Home / Romansa / AH! BRONDONGKU SAYANG / Bab 4 : Sabar Juga Ujian

Share

Bab 4 : Sabar Juga Ujian

Author: Kim Hwang Ra
last update Last Updated: 2025-11-19 21:04:27

“Sebentar….”

Langkah Rendra dan Alia terhenti.

Arhan berdiri di depan mereka. Wajahnya masih pucat, tapi sorot matanya kini berbeda dan lebih tenang, lebih berani dibanding tadi di ruang polisi.

“Ada apa lagi?” Rendra menatapnya dingin, jelas tidak sabar.

Arhan tidak langsung menjawab. Pandangannya justru tertuju pada Alia. Ia melihat pipi perempuan itu yang basah oleh air mata, juga lengan yang masih dicengkeram Rendra.

“Maaf, Pak,” kata Arhan akhirnya. “Saya cuma mau bicara sebentar. Sama… Mbaknya.”

Rendra tertawa kecil, sinis. “Urusan kita udah selesai. Mobil saya juga nggak kenapa-kenapa.”

“Bukan soal mobil,” jawab Arhan pelan.

Alia mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Arhan. Ada jeda singkat dan cukup untuk membuatnya bingung dengan orang yang baru pertama kali dia temui.

“Saya bersalah karena nabrak mbaknya,” lanjut Arhan. “Dan saya mau tanggung jawab. Tapi barusan—” ia berhenti sejenak, melirik Rendra, “—yang saya dengar tadi agak...... keterlaluan.”

Rendra mengeraskan genggamannya. “Kamu suka ikut campur urusan rumah tangga orang?”

Alia meringis kecil. Tangannya refleks berusaha melepaskan diri, tapi gagal.

Arhan melangkah setengah langkah ke depan. “Kalau Mbaknya ngga keberatan .… saya bisa anter. Atau—”

“Cukup!” potong Rendra tajam. “Kamu tau nggak, kamu lagi ngomong sama siapa?”

Arhan mengangguk. “Saya tau. Suaminya.”

Lalu, entah karena apa Arhan saat itu berani menatap Rendra tanpa gentar.

“Tapi dia juga istri anda, atau.....bukan?.”

Kalimat itu membuat suasana menegang.

Alia menahan napas. Jantungnya berdetak terlalu cepat dan ia tidak tahu kenapa.

Rendra menoleh ke Alia, matanya menyipit. “Kamu kenal dia?”

Alia menggeleng pelan. “Nggak.”

“Tuh kan,” Rendra mendengus. “Jangan sok jadi pahlawan, deh.”

Arhan menghela napas, lalu berkata pelan, tapi jelas,

“Bukan saya sok--”

Rendra mendengus kecil.

Ia tidak mersepon satu pun ucapan Arhan. Tangannya justru kembali menarik lengan Alia, kali ini lebih tegas.

“Ayo,” katanya pendek. “Jangan buang waktuku.”

“Pak....” Arhan sempat melangkah maju. “Saya cuma—”

“Urusan kamu udah selesai,” potong Rendra dingin, bahkan tanpa menoleh. “Jangan ikut campur.”

Alia terseret beberapa langkah. Ia menoleh sekali, ke arah Arhan. Tatapan mereka bertemu sebentar dan cukup lama untuk menyisakan rasa tidak nyaman di dada Alia, lalu terputus.

Rendra membuka pintu mobil dan mendorong Alia masuk.

“Masuk.”

Pintu ditutup agak keras. Rendra mengitari mobil, duduk di kursi pengemudi, lalu menyalakan mesin tanpa sepatah kata.

Mobil melaju meninggalkan halaman polsek.

Di kaca spion, sosok Arhan semakin kecil, lalu menghilang.

“Kamu tau nggak ini jam berapa?” Rendra akhirnya bersuara. “Keluar tengah malam, bikin masalah, bikin aku dipanggil polisi.”

Alia menatap lurus ke depan. “Tapi kan aku yang ditabrak.”

“Kamu yang cari masalah,” balas Rendra cepat. “Kalau kamu diem di rumah, semua ini nggak bakal kejadian.”

Alia mengepalkan tangannya di pangkuan. “Aku cuma mau cari udara.”

“Kamu selalu punya alasan,” Rendra tertawa pendek. “Aku capek banget ngurusin kamu.”

