Share

Bab 04

Author: Olivia Yoyet
last update Last Updated: 2025-12-11 12:55:45

04

Alodita bergegas mendatangi rombongan Indonesia yang baru turun dari bus hotel J&A, milik keluarga Janitra dan Aryeswara. Alodita mengulaskan senyuman, sebelum menyalami Benigno dan yang lainnya dengan takzim. 

Alodita berpindah untuk menyalami akangnya, kemudian dia mendekap Satria. Bulir bening luruh dari mata Alodita, karena dia menyesal telah menyebabkan situasi yang kurang nyaman, bagi tim Indonesia di Kanada. 

Seusai menjauhkan diri, Alodita mengusap pipinya dengan ujung jemari. Dia menggamit lengan kiri Satria dan melangkah bersama sang akang, untuk menyusul anggota rombongan lainnya yang tengah bergerak memasuki kantor polisi. 

Bentley dan Channing menyambut rekan-rekan mereka dengan ramah. Para lelaki itu duduk di banyak kursi sembari berbincang serius. 

Tidak berselang lama, ketujuh tahanan keluar untuk menemui tamu. Aditya mendekap Yoga sembari memejamkan mata. Kemudian dia melepaskan dekapan dan berpindah untuk memeluk adiknya, Narapati Bryatta.

Setelahnya, Aditya beralih untuk mendekap Mahesa, Adik sepupunya, dan para petinggi PB serta PBK. Aditya juga menyalami belasan ajudan muda, yang akan menggantikan tugas anggota pasukan senior di seputar Kanada. 

"Kapan Aditya dan yang lainnya bisa bebas?" tanya Ethan, sembari memandangi kedua sahabatnya. 

"Dzulfadli, Syawal, Bagas, dan Baryal, paling lambat sore ini bisa bebas," terang Bentley. "Aditya, Fahreza dan Dzafri, maksimal besok siang," lanjutnya. 

"Kenapa beda waktunya?" 

"Tiga orang itu yang diduga mengeroyok Ramzi." 

"Terbukti begitu?" 

"Enggak. Yang mengeroyok cuma Dzafri dan Fahreza. Kalau Aditya, duel satu lawan satu. Setelah kedua junior masuk ke ruangan itu, Aditya langsung mengecek kondisi Alodita." 

"Sayangnya, Adit lupa memotret Aloddita saat baru ditemukan," sela Channing. "Dia panik dan langsung nutupin Alodita pakai selimut," sambungnya. 

"Untungnya, waktu perawat buka selimut, ada yang sempat merekam. Jadi keterangan Aditya jika pakaian Alodita berantakan, itu benar," tambah Channing. 

Satria memandangi adiknya yang tengah menunduk, kemudian dia menatap pria bermata biru di hadapannya. "Mas, hasil visumnya, gimana?" tanyanya. 

"Kalau maksudmu mengarah ke pemerkosaan, itu tidak ada," ungkap Channing. "Pakaian Alodita masih melekat dan hanya terbuka di bagian atas," lanjutnya. 

Satria menghela napas lega. "Syukurlah." 

"Ada satu bukti tambahan. Dua kancing bagian atas blus menghilang, dan ditemukan petugas polisi di kasur itu. Ada sidik jari Ramzi di kancing, baju, dan bagian depan tubuh Alodita," papar Bentley. 

"Ada bagusnya juga Aditya langsung menggulung badan Alodita dengan selimut. Sidik jari Aditya cuma ada di selimut dan nggak bercampur dengan sidik jari Ramzi," beber Bentley. 

Yoga menepuk pelan punggung junior binaannya. "Good job," bisiknya. 

"Tapi, aku deg-degan," balas Aditya dengan suara pelan. 

"Kenapa?" 

"Dadanya kelihatan." 

"Rezekimu." 

Aditya meringis. "Justru itu bikin aku pusing." 

"Dah, lupain. Nanti juga bisa puas lihat dan pegang punya istri." 

"Haifa beneran mau sama aku?" 

"Iya. Aku sama Leni sudah promosiin kamu habis-habisan." Yoga mengamati pria berkaus putih di sebelah kanannya. "Mana ada yang bisa nolak, setelah tahu kalau kamu direktur," selorohnya. 

"Abang, nih. Harusnya bagian itu jangan disebut. Bilang aja, aku manajer operasional." 

"Enggak boleh bohong. Dosa. Apalagi ini dilakukan supaya kamu dapat jodoh. Harus dipromosikan yang baiknya." 

*** 

Sekelompok orang melintasi lorong salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Kota Vancouver. Kehadiran mereka menimbulkan rasa keingintahuan orang-orang di sekitar. 

