LOGIN"Ini... ini tulisan dia," bisik Arhan, suaranya tercekat di tenggorokan.Rendra yang sejak tadi menahan napas langsung menoleh tajam. "Siapa? Kamu tahu siapa bajingan ini?!""Bagas," jawab Arhan, matanya melotot menatap kosong. "Dia mahasiswa bimbingan Kak Alia juga, satu kelas denganku. Dia anak kesayangan jurusan. Aku sering liat tulisan tangan ini di papan tulis waktu dia presentasi tugas kelompok. Nggak salah lagi, ini tulisan Bagas!"Mendengar nama itu, Rendra tidak membuang waktu. Rendra langsung mengerahkan seluruh koneksi dan tim keamanan siber perusahaannya, sementara Arhan memberikan segala detail informasi mengenai Bagas.Bagas layaknya hantu. Semenjak tulisan yang dia kirim dibelakang polaroid, dia hilang seperti di telan bumi bahkan tempat tinggalnya kosong dan pemilik kosan bilang kalau dia sudah pindah sebulan yang lalu, dan tidak tahu kemana dia pindah setelahnya. Bagas yang hilang begitu juga Alia, tak ada yang tahu dia kemana seakan dunia dua pria itu hancur melihat
Deru mesin sepeda motor, dia tidak memedulikan angin malam yang menghantam wajahnya tanpa ampun, ataupun beberapa kali bannya selip saat melewati jalanan berbatu yang sepi."Bertahan, Kak... please, bertahan," bisik Arhan di balik helmnya, napasnya memburu.Begitu sampai di koordinat yang dituju, Arhan langsung mengerem keretanya dengan kasar hingga menciptakan bunyi decitan panjang di atas tanah kering. Arhan melompat dari motornya tanpa mencabut kunci. Dia berlari menerobos pintu besi gudang yang sudah berkarat dan setengah terbuka."Kak Alia?! Kak?!" teriak Arhan, suaranya menggema parau di dalam ruangan luas yang pengap dan berdebu itu.Dia menyalakan senter dari ponselnya, mengarahkan cahayanya ke segala penjuru arah. Jantungnya berdegup kencang, bersiap menghadapi penyergapan atau baku hantam dengan bajingan yang nekat menculik dosennya.Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Gudang itu kosong, sampai akhirnya sorot senter ponselnya menangkap sebuah kursi kayu yang tegak di tengah
Hanya dalam hitungan detik, dada Alia terasa sesak, pandangannya yang memang sudah kabur oleh air mata langsung diselimuti titik-titik hitam yang berputar cepat, hingga akhirnya kesadarannya tumbang sepenuhnya. Tubuhnya mendadak lemas, jatuh pasrah di dalam dekapan pria asing bertopeng tersebut.Pria itu mendengus pelan, memastikan korbannya benar-benar sudah tidak berdaya. Dia mengangkat tubuh Alia yang pingsan ke atas bahunya, menyambar koper pakaian Alia di sudut ruangan, lalu melangkah keluar melalui pintu penghubung rahasia di dalam kamar mandi yang entah bagaimana bisa dia akses. Kamar hotel nomor 204 itu kembali sunyi senyap, menyisakan bau kimia yang menguar tipis di udara dan selimut yang acak-acakan di atas ranjang.Sementara itu, di luar gedung hotel Arhan berjalan gontai menyusuri trotoar. Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah ada beban berton-ton yang mengikat pergelangan kakinya. Dia merogoh saku celananya, berniat mengambil kunci sepeda motor namun kedua sakunya k
"Benar, Pak Rendra..." cicit Arhan, suaranya dibuat bergetar seolah ketakutan setengah mati pada wibawa Rendra. Dia mengeluarkan beberapa map folio dan sebuah laptop kecil dari dalam tasnya, memperlihatkannya kepada Rendra dan dua pria tegap di belakangnya. "Aku cuma mengantar berkas-berkas ini atas perintah Bu Alia. Tadi sore setelah urusan di rektorat selesai, aku kembali ke ruang dosen untuk mengambil barang-barang ini. Karena jalanan macet dan aku harus mengurus administrasiku dulu, aku baru aja sampai di hotel ini. A ku gak ada niat macem-macem kok, Pak."Rendra menatap map-map folio yang ditunjukkan Arhan dengan tatapan tidak percaya. Dia melirik ke arah salah satu pria berjas kulit di belakangnya. Pria itu, yang ternyata adalah seorang mantan interogator kepolisian yang disewa Rendra, maju selangkah lalu menatap intens ke arah gestur tubuh Arhan dan Alia."Bu Alia," pria tegap itu membuka suara, nadanya menyelidik. "Pelacakan kami menunjukkan adanya panggilan dari nomor satelit
"Arhan... cinta itu bukan seperti ini," bisik Alia pelan, suaranya terdengar sangat lelah. "Kamu gak bisa maksa seseorang buat tinggal dengan cara membakar seluruh dunianya."Arhan menunduk, bahunya bergetar lagi. "Aku tahu, Kak... aku tahu aku bodoh. Tapi tolong... tolong jangan tinggalin aku. Aku bakal kerja apa aja setelah ini. Aku bakal keluar dari kampus kalau Kakak mau. Aku bakal buru-buru cari kerjaan legal, kumpulin uang buat beli susu bayi ini. Asalkan... asalkan Kak Alia ada di sampingku. Tolong, Kak..."Suasana di dalam kamar hotel melati itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara isak tangis Arhan yang perlahan mereda menjadi helaan napas pasrah. Alia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Hidupnya sudah bergeser dari satu drama pernikahan yang dingin, masuk ke dalam lingkaran obsesi anak muda yang berbahaya.Arhan perlahan bangkit dari posisi berlututnya. Dia meletakkan ponsel murah berisi rekaman video itu di atas kasur, tepat di depan Alia."Ini... aku sera
Arhan mematikan rekaman suara di ponselnya, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku jaket dengan gerakan santai. Dia melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka, membuat Alia terus mundur ketakutan hingga bagian belakang lututnya membentur tepian ranjang."Maaf ya, Kak Alia sayang... aku terpaksa harus main kotor kayak gini," ucap Arhan, suaranya kembali normal, namun nadanya terdengar begitu dingin dan penuh manipulasi.Arhan membungkukkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Alia yang dipenuhi air mata keputusasaan. "Siang tadi di koridor, aku sadar satu hal saat melihat Rendra membelamu. Pria dewasa yang mapan kayak dia gak bakal pernah bisa dikalahin oleh bocah kayak aku. Kalau aku main bersih, Kak Alia cepat atau lambat pasti bakal milih balik sama dia karena kemapanannya, atau Kak Alia bakal milih hidup mandiri dan ninggalin aku."Arhan menyunggingkan senyuman liciknya, tangannya perlahan terangkat untuk mengusap air mata di pipi Alia yang kaku karena syok."Aku gak mau ke