Kalimat itu kembali menghantam.

Mobil berhenti di lampu merah. Rendra memukul setir pelan, frustrasi.

“Kamu tau nggak gimana malunya aku tadi?”

Alia menoleh pelan. “Segitukah memalukannya, Ren?”

Rendra terdiam sejenak, lalu berkata dingin,

“Jangan dramatis.”

Lampu hijau menyala.

Mobil kembali melaju.

Alia menyandarkan kepala ke kursi, menatap lampu-lampu kota yang lewat cepat. Air matanya jatuh pelan, tanpa suara.

Mereka tiba di rumah dan Rendra kembali marah-marah, berbagai kekesalan yang dia simpan kini luapkan sekali lagi. Belum sempat beberapa menit Rendra menenangkan dirinya, pintu kembali terbuka.

Ibu Rendra berdiri di ambang pintu, tas masih menggantung di bahu.

“Ada apa ini ribut-ribut?” tanyanya tajam.

Rendra menoleh cepat. “Ma? Bukannya Mama di luar kota?”

“Baru sampai. Singgah sebentar,” jawabnya dingin, lalu matanya mengarah ke Alia. “Mau lihat keadaan rumah ini, tadi kata tetangga kamu kek kantor polisi. Alia buat masalah lagi?”

Alia menelan napas. “Bu, aku--”

“Kamu itu ya,” potong Ibu Rendra. “Nggak pernah ada habisnya bikin Rendra susah. Malam-malam malah ke kantor polisi segala.”

“Aku cuma—”

“Cukup,” katanya tegas. “Sebagai istri, harusnya kamu jaga diri. Jaga nama baik suami. Bukannya keluyuran, emang kmau kekurangan uang?.”

Rendra mengusap wajah, jelas lelah. “Udahlah, Ma. Aku capek. Aku mau istirahat.”

Ia melangkah pergi ke kamar.

Tanpa menoleh.

Tanpa membela.

Alia menatap punggungnya Rendra yang menghilang di balik pintu.

Ibu Rendra mendesah panjang. “Lihat tuh. Rendra sampai capek karena kamu.”

Alia menunduk. “Ma, aku ngga bermaksud gitu”

“Kamu tau nggak anaknya Bu Ratna?” Ibu Rendra menyela. “Dia juga perempuan, kerja di kantor, mandiri dan serba bisa. Pulang masih sempat urus rumah lagi.”

Alia terdiam.

“Coba kamu kayak dia,” lanjutnya. “Nggak manja, nggak lebay, ada gunanya. Bukan cuma di rumah tapi isinya masalah semua.”

Kata demi kata terasa menekan dada Alia seperti batu besar.

Ibu Rendra merapikan tasnya. “Renungkan itu. Jangan cuma jadi beban hidup suamimu.”

Ia melangkah pergi, meninggalkan Alia sendirian di ruang tamu.

Alia masuk ke kamar tamu, kamar yang sejak beberapa waktu terakhir lebih sering ia tempati. Lampunya redup. Ia duduk di tepi ranjang, baru saja ingin merebahkan tubuh ketika ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk.

Alia mengernyit, lalu membukanya.

Matanya membesar. Tangannya refleks menutup mulutnya.

Universitas Nusantara Raya :
"Selamat, Ibu Alia Salsabila. Berdasarkan hasil seleksi akhir, kami mengundang Anda untuk bergabung sebagai dosen tetap…"

Napas Alia tersendat.

Dadanya bergetar bukan karena sedih, tapi karena sesuatu yang lama hilang kini muncul pelan-pelan: harapan.

“Aku… keterima,” bisiknya tak percaya.

Ia berdiri cepat, langkahnya ringan. Ia ingin memberi tahu Rendra, dia ingin menunjukkan bahwa ia bukan “beban”. Tapi dia bisa seperti orang lain.

Alia berjalan ke depan kamar Rendra. Tangannya terangkat, siap mengetuk.

Namun sebelum ketukannya jatuh, suara dari dalam kamar membuatnya membeku.

Suara Rendra.

“…iya, Ma. Aku juga udah capek.”

Alia menahan napas.

“Dari awal aku udah bilang, pernikahan ini cuma biar rapi di mata keluarga,” lanjut Rendra. Suaranya rendah dan lelah namun jelas. “Aku nggak pernah nganggap dia bisa jadi apa-apa, mama tau kan, yang terpenting dia cukup jadi seorang istri yang patuh dan baik. Dan itu cukup.”

