Beranda / Romansa / A Story We Misread / BAB V - What She Thought She Knew

Share

BAB V - What She Thought She Knew

Penulis: Ann Azure
last update Tanggal publikasi: 2026-08-30 23:35:18

"Aku kira penulis yang sering dibicarakan Arland bukan kamu." Issa memulai lagi percakapan setelah beberapa menit dilalui dalam keheningan.

"Arland sering membicarakan aku?"

Issa mengangguk meskipun Reana tidak sedang melihat kearahnya. "Arland selalu mengatakan kamu penulis yang hebat, dan ternyata dia benar."

Mau tidak mau, Reana tersenyum. Kata hebat yang diucapkan Issa entah kenapa terdengar begitu tulus. Seolah lelaki itu sendiri yang benar-benar memujinya.

"Tapi aku penasaran tentang satu hal," nada suara Issa terdengar serius. "Nama lengkapmu Reana Oswald dan nama penamu Rea Oswald?"

Seketika Reana menatapnya. "Benar. Dari mana kamu tahu namaku Reana?"

"Dari papan namamu di Reading Delights."

"Ah, benar." Reana berseru kecil. "Kita sudah bertemu sebelumnya di Reading Delights.”

Issa mengangguk-angguk, merasa lucu karena awalnya ia mengira Reana dan Rea Oswald adalah dua orang yang berbeda. Sama sekali tidak pernah terpikirkan kalau ia akan bertemu perempuan Reading Delights yang ia anggap menarik diacara kantornya seperti tadi apalagi sampai mengantarnya pulang seperti sekarang ini.

"Aku tebak, nama Rea membawa keberuntungan untuk kamu?"

Kali ini Reana tertawa, ia tidak menyangka berbicara dengan Issa ternyata cukup menyenangkan. Perempuan itu mulai merasa tenang, dan pembicaraan telepon Issa tadi seolah terlupakan begitu saja.

"Ya, anggap saja begitu." Katanya disela tawa.

Percakapan ringan mereka terus berlanjut sampai tanpa terasa lebih dari satu jam sudah berlalu. Mobil memasuki The Bishops Avenue setelah meninggalkan pusat London. Gedung-gedung tinggi perlahan menghilang, digantikan pepohonan tua dan rumah-rumah besar yang berdiri jauh di belakang pagar. Ketika mobil berhenti di depan gerbang hitam Ashbourne House, tidak ada papan nama—hanya sebuah kamera kecil dan lampu di atas interkom, Issa bertanya, “berapa kode pintu gerbangnya?” sambil membuka sabuk pengaman.

Reana mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba memfokuskan diri, sambil meraih handle pintu, “Aku bisa berjalan kaki ke dalam,” katanya.

Refleks, Issa mencondongkan tubuh dan mengulurkan tangan untuk menahan Reana yang akan membuka pintu mobil. “Tidak, aku akan mengantarmu sampai ke dalam.” Ucapnya tegas.

Reana terdiam, tubuh Issa yang tiba-tiba mendekat membuatnya bisa merasakan hangat napas lelaki itu di tengkuknya. Lalu genggaman tangan yang terasa hangat di pergelangan tangannya dan aroma tubuh yang maskulin juga membuat darahnya berdesir seketika.

Seolah sadar akan apa yang sedang dilakukannya secara impulsif, Issa berdeham dan melepaskan genggaman tangannya. Ia mundur dan kembali duduk tegak di kursinya sendiri. Membuat mereka berdua sedikit salah tingkah.

“Kamu mungkin merasa pusing untuk berjalan kaki,” ucap Issa kemudian, membuat alasan paling masuk akal yang bisa dipikirkannya.

Reana cepat-cepat mengangguk, “606496. Itu kode gerbangnya.”

Tanpa mengatakan apa-apa lagi Issa segera keluar dari mobil menuju gerbang tinggi itu lalu memasukkan kode yang barusan disebutkan Reana pada sebuah layar sentuh. Seketika gerbang terbuka, memberi jalan untuk mobilnya masuk.

Issa kembali ke dalam mobil kemudian langsung melajukan mobil ke area driveway panjang menuju pintu masuk utama. Mereka melewati taman luas yang terasa hangat karena lampu yang menyala di malam hari dan juga rindangnya pepohonan, kemudian terlihatlah rumah tiga lantai dengan fasad batu berwarna cream dan Issa memarkirkan mobil tepat di sana.

Keduanya diam untuk beberapa saat walaupun mobil sudah berhenti. Entah kenapa Reana merasa wajahnya panas setelah sentuhan singkat dengan Issa barusan. Apakah ia merona hanya karena lelaki itu menggenggam tangannya?

"Terima kasih sudah mengantarku pulang." Reana bergumam, tak berani menatap Issa secara langsung.

"Sama-sama." Jawab Issa.

