共有

Bab 2 : Siapa dia?

作者: Kim Hwang Ra
last update 公開日: 2025-11-19 20:59:37

Matahari pagi masuk lewat celah gorden, tapi tidak membawa hangat apa pun ke dada Alia. Di dapur, Alia bergerak seperti biasa. Menanak nasi, menggoreng telur, memotong timun, menuang teh hangat ke dua cangkir. Tangannya hafal urutannya, seolah tadi malam tidak pernah terjadi.

Matanya sedikit bengkak. Tapi ia tetap merapikan meja makan, memastikan semuanya terlihat rapi seperti rumah yang baik-baik saja.

Tak lama, langkah kaki terdengar dari arah kamar. Rendra muncul dengan kemeja kerja, rambut masih setengah basah, wajahnya datar.

“Pagi,” ucap Alia pelan.

Rendra mengangguk singkat. “Hm.”

Ia duduk, langsung meraih piring. Tidak ada tatapan, tidak ada senyum. Hanya bunyi sendok yang menyentuh piring.

Alia duduk di seberangnya, menautkan jari-jari di pangkuan.

“Ren…” katanya ragu. “Semalam… kamu ke mana?”

Sendok Rendra berhenti sesaat. Hanya sesaat.

“Keluar,” jawabnya pendek, lalu kembali makan.

Alia menelan ludah. “Keluar ke mana? Aku sempat lihat kamu turun tangga. Aku kira ada apa.”

“Kerjaan,” katanya dingin, tanpa menoleh. “Ada yang harus diurus.”

Alia mengangguk kecil, meski dadanya terasa makin sempit.

“Oh…”

Ia menatap piring Rendra. Makanannya hampir tidak tersentuh. Nasi tinggal sedikit, telur cuma digigit separuh.

“Kamu nggak lapar?” tanyanya pelan.

“Udah cukup,” jawab Rendra cepat.

Ia berdiri, mengambil tas kerja. Tidak ada kata lain. Tidak ada penjelasan.

Alia ikut berdiri. “Ren… kita nggak mau ngomong dulu?”

Rendra berhenti di dekat pintu, tapi tidak berbalik.

“Nanti aja. Aku telat,” katanya singkat.

“Nanti itu, kapan?” suara Alia hampir tidak terdengar.

Rendra hanya menarik napas pendek. “Lia, jangan mulai lagi.”

Kata itu—lagi—membuat Alia terdiam.

Ia mengangguk pelan. “Iya… maaf.”

Rendra membuka pintu, melangkah keluar.

Pintu tertutup. Suara mesin mobil menyala, lalu menghilang.

Alia berdiri lama di ruang makan, menatap kursi kosong di depannya. Sarapan yang ia siapkan dengan penuh harap kini dingin, sama seperti suasana pagi itu.

Ia duduk kembali, sendirian.

Mengaduk teh yang tak lagi hangat.

..............

Siang itu, Alia berdiri di depan gedung kantor Rendra dengan dua kotak makan di tangannya. Tangannya terasa dingin meski matahari sedang terik. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk.

Seperti biasa, satpam di depan langsung tersenyum.

“Ibu Alia.”

“Siang, Pak,” jawabnya ramah, senyum tipis terpasang rapi.

Di dalam, beberapa karyawan yang berpapasan ikut menyapa.

“Ibu Alia, datang bawa makan siang ya?”

“Wah, Pak Rendra beruntung banget.”

Alia mengangguk, tersenyum, menahan perasaan yang berdesakan di dadanya.

“Iya, sekalian,” jawabnya ringan, seolah hidupnya tidak sedang retak.

Ia berjalan melewati lorong yang sudah hafal di luar kepala. Langkahnya tenang, wajahnya tenang. Tidak ada yang tahu semalam ia hampir kehilangan pijakan.

Di depan ruang kerja Rendra, pintunya setengah terbuka. Dari dalam terdengar suara Rendra dan beberapa orang lain.

“…yang penting laporan ini beres hari ini,” suara Rendra terdengar tegas.

Alia berhenti. Ia mengintip sedikit, mendapati Rendra duduk di belakang meja, dihadapannya dua orang staf. Raut wajahnya serius, jauh berbeda dengan sikap dingin pagi tadi.

Alia ragu sejenak, lalu mengetuk pintu pelan.

Tok. Tok.

Semua mata menoleh.

Rendra mengangkat wajah. Sekilas ada kejutan, lalu datar lagi.

Alia tersenyum sopan. “Maaf, saya nggak tahu kalau lagi rapat.”

