke Gedung B yang penuh ketidakpastian, dan yang lain jatuh ke Gedung C yang penuh pertanyaan. Beberapa nama—menghilang sama sekali. Ditolak. Dikeluarkan.

Di Royal Crest Academy, Gedung A bukan sekadar bangunan. Itu adalah singgasana para jenius. Tempatnya nilai-nilai tak terkalahkan. Bibit-bibit unggul yang sejak awal dianggap layak berada di puncak rantai makanan sekolah ini. Gedung A tidak pernah dipenuhi banyak siswa—hanya murid terpilih yang benar-benar diizinkan masuk ke surga akademik itu.

Gedung B adalah wilayah antara. Tempat murid-murid pintar yang masih diberi kesempatan untuk mencoba naik ke Gedung A. Kesempatan itu ada, namun semua orang tahu: peluangnya sangat kecil, nyaris mustahil.

Sedangkan Gedung C—

Gedung C adalah jurang. Di luar RCA, murid-murid di gedung C mungkin tetap dianggap cerdas. Namun di dalam tembok RCA, kemampuan mereka dipertanyakan. Mereka masih diberi kesempatan, tetapi itu adalah kesempatan terakhir sebelum pintu keluar tertutup rapat.

Jika murid Gedung A atau Gedung B mengalami penurunan akademik sedikit saja, mereka bisa terlempar ke Gedung C. Dan jika murid Gedung C gagal mempertahankan nilai—tidak ada gedung berikutnya. Hanya satu arah yang tersisa.

Keluar.

Rasa malu menggantung tebal di udara aula. Amarah segera menyusul di belakangnya. Dan bersama amarah, muncul kebutuhan akan sesuatu yang lain. Sebuah sasaran tembak. Summer merasakannya bahkan sebelum ia mendengarnya.

“Dia cantik, sih.”

“Dia pintar juga.”

“Tapi—” Kata itu menggantung di udara, penuh racun. “Dia bukan salah satu dari kita. Dia hanya gadis beruntung yang dibiayai donatur.”

Perut Summer terasa jatuh ke dasar. Ia tidak merasa bangga. Ia merasa terekspos. Kenapa harus peringkat pertama? Kenapa harus seterlihat ini?

Di sampingnya, Emma berbalik perlahan, matanya membesar karena takjub. “Summer… aku nggak tahu aku sekamar dengan seorang jenius. Selamat!” Summer nyaris tidak bereaksi. Pikirannya justru berpacu liar. Kenapa aku peringkat pertama? Kenapa ini membuat mereka menatapku lebih lama?

Emma menepuk punggungnya dengan lembut. “Sum?... Summer?”

Summer berkedip keras, kembali ke realitas aula yang bising. “Hah? Oh—maaf.”

“Gedung apa yang kamu dapat?” tanya Summer cepat, membutuhkan sesuatu yang normal untuk digenggam di tengah kekacauan ini.

“B,” jawab Emma. “Gedung B. Agak kecewa sih, tapi lumayan.”

“Itu bagus,” kata Summer pelan, mencoba tersenyum.

Di sekitar mereka, ketegangan semakin tajam, seperti silet yang mengambang di udara. Beberapa murid kini berbisik terang-terangan, jari telunjuk mereka mengarah padanya. Yang lain menatap tanpa berusaha menyembunyikan kebencian. Seorang guru mengernyit menatap tabletnya, memeriksa hasil lagi. Guru lain mencondongkan tubuh ke layar, jelas curiga akan adanya kesalahan. Namun tidak ada kesalahan. Setiap jawaban yang ditulis Summer benar. Sempurna.

Emma mendekat, merendahkan suaranya. “Kamu nggak apa-apa?”

“Iya,” jawab Summer otomatis. “Aku baik-baik saja.”

“Jangan dengarkan mereka,” tambah Emma pelan. “Orang selalu bicara jelek kalau iri.”

Summer mengangguk. Ia tidak cukup mempercayai suaranya untuk mengatakan lebih banyak.

Setelah itu, para murid diarahkan untuk memilih kegiatan ekstrakurikuler. Summer bergerak menyusuri koridor RCA yang luas, berarsitektur klasik, seolah sedang berada di bawah air—lambat dan tertekan. Ia memilih Seni tanpa ragu. Hanya menggambar yang pernah benar-benar menenangkan pikirannya, menjadi satu-satunya tempat pelariannya. Untuk sekarang. Ia tahu itu tidak akan selalu cukup.

Berapa lama aku harus hidup seperti ini? Berapa lama kepanikan ini boleh menguasaiku?

Dan sekarang—masalah lain. Gedung A. Ia menelan ludah keras, tenggorokannya terasa kering. Oke, Summer. Kamu bisa. Setidaknya satu hal pasti. Peringkat ini, meski membenci, memastikan satu hal: Ia tidak akan kembali ke Jepang. Jika ia pulang sekarang, semuanya—setiap pengorbanan, setiap tetes keringat—tidak akan berarti apa-apa. Ia telah bertahan terlalu jauh untuk berbalik hari ini.

