Home / Romansa / A Story We Misread / BAB IV - A Ride Home

Share

BAB IV - A Ride Home

Author: Ann Azure
last update publish date: 2026-08-30 00:22:41

Issa Saverio. Lelaki yang tidak mudah terpesona oleh perempuan. Apalagi jatuh cinta. Ia selalu berwajah datar setiap kali berhadapan dengan perempuan secantik apapun. Ia juga lebih senang berburu buku daripada harus berburu perempuan untuk sekadar menghangatkan malam. Karena itu sebagian temannya menganggap dia aneh dan sebagian lagi mengira dia menyukai sesama jenis.

Padahal Issa tidak seperti itu. Ia tidak aneh dan bukan penyuka sesama jenis. Ia hanya sudah menempatkan hatinya pada seseorang. Memang tidak banyak yang tahu tentang ini, Issa selalu berpikir urusan pribadinya tidak perlu dijadikan tema gosip saat waktu istirahat kantor ataupun saat orang-orang tidak sengaja bertemu di toilet.

Lagi pula, kisah cintanya bukanlah cerita paling hebat yang bisa dijadikan inspirasi oleh penulis-penulis muda di luar sana. Bukan juga kisah cinta paling romantis sepanjang masa. Semuanya sederhana dan biasa saja.

Namun, entah mengapa, sejak pertemuannya dengan Reana beberapa waktu lalu, untuk pertama kali ada bayangan perempuan yang sering kali tiba-tiba muncul di dalam kepalanya.

Penampilan Reana yang terkesan cuek waktu itu memberinya kesan menarik yang unik. Issa bahkan masih ingat bagaimana helaian halus rambutnya yang terlepas dari ikatan terjatuh di belakang leher begitu saja.

Dan malam ini, perempuan itu tiba-tiba ada di hadapannya dalam balutan gaun merah muda yang cantik dan rambut panjang yang tergerai rapi. Wajah polosnya diberi riasan tipis, seolah ingin menegaskan secantik apa dirinya pada setiap mata yang menatap.

“Issa Saverio?”

Seolah baru dikembalikan ke kenyataan Issa mengalihkan tatapan pada Arland yang barusan memanggil namanya.

“Ya?” Gumam Issa, lalu berdeham pelan dan melanjutkan langkah menghampiri Arland. “Maaf aku terlambat, selamat untuk semua kerja kerasmu, Sobat.”

“Tidak masalah, aku tau kamu sibuk. Terima kasih sudah datang.” Arland menyambut jabat tangan dan pelukan singkat Issa.

“Selamat juga untukmu Sammy, aku senang akhirnya kamu bisa menjauhkan diri sebentar dari orang ini.” Issa menunjuk Arland dengan ujung mata, kali ini berjabat dengan Samuel.

Samuel terbahak. “Kamu benar, akhirnya aku terbebas. Terima kasih.”

“Ah ya! Aku mau mengenalkan mu pada penulisku yang berbakat ini. Rea Oswald, kenalkan, dia adalah Direktur divisi fiksi ilmiah kami.” Kata Arland bersemangat.

Issa kembali menatap Reana dan ia yakin kalau perempuan itu juga sama terkejutnya seperti dirinya saat ini. Sorot matanya seperti meminta penjelasan meski sebenarnya tidak satupun dari mereka berdua harus menjelaskan apapun.

“Issa Saverio.” Lelaki itu mengulurkan tangan untuk berjabat.

Reana mengangguk sopan sebelum menyambut. “Rea Oswald.” Katanya mengenalkan diri.

Mungkin ini hanya perasaan Issa saja, tapi rasanya ia seperti menerima aliran listrik kecil ketika telapak tangannya bersentuhan dengan telapak tangan Reana. Kulit halus itu memberikan rasa hangat ke sekujur tubuh.

“Selamat atas penerbitan bukumu, karya yang luar biasa.”

“Terima kasih.”

Demi menjaga wibawa, Issa buru-buru menarik tangannya kembali, khawatir ia akan melakukan hal bodoh jika terlalu lama bersentuhan dengan Reana.

Kemudian mereka berdua tidak saling bicara lagi. Mereka sama-sama bersikap seolah tidak pernah bertemu sebelumnya, dan percakapan selanjutnya didominasi oleh Arland yang malam ini memang paling bersemangat.

