Beranda / Romansa / AH! BRONDONGKU SAYANG / Bab 9 : Posesif Gila

Share

Bab 9 : Posesif Gila

Penulis: Kim Hwang Ra
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-16 21:48:41

Dika menghentikan jemarinya tepat beberapa milimeter sebelum menyentuh kulit Alia. Ia bisa merasakan hawa panas yang memancar dari balik lapisan kosmetik tebal itu. Senyumnya menghilang, digantikan oleh garis bibir yang kaku dan dingin.

“Siapa yang melakukannya,? Rendra?” tanya Dika, suaranya rendah namun tajam.

Alia tersentak mundur, punggungnya menabrak daun pintu yang tertutup rapat. Ia tidak menyadari bahwa di balik pintu itu, Arhan berdiri mematung. Napas Arhan tertahan, telinganya menempe
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 17 : Cerai

    Bukannya menjauh, Arhan justru mempererat posisinya. Ia sengaja tetap menunduk, tangannya masih berada di tengkuk Alia, seolah-olah sedang membisikkan sesuatu yang sangat intim ke telinga dosennya itu. Ia melirik Rendra dari sudut matanya dengan tatapan yang sangat provokatif—sebuah tantangan terang-terangan yang mengatakan bahwa ia tidak takut pada otoritas Rendra."Lepaskan istriku, bajingan!" Rendra menderu, langkahnya yang besar membuat lantai kayu koridor itu bergetar.Arhan perlahan menegakkan tubuh, namun tangannya tetap bertengger di bahu Alia, menahan wanita itu agar tetap di sisinya. "Kenapa? Anda takut kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah Anda jaga dengan baik?" sahut Arhan dengan suara rendah yang tajam."Arhan, lepas." Alia berseru panik. Ia mencoba melepaskan diri dari Arhan, sekaligus ingin menjelaskan pada Rendra. "Rendra, ini ngga kayak yang kamu lihat! Rambutku tersangkut dan—""Diam, Alia!" bentak Rendra. Wajahnya memerah padam, urat-urat di pelipisnya menonj

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 16 : Salah Paham

    Alia melangkah masuk ke dalam restoran dengan dagu terangkat, meski hatinya terasa remuk melihat kemesraan Rendra dan Desy di ujung ruangan. Arhan mengekor tepat di belakangnya, wajahnya yang biasanya usil kini berubah menjadi tameng yang kokoh dan protektif.Sesampainya di meja besar yang sudah dipesan Rendra, suasana mendadak hening. Nyonya Sofia menatap Arhan dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan."Alia, siapa anak ini? Kenapa dia ikut masuk ke dalam?" tanya Sofia ketus."Ah, dia sopir pribadiku, Ma. Karena Rendra tidak bisa menungguku tadi, aku memutuskan untuk mempekerjakannya agar kita bisa barengan tanpa harus di tinggal lagi," jawab Alia tenang, sembari menarik kursi.Desy menutup mulutnya dengan tangan, berpura-pura terkejut. "Aduh, Alia... tapi tidak bagus lho, dilihat orang kalau perempuan yang sudah bersuami sedekat itu dengan laki-laki asing. Apalagi dia kelihatannya masih sangat muda.""Benar kata Desy," timpal Sofia cepat. "Rendra, kamu lihat k

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 15 : Tantangan Baru

    Di ambang pintu, Nyonya Sofia masuk mengekor di belakang Desy dengan wajah yang berseri-seri, seolah-olah baru saja memenangkan lotre. "Rendra! Lihat siapa yang datang!" seru Sofia sambil merangkul pundak Desy. Rendra berdiri, ekspresinya datar. Ada sedikit keterkejutan di matanya, namun ia tetap bersikap sopan. "Desy? Kupikir penerbangan mu besok." "Aku tidak sabar, Rendra. Eh ternyata jadwal penerbanganku dimajukan," sahut Desy dengan suara merdu yang terdengar sangat percaya diri. Ia kemudian menoleh ke arah Alia yang masih berdiri mematung di dekat kursi bimbingannya tadi. "Dan ini... pasti Alia, kan? Hai, aku Desy. Teman lama Rendra." Desy mengulurkan tangan dengan ramah, namun sorot matanya yang tajam seolah sedang menilai penampilan Alia dari ujung rambut hingga ujung kaki. Alia menjabat tangan itu sekilas. "Alia, sayang," suara Sofia memecah kecanggungan, namun nadanya terdengar seperti perintah. "Tolong antar Desy ke kamar tamu di lantai atas. Siapkan semuanya agar dia m

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 14 : Siapa Dia?

