Beranda / Romansa / AH! BRONDONGKU SAYANG / Bab 1 : Arti keluarga

Share

AH! BRONDONGKU SAYANG
AH! BRONDONGKU SAYANG
Penulis: Kim Hwang Ra

Bab 1 : Arti keluarga

Penulis: Kim Hwang Ra
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-19 20:58:10

Ruang tamu rumah Ibu Rendra terasa pengap. Bukan karena panas, tapi karena suasananya yang selalu membuat Alia merasa kecil. Di dinding ada banyak foto Rendra—kecil, remaja, dewasa—semuanya tersenyum bangga. Tidak ada ruang kosong untuk siapa pun selain putra kesayangan itu.

Alia berdiri sambil meremas ujung bajunya.

“Bu… aku cuma kecewa. Rendra janji mau datang ke wisudaku. Itu hari penting buat aku.”

Ibu Rendra mengangkat wajah dari cangkir tehnya, nada suaranya langsung ketus.

“Alia, kamu itu kalau jadi istri jangan manja begitu. Suami kerja buat rumah tangga. Masa gara-gara wisuda aja kamu ribut sama Rendra?”

Alia menelan napas. “Aku cuma berharap dia ada. Sekali ini aja, Bu.”

Rendra yang dari tadi sibuk main ponsel akhirnya bersuara.

“Udah kubilang, ada laporan mendadak. Kamu tuh susah banget ngerti, ya?”

Nada datar itu memukul lebih keras daripada teriakan. Alia menunduk agar tak terlihat goyah.

“Ren, kamu jangan angkat suara,” tegur Ibu Rendra, tapi bukan untuk membela Alia. “Ibu heran, Alia ini kenapa makin lama makin sensitif. Baru lima tahun nikah, kelakuannya masih kayak anak kecil.”

“Bu, aku cuma minta—”

Belum selesai bicara, Ibu Rendra sudah memotong.

“Kamu tuh ngerepotin, Alia. Semua hal kecil dijadiin masalah. Kalau kamu sibuk urus rumah, sibuk bangun keluarga, kamu nggak sempat ngeluh terus.”

Kata bangun keluarga itu membuat dada Alia mengencang. Ia tahu arah pembicaraan ini.

Rendra ikut menimpali, enteng.

“Makanya, Lia. Fokus ke hal yang penting. Bukan drama kayak gini.”

Alia memejam sebentar.

Drama.

Begitu mudah mereka menyebut perasaannya.

Ibu Rendra bersedekap, menatapnya dari ujung kaki sampai kepala.

“Kalian ini udah lima tahun menikah. Orang lain baru setahun udah punya anak. Kamu? Apa sih yang kamu kerjain sampai sekarang?”

Alia menahan napas. Ia ingin bilang bahwa ia sudah periksa. Bahwa dokter juga sudah bilang hasilnya. Tapi apa gunanya? Tidak ada yang mau dengar.

“Bu… aku berusaha,” ucapnya pelan.

“Usaha gimana? Ibu nggak lihat ada hasilnya.”

Nada itu menusuk, dingin, membuat tengkuk Alia panas.

Rendra menggeleng kecil, seolah bosan.

“Udahlah. Lia tuh memang suka lebay, Ma. Susah dikasih tahu.”

Alia akhirnya mengangkat wajah, matanya bergetar.

“Aku cuma pengin janji ditepati. Itu salah?”

Ruangan itu hening. Lalu Ibu Rendra mendesah panjang.

“Kamu mulai dulu dari satu hal, Lia. Jangan bikin Rendra stres. Itu aja.”

Pelan, Alia merasa sesuatu di dalam dirinya remuk. Tidak keras, tapi cukup untuk membuatnya sulit bernapas.

Ia berdiri di antara foto-foto Rendra yang selalu dipuji, sementara dirinya hanya jadi orang yang “manja”, “lebay”, dan “ngerepotin”. Seakan seluruh hidupnya hanya rangkaian kesalahan yang tidak pernah benar.

Dan malam itu, tanpa ada yang sadar, retakan kecil di hati Alia akhirnya pecah.

Pelan… tapi pasti.