Sekarang mereka sudah beralih ke sebuah meja besar, beberapa orang sudah pamit, menyisakan beberapa orang paling penting dalam divisi dan beberapa orang yang memang dekat dengan Arland secara pribadi. Suasana juga semakin ramai saat Aqsa Rivero, yang menjabat sebagai pengacara di perusahaan ikut bergabung.

Issa mati-matian menolak saat untuk kesekian kalinya Arland menyodorkan segelas wine, berkata ia tidak boleh minum karena harus mengemudi, yang memang benar adanya.

Tapi sepertinya alasan itu tidak berlaku untuk Reana. Sedari tadi diam-diam Issa memperhatikan dia yang duduk tepat di depannya namun terhalang meja, perempuan itu terus saja menerima setiap Arland menuangkan wine ke dalam gelasnya dan mengajaknya bersulang.

Mungkin Reana tidak bisa meminta pulang lebih dulu dan tidak bisa menolak minuman karena sopan santun. Tidak salah, karena pada malam ini dialah yang paling junior diantara yang lain. Kesan baik dan terkesan patuh pada senior sangat penting dalam industri ini. Selain itu, malam ini memang Reana lah pemeran utamanya.

Issa tidak tahu apakah Reana mulai mabuk atau belum, tapi sekarang bicaranya lebih singkat dibandingkan tadi, wajahnya yang putih juga mulai terlihat lebih merona, dan beberapa kali dia mengerjapkan mata.

Yah, setidaknya Reana masih terlihat tujuh puluh persen sadar dan belum meracau tidak jelas.

Issa melihat jam tangan, niat hanya akan ada di sana sebentar saja malah nyaris pukul dua belas malam ketika pada akhirnya mereka membubarkan diri. Entah apa yang menahan dirinya sampai selama itu. Mungkin, karena ada Reana? Tidak, tidak, bukan itu.

Arland pulang bersama Aqsa yang mengemudi karena selain rumah mereka berdekatan, lelaki bertubuh tinggi itu juga tidak minum sama sekali. Sedangkan Samuel menghubungi supir pengganti.

“Rea, mau aku panggilkan supir pengganti untukmu?” Samuel mengeluarkan ponsel, siap melakukan panggilan.

“Kenapa tidak pulang bersama Issa saja? Bukankah rumah kalian searah?” Ucap Arland tiba-tiba.

Issa menoleh kearah Arland, ekspresi wajahnya seolah mengatakan apa maksud yang baru saja kamu katakan huh?

“Tidak perlu, aku… masih bisa… mengemudi…”

“Hei, ayolah… Issa pasti tidak keberatan mengantarmu ke Hampstead. Kamu tau seseorang yang mengemudi setelah minum alkohol adalah ilegal dan pulang bersama supir pengganti atau naik taksi sama berbahayanya karena mereka orang asing.” Arland bicara panjang lebar seperti orang yang sama sekali tidak minum alkohol.

Dan rasanya Reana ingin tertawa kencang. Demi Tuhan, apa mereka lupa kalau sebenarnya Issa juga orang asing untuknya? Malah bisa jadi lelaki itu lebih berbahaya dari supir pengganti atau supir taksi.

“Kalau begitu aku akan menghubungi—“

“Aku bisa mengantarmu pulang.” Issa memotong kata-kata Reana.

Sebelum Reana bisa menanggapi, Arland berseru. “Bagus! Jangan khawatirkan mobilmu, aku akan menyuruh salah satu orangku untuk mengantarkannya ke rumahmu besok pagi.”

“Tapi—“

“Ayo.” Issa melangkah lebih dulu, melewati Reana yang masih berdiri mematung mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Petugas valet yang barusan tiba membawa mobil Issa sudah membukakan pintu. Reana bolak-balik melihat Samuel dan Aqsa, berharap diantara mereka ada yang bisa memberikan solusi lain, namun keduanya malah tersenyum dan mempersilakan Reana mengikuti Issa.

“Aku jamin Issa akan mengantarmu sampai rumah. Kalau kamu khawatir, nyalakan GPS di ponsel, aku akan mengawasinya. Dan kalau dia macam-macam aku sendiri yang akan jadi pengacara untuk membelamu.” Ucap Aqsa, sama sekali bukan solusi.

Issa memutar mata mendengar ucapan Aqsa barusan. “Berhentilah bicara omong kosong Rowan. Ayo, masuklah.”