Dada Alia terasa seperti diremas.

“Tenang aja,” Rendra terdengar mendesah. “Selama dia di rumah, dia nggak bakal ke mana-mana. Lagi pula, siapa juga yang mau nerima dia perempuan yang tidak sehat”

Alia mundur selangkah.

Tangannya gemetar.

Siapa yang sanggup hidup seperti parasit di rumah sendiri?, di rumah yang seharusnya tempat kembali namun jadi alasan kita ingin pergi?

"Hah, bukannya kalian yang memintaku jadi bagian keluarga ini? dan sekarang?" cicit Alia.

Entah sudah berapa banyak Alia mengeluarkan air mata, hingga rasanya dia menjadi orang bodoh saat mengeluarkan air mata untuk dua manusia di dalam sana.

Alia bergerak ke sana, kembali ke kamarnya dengan perasaan seperti kebas, perasaan yang seperti tidak ada lagi merasakan apapun hingga..... notifikasi masuk.

Nomor tak di kenal :

"Hai, ini benar nomor mbak Alia?"

Alia mengernyitkan dahinya, siapa lagi ini? 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 17 : Cerai

    Bukannya menjauh, Arhan justru mempererat posisinya. Ia sengaja tetap menunduk, tangannya masih berada di tengkuk Alia, seolah-olah sedang membisikkan sesuatu yang sangat intim ke telinga dosennya itu. Ia melirik Rendra dari sudut matanya dengan tatapan yang sangat provokatif—sebuah tantangan terang-terangan yang mengatakan bahwa ia tidak takut pada otoritas Rendra."Lepaskan istriku, bajingan!" Rendra menderu, langkahnya yang besar membuat lantai kayu koridor itu bergetar.Arhan perlahan menegakkan tubuh, namun tangannya tetap bertengger di bahu Alia, menahan wanita itu agar tetap di sisinya. "Kenapa? Anda takut kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah Anda jaga dengan baik?" sahut Arhan dengan suara rendah yang tajam."Arhan, lepas." Alia berseru panik. Ia mencoba melepaskan diri dari Arhan, sekaligus ingin menjelaskan pada Rendra. "Rendra, ini ngga kayak yang kamu lihat! Rambutku tersangkut dan—""Diam, Alia!" bentak Rendra. Wajahnya memerah padam, urat-urat di pelipisnya menonj

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 16 : Salah Paham

    Alia melangkah masuk ke dalam restoran dengan dagu terangkat, meski hatinya terasa remuk melihat kemesraan Rendra dan Desy di ujung ruangan. Arhan mengekor tepat di belakangnya, wajahnya yang biasanya usil kini berubah menjadi tameng yang kokoh dan protektif.Sesampainya di meja besar yang sudah dipesan Rendra, suasana mendadak hening. Nyonya Sofia menatap Arhan dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan."Alia, siapa anak ini? Kenapa dia ikut masuk ke dalam?" tanya Sofia ketus."Ah, dia sopir pribadiku, Ma. Karena Rendra tidak bisa menungguku tadi, aku memutuskan untuk mempekerjakannya agar kita bisa barengan tanpa harus di tinggal lagi," jawab Alia tenang, sembari menarik kursi.Desy menutup mulutnya dengan tangan, berpura-pura terkejut. "Aduh, Alia... tapi tidak bagus lho, dilihat orang kalau perempuan yang sudah bersuami sedekat itu dengan laki-laki asing. Apalagi dia kelihatannya masih sangat muda.""Benar kata Desy," timpal Sofia cepat. "Rendra, kamu lihat k

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 15 : Tantangan Baru

    Di ambang pintu, Nyonya Sofia masuk mengekor di belakang Desy dengan wajah yang berseri-seri, seolah-olah baru saja memenangkan lotre. "Rendra! Lihat siapa yang datang!" seru Sofia sambil merangkul pundak Desy. Rendra berdiri, ekspresinya datar. Ada sedikit keterkejutan di matanya, namun ia tetap bersikap sopan. "Desy? Kupikir penerbangan mu besok." "Aku tidak sabar, Rendra. Eh ternyata jadwal penerbanganku dimajukan," sahut Desy dengan suara merdu yang terdengar sangat percaya diri. Ia kemudian menoleh ke arah Alia yang masih berdiri mematung di dekat kursi bimbingannya tadi. "Dan ini... pasti Alia, kan? Hai, aku Desy. Teman lama Rendra." Desy mengulurkan tangan dengan ramah, namun sorot matanya yang tajam seolah sedang menilai penampilan Alia dari ujung rambut hingga ujung kaki. Alia menjabat tangan itu sekilas. "Alia, sayang," suara Sofia memecah kecanggungan, namun nadanya terdengar seperti perintah. "Tolong antar Desy ke kamar tamu di lantai atas. Siapkan semuanya agar dia m

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 14 : Siapa Dia?