“Oh, nggak apa-apa, Bu,” salah satu staf langsung berdiri. “Kami juga hampir selesai.”

“Bener,” sahut yang lain.

Alia menggeleng halus. “Nggak apa-apa, saya tunggu di luar aja. Silakan dilanjutkan.”

Rendra tidak berkata apa-apa. Hanya mengangguk kecil, lalu kembali ke berkas di depannya.

Alia menutup pintu pelan.

Di luar, ia berdiri sambil memeluk kotak makan di dadanya, punggungnya bersandar ke dinding.

Sekitar sepuluh menit kemudian, pintu ruangan itu terbuka.

Dua staf yang tadi ada di dalam keluar sambil masih membicarakan pekerjaan. Mereka mengangguk sopan saat melihat Alia.

“Ibu Alia.”

Alia membalas dengan senyum kecil. “Iya.”

Tak lama, suasana di lorong kembali sepi. Di dalam ruangan, Rendra terlihat sendirian. Alia membenarkan pegangan kotak makan di tangannya, menarik napas, lalu hendak melangkah masuk.

“Bu, maaf.”

Langkah Alia terhenti.

Seorang perempuan muda berdiri di sampingnya. Rambutnya rapi, pakaiannya formal, wajahnya ramah tapi datar. Alia mengenalinya—staf baru di lantai ini.

“Iya?” Alia menoleh.

Perempuan itu tersenyum tipis. “Bekal makan siang Pak Rendra… saya yang bawa masuk saja, Bu.”

Alia refleks memeluk kotak makannya lebih erat. “Oh, nggak apa-apa. Saya istrinya.”

Perempuan itu mengangguk pelan, seolah sudah tahu. “Iya, Bu. Tapi barusan saya dapat pesan dari Pak Rendra.”

Alia mengernyit. “Pesan?”

“Iya,” jawabnya sambil mengangkat ponsel sedikit. “Pak Rendra minta bekal makan siang dari Bu Alia dibawa masuk melalui saya ke ruangannya setelah rapat.”

Kata-kata itu jatuh satu per satu, rapi, tapi terasa berat.

Alia terdiam. Tangannya terasa kaku.

“Oh…” suaranya nyaris tak terdengar.

Perempuan itu menunggu, tetap sopan. “Boleh ya, Bu?”

Beberapa detik Alia tidak bergerak. Lalu, pelan-pelan ia mengulurkan kotak makan itu.

“Iya,” katanya lirih. “Silakan.”

Perempuan itu menerima dengan kedua tangan. “Terima kasih, Bu.”

Ia lalu mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan Rendra. Pintu tertutup kembali, menyisakan lorong yang sunyi.

Beberapa detik Alia berdiri di luar, ragu. Dadanya terasa kosong, tapi kakinya tetap melangkah. Ia mengetuk pintu sekali, lalu membukanya pelan.

Rendra menoleh. Alisnya terangkat sedikit, seolah tidak menyangka Alia masih ada.

“Kamu belum pulang?”

Alia tersenyum tipis. “Aku mau temenin kamu makan.”

Perempuan muda tadi berdiri di dekat meja, memegang gelas minum. Ia tampak canggung.

“Oh… kalau begitu saya keluar aja, Pak,” katanya sopan.

Rendra menoleh ke arahnya. “Nggak usah. Sekalian aja. Ada beberapa hal yang mau kita bahas.”

Perempuan itu mengangguk. “Baik, Pak.”

Alia duduk di sofa kecil, sedikit menjauh dari meja kerja. Kotak makan sudah terbuka. Rendra mulai makan, sementara perempuan itu berdiri di samping meja, membuka map, sesekali bicara.

“Mengenai jadwal minggu depan—”

“Yang klien dari luar kota itu, Pak.” Potong perempuan itu.

“Iya, kita geser ke Kamis.”

Percakapan mereka mengalir lancar. Alia duduk diam, tangannya bertaut di pangkuan. Ia ada di ruangan itu, tapi seperti tidak dihitung.

Rendra tertawa kecil di satu titik. “Iya, bener juga kamu.”

Perempuan itu ikut tersenyum. “Makanya, Pak.”

Alia menunduk. Suara-suara itu terasa jauh, seperti berasal dari ruangan lain.

Saat makan hampir selesai, perempuan itu meraih gelas minum di meja.

“Pak, minumnya,” katanya sambil menyodorkan.

Entah kenapa, dada Alia tiba-tiba terasa panas. Tangannya bergerak lebih cepat dari pikirannya.

“Cukup.”

Tangannya menepis tangan perempuan itu.

