Home / Romansa / AH! BRONDONGKU SAYANG / Bab 3 : Keresahan Awal

Share

Bab 3 : Keresahan Awal

Author: Kim Hwang Ra
last update publish date: 2025-11-19 21:01:24

Rendra pulang lebih cepat dari biasanya.

Mobilnya berhenti di depan rumah dengan suara pintu yang ditutup agak keras. Alia yang sedang merapikan ruang tamu menoleh, sedikit terkejut melihat jam di dinding.

“Ren? Kamu udah pulang?”

Rendra masuk tanpa menjawab. Tas kerjanya dilempar ke sofa, sepatunya dilepas asal. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras.

“Kamu tau hari ini kamu bikin aku kelihatan kayak apa di kantor?” katanya tiba-tiba.

Alia terdiam. “Aku… aku cuma mau nganter makan siang.”

“Bukan itu masalahnya!” suara Rendra meninggi. “Kamu datang pas aku rapat. Bikin orang-orang mikir apa coba?”

“Aku kan nggak tahu kamu lagi rapat—”

“Kamu harusnya nunggu aja!” potongnya cepat. “Terus itu di ruangan aku, kamu ngebuat onar. Air tumpah ke meja, ke baju aku. Kamu sadar nggak itu memalukan?”

Alia mengepal ujung bajunya. “Aku minta maaf, Ren. Aku cuma refleks.”

“Refleks yang bikin aku kelihatan bodoh di depan klien!” Rendra menarik napas kasar. “Kamu tau nggak setelah itu aku harus jelasin ke mereka?”

Alia menunduk. Dadanya terasa perih.

Rendra berjalan ke arah jendela, lalu berhenti. Alisnya berkerut saat melihat ke luar.

“Dan ini apa lagi?”

Alia menoleh. Di halaman rumah, mainan anak-anak berserakan. Bola kecil, mobil-mobilan, jejak kaki di tanah yang belum kering.

“Kamu biarin anak tetangga main di sini lagi?” tanya Rendra tajam.

“Mereka cuma sebentar, Ren. Aku jagain—”

“Aku udah bilang berapa kali, Lia?” Rendra berbalik, matanya penuh kesal. “Aku nggak suka halaman rumah berantakan. Aku nggak mau rumah ini kayak taman bermain!”

“Mereka cuma anak kecil…”

“Itu bukan urusan aku!” Rendra membentak. “Kamu tuh selalu ngeremehin apa yang aku omongin.”

Alia tersentak. Tangannya gemetar.

“Aku cuma pengen rumah ini nggak sepi.”

Kata itu keluar tanpa sengaja.

Rendra terdiam sejenak, lalu tertawa pendek. “Jadi sekarang aku yang salah karena rumah ini sepi?”

“Aku nggak bilang gitu…”

“Kamu selalu punya alasan,” potongnya. “Di kantor bikin masalah, di rumah juga sama. Kamu tau nggak aku capek ngadepin kamu?”

Alia mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca, tapi kali ini ada sesuatu yang lain di sana—lelah yang terlalu dalam.

“Aku capek juga, Ren,” ucapnya pelan. “Capek berusaha jadi istri yang nggak pernah sekalipun kamu hargai.”

Rendra menatapnya lama, lalu berkata dingin,

“Kalau kamu memang merasa begitu, mungkin kamu yang harus introspeksi. Bukan karena aku yang ngga menghargai, kamu aja yang terlalu manja.”

Kata-kata itu jatuh tanpa ampun.

Alia berdiri diam di tengah ruang tamu, sementara Rendra melangkah pergi ke kamar, meninggalkannya dengan halaman berantakan… dan hati yang tidak bisa dikatakan tenang.

Ia menatap pintu kamar yang tertutup.

Untuk pertama kalinya, Alia bertanya pada dirinya sendiri.

apa yang sebenarnya masih ia pertahankan di rumah ini?

................

Malam itu, Alia memasak pelan, tanpa banyak suara. Menu yang sama yakni kesukaan Rendra. Tangannya bergerak hati-hati, seolah kalau ia salah sedikit saja, semuanya akan rusak.

Meja makan sudah tertata saat Rendra keluar dari kamar. Alia menoleh, berharap.

“Aku masak kesukaan kamu nih.”

Rendra melirik sekilas, lalu kembali fokus ke ponselnya. Jarinya menekan layar.