    Pagi itu, suasana kampus terasa hambar bagi Arhan. Ia berdiri di depan papan pengumuman jurusan, menatap selembar kertas yang menyatakan bahwa mata kuliah Seni Art hari ini akan diampu oleh dosen pengganti. Firasat buruk yang ia bawa dari gerbang rumah mewah semalam kini semakin nyata. "Dua hari nggak ada kabar, ponsel mati, sekarang kelas diganti... ada yang nggak beres sama Kak Alia," gumam Arhan sambil mengepalkan tangan di dalam saku jaketnya. Ia tidak bisa hanya diam menunggu. Arhan melangkah menuju kantor jurusan dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tampak seperti mahasiswa yang sedang frustrasi karena urusan akademik. Di dalam ruangan, ia mendapati Ketua Jurusan, Pak Darmanto, yang sedang sibuk dengan tumpukan berkas. “Permisi, Pak. Saya Arhan, mahasiswa bimbingan Bu Alia,” ucap Arhan dengan nada mengeluh yang dibuat-buat. “Saya mau lapor, Pak. Sudah dua hari saya mencoba menghubungi Bu Alia untuk konsultasi bab terakhir skripsi saya, tapi ponsel beliau tidak akt

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 13 : Semua Ada Imbalan

    Arhan akhirnya memutar kunci motornya. Meskipun hatinya masih terasa berat dan pandangannya terus tertuju pada jendela lantai dua yang gelap itu, ia tahu batasnya. Arhan memacu motornya kembali ke kosan, membiarkan dinginnya angin malam menembus jaket denimnya.----------Di sebuah ruang tamu megah di kediaman ibunya, Rendra duduk dengan dasi yang sudah terlepas, menyesap wiski dengan raut wajah yang masih keruh. Di depannya, sang ibu duduk dengan anggun, namun sorot matanya tajam dan penuh perhitungan."Investasi itu harusnya sudah di tanganmu kalau saja istrimu bisa bersikap sedikit lebih 'berguna', Rendra," ucap ibunya dingin. Ia tidak menunjukkan simpati sedikit pun pada kondisi Alia, baginya menantu hanyalah aset pendukung kesuksesan anaknya."Dia keras kepala, Ma. Alia pikir dia masih punya kuasa seperti dulu ayahnya masih tinggi di perusahaan," Rendra mendesis, membanting gelasnya ke atas meja.Ibunya tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan rencana lain. "Apa mama bilang

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 12 : Pindah Hati?

    Rendra melemparkan tali pinggangnya ke kursi kulit dengan napas yang masih memburu. Ia mengambil kunci mobilnya kembali dan merogoh ponsel, menekan nomor ibunya."Halo, Ma? Aku malam ini aku ke rumah, ya. Ada proyek yang harus kubahas dengan relasi di dekat rumah Mama besok pagi," ucapnya dengan suara yang mendadak tenang, seolah-olah tangannya tidak baru saja meninggalkan bilur merah di tubuh istrinya.Tanpa menoleh lagi ke arah gudang, Rendra memacu mobilnya meninggalkan gerbang rumah mewah itu. Ia meninggalkan instruksi mutlak pada kepala pelayan: "Jangan ada yang berani mendekati gudang. Biarkan dia belajar tentang intropeksi dan konsekuensi dari perbuatannya."Di dalam gudang yang pengap, Alia meringkuk di atas lantai semen yang dingin. Perutnya melilit hebat; rasa lapar yang menyiksa berpadu dengan perih di punggung dan lengannya. Ia mencoba merangkak menuju pintu, mengetuknya pelan dengan sisa tenaga yang ada."Tolong...aku haus..." rintihnya parau. Namun, para pelayan di luar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status