Reana menatap Issa yang masih berdiri di depan pintu mobil yang terbuka. Kepalanya tiba-tiba terasa pening, perutnya mulai terasa mual. Supir pengganti Samuel sudah tiba, dan Aqsa sudah masuk mobil diikuti oleh Arland.

Baiklah, Reana tahu tidak ada alasan untuk menolak dan tidak ada solusi lain. Ia juga tidak mau hanya berdiam diri seperti orang bodoh di lobi hotel seperti sekarang ini. Maka ia menghampiri Issa dan masuk ke dalam mobilnya, duduk manis di kursi penumpang.

•••

Harapan Reana yang bisa cepat sampai ke rumah karena tengah malam jalanan sudah tidak terlalu ramai pupus seketika. Nyatanya, jalanan padat sekali malam ini. Entah apa yang terjadi karena mobil sama sekali tidak bisa bergerak.

Reana mulai gelisah, padahal baru sekitar lima belas menit ia ada di dalam mobil. Bukan, bukan karena mobil Issa jelek dan tidak nyaman, justru rasanya ia bisa tertidur nyenyak kalau saja tubuhnya dalam keadaan normal. Masalahnya adalah mual yang semakin menjadi-jadi. Sebaliknya, lelaki di sampingnya seolah menganggap kemacetan sekarang sama sekali bukan masalah yang berarti. Issa malah santai memainkan ponsel.

Lalu dengan gerakan tiba-tiba Issa membuka tutup kotak penyimpanan di antara mereka dan mengeluarkan sebotol air.

“Minum ini.”

Itu adalah kalimat pertama yang Issa ucapkan sejak ia mulai mengemudi, ia bahkan belum bertanya di mana tepatnya rumah Reana berada, dan perempuan itu sama sekali tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.

Reana hanya menatap botol air yang masih ada di genggaman Issa.

“Kamu harus minum untuk mengurangi mual.” Kata Issa lagi.

Tangan Reana terulur menerima, dan perempuan itu yakin wajahnya semakin memerah bukan hanya karena mabuk tapi juga karena malu. Apakah terlihat jelas sekali kalau sekarang ia sedang mual?

“Terima kasih.” Reana langsung membuka tutupnya dan minum satu teguk. Lelaki itu benar, ia memang butuh minum air putih.

“Kamu kedinginan? Mau aku tambah penghangatnya?”

Reana menunduk, berusaha melihat dirinya sendiri yang masih memakai gaun dengan lengan terbuka. Lalu ia menggeleng.

“Tidak, ini sudah cukup.”

Issa mengangguk, tidak memaksa. “Ada kecelakaan lalu lintas di persimpangan St. James’s Street.”

“Siapa bilang?”

Duh, Reana menggigit bibir, apalagi saat Issa kembali menatapnya. Kenapa juga ia harus menanggapi seperti itu? Tidak sopan sekali!

Alkohol sialan!

“Beritanya baru saja keluar di London News, ada tabrakan Van dan mobil pengangkut barang, itulah alasan kenapa kita terjebak macet di sini.”

Reana menghembuskan nafas lega saat mendengar nada bicara Issa yang biasa saja. “Pantas saja, seharusnya tengah malam seperti ini tidak macet.”

Mobil kembali melaju, namun berhenti lagi setelah berpindah hanya sekitar dua puluh meter.

“Kalau mengantuk tidur saja, aku bangunkan kalau sampai rumah.”

“Memangnya kamu tau di mana rumahku?”

“Eh?” Issa terbata, sepertinya kali ini dia yang merasa malu. “Itu.. hm… Tidak.”

Bolehkah Reana tertawa? Tidak. Seharusnya tidak boleh karena Issa pun tidak menertawakannya tadi, tapi perempuan itu malah tetap tertawa.

Issa mendelik kesal. “Ya ya, terus saja tertawa.”

Reana tertawa sampai perutnya terasa sakit. Mualnya muncul lagi.

“Berhenti tertawa kalau kamu tidak mau muntah di mobilku.”

Oh benar. Reana buru-buru menenggak lagi airnya, tidak ingin semakin mempermalukan dirinya sendiri. Setelah itu mereka kembali diam, tidak ada yang memulai pembicaraan, sampai Reana merasa kedua kelopak matanya semakin berat. Baru saja ia akan menutup mata, suara dering ponsel membuatnya tersadar.

“Ya halo?”

Reana mengalihkan tatapan keluar jendela, melihat apa saja yang ada di luar sana saat Issa menjawab telepon.

