Home / Romansa / AH! BRONDONGKU SAYANG / Bab 10 : Api Rumah Tangga

Share

Bab 10 : Api Rumah Tangga

Author: Kim Hwang Ra
last update publish date: 2026-02-20 14:22:33

Suasana di dalam ruangan itu mendadak beku. Alia merasa seperti ditarik dari dua sisi yang sama-sama kuat dan berbahaya. Namun, ancaman tentang Rendra yang sudah menunggu di lobi adalah lonceng kematian hari ini.

“Kembali ke kelas,” bisik Alia, suaranya hampir tidak terdengar. Matanya memohon, bukan karena ia takut pada Dika, tapi karena ia tahu seberapa hancur hidupnya jika Rendra melihat pemandangan ini.

Arhan mengepalkan tangan, menatap Dika dengan kebencian murni sebelum akhirnya melangkah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 146 : Empat Bulan Berlalu

    Empat bulan berlalu sejak tragedi penyisiran hutan perbatasan yang sia-sia itu. Waktu terus berjalan di kota, namun bagi Rendra dan Arhan, hidup mereka seolah telah mati dan membusuk di tempat.Di pusat kota, nama Rendra tak lagi menjadi simbol kejayaan pengusaha muda berprestasi. Pencarian skala besar yang gagal, laporan kepolisian yang menggantung, serta hilangnya sang istri secara misterius perlahan membocorkan skandal keretakan rumah tangganya ke publik. Dewan komisaris perusahaan akhirnya memutus posisinya sebagai CEO demi menyelamatkan saham perusahaan yang merosot tajam.Penthouse mewah milik Rendra kini tak ubahnya seperti makam yang megah. Tirai-tirai jendela raksasa tidak pernah lagi dibuka, membiarkan ruangan besar itu tenggelam dalam remang-remang yang suram. Rendra duduk di sudut sofa, tubuhnya jauh lebih kurus dengan janggut tipis yang tidak terurus. Matanya yang merah dan cekung menatap kosong ke arah lemari kaca, tempat foto pernikahan formalnya dengan Alia masih berdi

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 147 : Fakta Menyakitkan

    Sementara Rendra dan Arhan sedang menyusuri lorong Rumah Sakit Medika untuk mencari rekam medis, di rumah panggung lereng bukit udara pagi terasa begitu sejuk. Matahari bersinar cerah menembus celah-celah daun karet, menyinari teras kayu tempat Bidan Marni seorang bidan desa senior yang ramah dan yang sedang menata peralatan medis sederhananya di atas meja.Alia duduk di tepi tempat tidur kamar utama, mengenakan daster hamil yang longgar. Perutnya yang makin membuncit kini terasa kencang dan bergerak-gerak pelan. Di sampingnya, Bagas berdiri dengan sigap memegang buku catatan kehamilan berwarna merah muda."Coba berbaring santai ya, Mbak Alia," ujar Bidan Marni lembut seraya mengoleskan gel dingin ke permukaan perut Alia.Bidan Marni kemudian menempelkan ujung alat fetal doppler portabel ke perut Alia. Dalam hitungan detik, suara detak jantung janin bergema memenuhi ruangan kayu yang tenang itu—cepat, ritmis, dan sangat kuat.Dug-dug-dug-dug-dug...Bagas yang berdiri di dekat kepala r

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 144: Kamu Salah Paham!

    Bagas menghela napas panjang. Dia menarik sebuah kursi kayu dan duduk tepat di samping tempat tidur Alia, membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan tenang yang sama sekali tidak mencerminkan tindakan nekat yang baru saja dilakukannya."Aku lihat Ibu nangis tiap hari di ruang dosen," lanjut Bagas pelan, kini tatapannya melunak. "Aku tahu Pak Rendra jarang menganggap Ibu, dan aku tahu Arhan cuma bocah egois yang mengira obsesinya adalah cinta. Dan sekarangn ini mereka berdua sedang menghancurkan hidup Ibu. Jadi... kenapa Ibu ngga biarkan mereka bertengkar dan saling menyalahkan aja?"Alia menatap mahasiswa bimbingannya itu dengan napas memburu. "Tapi cara kamu ini gila, Bagas! Penculikan? Pemalsuan? Kamu bisa dipenjara!""Aku sudah memperhitungkan semuanya," balas Bagas mantap. "Aku sudah menyiapkan tempat yang bakal buat Ibu nyaman. Tidak ada seorang pun dari keluarga Pak Rendra yang tahu. Kalau Ibu menghilang secara 'misterius', mereka akan sibuk memburu bayangan dan saling menghan

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 143: Dimana Alia?