Mereka berhenti di depan area khusus kelas utama. Seorang pria paruh baya mendatangi mereka dan menyalami Benigno, Ethan dan Levin terlebih dahulu, sebelum beralih menyalami yang lainnya. 

Keempat orang tersebut berbincang menggunakan bahasa Perancis yang fasih, kemudian kelompok itu diantarkan manajer operasional rumah sakit itu, ke ruang perawatan Ramzi. 

Sang pasien terkejut menyaksikan beberapa pengusaha muda Indonesia hadir di ruangannya. Darius dan Nolan yang tengah berada di tempat itu, segera berdiri sembari menenangkan degup jantung mereka yang meningkat, akibat mengenali para tamu. 

Benigno mengambil data pasien dari ujung ranjang dan membacanya dengan teliti. Benigno merupakan lulusan kedokteran, sebelum beralih menjadi pengusaha, untuk meneruskan pengelolaan perusahaan keluarganya. 

"Kadar alkohol di tubuhmu tinggi sekali," tukas Benigno sembari duduk di kursi samping kiri ranjang. "Apa kamu memang hobi mabuk?" tanyanya sambil mengamati pria yang tengah duduk di kasur. 

"Sedikit, Pak," cicit Ramzi. Dia tidak berani berbohong, karena tahu jika itu tercantum dalam berkasnya. 

"Bubuk apa yang kamu taruh di minuman Alodita?" 

"Ehm, itu cuma ... vitamin." 

"Kamu pikir bisa ngibulin aku?" Benigno memelototi sang pasien. "Aku dokter dan tahu apa aja yang biasa dipakai para pengecut, kayak kamu!" geramnya. 

"Sekarang, jawab yang jujur. Itu obat apa?" desak Benigno. "Jawab!" bentaknya yang mengejutkan Ramzi. 

"Ehm, obat tidur." 

Benigno melengos. "Kamu memang pengecut. Nggak ada pejantan tangguh yang akan memperkosa perempuan yang tengah tidur!"

Ramzi menelan ludah. Dia tidak berani membantah, karena yakin pasti akan kembali dimarahi. Ramzi menjengit ketika dagunya dipegangi seseorang, dan diarahkan ke kiri. 

"Ini, hasil karya siapa?" tanya Alvaro sembari menunjuk memar di sepanjang rahang pasien. 

"Aditya," jawab Ramzi. 

"Yang ini?" Alvaro menekan tonjolan pipi kiri yang menyebabkan Ramzi meringis. 

"Aku nggak tahu namanya. Antara dua ajudan itu." 

"Yang tinggi, atau yang berkumis?" 

"Berkumis." 

"Lalu, ini?" Alvaro menunjuk lebam di tulang hidung.

"Yang tinggi." 

Alvaro menjauhkan diri, lalu menatap Ramzi dengan intens. "Kamu bilang dikeroyok 3 orang, tapi, siapa yang mukul dan hasilnya apa, kamu ingat banget. Aneh." 

"Aku, kalau dikeroyok lebih dari dua orang, nggak bakal ngeh siapa yang ninju atau tendang. Karena fokusku adalah menangkis dan balik nyerang." 

Alvaro menatap tajam sang pasien. "Sekali lagi aku tanya. Siapa yang meninju rahangmu? Lalu, apa yang kamu lakukan untuk bertahan? Jelaskan." 

Ramzi mengerjapkan mata. Dia kesulitan untuk menjawab pertanyaan pria blasteran itu. Ramzi kembali meneguk ludah, karena dia merasa terintimidasi oleh tatapan tajam komisaris 4 PB dan PBK tersebut. 

Pintu terbuka dan beberapa orang memasuki ruangan. Ramzi terkesiap ketika Alodita lari mendekat dan langsung menamparnya dua kali. Kala gadis itu hendak memukul kembali, dia langsung dicekal Satria dan Ethan. 

"Tahan, Ta," cetus Satria sembari menarik adiknya menjauhi Ramzi. 

"Lepas, Kang! Biar aku bisa mukulin dia lagi!" jerit Alodita. 

"Jangan biarkan dia menggunakan itu buat melaporkanmu," bisik Ethan. 

"Ethan benar, Ta. Dia itu licik. Bisa saja dia akan mengambil kesempatan dari sini," cakap Levin yang turut menenangkan sang gadis. 

"Baru ditampar Dita aja, kamu sudah bengong. Gimana kalau Akang dan adiknya yang memukulmu?" ledek Benigno. 

"Dia pasti masang CCTV di hidung. Supaya hafal siapa yang mukul, dan di mana kena pukulannya," cibir Tio sembari mendekati ujung ranjang. "Kupikir kamu cocok jadi pemain sinetron. Bagian antagonis. Dipukul ke kiri, tapi lebamnya di kanan," celanya. 