Berbeda dengan Reana, lelaki itu justru memperhatikan Reana dengan seksama. Setelah sejak tadi ia hanya fokus pada kemudi, baru sekarang ia bisa melihat wajah Reana yang merona. Sepasang mata gadis itu yang berwarna abu-abu terlihat sayu, mungkin antara mabuk dan mengantuk, tapi Issa yakin dia terlihat sangat menggemaskan saat ini.

Reana melepas sabuk pengaman, merapikan gaunnya sebentar, dan tiba-tiba sedikit terhuyung saat membuka pintu mobil.

Issa meraih lengannya. "Kamu baik-baik saja? Aku akan mengantarmu ke dalam," ucapnya dan langsung keluar dari mobil dan memutar untuk membantu Reana.

"Tidak apa-apa." Reana menggeleng. "Aku baik-baik saja."

"Kamu yakin? Kamu tidak akan jatuh?" Issa melirik ke bawah, kearah sepasang sepatu hak tinggi runcing yang Reana kenakan.

"Ya, tidak apa-apa. Terimakasih untuk tumpangannya, Tuan Sav—."

"Issa." Lelaki itu memotong Reana yang akan memanggilnya dengan nama belakang. “Kamu bisa memanggilku Issa.”

Pada saat itulah Reana baru berani melihat langsung ke arah Issa. Sorot mata yang tajam dan sepasang bola mata hitam pekat milik lelaki itu entah kenapa terasa hangat untuknya.

Tak ingin terlalu lama menatap dalam diam, Reana langsung keluar dari mobil Issa. Lelaki itu kembali meraih lengannya untuk membantu menopang agar Reana tidak jatuh.

Mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat dekat ketika Reana berusaha membuat agar kedua kakinya seimbang. Dan karena Issa lebih tinggi dari pada gadis itu, ia bisa mencium aroma shampoo yang segar dari rambut Reana yang tergerai. Wangi sekali dan… membuatnya tanpa sadar ingin semakin mendekat.

Pada saat itulah Reana mengambil beberapa langkah menjauh secara tiba-tiba, membuat sentuhan Issa di lengannya terlepas dan menghilangkan aroma segar yang sedang lelaki itu hirup.

Reana berdiri di area fasad rumah dan kembali menatap Issa yang berada beberapa langkah di depannya. “Terima kasih sudah mengantarku pulang,” katanya.

Sudut bibir Issa terangkat sedikit, “Kamu sudah berterima kasih tadi,” jawabnya.

Reana memalingkan sedikit wajahnya yang semakin terasa panas. “Terserahlah, pokoknya terima kasih.” Katanya lagi dengan nada sedikit menggerutu.

“Sama-sama. Masuklah, anginnya semakin dingin, aku juga akan pulang sekarang.”

Reana tersenyum kecil lalu berbalik dan buru-buru masuk ke dalam rumah, meninggalkan Issa yang masih bersandar di badan mobil dengan sudut bibir yang tersenyum.

"Menggemaskan sekali,” Issa bergumam, lalu kembali masuk ke belakang kemudi dan meninggalkan rumah itu.

Namun tanpa lelaki itu tahu, di balik pintu, Reana masih bersandar sampai mobil Issa melaju dan suaranya tidak terdengar lagi. Satu tangannya menyentuh dada, merasakan sesuatu di dalamnya yang entah kenapa, tiba-tiba berdetak kencang.

•••

Akhirnya Issa menghela napas lega ketika ia keluar dari lift dan berjalan menuju unit apartemennya. Bekerja dari pukul sembilan pagi lalu menghadiri pesta selama empat jam padahal ia tidak begitu suka suasana pesta dan terjebak dalam kemacetan ditengah malam terasa sangat melelahkan. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanya mandi air hangat kemudian tidur nyenyak.

"Kamu benar-benar terjebak macet?"

Issa terlonjak kaget mendengar suara itu tepat sesaat setelah ia baru saja melepas sepatu. Seorang perempuan berambut sebahu sedang duduk santai di sofa ruang tamunya.

"Aku sudah menyuruh kamu untuk tidur lebih dulu."

Perempuan itu, Ella, menekuk wajah. "Aku tidak bisa tidur karena rumahmu terasa sangat asing untukku."

Issa berjalan ke dapur, membuka lemari es dan mengambil sebotol air lalu minum tanpa menuangnya ke dalam gelas terlebih dulu.

"Issa! Kamu benar-benar hanya terjebak macet? Bukan karena sudah berkencan makanya pulang terlambat?" Suara teriakan Ella dari ruang tamu terdengar sampai ke dapur, membuat Issa tersedak air minumnya.

"Kenapa kamu berteriak seperti itu huh? Bukankah Rosie sudah tidur?"

Tanpa menjawab pertanyaan tadi, Issa melewati Ella begitu saja menuju kamar tamu, dan senyumnya mengembang melihat seorang anak perempuan yang tertidur lelap di sana.

