LOGIN"Aku kira penulis yang sering dibicarakan Arland bukan kamu." Issa memulai lagi percakapan setelah beberapa menit dilalui dalam keheningan.
"Arland sering membicarakan aku?" Issa mengangguk meskipun Reana tidak sedang melihat kearahnya. "Arland selalu mengatakan kamu penulis yang hebat, dan ternyata dia benar." Mau tidak mau, Reana tersenyum. Kata hebat yang diucapkan Issa entah kenapa terdengar begitu tulus. Seolah lelaki itu sendiri yang benar-benar memujinya. "Tapi aku penasaran tentang satu hal," nada suara Issa terdengar serius. "Nama lengkapmu Reana Oswald dan nama penamu Rea Oswald?" Seketika Reana menatapnya. "Benar. Dari mana kamu tahu namaku Reana?" "Dari papan namamu di Reading Delights." "Ah, benar." Reana berseru kecil. "Kita sudah bertemu sebelumnya di Reading Delights.” Issa mengangguk-angguk, merasa lucu karena awalnya ia mengira Reana dan Rea Oswald adalah dua orang yang berbeda. Sama sekali tidak pernah terpikirkan kalau ia akan bertemu perempuan Reading Delights yang ia anggap menarik diacara kantornya seperti tadi apalagi sampai mengantarnya pulang seperti sekarang ini. "Aku tebak, nama Rea membawa keberuntungan untuk kamu?" Kali ini Reana tertawa, ia tidak menyangka berbicara dengan Issa ternyata cukup menyenangkan. Perempuan itu mulai merasa tenang, dan pembicaraan telepon Issa tadi seolah terlupakan begitu saja. "Ya, anggap saja begitu." Katanya disela tawa. Percakapan ringan mereka terus berlanjut sampai tanpa terasa lebih dari satu jam sudah berlalu. Mobil memasuki The Bishops Avenue setelah meninggalkan pusat London. Gedung-gedung tinggi perlahan menghilang, digantikan pepohonan tua dan rumah-rumah besar yang berdiri jauh di belakang pagar. Ketika mobil berhenti di depan gerbang hitam Ashbourne House, tidak ada papan nama—hanya sebuah kamera kecil dan lampu di atas interkom, Issa bertanya, “berapa kode pintu gerbangnya?” sambil membuka sabuk pengaman. Reana mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba memfokuskan diri, sambil meraih handle pintu, “Aku bisa berjalan kaki ke dalam,” katanya. Refleks, Issa mencondongkan tubuh dan mengulurkan tangan untuk menahan Reana yang akan membuka pintu mobil. “Tidak, aku akan mengantarmu sampai ke dalam.” Ucapnya tegas. Reana terdiam, tubuh Issa yang tiba-tiba mendekat membuatnya bisa merasakan hangat napas lelaki itu di tengkuknya. Lalu genggaman tangan yang terasa hangat di pergelangan tangannya dan aroma tubuh yang maskulin juga membuat darahnya berdesir seketika. Seolah sadar akan apa yang sedang dilakukannya secara impulsif, Issa berdeham dan melepaskan genggaman tangannya. Ia mundur dan kembali duduk tegak di kursinya sendiri. Membuat mereka berdua sedikit salah tingkah. “Kamu mungkin merasa pusing untuk berjalan kaki,” ucap Issa kemudian, membuat alasan paling masuk akal yang bisa dipikirkannya. Reana cepat-cepat mengangguk, “606496. Itu kode gerbangnya.” Tanpa mengatakan apa-apa lagi Issa segera keluar dari mobil menuju gerbang tinggi itu lalu memasukkan kode yang barusan disebutkan Reana pada sebuah layar sentuh. Seketika gerbang terbuka, memberi jalan untuk mobilnya masuk. Issa kembali ke dalam mobil kemudian langsung melajukan mobil ke area driveway panjang menuju pintu masuk utama. Mereka melewati taman luas yang terasa hangat karena lampu yang menyala di malam hari dan juga rindangnya pepohonan, kemudian terlihatlah rumah tiga lantai dengan fasad batu berwarna cream dan Issa memarkirkan mobil tepat di sana. Keduanya diam untuk beberapa saat walaupun mobil sudah berhenti. Entah kenapa Reana merasa wajahnya panas setelah sentuhan singkat dengan Issa barusan. Apakah ia merona hanya karena lelaki itu menggenggam tangannya? "Terima kasih sudah mengantarku pulang." Reana bergumam, tak berani menatap Issa secara langsung. "Sama-sama." Jawab Issa. Berbeda dengan Reana, lelaki itu justru memperhatikan Reana dengan seksama. Setelah