“Aku sedang dalam perjalanan pulang, terjebak macet… Ya, kamu tidur saja, jangan tunggu aku… Iya… Iya, pastikan pintu sudah terkunci. Sampai jumpa.”

Setelah menyelesaikan pembicaraan singkat itu Issa kembali menaruh ponselnya di dashboard, lalu menatap jalanan yang masih saja padat. Begitu juga perempuan di sampingnya, Reana merasa kantuknya hilang setelah mendengar perbicaraan yang—mungkin—seharusnya tidak ia dengar. Reana yakin dari suaranya yang terdengar samar-samar, Issa berbicara dengan seorang perempuan.

Siapa dia? Pacarnya kah? Atau… Istri?

Begitu saja, Reana teringat anak perempuan yang dulu datang ke Reading Delights bersamanya. Bukankah anak perempuan itu putrinya? Putri Issa?

Tunggu.

Jadi… Saat ini ia sedang bersama dengan suami orang?

Di dalam mobil pribadinya, pada tengah malam setelah menghadiri pesta, dimana ia berpakaian lumayan terbuka, dalam kondisi setengah mabuk, dan ia bersedia diantar pulang oleh pria beristri?

Oh, Tuhan!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • A Story We Misread   BAB XV - Learning To Love

    Kita tak akan pernah tahu pada siapa kita akan jatuh cinta. Bisa saja pada dia yang sudah menemanimu sejak masih remaja, atau pada dia yang bersamamu pernah menghabiskan waktu di suatu malam. Mungkin juga pada dia yang selalu membuatmu kesal tapi di saat yang sama mampu memberikan getaran yang tak biasa. Itu juga barangkali yang dirasakan Reana sekarang. Ia memang belum bisa mengatakan kalau Issa Saverio adalah cinta matinya, namun ketika ia bertindak mengikuti kata hati, ia merasa benar. Sama sekali tidak ada setitik pun penyesalan dalam hatinya setelah memutuskan untuk mau belajar saling mencintai bersama lelaki itu. Kejujuran yang Issa katakan dengan apa adanya mengenai perasaan membuat Reana terenyuh. Dan baru kali ini ia mendapatkan pernyataan cinta tanpa diiming-imingi janji-janji manis yang sebenarnya belum tentu bisa terpenuhi. Maka dengan apa adanya pula ia mau memberikan hatinya. Lalu, ada hal yang sangat lucu. Reana kira diusianya sekarang yang sudah menginjak dua puluh

  • A Story We Misread   BAB XIV - From This Day On

    "Aku menyukaimu."Tegas.Tanpa ragu.Tanpa aba-aba.Reana yakin ia tidak salah dengar, bahkan sekarang jantungnya berdetak semakin cepat, darahnya berdesir, wajahnya menghangat dan Issa masih memaku sepasang matanya dengan tatapan tajam.Demi Tuhan, ia gugup setengah mati!Sesaat Reana mengira waktu baru saja berhenti. Hanya tetesan air hujan di luar sana yang tetap jatuh silih berganti. Namun suara petir yang tiba-tiba terdengar membuatnya tersadar, ia pun berkedip untuk memutuskan kontak mata dengan lelaki di hadapannya, lalu tertawa.Benar-benar tertawa sampai perutnya terasa sakit dan ujung matanya berair.Issa mengernyit dan mengerucutkan bibir, sama sekali tidak merasa ada sesuatu yang lucu di antara mereka. Atau, apa pernyataannya barusan terdengar seperti sebuah lelucon?"Kenapa tertawa?" Lelaki itu bertanya.Reana melihat ke arahnya sekilas, masih tertawa geli sambil sesekali mengibaskan tangan dan memukul meja."Kamu lucu,” ucapnya di sela tawa, "dari semua leluconmu, ini ya

  • A Story We Misread   BAB XIII - The Confession

    Tidak ada persahabatan antara lelaki dan perempuan.Sudah tak terhitung berapa kali Reana mendengar kalimat itu. Bahkan sahabatnya sendiri pun, Oliver Sebastian, pernah mengatakannya. Namun ia hanya tertawa seraya mengibaskan tangan seolah apa yang ia dengar adalah omong kosong belaka. Hanya sebuah teori.Reana bahkan selalu dengan bangga mengatakan kalau teori itu terbukti salah, karena ia dan Oliver tetap bersahabat meski telah enam belas tahun mereka bersama. Hanya orang-orang yang terlalu mudah terbawa perasaan yang akan menyukai sahabatnya sendiri, begitu katanya.Nyatanya, malam ini, bukti yang ada justru semakin menguatkan teori itu.Benar, Reana lupa.Ia benar-benar lupa kalau suatu hubungan bisa disebut sebagai hubungan karena dilakukan oleh lebih dari satu pihak. Boleh saja dirinya dengan bangga berkata kalau ia menganggap Oliver hanya sebagai sahabat dan tidak akan pernah berubah selamanya. Namun ia lupa memikirkan dari sisi yang lain. Dari sudut pandang Oliver. Ia lupa per