Issa duduk di sisi tempat tidur tanpa mengeluarkan suara, tangannya terulur mengelus kepala Rosie dengan lembut. Ella dan putrinya, Rosie, mereka baru tiba di London tiga hari yang lalu setelah pulang berlibur dari Yunani. Namun karena ada beberapa urusan, alih-alih pulang ke rumah mereka sendiri, mereka justru akan tinggal bersama Issa untuk sementara waktu.

Tentu saja Issa tidak masalah tentang hal itu, ia justru senang bisa bertemu Rosie setiap hari. Perempuan kecil yang begitu Issa manjakan bahkan sejak dia baru saja lahir. Maka tidak heran jika Rosie sangat menempel padanya. Issa juga selalu mengabulkan apa yang dia mau.

"Pacarku cantik sekali saat tidur nyenyak seperti ini."

Ella yang berdiri memperhatikan dari ambang pintu berdecak pelan. "Berhenti menyebut putriku sebagai pacar mu!" Katanya.

"Memangnya kenapa? Rosie juga tidak pernah keberatan aku sebut begitu."

"Jelas saja dia tidak keberatan, dia baru empat tahun!" Ella menghampiri sang anak yang sedang Issa cium bertubi-tubi, tapi perempuan kecil berpipi bulat itu terlihat sama sekali tidak terganggu. "Sudah sana keluar! Kamu belum mandi tapi sudah sembarangan menciumi putriku!"

"Aku tidur bersama Rosie ya, malam ini?"

"Enak saja! Tidak, tidak. Kalau dia tiba-tiba bangun tetap saja yang dia cari nanti pasti aku."

"Sayang, dengar nada bicara Ibumu padaku. Dia jahat sekali 'kan?" Bisik Issa pada Rosie yang masih terlelap di alam mimpi.

Mendengar itu Ella menarik satu telinga Issa sampai dia meringis kesakitan. Dia tidak bisa menjerit meskipun ingin karena takut membangunkan Rosie.

"Cepat keluar, aku mau tidur!"

Issa mendelik kesal, setelah mencium Rosie beberapa kali lagi barulah ia beranjak keluar kamar meskipun dengan ekspresi wajah tidak rela.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • A Story We Misread   Bab XLII - The Weight of Unspoken Words

    Emma masih mengenakan gaun malam berwarna hitam sederhana yang dipadukan dengan blazer tipis. Sejak awal acara, ia telah membantu mengoordinasikan jadwal Issa, berkomunikasi dengan pihak hotel, dan memastikan segala keperluan tim berjalan sesuai rencana. Ia tidak menyentuh alkohol sedikit pun.Baginya, malam itu adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia bukan sekadar sekretaris yang mampu menyelesaikan pekerjaan administratif. Ia ingin menjadi seseorang yang bisa diandalkan Issa bahkan ketika urusan pribadi pria itu mulai mengganggu pekerjaannya."Pak Direktur?"Issa yang bersandar pada tembok tidak jauh dari pintu masuk ballroom mengangkat kepala ketika mendengar suara yang familier."Oh. Emma."Emma tersenyum kecil. "Apa Anda akan pulang sekarang?""Ya. Tidak. Maksudku..." Issa mengerutkan kening, seolah-olah pertanyaan sederhana itu membutuhkan pertimbangan yang cukup rumit. "Ya, tapi tidak juga."Emma terdiam sesaat sebelum tawa kecil lolos dari bibirnya.Selama bekerja sebagai

  • A Story We Misread   BAB XLI - A Celebration Without Joy

    Ballroom hotel itu dipenuhi cahaya keemasan yang memantul pada permukaan gelas kristal dan dekorasi elegan di sepanjang ruangan. Musik instrumental mengalun lembut, bercampur dengan percakapan para tamu yang memenuhi acara peluncuran dua buku terbaru dari divisi Sci-fic dari penerbit ternama Hawthorne Literary Press.Bagi sebagian besar orang yang hadir malam itu, acara tersebut merupakan perayaan atas keberhasilan dua penulis yang telah menghabiskan berbulan-bulan menyelesaikan karya mereka. Bagi Issa Saverio, ini adalah bukti lain bahwa divisi yang dipimpinnya terus berkembang.Semuanya berjalan sesuai rencana. Kedua penulis memberikan sambutan singkat, para tamu menikmati jamuan, dan beberapa media melakukan wawancara dengan tim penerbitan. Arland bahkan sempat berkomentar bahwa acara tersebut mungkin menjadi salah satu peluncuran buku terbaik yang pernah mereka selenggarakan tahun ini.Namun, meskipun Issa menjawab setiap pertanyaan dengan profesional dan tersenyum ketika diperluk

  • A Story We Misread   BAB XL - The Questions He Couldn't Ask (Pt.2)