"Mas, tolong jangan bikin aku ngikik," canda Alvaro. 

"Beneran, kan?" tanya Tio. Dia mengalihkan pandangan pada kedua rekan Ramzi. "Kalian, dikeroyok juga?" tanyanya. 

"Enggak, Pak. Aku cuma berantem sama Aditya," jelas Darius. 

"Abang. Dia lebih tua darimu." 

"Ehm, ya." 

"Lalu, kamu?" Tio menatap pria berambut ikal dengan intens. 

"Aku juga berantem sama A ... ehh, Bang Aditya. Terus, aku jatuh ke lantai," lontar Nolan. 

"Pingsan?" 

"Enggak. Cuma pusing aja." 

"Apa yang ditinju?" 

"Bukan ditinju, tapi ditendang." 

"Yang maju duluan, siapa?" 

"Aku." 

"Berarti Aditya cuma membalas." 

"Ehm, ya." 

"Ubah laporanmu. Karena di awal karanganmu itu disebutkan kalau Aditya yang nyerang lebih dulu." Tio menunjuk Darius. "Kamu juga, ubah kesaksian. Kalau nggak, aku akan membiarkan Larasati menuntutmu, karena kamu juga ngasih serbuk yang sama ke minumannya," tambahnya.

"Tapi, dia lebih kuat daripada Dita, dan Laras cuma pusing aja," papar Tio. "Dia nggak ngelaporin kamu, karena takut divisum juga. Tapi, kalau kamu nggak ubah keterangan, maka Laras akan maju buat melaporkanmu," pungkasnya yang menyebabkan nyali Darius menciut. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 06

    06 Malam itu, seusai bersantap, Aditya mengajak ayahnya keluar. Mereka menaiki motor milik Nareswara, Adik Aditya dan Narapati, lalu menjauhi kediaman direktur operasional PBK tersebut. Aditya melajukan kendaraan menuju area depan kompleks perumahan kelas menengah ke atas, yang dibangun PT. BHANDIT, milik Baskara Gardapati Ganendra, Heru Pranadipa Dewawarman, Artio Laksamana Pramudya, Arrivan Qaiz Latief, Axelle Dante Adhitama, Hadrian Danadyaksha, dan Tristan Cyrus. Rumah Aditya dan banyak rekannya sesama pengawal lapis 3 hingga 10, berada di cluster 7. Begitu pula dengan rumah Wirya, yang memborong banyak unit, hingga rumah barunya itu lebih besar daripada rumah lamanya, yang berada di cluster 5.Yoga, dan tim Power Rangers lainnya, masih menempati rumah mereka di cluster 5, yang berdekatan dengan rumah lama Wirya, yang telah dialihfungsikan sebagai mess para pengawal. Setibanya di deretan rumah toko, Aditya menghentikan motor di depan salah satu warung makan. Dia memasang stand

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 05

    05Hari berganti dengan cepat hingga minggu terlewati. Ramzi dan Aditya sama-sama menarik gugatan dari kantor polisi. Mereka dan semua pihak yang terlibat, sepakat untuk berdamai. Pagi itu, puluhan orang berkumpul di ruang rapat kantor firma hukum B&C. Mereka menjadi saksi surat perjanjian perdamaian antara kedua belah pihak. Ramzi, Darius, Nolan, dan ketujuh rekan mereka, menandatangani beberapa lembar kertas secara bergantian. Aditya dan keenam ajudan muda maju beberapa langkah. Demikian pula dengan Alodita dan Larasati. Mereka membubuhkan tanda tangan di berkas itu. Lalu Syawal memberikan tumpukan kertas itu pada kedua pengacara PBK, dan tim lawyer pihak lawan, guna diperiksa keabsahannya. Puluhan menit berlalu, rombongan Indonesia telah berada di bus yang menuju bandara. Aditya dan yang lainnya sudah diizinkan polisi untuk pulang ke Indonesia, karena kasus mereka dianggap selesai, sesuai dengan perjanjian tadi. "Kata Asmi, keluarga kita sudah nyampe di rumah Abang," ujar Narap