***********************

Di kamar, Alia duduk sambil menahan napas yang tersendat-sendat. Air mata masih jatuh pelan. Pintu baru saja tertutup ketika Rendra masuk, wajahnya biasa saja, seolah tidak melihat keadaan istrinya.

Ia mengambil handuk dan langsung menuju kamar mandi.

Pintu tertutup.

Terbuka lagi.

Masuk lagi.

Keluar lagi.

Alia mengusap matanya. “Ren… kamu nggak mau ngomong sama aku?”

Rendra yang sedang mencari kaus di lemari berhenti sebentar. “Ngomong apa lagi? Kita udah ribut dari rumah Ibu.”

“Aku bukan mau ribut,” suara Alia parau. “Aku cuma sedih karena kamu nggak datang. Itu aja.”

Rendra mendengus kecil, tidak menatap. “Lia, aku udah bilang kan ada kerjaan mendadak.”

“Tapi kamu janji.”

Alia mencoba menahan suaranya agar tidak pecah. “Kamu bilang kamu bakal datang. Aku nunggu… sampai acara selesai.”

Rendra akhirnya menatap, tapi dengan wajah jengkel. “Terus? Kamu mau aku bilang apa? Aku harus pilih kerjaan atau wisuda kamu? Kamu mau aku dipecat?”

Alia memijat dada yang terasa sesak. “Aku cuma ingin kamu tepati apa yang kamu bilang. Nggak lebih.”

Rendra tertawa sinis. “Kamu tuh selalu nuntut. Kecil-kecil dijadiin besar.”

“Aku nggak nuntut, Ren…”

Air mata turun lagi. “Aku cuma pengen kamu ngerti perasaanku.”

Rendra mendecak. “Nah itu. Kamu nangis lagi. Dari rumah udah nangis. Masuk mobil nangis. Sampai sini nangis. Kamu nggak capek?”

Alia menggeleng pelan. “Aku nangis karena kamu nggak pernah denger aku.”

Rendra langsung membalas cepat, seperti tersinggung.

“Aku denger! Tapi kamu yang nggak mau denger aku. Aku capek kerja, aku capek ngadepin Ibu yang cerewet, terus pulang-pulang harus ngadepin kamu yang sensitif!”

“Jadi salahku?”

Alia menatapnya, mata merah. “Salahku kamu nggak datang? Salahku Ibu ngomel gitu?”

Rendra mengangkat tangan, frustrasi. “Lia, please. Udah berhenti. Aku cuma mau istirahat.”

“Tapi aku masih merasa sakit, Ren…”

“Aku juga sakit! Sakit kepala denger kamu nangis terus!”

Nada suaranya meninggi.

Alia terdiam, tersedak. Tangisnya makin pecah, meski ia mencoba menahannya.

Rendra langsung mengambil bantal dari tempat tidur. “Aku tidur di kamar sebelah.”

Alia terkejut. “Kenapa harus gitu? Kita kan bisa selesaikan baik-baik.”

“Gimana mau baik-baik kalau kamu nggak berhenti nangis?” Rendra meliriknya kesal. “Aku nggak bisa tidur kalau kamu terus begini.”

Alia mengusap pipinya buru-buru. “Aku… aku berusaha tenang.”

“Ya nggak berhasil.”

Rendra sudah di depan pintu. “Aku butuh tidur. Kamu butuh… ya entahlah, butuh waktu sendiri mungkin. Besok kalau kamu udah nggak drama, baru kita ngomong.”

“Drama?”

Alia hampir tidak percaya dengan kata itu.

Rendra membuka pintu. “Iya. Ini semua capek, Lia. Aku capek banget.”

Pintu tertutup perlahan.

Dan untuk pertama kalinya, Alia merasakan dingin yang bukan dari AC kamar—tapi dari seseorang yang seharusnya jadi tempat pulangnya.

Ia memeluk lutut, tenggelam dalam kesunyian yang makin tebal.

Sementara di kamar sebelah, Rendra sudah tidak memikirkan apa pun selain tidurnya sendiri.

Saat Alia masih duduk di tempat tidur, pelan-pelan menenangkan napasnya yang tersendat. Tangisnya mereda, tapi dadanya masih sesak.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah cepat di luar kamar. Alia menegangkan telinga. Langkah itu semakin dekat, kemudian menuruni tangga dengan tergesa-gesa.