    "Memangnya ada masa lalu yang bisa diubah?" Arland mengangkat sebelah alis. "Kita hanya bisa memutuskan apa yang akan kita lakukan setelah mengetahui apa yang terjadi. Kalau sesuatu dari masa lalu memang bisa memengaruhi masa depan mereka, bukankah mereka berhak mengetahuinya sebelum mengambil keputusan?"Issa terdiam beberapa saat. Ia memahami maksud Arland. Namun, ada perbedaan antara mengetahui sesuatu yang memang perlu diketahui dan mencampuri urusan yang belum tentu berkaitan dengannya.Ia tidak ingin menuduh Nyonya Oswald menyembunyikan sesuatu hanya karena perempuan itu menolak menjelaskan alasannya. Akan tetapi, ia juga tidak bisa mengabaikan kemungkinan tersebut."Jadi, menurutmu, orang yang menentang hubungan itu seharusnya menjelaskan alasannya?" tanya Issa."Kalau dia benar-benar peduli kepada salah satu dari mereka, tentu saja." Arland menjawab dengan nada lebih serius. "Setidaknya, dia harus memberi mereka kesempatan untuk memahami apa yang sedang terjadi. Menentang sesu

  • A Story We Misread   BAB XXXIX - The Questions He Couldn't Ask (Pt.1)

    Keesokan paginya, Issa tiba di kantor Hawthorne Literary Press lebih awal dari biasanya.Suasana gedung penerbitan itu masih relatif tenang ketika ia melangkah keluar dari lift. Beberapa karyawan sudah mulai berdatangan, menyapa satu sama lain sebelum menuju departemen masing-masing. Issa membalas sapaan mereka seperti biasa, dengan anggukan singkat dan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.Tak ada yang berbeda dari penampilannya pagi itu. Kemeja yang dikenakannya rapi, lengan bajunya tergulung hingga siku, sementara rambutnya tertata seperti biasa. Ia membawa secangkir kopi hitam di satu tangan dan tas laptop di tangan lainnya.Dari luar, Issa tampak seperti direktur yang siap menghadapi hari kerja yang sibuk. Namun, begitu duduk di balik meja kerjanya, pikirannya kembali pada percakapan semalam.“Ibuku memintaku putus denganmu.” Kalimat Reana itu masih terngiang jelas di benaknya.Issa telah berusaha memikirkan persoalan tersebut dari berbagai sudut pandang sejak meninggalkan apart

  • A Story We Misread   BAB XXXVIII - The Questions That Remain

    Untuk sesaat, Issa tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Reana, mencoba memahami kalimat yang baru saja didengarnya. Bukan karena ia tidak mengerti maksud perkataan itu, melainkan karena ia sama sekali tidak menyangka Nyonya Oswald akan mengambil langkah sejauh itu. Ia sudah menduga bahwa ada sesuatu yang membuat perempuan itu bersikap berbeda terhadapnya. Ia juga menyadari perubahan sikap Nyonya Oswald setiap kali mereka bertemu. Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa Nyonya Oswald akan meminta putrinya mengakhiri hubungan mereka. "Dia mengatakan itu kepadamu?" tanyanya akhirnya. Reana mengangguk. "Iya." "Apakah dia menjelaskan alasannya?" Reana menggeleng. "Itulah masalahnya. Dia hanya mengatakan bahwa hubungan kita tidak baik untukku. Ketika aku meminta penjelasan, dia bilang aku belum memahami semuanya." Issa terdiam. Reana mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. "Aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan lagi, Issa. Aku tidak ingin ber

  • A Story We Misread   BAB XXXVII - Beneath the Silence

    Pagi di Ashbourne House biasanya dimulai dengan percakapan ringan di meja makan.Terkadang Reana akan menceritakan sesuatu yang terjadi di Reading Delights. Pada kesempatan lain, Nyonya Catherine Oswald akan membahas rencana mereka untuk akhir pekan, sementara Tuan Frederick Oswald sesekali menyela dengan komentar yang membuat kedua perempuan itu tertawa.Namun, pagi ini terasa berbeda.Reana duduk di kursinya dengan secangkir teh di hadapan, sementara Nyonya Oswald sibuk mengoleskan selai pada sepotong roti panggang. Tidak ada yang benar-benar memulai percakapan. Bahkan suara peralatan makan yang beradu dengan piring terdengar lebih jelas daripada biasanya."Roti panggangnya masih ada kalau kamu mau," kata Nyonya Oswald akhirnya.Reana mengangkat wajahnya. "Terima kasih, Bu. Aku sudah cukup."Nyonya Oswald mengangguk kecil, lalu kembali pada sarapannya. Dan percakapan mereka berhenti di sana.Reana menunduk, mengaduk tehnya meskipun ia tidak berniat menambahkan apa pun ke dalamnya. P

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status