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 04

    04Alodita bergegas mendatangi rombongan Indonesia yang baru turun dari bus hotel J&A, milik keluarga Janitra dan Aryeswara. Alodita mengulaskan senyuman, sebelum menyalami Benigno dan yang lainnya dengan takzim. Alodita berpindah untuk menyalami akangnya, kemudian dia mendekap Satria. Bulir bening luruh dari mata Alodita, karena dia menyesal telah menyebabkan situasi yang kurang nyaman, bagi tim Indonesia di Kanada. Seusai menjauhkan diri, Alodita mengusap pipinya dengan ujung jemari. Dia menggamit lengan kiri Satria dan melangkah bersama sang akang, untuk menyusul anggota rombongan lainnya yang tengah bergerak memasuki kantor polisi. Bentley dan Channing menyambut rekan-rekan mereka dengan ramah. Para lelaki itu duduk di banyak kursi sembari berbincang serius. Tidak berselang lama, ketujuh tahanan keluar untuk menemui tamu. Aditya mendekap Yoga sembari memejamkan mata. Kemudian dia melepaskan dekapan dan berpindah untuk memeluk adiknya, Narapati Bryatta.Setelahnya, Aditya beral

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 03

    03Wajah Aditya seketika merah padam, sesaat setelah mendengar penjelasan Bentley Green dan Channing Davies, kedua pengacara tim PBK di Kanada. Aditya mengeraskan rahang, sembari menahan diri untuk tidak mengumpat. Namun, akhirnya dia tidak kuat dan memaki Ramzi yang melaporkannya dengan tuduhan penganiayaan. Hasil visum Ranzi dan teman-temannya dijadikan alat bukti kuat oleh lawyer mereka, guna melaporkan balik tim PBK. Selain itu, pengelola vila juga turut melaporkan Aditya dan anak buahnya, dengan tuduhan pengrusakan pintu, meja, dan kursi-kursi di sekitar halaman belakang, serta di lantai dua vila.Kendatipun tim pengacara PBK juga memberikan banyak bukti, tetapi polisi tetap bersikukuh untuk menahan ketujuh ajudan Indonesia, guna pemeriksaan lebih lanjut. "Kami harus gimana, Pak?" tanya Aditya. "Kita ikuti semua prosedur. Supaya polisi yakin jika kita berniat untuk berkoordinasi dengan baik," jelas Bentley dengan bahasa Indonesia berlogat unik. Bentley dan Channing merupakan

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 02 - Maybe Dialah Jodohku

    02"Setan!" jerit Aditya seusai memasuki kamar. Ramzi terkejut melihat kedatangan musuhnya, dan segera bangkit dari kasur, di mana Alodita tengah berbaring dengan pakaian yang acak-acakan. Aditya maju dan menyerang Ramzi dengan tinjuan bertubi-tubi. Aditya kesal, karena Ramzi melawan dengan gerakan karate yang bagus. Fahreza dan Dzafri memasuki ruangan. Mereka langsung mengeroyok Ramzi, sedangkan Aditya mendatangi kasur untuk mengecek kondisi Adik Satria Daryantha tersebut. "Ta, bangun. Ta," panggil Aditya, tetapi Alodita bergeming. Aditya menarik selimut di ujung kasur guna membungkus tubuh Alodita. Dzafri meninggalkan Ramzi yang telah terkapar di lantai, lalu dia membantu Aditya yang hendak mengangkat dan menggendong Alodita. Aditya jalan secepat mungkin dengan disusul Dzafri. Sedangkan Fahreza memvideokan sekeliling, sebagai bukti atas kelakuan tidak senonoh Ramzi pada Alodita. Semua orang memandangi Aditya yang tengah menggendong Alodita. Dzafri berteriak agar para penonton

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 01 - Abang Pengatur dan Pemaksa

    01"Abang jangan mengaturku. Ingat, Abang bukan siapa-siapa buatku!" sentak Alodita Verlina Daryantha, sembari memelototi pria bertubuh tinggi di hadapannya. "Ya, aku memang bukan keluarga atau kerabatmu. Tapi, kakakmu sudah menitipkanmu padaku!" tegas Aditya Bryatta, sembari berusaha untuk tetap tenang. Alodita menggertakkan gigi. "Aku nggak peduli! Pokoknya jangan larang aku buat melakukan apa pun!" "Okay, fine! Silakan pergi, dan puasin pesta. Aku mau tidur!" desis Aditya, sebelum dia berbalik dan jalan menuju kamarnya di bagian depan rumah dinas itu. Alodita mencebik. Dia benar-benar kesal dengan sikap Aditya yang pengatur dan pemaksa. Alodita melirik asistennya, Larasati, dan memberi kode. Kemudian kedua perempuan itu bergegas keluar bangunan. Bunyi kendaraan yang bergerak menjauh, membuat Aditya menggerutu dalam hati. Dia mengintip melalui celah gorden, lalu Aditya berbalik dan jalan ke pintu. Lelaki beralis tebal itu menyambar jaket dan tas dari gantungan. Aditya membuka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status