“Ren…?” Suaranya terdengar parau, pelan, hampir seperti berbisik. “Ren, kamu… mau kemana?”

Tidak ada jawaban. Hanya suara langkah yang semakin menjauh.

Alia berdiri, berjalan ke pintu kamar, matanya menangkap sosok Rendra—masih pakai piyama tidur—melewati koridor dengan tergesa-gesa, langsung menuruni tangga, lalu menghilang di pintu depan rumah.

Alia menatap kosong pintu yang tertutup, jantungnya berdegup kencang.

Mau ke mana Rendra pergi di tengah malam begini… dan kenapa ngga bilang apa-apa?

Alia menggigit bibir, ragu untuk keluar kamar. Tapi rasa penasaran dan sedikit takut membuatnya menahan napas, sambil berharap suara langkah itu segera kembali.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 17 : Cerai

    Bukannya menjauh, Arhan justru mempererat posisinya. Ia sengaja tetap menunduk, tangannya masih berada di tengkuk Alia, seolah-olah sedang membisikkan sesuatu yang sangat intim ke telinga dosennya itu. Ia melirik Rendra dari sudut matanya dengan tatapan yang sangat provokatif—sebuah tantangan terang-terangan yang mengatakan bahwa ia tidak takut pada otoritas Rendra."Lepaskan istriku, bajingan!" Rendra menderu, langkahnya yang besar membuat lantai kayu koridor itu bergetar.Arhan perlahan menegakkan tubuh, namun tangannya tetap bertengger di bahu Alia, menahan wanita itu agar tetap di sisinya. "Kenapa? Anda takut kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah Anda jaga dengan baik?" sahut Arhan dengan suara rendah yang tajam."Arhan, lepas." Alia berseru panik. Ia mencoba melepaskan diri dari Arhan, sekaligus ingin menjelaskan pada Rendra. "Rendra, ini ngga kayak yang kamu lihat! Rambutku tersangkut dan—""Diam, Alia!" bentak Rendra. Wajahnya memerah padam, urat-urat di pelipisnya menonj

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 16 : Salah Paham

    Alia melangkah masuk ke dalam restoran dengan dagu terangkat, meski hatinya terasa remuk melihat kemesraan Rendra dan Desy di ujung ruangan. Arhan mengekor tepat di belakangnya, wajahnya yang biasanya usil kini berubah menjadi tameng yang kokoh dan protektif.Sesampainya di meja besar yang sudah dipesan Rendra, suasana mendadak hening. Nyonya Sofia menatap Arhan dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan."Alia, siapa anak ini? Kenapa dia ikut masuk ke dalam?" tanya Sofia ketus."Ah, dia sopir pribadiku, Ma. Karena Rendra tidak bisa menungguku tadi, aku memutuskan untuk mempekerjakannya agar kita bisa barengan tanpa harus di tinggal lagi," jawab Alia tenang, sembari menarik kursi.Desy menutup mulutnya dengan tangan, berpura-pura terkejut. "Aduh, Alia... tapi tidak bagus lho, dilihat orang kalau perempuan yang sudah bersuami sedekat itu dengan laki-laki asing. Apalagi dia kelihatannya masih sangat muda.""Benar kata Desy," timpal Sofia cepat. "Rendra, kamu lihat k

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 15 : Tantangan Baru

    Di ambang pintu, Nyonya Sofia masuk mengekor di belakang Desy dengan wajah yang berseri-seri, seolah-olah baru saja memenangkan lotre. "Rendra! Lihat siapa yang datang!" seru Sofia sambil merangkul pundak Desy. Rendra berdiri, ekspresinya datar. Ada sedikit keterkejutan di matanya, namun ia tetap bersikap sopan. "Desy? Kupikir penerbangan mu besok." "Aku tidak sabar, Rendra. Eh ternyata jadwal penerbanganku dimajukan," sahut Desy dengan suara merdu yang terdengar sangat percaya diri. Ia kemudian menoleh ke arah Alia yang masih berdiri mematung di dekat kursi bimbingannya tadi. "Dan ini... pasti Alia, kan? Hai, aku Desy. Teman lama Rendra." Desy mengulurkan tangan dengan ramah, namun sorot matanya yang tajam seolah sedang menilai penampilan Alia dari ujung rambut hingga ujung kaki. Alia menjabat tangan itu sekilas. "Alia, sayang," suara Sofia memecah kecanggungan, namun nadanya terdengar seperti perintah. "Tolong antar Desy ke kamar tamu di lantai atas. Siapkan semuanya agar dia m

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 14 : Siapa Dia?