“Udah mesen,” katanya singkat.

Alia terdiam. “Kamu… pesen makanan?”

“Iya.”

“Aku udah masak, Ren.”

Rendra menghela napas, duduk. “Aku pengen yang cepet.”

Tak lama, bel pintu berbunyi. Rendra bangkit, mengambil pesanannya, lalu duduk kembali. Bungkus dibuka, tanpa melirik masakan di meja.

Alia menatap piringnya sendiri. “Kalau kamu bilang dari tadi, aku juga nggak bakal masak.”

“Aku nggak nyuruh kamu masak,” jawab Rendra datar.

Kalimat itu membuat dada Alia mengencang.

“Aku cuma pengen ngelakuin sesuatu buat kamu.”

Rendra berhenti makan. Menatapnya, wajah lelah.

“Kamu tau rasanya hidup kayak keikat?”

Alia mengangkat wajah. “Maksudnya?”

“Kamu selalu ada di manapun. Nangis, nanya, minta dimengerti,” lanjutnya pelan tapi tajam. “Aku kayak nggak bisa bergerak.”

“Aku istrimu, Ren…”

“Nah itu,” potongnya. “Kamu cuma di rumah. Tapi bebannya ke aku.”

Alia terdiam lama.

“Jadi… aku beban?”

Rendra menunduk, melanjutkan makan. “Aku ngga boleh jujur?.”

Alia menelan napas. “Aku tidak kerja karena kamu bilang aku nggak perlu capek. Apalagi ibumu bilang kalau perempuan itu harus peduli dengan rumahnya dan--.”

Rendra berdiri, membawa bungkus makanannya tanpa perduli kelanjutan ucapan Alia.

“Aku mau makan di kamar.”

Ia pergi begitu saja.

Alia duduk sendiri di meja makan. Masakan di depannya dingin, tak tersentuh.

Usai mendekati waktu tengah malam, Alia masih duduk dengan bahu naik turun karena menangisi sikap Rendra tadi.

"Tunggu..." Alia merubah posisi duduknya, tegak. "Mungkin karena ini adalah pernikahan bisnis, bukankah itu berarti aku bisa melakukan apapun?"

Entah apa yang merasukinya, Alia merasa isi kepalanya seakan mengeluarkan ide-ide untuk bertahan hidup dikeluarga yang tak menganggapnya ini, apalagi mertuanya yang hanya tahu jika Alia tidak bisa membuatnya senang karena tak bisa hamil.

Alia bergerak dari sana, menuju kamarnya dan mengambil kunci mobil. Seakan udara dirumah itu tidak cukup untuk membuatnya bernafas.

Deru suara mobil di bagasi sengaja Alia kencangkan, ingin melihat apa suaminya itu perduli saat dia keluar tengah malam begini, nyatanya tidak.

"Aku juga butuh hiburan ngga, sih? Pernikahan ini memang ngga ada warnanya"

Alia pergi meninggalkan pekarangan rumahnya, cemilan tengah malam di pinggir jalan dia beli seperti saat dia kuliah dulu. Ada senyum yang selama ini jarang dia miliki dan kini dia keluarkan tanpa beban, meski pikirannya terkadang masih merambat ke keadaan rumah tangganya.

"Apa aku beli makanan untuk Rendra, ya?"

Seorang istri memang seperti ini, sering ingat yang dirumah walaupun ujung-ujungnya tak sesuai harapan.

Belum sempat Alia mengendarai mobilnya beberapa menit, tiba-tiba sebuah mobil di belakangnya menabrak belakang mobilnya. Alia sempat terhuyung ke depan dan bagusnya pengalaman menyetirnya bagus.

"Hei, ada apa ini?" Tanya Alia usai turun dan mendatangi pemilik mobil yang menabraknya.

"M-maaf, aduh gimana ini....." Tampaknya pemilik mobil yang menabrak Alia lebih terkejut.

"Tidak bisa, anda harus bertanggung jawab! kita bisa ke Polsek terdekat" ujar Alia.

Akhirnya Alia dan pemilik mobil itu bersama-sama mendatangi Polsek terdekat, Alia tampak masih tidak senang dengan keadaan belakang mobilnya yang sudah lecet.

"T-tapi pak, salah dia sendiri kenapa jalannya lambat, dia kira ini jalan milik keluarganya?"