Gelas terguling dan air tumpah ke meja, membasahi map, dan mengenai lengan kemeja Rendra.

Ruangan itu langsung hening.

“Alia!” Rendra berdiri setengah, kaget. “Kamu ngapain sih?”

Alia terpaku. Napasnya tercekat.

“Ma… maaf. Aku—”

Perempuan itu mundur selangkah, wajahnya pucat. “Maaf, Pak. Saya—”

Rendra menghela napas panjang, lalu menoleh ke perempuan itu. Suaranya diturunkannya sedikit.

“Gapapa. Kamu keluar dulu, ya. Nanti kita lanjut lagi.”

Perempuan itu mengangguk cepat. “Baik, Pak. Maaf, Bu.”

Ia merapikan map yang basah seadanya, lalu keluar tanpa menoleh lagi.

Pintu tertutup.

Tinggal Alia dan Rendra.

Rendra mengusap lengannya yang basah, rahangnya mengeras.

“Kamu sadar nggak barusan kamu ngapain?” tanyanya pelan, tapi tajam.

Alia menunduk. Tangannya gemetar.

“Aku cuma… aku nggak kuat, Ren.”

Rendra tertawa pendek, tanpa senyum. “Ini kantor. Kamu bikin aku malu saja.”

Kata itu jatuh pelan, tapi menghantam tepat di dada Alia.

Alia membuka mulut, ingin menjelaskan, ingin mengatakan bahwa yang ia rasakan bukan sekadar cemburu atau emosi sesaat.

Rendra meraih ponselnya di meja, mengetik cepat, lalu berhenti tepat di depan jendela.

“Kita bahas ini nanti di rumah,” katanya dingin, tanpa menoleh. “Sekarang aku masih kerja.”

Alia menatap punggungnya. “Ren…”

Tidak ada jawaban.

Beberapa detik kemudian, ponsel Rendra bergetar.

Alia melihatnya sekilas nama yang tadi berdiri di ruangan ini kembali muncul di layar.

Rendra menatap layar itu lebih lama dari yang seharusnya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 143: Dimana Alia?

    "Ini... ini tulisan dia," bisik Arhan, suaranya tercekat di tenggorokan.Rendra yang sejak tadi menahan napas langsung menoleh tajam. "Siapa? Kamu tahu siapa bajingan ini?!""Bagas," jawab Arhan, matanya melotot menatap kosong. "Dia mahasiswa bimbingan Kak Alia juga, satu kelas denganku. Dia anak kesayangan jurusan. Aku sering liat tulisan tangan ini di papan tulis waktu dia presentasi tugas kelompok. Nggak salah lagi, ini tulisan Bagas!"Mendengar nama itu, Rendra tidak membuang waktu. Rendra langsung mengerahkan seluruh koneksi dan tim keamanan siber perusahaannya, sementara Arhan memberikan segala detail informasi mengenai Bagas.Bagas layaknya hantu. Semenjak tulisan yang dia kirim dibelakang polaroid, dia hilang seperti di telan bumi bahkan tempat tinggalnya kosong dan pemilik kosan bilang kalau dia sudah pindah sebulan yang lalu, dan tidak tahu kemana dia pindah setelahnya. Bagas yang hilang begitu juga Alia, tak ada yang tahu dia kemana seakan dunia dua pria itu hancur melihat

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 142: Penculikan

    Deru mesin sepeda motor, dia tidak memedulikan angin malam yang menghantam wajahnya tanpa ampun, ataupun beberapa kali bannya selip saat melewati jalanan berbatu yang sepi."Bertahan, Kak... please, bertahan," bisik Arhan di balik helmnya, napasnya memburu.Begitu sampai di koordinat yang dituju, Arhan langsung mengerem keretanya dengan kasar hingga menciptakan bunyi decitan panjang di atas tanah kering. Arhan melompat dari motornya tanpa mencabut kunci. Dia berlari menerobos pintu besi gudang yang sudah berkarat dan setengah terbuka."Kak Alia?! Kak?!" teriak Arhan, suaranya menggema parau di dalam ruangan luas yang pengap dan berdebu itu.Dia menyalakan senter dari ponselnya, mengarahkan cahayanya ke segala penjuru arah. Jantungnya berdegup kencang, bersiap menghadapi penyergapan atau baku hantam dengan bajingan yang nekat menculik dosennya.Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Gudang itu kosong, sampai akhirnya sorot senter ponselnya menangkap sebuah kursi kayu yang tegak di tengah

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 141: Drama Apa Ini?