Pintu ruang seni terbuka, mengundang Summer masuk. Di dalam, suasananya berbeda drastis dari aula tadi. Hangat. Tenang. Ruangan itu dipenuhi kanvas dan aroma cat minyak yang menenangkan. Guru seni—seorang pria paruh baya dengan mata yang lembut—menyambut para murid tanpa melirik peringkat atau latar belakang mereka, memperlakukan semua orang sama.

Untuk pertama kalinya sejak hasil diumumkan, Summer bernapas dengan bebas. Ia berhasil melewati bagian ini.

Saat ia melangkah kembali ke asrama, langit di atas Royal Crest Academy sudah berubah menjadi beludru hitam yang pekat, dihiasi bintang-bintang yang tampak berkilau dingin dan tak tersentuh. Gedung asrama itu berdiri megah dengan lampu-lampu taman yang temaram, memancarkan kesan prestise yang membungkam.

Di dalam kamar, Emma sudah duduk di meja belajar kayu ek yang elegan, diterangi lampu meja berwarna tembaga. Ia sedang membolak-balik buku tebal di bawah cahaya hangat. “Hei! Kamu pilih klub apa akhirnya?” tanya Emma, suaranya memecah kesunyian kamar mereka yang luas.

“Seni,” jawab Summer singkat sambil meletakkan tasnya.

Emma tersenyum lebar, matanya berbinar. “Pantesan, aura kamu memang artistik. Aku pilih robotik. Keren, kan?”

Summer tertawa pelan, sedikit merasa lega melihat antusiasme teman barunya itu. “Kamu memang keren, Emma. Robotik sangat cocok untukmu.”

Emma mengangkat bahu dengan gaya santai, namun matanya kemudian menatap Summer dengan cermat. “Kamu mandi dulu saja, Sum. Kamu kelihatan pucat dan capek banget hari ini.”

Summer mengangguk lemah. Ia masuk ke dalam kamar mandi pribadi mereka—sebuah ruangan yang dilapisi marmer putih dan cermin besar yang memantulkan wajahnya yang tampak lesu. Di bawah pancuran air hangat yang mulai mengalir, Summer berdiri diam. Ia membiarkan uap panas memenuhi ruangan, namun hatinya justru terasa dingin.

Pikirannya mulai menyerang. Peringkat satu. Bisik-bisik kebencian di aula. Layar tablet yang menyala terang. Lalu—bayangan darah. Suara tajam yang membelah udara.

Trauma itu kembali datang tanpa peringatan, menghantam pertahanannya yang sudah rapuh. Tubuhnya mulai gemetar hebat di bawah kucuran air. Napasnya tersangkut di tenggorokan, dan ruangan marmer yang mewah itu seolah-olah menyempit, menjepitnya dalam ruang tanpa udara.

“Seseorang…” bisiknya, suaranya parau dan bergetar hebat menahan isak tangis yang tak sanggup keluar. “Siapa saja… tolong…”

BERSAMBUNG…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   54

    CHAPTER 54Royal Crest Academy bukan sekadar sekolah. Ia adalah sebuah wilayah.Sebuah kompleks pendidikan yang membentang luas di pinggiran kota London, menempati ratusan hektar lahan yang dipagari bukan oleh tembok tinggi—melainkan oleh reputasi yang jauh lebih kokoh daripada beton mana pun.Dari udara, RCA tampak seperti kota kecil yang dirancang dengan presisi. Gedung-gedungnya tersusun rapi, dipisahkan oleh taman, jalan setapak berbatu, dan danau buatan yang memantulkan langit Inggris yang sering murung. Tidak ada sudut yang dibiarkan tumbuh liar. Setiap pohon dipangkas. Setiap jalur ditata. Segalanya terkontrol.Di sisi timur kompleks berdiri RCA High School—tempat murid-murid berusia belasan tahun ditempa sejak dini. Gedung-gedungnya tinggi, bergaya klasik Eropa, dengan pilar marmer dan jendela besar yang membiarkan cahaya masuk tanpa memberi ruang bagi bayangan untuk bersembunyi. Di sinilah Summer, Emma, Jess, dan murid-murid lain menghabiskan hari-hari

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   53

    CHAPTER 53Di balik bar chef yang terbuat dari kayu hinoki pucat, Dylan berdiri dengan apron hitam yang membungkus kemeja gelapnya.Tangannya bergerak dengan kecepatan yang menakutkan namun penuh presisi—irisan ikan salmon toro itu jatuh dengan rapi, nasi ditekan dengan tekanan yang pas agar tidak hancur namun tetap lembut. Ia seharusnya fokus pada seni memotong, sebuah cara yang biasanya ia gunakan untuk menenangkan pikirannya yang selalu berisik dengan data dan strategi akademi. Ia tidak berniat memperhatikan meja di sudut itu.Namun pikirannya, matanya, dan seluruh syaraf tubuhnya… tidak sepakat.Tanpa sadar, pandangannya melayang ke arah Summer. Di bawah temaram lampu lampion, Dylan melihat cara gadis itu duduk—sedikit kaku, seolah ia takut merusak estetika tempat ini. Ia melihat bagaimana Cloud condong sesekali saat bicara, mencoba memecah jarak. Dan ia melihat Summer menanggapi dengan senyum tipis—sopan, tenang, namun sama sekali tidak mengundang.Dyla