"Ha? Kenapa jadi salahku, hei di sini aku yang korban"

Alia sedikit meninggikan suaranya.

Polisi di sana meminta nomor telepon keluarga Alia untuk menjemputnya yang memungkinkan, Alia tidak bisa pulang sendiri. Termasuk pelaku yang juga diminta nomor kontak keluarganya untuk di minta keterangan, pelaku tersebut menolak karena bagaimanapun keluarganya bakal tidak perduli.

Baru beberapa menit polisi menelpon suami Alia, pria itu sudah tiba di sana. Alia sempat berfikir jika mungkin Rendra akan membelanya karena saat ini Alia adalah korban.

"Permisi pak, saya suami dari Nyonya ini"

"Baik pak, seperti ini....bla...bla"

Semua penjelasan sudah didengar oleh Rendra, pria itu menoleh sedikit ke arah Alia dengan wajah datar.

"Kamu itu, udah mandul! nyusahin lagi," Nafas Rendra tampak tertahan sebentar, "Ngga pernah dewasa!".

Rendra menarik lengan Alia usai urusan mereka selesai, air mata Alia seakan tak bisa di tahan untuk tidak keluar. Bagaimana dengan pelaku yang menabraknya tadi? jelas terdengar di telinganya bagaimana ucapan tajam pria itu.

"Sebentar...."

tiba-tiba saja Arhan-pelaku tadi-mencegat langkah Alia dan suaminya, spontan wajah Rendra mendadak bingung begitu juga Alia.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 145 : Apa Ini Cinta?

    Keesokan harinya, fajar menyingsing di atas lereng bukit dengan warna keemasan yang lembut. Kabut tipis masih membungkus pepohonan karet, membawa aroma tanah basah dan udara pegunungan yang sangat segar. Suara jangkrik malam perlahan berganti dengan cicitan burung liar dan kokok ayam jantan dari kejauhan. Di rumah panggung kayu itu, suasana begitu hangat dan tentram—sebuah kontras yang sempurna dibanding badai yang sedang mengamuk di luar sana. Alia terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Di teras depan yang menghadap langsung ke hamparan kebun hijau, Bagas sudah duduk santai di atas bangku kayu panjang. Mahasiswa cerdas itu mengenakan kaus polos dan celana kain sederhana, kacamata bingkai hitamnya bertengger rapi saat dia memegang secangkir kopi hitam panas yang berasap tipis. Di sampingnya, Pak Danu sedang merapikan beberapa papan kayu bakar. "Pagi, Kak Alia," sapa Bagas dengan nada suara yang tenang dan renyah. Senyuman tipisnya terkembang, senyuman

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 146 : Empat Bulan Berlalu

    Empat bulan berlalu sejak tragedi penyisiran hutan perbatasan yang sia-sia itu. Waktu terus berjalan di kota, namun bagi Rendra dan Arhan, hidup mereka seolah telah mati dan membusuk di tempat.Di pusat kota, nama Rendra tak lagi menjadi simbol kejayaan pengusaha muda berprestasi. Pencarian skala besar yang gagal, laporan kepolisian yang menggantung, serta hilangnya sang istri secara misterius perlahan membocorkan skandal keretakan rumah tangganya ke publik. Dewan komisaris perusahaan akhirnya memutus posisinya sebagai CEO demi menyelamatkan saham perusahaan yang merosot tajam.Penthouse mewah milik Rendra kini tak ubahnya seperti makam yang megah. Tirai-tirai jendela raksasa tidak pernah lagi dibuka, membiarkan ruangan besar itu tenggelam dalam remang-remang yang suram. Rendra duduk di sudut sofa, tubuhnya jauh lebih kurus dengan janggut tipis yang tidak terurus. Matanya yang merah dan cekung menatap kosong ke arah lemari kaca, tempat foto pernikahan formalnya dengan Alia masih berdi