    Pagi itu, suasana kampus terasa hambar bagi Arhan. Ia berdiri di depan papan pengumuman jurusan, menatap selembar kertas yang menyatakan bahwa mata kuliah Seni Art hari ini akan diampu oleh dosen pengganti. Firasat buruk yang ia bawa dari gerbang rumah mewah semalam kini semakin nyata. "Dua hari nggak ada kabar, ponsel mati, sekarang kelas diganti... ada yang nggak beres sama Kak Alia," gumam Arhan sambil mengepalkan tangan di dalam saku jaketnya. Ia tidak bisa hanya diam menunggu. Arhan melangkah menuju kantor jurusan dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tampak seperti mahasiswa yang sedang frustrasi karena urusan akademik. Di dalam ruangan, ia mendapati Ketua Jurusan, Pak Darmanto, yang sedang sibuk dengan tumpukan berkas. “Permisi, Pak. Saya Arhan, mahasiswa bimbingan Bu Alia,” ucap Arhan dengan nada mengeluh yang dibuat-buat. “Saya mau lapor, Pak. Sudah dua hari saya mencoba menghubungi Bu Alia untuk konsultasi bab terakhir skripsi saya, tapi ponsel beliau tidak akt

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 13 : Semua Ada Imbalan

    Arhan akhirnya memutar kunci motornya. Meskipun hatinya masih terasa berat dan pandangannya terus tertuju pada jendela lantai dua yang gelap itu, ia tahu batasnya. Arhan memacu motornya kembali ke kosan, membiarkan dinginnya angin malam menembus jaket denimnya.----------Di sebuah ruang tamu megah di kediaman ibunya, Rendra duduk dengan dasi yang sudah terlepas, menyesap wiski dengan raut wajah yang masih keruh. Di depannya, sang ibu duduk dengan anggun, namun sorot matanya tajam dan penuh perhitungan."Investasi itu harusnya sudah di tanganmu kalau saja istrimu bisa bersikap sedikit lebih 'berguna', Rendra," ucap ibunya dingin. Ia tidak menunjukkan simpati sedikit pun pada kondisi Alia, baginya menantu hanyalah aset pendukung kesuksesan anaknya."Dia keras kepala, Ma. Alia pikir dia masih punya kuasa seperti dulu ayahnya masih tinggi di perusahaan," Rendra mendesis, membanting gelasnya ke atas meja.Ibunya tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan rencana lain. "Apa mama bilang

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 12 : Pindah Hati?

    Rendra melemparkan tali pinggangnya ke kursi kulit dengan napas yang masih memburu. Ia mengambil kunci mobilnya kembali dan merogoh ponsel, menekan nomor ibunya."Halo, Ma? Aku malam ini aku ke rumah, ya. Ada proyek yang harus kubahas dengan relasi di dekat rumah Mama besok pagi," ucapnya dengan suara yang mendadak tenang, seolah-olah tangannya tidak baru saja meninggalkan bilur merah di tubuh istrinya.Tanpa menoleh lagi ke arah gudang, Rendra memacu mobilnya meninggalkan gerbang rumah mewah itu. Ia meninggalkan instruksi mutlak pada kepala pelayan: "Jangan ada yang berani mendekati gudang. Biarkan dia belajar tentang intropeksi dan konsekuensi dari perbuatannya."Di dalam gudang yang pengap, Alia meringkuk di atas lantai semen yang dingin. Perutnya melilit hebat; rasa lapar yang menyiksa berpadu dengan perih di punggung dan lengannya. Ia mencoba merangkak menuju pintu, mengetuknya pelan dengan sisa tenaga yang ada."Tolong...aku haus..." rintihnya parau. Namun, para pelayan di luar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status