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   52

    CHAPTER 52Malam itu, Summer duduk sendirian di bangku taman dalam. Berbeda dengan taman-taman lain di Royal Crest Academy yang terbuka dan luas, taman ini adalah sebuah courtyard tersembunyi yang dikelilingi oleh dinding kaca Building A yang menjulang. Di sini, kemewahan RCA terasa lebih tenang dan sunyi. Lantainya bukan rumput biasa, melainkan susunan batu kuarsit putih yang berpendar lembut di bawah cahaya bulan. Di tengahnya, terdapat kolam refleksi yang airnya tidak bergerak sedikit pun, tampak seperti cermin hitam yang sangat mahal. Bangku yang diduduki Summer terbuat dari kayu eboni yang dipoles hingga permukaannya terasa sedingin porselen. Udara di sini terasa lebih tipis, membawa aroma bunga Night-Blooming Jasmine yang ditanam di sepanjang koridor kaca. Lampu-lampu taman di sini berupa pilar-pilar kristal minimalis yang tertanam di lantai, memantulkan cahaya kekuningan yang redup ke dedaunan pohon perak yang rimbun, menciptakan bayangan yang bergerak stat

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   51

    CHAPTER 51Sunyi kembali merambat di antara mereka. Summer menggeser berat badannya dengan canggung, sebelum akhirnya memilih kata-kata yang paling aman untuk memecah kebuntuan. "Ah... tentang jas Kak Dylan... yang malam itu," Summer membuka suara dengan ragu. “Aku sudah masukkan ke laundry,” lanjut Summer cepat. “Laundry internal RCA. Mereka bilang butuh dua hari karena bahannya khusus.” Nada suaranya hati-hati, seolah takut dianggap sembarangan."Kau simpan saja dulu," jawabnya singkat. "Tidak perlu terburu-buru." Kalimat itu memutus pembicaraan sebelum sempat berkembang lebih jauh. Dylan kemudian melirik ujung koridor yang mengarah ke area asrama putri, tempat lampu-lampu menyala redup dan lorong tampak memanjang tak berujung. "Sudah malam," ucap Dylan kemudian. Nada suaranya netral, sebuah pernyataan waktu yang objektif, tanpa bumbu kepedulian yang nyata. "Biar aku antar sampai depan lift." Tidak ada nada memaksa, tidak ada alasan yang dibuat-bua

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   50

    CHAPTER 50Dylan mencondongkan tubuh sedikit, jarak mereka menyempit. Tatapannya tidak berkedip. “Meski dia kuat,” ujar Dylan, “kekuatan tanpa senjata hanya bertahan—bukan menang.” Ia mencondongkan kepala sedikit. “Dan kau,” katanya tenang, “belum menjadi senjata itu.”Cloud terpaku. Ia menelan ludah yang terasa pahit. Dre, Tom, dan Axl mematung, tidak percaya Dylan akan bersikap sefrontal itu.Dre berdehem, mencoba menarik napas. “Ehmm. Jadi… apa yang harus kita lakukan?”“Setiap kali kalian mendengar rumor itu,” perintah Dylan tanpa ragu, “dari siapa pun. Entah anak bangsawan atau putra presiden. Ancam mereka. Pastikan mereka mendapat surat peringatan dari administrasi. Dan jika perlu—keluarkan dari akademi ini.” “Gue setuju,” Tom menyeringai. “Gue udah lama pengen ngeluarin beberapa siswa.”“Ini bukan permainan,” potong Dylan dingin.Dre langsung melempar bantal sofa ke arah Tom. “Mulut lo dijaga.”Cloud tidak berkata apa-apa. Ia menunduk, me

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   49

    CHAPTER 49Di sisi lain kampus, di sebuah kamar yang jauh lebih sederhana dan sunyi, Summer Bong sedang menenggelamkan diri di meja belajarnya. Buku-buku teks terbuka lebar, catatan tersusun dengan urutan yang sangat rapi, dan ujung penanya bergerak tanpa henti. Ia memaksa angka dan rumus matematika tingkat tinggi mengisi setiap inci otaknya, mencoba membangun benteng agar pikirannya tidak kembali terseret ke malam lelang itu. Ke aula. Ke nama yang terus menghantuinya. Di seberang meja Summer, Emma fokus pada rangkaian kecil di atas mejanya—prototipe robotik yang setengah jadi. Tangannya cekatan, matanya tajam, pikirannya tenggelam pada mekanisme dan logika.Tidak ada musik. Tidak ada percakapan. Namun, di kamar ini tidak ada ketegangan yang menyesakkan. Hanya ada ketenangan yang mereka pilih dengan sadar untuk bertahan hidup.Dua kamar.Dua dunia.Dua cara bertahan yang sangat berbeda.Dua kamar. Dua dunia yang bertolak belakang. Dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status