    Pagi itu, suasana kampus terasa hambar bagi Arhan. Ia berdiri di depan papan pengumuman jurusan, menatap selembar kertas yang menyatakan bahwa mata kuliah Seni Art hari ini akan diampu oleh dosen pengganti. Firasat buruk yang ia bawa dari gerbang rumah mewah semalam kini semakin nyata. "Dua hari nggak ada kabar, ponsel mati, sekarang kelas diganti... ada yang nggak beres sama Kak Alia," gumam Arhan sambil mengepalkan tangan di dalam saku jaketnya. Ia tidak bisa hanya diam menunggu. Arhan melangkah menuju kantor jurusan dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tampak seperti mahasiswa yang sedang frustrasi karena urusan akademik. Di dalam ruangan, ia mendapati Ketua Jurusan, Pak Darmanto, yang sedang sibuk dengan tumpukan berkas. “Permisi, Pak. Saya Arhan, mahasiswa bimbingan Bu Alia,” ucap Arhan dengan nada mengeluh yang dibuat-buat. “Saya mau lapor, Pak. Sudah dua hari saya mencoba menghubungi Bu Alia untuk konsultasi bab terakhir skripsi saya, tapi ponsel beliau tidak akt

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 13 : Semua Ada Imbalan

    Arhan akhirnya memutar kunci motornya. Meskipun hatinya masih terasa berat dan pandangannya terus tertuju pada jendela lantai dua yang gelap itu, ia tahu batasnya. Arhan memacu motornya kembali ke kosan, membiarkan dinginnya angin malam menembus jaket denimnya.----------Di sebuah ruang tamu megah di kediaman ibunya, Rendra duduk dengan dasi yang sudah terlepas, menyesap wiski dengan raut wajah yang masih keruh. Di depannya, sang ibu duduk dengan anggun, namun sorot matanya tajam dan penuh perhitungan."Investasi itu harusnya sudah di tanganmu kalau saja istrimu bisa bersikap sedikit lebih 'berguna', Rendra," ucap ibunya dingin. Ia tidak menunjukkan simpati sedikit pun pada kondisi Alia, baginya menantu hanyalah aset pendukung kesuksesan anaknya."Dia keras kepala, Ma. Alia pikir dia masih punya kuasa seperti dulu ayahnya masih tinggi di perusahaan," Rendra mendesis, membanting gelasnya ke atas meja.Ibunya tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan rencana lain. "Apa mama bilang

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 12 : Pindah Hati?

    Rendra melemparkan tali pinggangnya ke kursi kulit dengan napas yang masih memburu. Ia mengambil kunci mobilnya kembali dan merogoh ponsel, menekan nomor ibunya."Halo, Ma? Aku malam ini aku ke rumah, ya. Ada proyek yang harus kubahas dengan relasi di dekat rumah Mama besok pagi," ucapnya dengan suara yang mendadak tenang, seolah-olah tangannya tidak baru saja meninggalkan bilur merah di tubuh istrinya.Tanpa menoleh lagi ke arah gudang, Rendra memacu mobilnya meninggalkan gerbang rumah mewah itu. Ia meninggalkan instruksi mutlak pada kepala pelayan: "Jangan ada yang berani mendekati gudang. Biarkan dia belajar tentang intropeksi dan konsekuensi dari perbuatannya."Di dalam gudang yang pengap, Alia meringkuk di atas lantai semen yang dingin. Perutnya melilit hebat; rasa lapar yang menyiksa berpadu dengan perih di punggung dan lengannya. Ia mencoba merangkak menuju pintu, mengetuknya pelan dengan sisa tenaga yang ada."Tolong...aku haus..." rintihnya parau. Namun, para pelayan di luar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status