    "Ini... ini tulisan dia," bisik Arhan, suaranya tercekat di tenggorokan.Rendra yang sejak tadi menahan napas langsung menoleh tajam. "Siapa? Kamu tahu siapa bajingan ini?!""Bagas," jawab Arhan, matanya melotot menatap kosong. "Dia mahasiswa bimbingan Kak Alia juga, satu kelas denganku. Dia anak kesayangan jurusan. Aku sering liat tulisan tangan ini di papan tulis waktu dia presentasi tugas kelompok. Nggak salah lagi, ini tulisan Bagas!"Mendengar nama itu, Rendra tidak membuang waktu. Rendra langsung mengerahkan seluruh koneksi dan tim keamanan siber perusahaannya, sementara Arhan memberikan segala detail informasi mengenai Bagas.Bagas layaknya hantu. Semenjak tulisan yang dia kirim dibelakang polaroid, dia hilang seperti di telan bumi bahkan tempat tinggalnya kosong dan pemilik kosan bilang kalau dia sudah pindah sebulan yang lalu, dan tidak tahu kemana dia pindah setelahnya. Bagas yang hilang begitu juga Alia, tak ada yang tahu dia kemana seakan dunia dua pria itu hancur melihat

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 142: Penculikan

    Deru mesin sepeda motor, dia tidak memedulikan angin malam yang menghantam wajahnya tanpa ampun, ataupun beberapa kali bannya selip saat melewati jalanan berbatu yang sepi."Bertahan, Kak... please, bertahan," bisik Arhan di balik helmnya, napasnya memburu.Begitu sampai di koordinat yang dituju, Arhan langsung mengerem keretanya dengan kasar hingga menciptakan bunyi decitan panjang di atas tanah kering. Arhan melompat dari motornya tanpa mencabut kunci. Dia berlari menerobos pintu besi gudang yang sudah berkarat dan setengah terbuka."Kak Alia?! Kak?!" teriak Arhan, suaranya menggema parau di dalam ruangan luas yang pengap dan berdebu itu.Dia menyalakan senter dari ponselnya, mengarahkan cahayanya ke segala penjuru arah. Jantungnya berdegup kencang, bersiap menghadapi penyergapan atau baku hantam dengan bajingan yang nekat menculik dosennya.Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Gudang itu kosong, sampai akhirnya sorot senter ponselnya menangkap sebuah kursi kayu yang tegak di tengah

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 141: Drama Apa Ini?

    Hanya dalam hitungan detik, dada Alia terasa sesak, pandangannya yang memang sudah kabur oleh air mata langsung diselimuti titik-titik hitam yang berputar cepat, hingga akhirnya kesadarannya tumbang sepenuhnya. Tubuhnya mendadak lemas, jatuh pasrah di dalam dekapan pria asing bertopeng tersebut.Pria itu mendengus pelan, memastikan korbannya benar-benar sudah tidak berdaya. Dia mengangkat tubuh Alia yang pingsan ke atas bahunya, menyambar koper pakaian Alia di sudut ruangan, lalu melangkah keluar melalui pintu penghubung rahasia di dalam kamar mandi yang entah bagaimana bisa dia akses. Kamar hotel nomor 204 itu kembali sunyi senyap, menyisakan bau kimia yang menguar tipis di udara dan selimut yang acak-acakan di atas ranjang.Sementara itu, di luar gedung hotel Arhan berjalan gontai menyusuri trotoar. Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah ada beban berton-ton yang mengikat pergelangan kakinya. Dia merogoh saku celananya, berniat mengambil kunci sepeda motor namun kedua sakunya k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status