sejak tadi ia hanya fokus pada kemudi, baru sekarang ia bisa melihat wajah Reana yang merona. Sepasang mata gadis itu yang berwarna abu-abu terlihat sayu, mungkin antara mabuk dan mengantuk, tapi Issa yakin dia terlihat sangat menggemaskan saat ini. Reana melepas sabuk pengaman, merapikan gaunnya sebentar, dan tiba-tiba sedikit terhuyung saat membuka pintu mobil. Issa meraih lengannya. "Kamu baik-baik saja? Aku akan mengantarmu ke dalam," ucapnya dan langsung keluar dari mobil dan memutar untuk membantu Reana. "Tidak apa-apa." Reana menggeleng. "Aku baik-baik saja." "Kamu yakin? Kamu tidak akan jatuh?" Issa melirik ke bawah, kearah sepasang sepatu hak tinggi runcing yang Reana kenakan. "Ya, tidak apa-apa. Terimakasih untuk tumpangannya, Tuan Sav—." "Issa." Lelaki itu memotong Reana yang akan memanggilnya dengan nama belakang. “Kamu bisa memanggilku Issa.” Pada saat itulah Reana baru berani melihat langsung ke arah Issa. Sorot mata yang tajam dan sepasang bola mata hitam pekat milik lelaki itu entah kenapa terasa hangat untuknya. Tak ingin terlalu lama menatap dalam diam, Reana langsung keluar dari mobil Issa. Lelaki itu kembali meraih lengannya untuk membantu menopang agar Reana tidak jatuh. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat dekat ketika Reana berusaha membuat agar kedua kakinya seimbang. Dan karena Issa lebih tinggi dari pada gadis itu, ia bisa mencium aroma shampoo yang segar dari rambut Reana yang tergerai. Wangi sekali dan… membuatnya tanpa sadar ingin semakin mendekat. Pada saat itulah Reana mengambil beberapa langkah menjauh secara tiba-tiba, membuat sentuhan Issa di lengannya terlepas dan menghilangkan aroma segar yang sedang lelaki itu hirup. Reana berdiri di area fasad rumah dan kembali menatap Issa yang berada beberapa langkah di depannya. “Terima kasih sudah mengantarku pulang,” katanya. Sudut bibir Issa terangkat sedikit, “Kamu sudah berterima kasih tadi,” jawabnya. Reana memalingkan sedikit wajahnya yang semakin terasa panas. “Terserahlah, pokoknya terima kasih.” Katanya lagi dengan nada sedikit menggerutu. “Sama-sama. Masuklah, anginnya semakin dingin, aku juga akan pulang sekarang.” Reana tersenyum kecil lalu berbalik dan buru-buru masuk ke dalam rumah, meninggalkan Issa yang masih bersandar di badan mobil dengan sudut bibir yang tersenyum. "Menggemaskan sekali,” Issa bergumam, lalu kembali masuk ke belakang kemudi dan meninggalkan rumah itu. Namun tanpa lelaki itu tahu, di balik pintu, Reana masih bersandar sampai mobil Issa melaju dan suaranya tidak terdengar lagi. Satu tangannya menyentuh dada, merasakan sesuatu di dalamnya yang entah kenapa, tiba-tiba berdetak kencang. ••• Akhirnya Issa menghela napas lega ketika ia keluar dari lift dan berjalan menuju unit apartemennya. Bekerja dari pukul sembilan pagi lalu menghadiri pesta selama empat jam padahal ia tidak begitu suka suasana pesta dan terjebak dalam kemacetan ditengah malam terasa sangat melelahkan. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanya mandi air hangat kemudian tidur nyenyak. "Kamu benar-benar terjebak macet?" Issa terlonjak kaget mendengar suara itu tepat sesaat setelah ia baru saja melepas sepatu. Seorang perempuan berambut sebahu sedang duduk santai di sofa ruang tamunya. "Aku sudah menyuruh kamu untuk tidur lebih dulu." Perempuan itu, Ella, menekuk wajah. "Aku tidak bisa tidur karena rumahmu terasa sangat asing untukku." Issa berjalan ke dapur, membuka lemari es dan mengambil sebotol air lalu minum tanpa menuangnya ke dalam gelas terlebih dulu. "Issa! Kamu benar-benar hanya terjebak macet? Bukan karena sudah berkencan makanya pulang terlambat?" Suara teriakan Ella dari ruang tamu terdengar sampai ke dapur, membuat Issa tersedak air minumnya. "Kenapa kamu berteriak seperti itu huh? Bukankah Rosie sudah tidur?" Tanpa menjawab pertanyaan tadi, Issa melewati Ella begitu saja menuju kamar tamu, dan senyumnya