  • A Story We Misread   BAB XII - A Feeling He Shouldn't Have

    Seharusnya, saat ini Issa sedang berada di tahun 1980. Sebagai pemuda yang menjadi sukarelawan membersihkan jenazah korban kekerasan. Kemudian ia akan berpindah ke tahun 1985, sebagai seorang jurnalis yang berkali-kali ditampar oleh personil tentara saat diinterogasi. Setelah itu ia akan ke tahun 1990, 2002, dan 2010.Itulah Issa setiap kali berduaan dengan sebuah novel. Ketika tubuhnya duduk nyaman di sofa ditemani oleh secangkir kopi hitam, tangannya sibuk membuka halaman, matanya sibuk membaca setiap kata, jiwanya justru seolah ditarik masuk ke dalam cerita. Dalam pikirannya, ia menjelma menjadi si tokoh utama atau hanya sekadar menjadi penonton tak kasat mata.Tapi malam ini berbeda.Sudah sekitar satu jam matanya tertuju pada salah satu halaman novel Human Acts yang ditulis oleh Han Kang enam tahun lalu, namun Issa tidak benar-benar sedang membaca. Novel yang menceritakan tentang aksi demonstrasi warga Gwangju, Korea tahun 1980 itu malam ini tidak berhasil membawa jiwa dan pikira

  • A Story We Misread   BAB XI - More Than Just A Coffee

    Arland yakin sahabatnya satu ini sudah gila. Mungkin tanpa sengaja minum obat diare milik Lue—kucing kesayangannya—atau kerasukan hantu. Tidak heran, gedung apartemen tempat Issa tinggal ini memang sudah lama dirumorkan angker, dan sepertinya salah satu makhluk tak kasat mata itu sedang berada dalam diri Issa saat ini. "Aku mulai merinding melihatmu semakin aneh,” ucap Arland sambil menyentuh tengkuk, seolah membuktikan kata-katanya. Issa tidak menghiraukan Arland sama sekali, mata dan kedua tangannya seharian ini sibuk dengan ponsel. Sesekali ia menyeringai atau tertawa geli, namun tidak ingin mengatakan apa yang sedang ia lakukan maupun apa yang ia lihat pada sahabatnya. "Apa telingamu itu hanya pajangan?" Lagi, Arland mencari perhatian, kesal karena terus menerus diabaikan. "Issa!" Arland meraih sebutir anggur dari piring di atas meja dan melemparnya pada Issa yang berbaring santai di sofa di hadapannya. "Aduh!" Akhirnya kata pertama sejak kedatangan Arland terlontar dari mulu

  • A Story We Misread   BAB X - An Unwanted Visitor

    Oh dia benar-benar datang hari ini.Reana mengeluh dalam hati ketika orang yang sangat tidak ingin dilihatnya melangkah masuk ke Reading Delights. Orang itu, Issa Saverio, justru malah tersenyum lebar saat tatapan mereka bertemu. Membuat Reana semakin ingin mencabik-cabik wajahnya."Hai.” Bukannya membalas sapaan, Reana malah membuang muka ke layar datar di depannya, dengan bibir terkatup rapat ia pura-pura kembali sibuk ke dalam apa yang sedari tadi sedang ia kerjakan, yaitu melanjutkan naskah cerita baru. Sial, inspirasinya tiba-tiba menguap entah kemana.Issa menyeringai, sudah menduga perempuan di hadapannya ini pasti masih merasa kesal setelah apa yang terjadi kemarin. Hell, yah, untuk itulah ia menemuinya malam ini."Aku mau mengembalikan buku ini," Issa masih bicara dengan nada bersahabat seperti biasa.Reana mendengus kesal, mau tidak mau menerima buku Hansel and Gretel yang dipinjam Rosie tiga hari yang lalu."Terima kasih sudah mengembalikan bukunya tepat waktu."Dengan te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status