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 148 : Dunia Baru

    Matahari pagi menerobos celah-celah daun karet, membiaskan garis-garis cahaya keemasan di atas meja kayu teras rumah panggung. Di atas meja itu, dua buah dokumen penting dengan cap resmi negara tergeletak rapi: sebuah petikan putusan perceraian dari Pengadilan Agama dan lembar Surat Keterangan Pindah Warga Negara (SKPWNI) yang telah dilegalisasi.Alia menatap dua lembar kertas itu dengan jemarinya yang bergetar pelan. Usia putranya, Elfan, kini sudah genap satu tahun. Anak laki-laki bermata bulat itu sedang asyik merangkak di atas tikar pandan, tertawa riang mengejar bola kain merah yang dilemparkan oleh Pak Danu.Setahun telah berlalu sejak badai besar yang menghancurkan masa lalunya di kota. Setahun yang penuh dengan pergulatan batin, air mata di tengah malam, serta perjuangan memulihkan kesehatan mentalnya di pelosok desa yang tenang ini."Putusan cerainya resmi keluar Alia," suara Bibi Ratna—adik kandung dari ibu Alia—memecah keheningan teras. Beliau melangkah keluar dari dalam ru

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 147 : Fakta Menyakitkan

    Sementara Rendra dan Arhan sedang menyusuri lorong Rumah Sakit Medika untuk mencari rekam medis, di rumah panggung lereng bukit udara pagi terasa begitu sejuk. Matahari bersinar cerah menembus celah-celah daun karet, menyinari teras kayu tempat Bidan Marni seorang bidan desa senior yang ramah dan yang sedang menata peralatan medis sederhananya di atas meja.Alia duduk di tepi tempat tidur kamar utama, mengenakan daster hamil yang longgar. Perutnya yang makin membuncit kini terasa kencang dan bergerak-gerak pelan. Di sampingnya, Bagas berdiri dengan sigap memegang buku catatan kehamilan berwarna merah muda."Coba berbaring santai ya, Mbak Alia," ujar Bidan Marni lembut seraya mengoleskan gel dingin ke permukaan perut Alia.Bidan Marni kemudian menempelkan ujung alat fetal doppler portabel ke perut Alia. Dalam hitungan detik, suara detak jantung janin bergema memenuhi ruangan kayu yang tenang itu—cepat, ritmis, dan sangat kuat.Dug-dug-dug-dug-dug...Bagas yang berdiri di dekat kepala r

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 146: Empat Bulan Berlalu

    Empat bulan berlalu sejak tragedi penyisiran hutan perbatasan yang sia-sia itu. Waktu terus berjalan di kota, namun bagi Rendra dan Arhan, hidup mereka seolah telah mati dan membusuk di tempat. Di pusat kota, nama Rendra tak lagi menjadi simbol kejayaan pengusaha muda berprestasi. Pencarian skala besar yang gagal, laporan kepolisian yang menggantung, serta hilangnya sang istri secara misterius perlahan membocorkan skandal keretakan rumah tangganya ke publik. Dewan komisaris perusahaan akhirnya memutus posisinya sebagai CEO demi menyelamatkan saham perusahaan yang merosot tajam. Penthouse mewah milik Rendra kini tak ubahnya seperti makam yang megah. Tirai-tirai jendela raksasa tidak pernah lagi dibuka, membiarkan ruangan besar itu tenggelam dalam remang-remang yang suram. Rendra duduk di sudut sofa, tubuhnya jauh lebih kurus dengan janggut tipis yang tidak terurus. Matanya yang merah dan cekung menatap kosong ke arah lemari kaca, tempat foto pernikahan formalnya dengan Alia masih ber

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 145: Apa Ini Cinta?

    Keesokan harinya, fajar menyingsing di atas lereng bukit dengan warna keemasan yang lembut. Kabut tipis masih membungkus pepohonan karet, membawa aroma tanah basah dan udara pegunungan yang sangat segar. Suara jangkrik malam perlahan berganti dengan cicitan burung liar dan kokok ayam jantan dari kejauhan. Di rumah panggung kayu itu, suasana begitu hangat dan tentram—sebuah kontras yang sempurna dibanding badai yang sedang mengamuk di luar sana. Alia terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Di teras depan yang menghadap langsung ke hamparan kebun hijau, Bagas sudah duduk santai di atas bangku kayu panjang. Mahasiswa cerdas itu mengenakan kaus polos dan celana kain sederhana, kacamata bingkai hitamnya bertengger rapi saat dia memegang secangkir kopi hitam panas yang berasap tipis. Di sampingnya, Pak Danu sedang merapikan beberapa papan kayu bakar. "Pagi, Kak Alia," sapa Bagas dengan nada suara yang tenang dan renyah. Senyuman tipisnya terkembang, senyuman

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status