mengembang melihat seorang anak perempuan yang tertidur lelap di sana. Issa duduk di sisi tempat tidur tanpa mengeluarkan suara, tangannya terulur mengelus kepala Rosie dengan lembut. Ella dan putrinya, Rosie, mereka baru tiba di London tiga hari yang lalu setelah pulang berlibur dari Yunani. Namun karena ada beberapa urusan, alih-alih pulang ke rumah mereka sendiri, mereka justru akan tinggal bersama Issa untuk sementara waktu. Tentu saja Issa tidak masalah tentang hal itu, ia justru senang bisa bertemu Rosie setiap hari. Perempuan kecil yang begitu Issa manjakan bahkan sejak dia baru saja lahir. Maka tidak heran jika Rosie sangat menempel padanya. Issa juga selalu mengabulkan apa yang dia mau. "Pacarku cantik sekali saat tidur nyenyak seperti ini." Ella yang berdiri memperhatikan dari ambang pintu berdecak pelan. "Berhenti menyebut putriku sebagai pacar mu!" Katanya. "Memangnya kenapa? Rosie juga tidak pernah keberatan aku sebut begitu." "Jelas saja dia tidak keberatan, dia baru empat tahun!" Ella menghampiri sang anak yang sedang Issa cium bertubi-tubi, tapi perempuan kecil berpipi bulat itu terlihat sama sekali tidak terganggu. "Sudah sana keluar! Kamu belum mandi tapi sudah sembarangan menciumi putriku!" "Aku tidur bersama Rosie ya, malam ini?" "Enak saja! Tidak, tidak. Kalau dia tiba-tiba bangun tetap saja yang dia cari nanti pasti aku." "Sayang, dengar nada bicara Ibumu padaku. Dia jahat sekali 'kan?" Bisik Issa pada Rosie yang masih terlelap di alam mimpi. Mendengar itu Ella menarik satu telinga Issa sampai dia meringis kesakitan. Dia tidak bisa menjerit meskipun ingin karena takut membangunkan Rosie. "Cepat keluar, aku mau tidur!" Issa mendelik kesal, setelah mencium Rosie beberapa kali lagi barulah ia beranjak keluar kamar meskipun dengan ekspresi wajah tidak rela.Kita tak akan pernah tahu pada siapa kita akan jatuh cinta. Bisa saja pada dia yang sudah menemanimu sejak masih remaja, atau pada dia yang bersamamu pernah menghabiskan waktu di suatu malam. Mungkin juga pada dia yang selalu membuatmu kesal tapi di saat yang sama mampu memberikan getaran yang tak biasa. Itu juga barangkali yang dirasakan Reana sekarang. Ia memang belum bisa mengatakan kalau Issa Saverio adalah cinta matinya, namun ketika ia bertindak mengikuti kata hati, ia merasa benar. Sama sekali tidak ada setitik pun penyesalan dalam hatinya setelah memutuskan untuk mau belajar saling mencintai bersama lelaki itu. Kejujuran yang Issa katakan dengan apa adanya mengenai perasaan membuat Reana terenyuh. Dan baru kali ini ia mendapatkan pernyataan cinta tanpa diiming-imingi janji-janji manis yang sebenarnya belum tentu bisa terpenuhi. Maka dengan apa adanya pula ia mau memberikan hatinya. Lalu, ada hal yang sangat lucu. Reana kira diusianya sekarang yang sudah menginjak dua puluh
"Aku menyukaimu."Tegas.Tanpa ragu.Tanpa aba-aba.Reana yakin ia tidak salah dengar, bahkan sekarang jantungnya berdetak semakin cepat, darahnya berdesir, wajahnya menghangat dan Issa masih memaku sepasang matanya dengan tatapan tajam.Demi Tuhan, ia gugup setengah mati!Sesaat Reana mengira waktu baru saja berhenti. Hanya tetesan air hujan di luar sana yang tetap jatuh silih berganti. Namun suara petir yang tiba-tiba terdengar membuatnya tersadar, ia pun berkedip untuk memutuskan kontak mata dengan lelaki di hadapannya, lalu tertawa.Benar-benar tertawa sampai perutnya terasa sakit dan ujung matanya berair.Issa mengernyit dan mengerucutkan bibir, sama sekali tidak merasa ada sesuatu yang lucu di antara mereka. Atau, apa pernyataannya barusan terdengar seperti sebuah lelucon?"Kenapa tertawa?" Lelaki itu bertanya.Reana melihat ke arahnya sekilas, masih tertawa geli sambil sesekali mengibaskan tangan dan memukul meja."Kamu lucu,” ucapnya di sela tawa, "dari semua leluconmu, ini ya
