로그인Keesokan paginya, mereka berdua kembali ke rutinitas masing-masing. Rendra mengantarkan Alia hingga ke depan gerbang kampus sebelum pria itu melesat membelah jalanan menuju kantor pusat perusahaannya.Alia menjalani hari itu seperti biasa. Ia mencoba menenggelamkan seluruh kemelut pikirannya ke dalam lembar-lembar materi perkuliahan. Setelah mengajar di beberapa kelas yang cukup menguras tenaga, sore harinya seluruh jadwal mengajar Alia akhirnya selesai. Lorong-lorong gedung utama lantai dua mulai tampak lengang ketika Alia berjalan perlahan menuju tangga utama yang menghubungkan area tersebut dengan lobi bawah.Namun, tepat saat kakinya baru saja akan menginjak anak tangga pertama, sebuah suara berat yang sangat ia kenali terdengar sayup-sayup dari arah lorong buntu di sebelah kanan tangga—area dekat loker mahasiswa yang memang selalu sepi jika sore hari."Kamu jangan begini, Han. Dari kemarin ditelpon susah banget, dipesan juga cuma dibaca," suara lembut seorang wanita terdengar man
Deg!Mendengar kalimat Rendra, jantung Alia seolah berhenti berdetak seketika. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan hubungan intim dengan suaminya malam ini, sementara belum genap dua puluh empat jam yang lalu, tubuhnya baru saja dipenuhi oleh benih gairah dan sentuhan tanpa ampun dari Arhan?"Rendra... tunggu dulu," ujar Alia cepat, menahan dada Rendra dengan kedua telapak tangannya ketika pria itu mulai memajukan wajahnya untuk mencium bibirnya.Rendra menghentikan gerakannya, dahinya berkerut tipis. "Kenapa, Alia? Ada yang salah?"Alia memaksakan sebuah senyuman tipis yang tampak lemas, lalu memegang kepalanya sendiri. "Tapi... kayaknya tidak enak badan.... bolehkah kita melakukannya lain kali aja?" tolak Alia dengan halus, berharap suaminya bisa mengerti.Rendra terdiam sejenak. Ia menatap wajah Alia yang memang tampak sedikit pucat di bawah temaramnya lampu kamar."Pusing lagi?" gumam Rendra, nadanya terdengar agak kecewa. "Padahal aku sengaja bawa kamu ke sini biar kita punya wak
Bzzz… Bzzz… Bzzz…Layar ponselnya menyala, Alia buru-buru merogoh tasnya, mematikan dering ponsel tanpa mengangkatnya, lalu menatap Arhan dengan tatapan yang sudah sepenuhnya mengeras."Maaf, Arhan. Aku harus pergi dan untuk tadi malam….. mungkin aku terbawa suasana aja," ujar Alia dengan suara yang bergetar namun tegas.Tanpa menunggu respons, Alia membalikkan badannya. Ia membuka pintu gudang dengan cepat dan melangkah keluar setengah berlari, dan meninggalkan Arhan di sana.Alia tiba di depan mobil Rendra dengan napas yang sedikit memburu. Ia segera membuka pintu penumpang dan masuk ke dalam, mencoba mengatur raut wajahnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa baru saja."Kamu ngambil tas dan berkas aja kenapa bisa sampai dua puluh menit?" omel Rendra sambil mulai menginjak pedal gas. "Selalu saja buat masalah.""Maaf," sahut Alia pendek, matanya menatap lurus ke kaca depan. "Tadi merapikan beberapa dokumen nilai mahasiswa dulu di meja, makanya agak lama."Rendra hanya mendengus, namun
“Aku menginap di rumah teman SMA-ku,” sahut Alia cepat. Suaranya diatur sedatar mungkin. “Kamu pikir aku sanggup pulang kerumah?”Rendra menghela nafas, “Aku tau, tapi….” Rendra menyipitkan matanya. “Teman SMA yang mana, Alia? Setahuku, semua teman SMA-mu yang dekat sudah pindah ke luar kota setelah menikah. Siapa namanya? Di mana rumahnya?”Alia sudah mengantisipasi kecurigaan itu. “Risa. Kamu mungkin ngga bakal ingat karena dia jarang datang ke acara kumpul-kumpul. Dia baru aja pulang dari luar negri sebulan yang lalu karena mutasi kerja dan sekarang ngontrak rumah di daerah dekat pinggiran kota. Apa aku harus memberikan nomor teleponnya juga, biar kamu bisa menginterogasinya seperti penjahat?”Mendengar nada bicara Alia yang mulai meninggi dan penuh penekanan, Rendra tampak goyah.“Tidak.... bukan begitu maksudku,” ujar Rendra, suaranya melunak drastis. Ia menoleh, menatap istrinya dengan pandangan memelas. “Aku cuma panik. Aku takut kamu kenapa-napa di jalan.”Alia hanya diam, mem
Jam makan siang, Alia duduk sendiri di kantin kampus. Menikmati uap hangat dari kuah bakso untuk meredakan sedikit rasa capeknya, meski bukan capek karena hal kerja. Baru saja Alia hendak menyuap satu bakso kecil ke dalam mulutnya, bayangan tubuh tegap yang sangat familier tiba-tiba menghalangi pantulan cahaya matahari di mejanya."Permisi, Bu Dosen. Boleh kami bergabung? Meja lain udah pada penuh," suara berat Arhan terdengar, disusul dengan tindakan pemuda itu yang langsung menarik kursi dan duduk tepat di sebelah Alia tanpa menunggu jawaban.Di belakangnya, Rio menyusul sambil membawa nampan berisi nasi ayam. Rio mengambil tempat duduk tepat di depan Alia dan Arhan. "Siang, Bu Alia. Maaf ya Bu, kami lancang langsung duduk. Tapi kantin beneran kayak pasar, rame banget." ujar Rio merasa tidak enak, berbeda dengan Arhan yang tampak sangat santai.Alia meletakkan sendoknya, mencoba memasang wajah formalnya kembali. "Ah, iya, tidak apa-apa."Arhan melirik ke arah mangkuk Alia yang masih
Setelah menyelesaikan sarapan pagi mereka berdua segera bergegas menuju kampus. Begitu sepeda motor milik Arhan mulai memasuki kawasan jalan utama menuju universitas, kegelisahan Alia semakin memuncak. Sepasang matanya terus bergerak gelisah, menatap kerumunan mahasiswa yang mulai memadati trotoar dan area sekitar gerbang kampus."Arhan, stop. di sini aja," ujar Alia tiba-tiba ketika mereka masih berjarak sekitar lima puluh meter dari gerbang utama."Kenapa, Kak? Ini belum sampai di area parkir dalam.""Ngga apa-apa. Kamu tahu sendiri kan gimana cepatnya gosip menyebar di kampus kita?""Siap, Ibu Dosen Cantik. Sampai bertemu di kelas," sahut Arhan pelan, sengaja menekankan kalimatnya sebelum Alia turun dari sepeda motor Arhan.********Tepat jam sepuluh pagi, Begitu memasuki kelas, pandangan Alia secara tidak sengaja langsung bertabrakan dengan sepasang mata hitam milik Arhan yang duduk di barisan belakang bersama sahabatnya, Rio. Arhan langsung menegakkan tubuhnya, menopang dagunya d