    Hanya dalam hitungan detik, dada Alia terasa sesak, pandangannya yang memang sudah kabur oleh air mata langsung diselimuti titik-titik hitam yang berputar cepat, hingga akhirnya kesadarannya tumbang sepenuhnya. Tubuhnya mendadak lemas, jatuh pasrah di dalam dekapan pria asing bertopeng tersebut.Pria itu mendengus pelan, memastikan korbannya benar-benar sudah tidak berdaya. Dia mengangkat tubuh Alia yang pingsan ke atas bahunya, menyambar koper pakaian Alia di sudut ruangan, lalu melangkah keluar melalui pintu penghubung rahasia di dalam kamar mandi yang entah bagaimana bisa dia akses. Kamar hotel nomor 204 itu kembali sunyi senyap, menyisakan bau kimia yang menguar tipis di udara dan selimut yang acak-acakan di atas ranjang.Sementara itu, di luar gedung hotel Arhan berjalan gontai menyusuri trotoar. Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah ada beban berton-ton yang mengikat pergelangan kakinya. Dia merogoh saku celananya, berniat mengambil kunci sepeda motor namun kedua sakunya k

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 140: Siapa Dia?

    "Benar, Pak Rendra..." cicit Arhan, suaranya dibuat bergetar seolah ketakutan setengah mati pada wibawa Rendra. Dia mengeluarkan beberapa map folio dan sebuah laptop kecil dari dalam tasnya, memperlihatkannya kepada Rendra dan dua pria tegap di belakangnya. "Aku cuma mengantar berkas-berkas ini atas perintah Bu Alia. Tadi sore setelah urusan di rektorat selesai, aku kembali ke ruang dosen untuk mengambil barang-barang ini. Karena jalanan macet dan aku harus mengurus administrasiku dulu, aku baru aja sampai di hotel ini. A ku gak ada niat macem-macem kok, Pak."Rendra menatap map-map folio yang ditunjukkan Arhan dengan tatapan tidak percaya. Dia melirik ke arah salah satu pria berjas kulit di belakangnya. Pria itu, yang ternyata adalah seorang mantan interogator kepolisian yang disewa Rendra, maju selangkah lalu menatap intens ke arah gestur tubuh Arhan dan Alia."Bu Alia," pria tegap itu membuka suara, nadanya menyelidik. "Pelacakan kami menunjukkan adanya panggilan dari nomor satelit

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 139: Melindungi Monster

    "Arhan... cinta itu bukan seperti ini," bisik Alia pelan, suaranya terdengar sangat lelah. "Kamu gak bisa maksa seseorang buat tinggal dengan cara membakar seluruh dunianya."Arhan menunduk, bahunya bergetar lagi. "Aku tahu, Kak... aku tahu aku bodoh. Tapi tolong... tolong jangan tinggalin aku. Aku bakal kerja apa aja setelah ini. Aku bakal keluar dari kampus kalau Kakak mau. Aku bakal buru-buru cari kerjaan legal, kumpulin uang buat beli susu bayi ini. Asalkan... asalkan Kak Alia ada di sampingku. Tolong, Kak..."Suasana di dalam kamar hotel melati itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara isak tangis Arhan yang perlahan mereda menjadi helaan napas pasrah. Alia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Hidupnya sudah bergeser dari satu drama pernikahan yang dingin, masuk ke dalam lingkaran obsesi anak muda yang berbahaya.Arhan perlahan bangkit dari posisi berlututnya. Dia meletakkan ponsel murah berisi rekaman video itu di atas kasur, tepat di depan Alia."Ini... aku sera

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 138: Pengakuan

    Arhan mematikan rekaman suara di ponselnya, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku jaket dengan gerakan santai. Dia melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka, membuat Alia terus mundur ketakutan hingga bagian belakang lututnya membentur tepian ranjang."Maaf ya, Kak Alia sayang... aku terpaksa harus main kotor kayak gini," ucap Arhan, suaranya kembali normal, namun nadanya terdengar begitu dingin dan penuh manipulasi.Arhan membungkukkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Alia yang dipenuhi air mata keputusasaan. "Siang tadi di koridor, aku sadar satu hal saat melihat Rendra membelamu. Pria dewasa yang mapan kayak dia gak bakal pernah bisa dikalahin oleh bocah kayak aku. Kalau aku main bersih, Kak Alia cepat atau lambat pasti bakal milih balik sama dia karena kemapanannya, atau Kak Alia bakal milih hidup mandiri dan ninggalin aku."Arhan menyunggingkan senyuman liciknya, tangannya perlahan terangkat untuk mengusap air mata di pipi Alia yang kaku karena syok."Aku gak mau ke

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status