Tidak ada persahabatan antara lelaki dan perempuan.Sudah tak terhitung berapa kali Reana mendengar kalimat itu. Bahkan sahabatnya sendiri pun, Oliver Sebastian, pernah mengatakannya. Namun ia hanya tertawa seraya mengibaskan tangan seolah apa yang ia dengar adalah omong kosong belaka. Hanya sebuah teori.Reana bahkan selalu dengan bangga mengatakan kalau teori itu terbukti salah, karena ia dan Oliver tetap bersahabat meski telah enam belas tahun mereka bersama. Hanya orang-orang yang terlalu mudah terbawa perasaan yang akan menyukai sahabatnya sendiri, begitu katanya.Nyatanya, malam ini, bukti yang ada justru semakin menguatkan teori itu.Benar, Reana lupa.Ia benar-benar lupa kalau suatu hubungan bisa disebut sebagai hubungan karena dilakukan oleh lebih dari satu pihak. Boleh saja dirinya dengan bangga berkata kalau ia menganggap Oliver hanya sebagai sahabat dan tidak akan pernah berubah selamanya. Namun ia lupa memikirkan dari sisi yang lain. Dari sudut pandang Oliver. Ia lupa per
Seharusnya, saat ini Issa sedang berada di tahun 1980. Sebagai pemuda yang menjadi sukarelawan membersihkan jenazah korban kekerasan. Kemudian ia akan berpindah ke tahun 1985, sebagai seorang jurnalis yang berkali-kali ditampar oleh personil tentara saat diinterogasi. Setelah itu ia akan ke tahun 1990, 2002, dan 2010.Itulah Issa setiap kali berduaan dengan sebuah novel. Ketika tubuhnya duduk nyaman di sofa ditemani oleh secangkir kopi hitam, tangannya sibuk membuka halaman, matanya sibuk membaca setiap kata, jiwanya justru seolah ditarik masuk ke dalam cerita. Dalam pikirannya, ia menjelma menjadi si tokoh utama atau hanya sekadar menjadi penonton tak kasat mata.Tapi malam ini berbeda.Sudah sekitar satu jam matanya tertuju pada salah satu halaman novel Human Acts yang ditulis oleh Han Kang enam tahun lalu, namun Issa tidak benar-benar sedang membaca. Novel yang menceritakan tentang aksi demonstrasi warga Gwangju, Korea tahun 1980 itu malam ini tidak berhasil membawa jiwa dan pikira
Arland yakin sahabatnya satu ini sudah gila. Mungkin tanpa sengaja minum obat diare milik Lue—kucing kesayangannya—atau kerasukan hantu. Tidak heran, gedung apartemen tempat Issa tinggal ini memang sudah lama dirumorkan angker, dan sepertinya salah satu makhluk tak kasat mata itu sedang berada dalam diri Issa saat ini. "Aku mulai merinding melihatmu semakin aneh,” ucap Arland sambil menyentuh tengkuk, seolah membuktikan kata-katanya. Issa tidak menghiraukan Arland sama sekali, mata dan kedua tangannya seharian ini sibuk dengan ponsel. Sesekali ia menyeringai atau tertawa geli, namun tidak ingin mengatakan apa yang sedang ia lakukan maupun apa yang ia lihat pada sahabatnya. "Apa telingamu itu hanya pajangan?" Lagi, Arland mencari perhatian, kesal karena terus menerus diabaikan. "Issa!" Arland meraih sebutir anggur dari piring di atas meja dan melemparnya pada Issa yang berbaring santai di sofa di hadapannya. "Aduh!" Akhirnya kata pertama sejak kedatangan Arland terlontar dari mulu
Oh dia benar-benar datang hari ini.Reana mengeluh dalam hati ketika orang yang sangat tidak ingin dilihatnya melangkah masuk ke Reading Delights. Orang itu, Issa Saverio, justru malah tersenyum lebar saat tatapan mereka bertemu. Membuat Reana semakin ingin mencabik-cabik wajahnya."Hai.” Bukannya membalas sapaan, Reana malah membuang muka ke layar datar di depannya, dengan bibir terkatup rapat ia pura-pura kembali sibuk ke dalam apa yang sedari tadi sedang ia kerjakan, yaitu melanjutkan naskah cerita baru. Sial, inspirasinya tiba-tiba menguap entah kemana.Issa menyeringai, sudah menduga perempuan di hadapannya ini pasti masih merasa kesal setelah apa yang terjadi kemarin. Hell, yah, untuk itulah ia menemuinya malam ini."Aku mau mengembalikan buku ini," Issa masih bicara dengan nada bersahabat seperti biasa.Reana mendengus kesal, mau tidak mau menerima buku Hansel and Gretel yang dipinjam Rosie tiga hari yang lalu."Terima kasih sudah mengembalikan bukunya tepat waktu."Dengan te







