LOGIN04
Alodita bergegas mendatangi rombongan Indonesia yang baru turun dari bus hotel J&A, milik keluarga Janitra dan Aryeswara. Alodita mengulaskan senyuman, sebelum menyalami Benigno dan yang lainnya dengan takzim.
Alodita berpindah untuk menyalami akangnya, kemudian dia mendekap Satria. Bulir bening luruh dari mata Alodita, karena dia menyesal telah menyebabkan situasi yang kurang nyaman, bagi tim Indonesia di Kanada.
Seusai menjauhkan diri, Alodita mengusap pipinya dengan ujung jemari. Dia menggamit lengan kiri Satria dan melangkah bersama sang akang, untuk menyusul anggota rombongan lainnya yang tengah bergerak memasuki kantor polisi.
Bentley dan Channing menyambut rekan-rekan mereka dengan ramah. Para lelaki itu duduk di banyak kursi sembari berbincang serius.
Tidak berselang lama, ketujuh tahanan keluar untuk menemui tamu. Aditya mendekap Yoga sembari memejamkan mata. Kemudian dia melepaskan dekapan dan berpindah untuk memeluk adiknya, Narapati Bryatta.
Setelahnya, Aditya beralih untuk mendekap Mahesa, Adik sepupunya, dan para petinggi PB serta PBK. Aditya juga menyalami belasan ajudan muda, yang akan menggantikan tugas anggota pasukan senior di seputar Kanada.
"Kapan Aditya dan yang lainnya bisa bebas?" tanya Ethan, sembari memandangi kedua sahabatnya.
"Dzulfadli, Syawal, Bagas, dan Baryal, paling lambat sore ini bisa bebas," terang Bentley. "Aditya, Fahreza dan Dzafri, maksimal besok siang," lanjutnya.
"Kenapa beda waktunya?"
"Tiga orang itu yang diduga mengeroyok Ramzi."
"Terbukti begitu?"
"Enggak. Yang mengeroyok cuma Dzafri dan Fahreza. Kalau Aditya, duel satu lawan satu. Setelah kedua junior masuk ke ruangan itu, Aditya langsung mengecek kondisi Alodita."
"Sayangnya, Adit lupa memotret Aloddita saat baru ditemukan," sela Channing. "Dia panik dan langsung nutupin Alodita pakai selimut," sambungnya.
"Untungnya, waktu perawat buka selimut, ada yang sempat merekam. Jadi keterangan Aditya jika pakaian Alodita berantakan, itu benar," tambah Channing.
Satria memandangi adiknya yang tengah menunduk, kemudian dia menatap pria bermata biru di hadapannya. "Mas, hasil visumnya, gimana?" tanyanya.
"Kalau maksudmu mengarah ke pemerkosaan, itu tidak ada," ungkap Channing. "Pakaian Alodita masih melekat dan hanya terbuka di bagian atas," lanjutnya.
Satria menghela napas lega. "Syukurlah."
"Ada satu bukti tambahan. Dua kancing bagian atas blus menghilang, dan ditemukan petugas polisi di kasur itu. Ada sidik jari Ramzi di kancing, baju, dan bagian depan tubuh Alodita," papar Bentley.
"Ada bagusnya juga Aditya langsung menggulung badan Alodita dengan selimut. Sidik jari Aditya cuma ada di selimut dan nggak bercampur dengan sidik jari Ramzi," beber Bentley.
Yoga menepuk pelan punggung junior binaannya. "Good job," bisiknya.
"Tapi, aku deg-degan," balas Aditya dengan suara pelan.
"Kenapa?"
"Dadanya kelihatan."
"Rezekimu."
Aditya meringis. "Justru itu bikin aku pusing."
"Dah, lupain. Nanti juga bisa puas lihat dan pegang punya istri."
"Haifa beneran mau sama aku?"
"Iya. Aku sama Leni sudah promosiin kamu habis-habisan." Yoga mengamati pria berkaus putih di sebelah kanannya. "Mana ada yang bisa nolak, setelah tahu kalau kamu direktur," selorohnya.
"Abang, nih. Harusnya bagian itu jangan disebut. Bilang aja, aku manajer operasional."
"Enggak boleh bohong. Dosa. Apalagi ini dilakukan supaya kamu dapat jodoh. Harus dipromosikan yang baiknya."
***
Sekelompok orang melintasi lorong salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Kota Vancouver. Kehadiran mereka menimbulkan rasa keingintahuan orang-orang di sekitar.
Mereka berhenti di depan area khusus kelas utama. Seorang pria paruh baya mendatangi mereka dan menyalami Benigno, Ethan dan Levin terlebih dahulu, sebelum beralih menyalami yang lainnya.
Keempat orang tersebut berbincang menggunakan bahasa Perancis yang fasih, kemudian kelompok itu diantarkan manajer operasional rumah sakit itu, ke ruang perawatan Ramzi.
Sang pasien terkejut menyaksikan beberapa pengusaha muda Indonesia hadir di ruangannya. Darius dan Nolan yang tengah berada di tempat itu, segera berdiri sembari menenangkan degup jantung mereka yang meningkat, akibat mengenali para tamu.
Benigno mengambil data pasien dari ujung ranjang dan membacanya dengan teliti. Benigno merupakan lulusan kedokteran, sebelum beralih menjadi pengusaha, untuk meneruskan pengelolaan perusahaan keluarganya.
"Kadar alkohol di tubuhmu tinggi sekali," tukas Benigno sembari duduk di kursi samping kiri ranjang. "Apa kamu memang hobi mabuk?" tanyanya sambil mengamati pria yang tengah duduk di kasur.
"Sedikit, Pak," cicit Ramzi. Dia tidak berani berbohong, karena tahu jika itu tercantum dalam berkasnya.
"Bubuk apa yang kamu taruh di minuman Alodita?"
"Ehm, itu cuma ... vitamin."
"Kamu pikir bisa ngibulin aku?" Benigno memelototi sang pasien. "Aku dokter dan tahu apa aja yang biasa dipakai para pengecut, kayak kamu!" geramnya.
"Sekarang, jawab yang jujur. Itu obat apa?" desak Benigno. "Jawab!" bentaknya yang mengejutkan Ramzi.
"Ehm, obat tidur."
Benigno melengos. "Kamu memang pengecut. Nggak ada pejantan tangguh yang akan memperkosa perempuan yang tengah tidur!"
Ramzi menelan ludah. Dia tidak berani membantah, karena yakin pasti akan kembali dimarahi. Ramzi menjengit ketika dagunya dipegangi seseorang, dan diarahkan ke kiri.
"Ini, hasil karya siapa?" tanya Alvaro sembari menunjuk memar di sepanjang rahang pasien.
"Aditya," jawab Ramzi.
"Yang ini?" Alvaro menekan tonjolan pipi kiri yang menyebabkan Ramzi meringis.
"Aku nggak tahu namanya. Antara dua ajudan itu."
"Yang tinggi, atau yang berkumis?"
"Berkumis."
"Lalu, ini?" Alvaro menunjuk lebam di tulang hidung.
"Yang tinggi."
Alvaro menjauhkan diri, lalu menatap Ramzi dengan intens. "Kamu bilang dikeroyok 3 orang, tapi, siapa yang mukul dan hasilnya apa, kamu ingat banget. Aneh."
"Aku, kalau dikeroyok lebih dari dua orang, nggak bakal ngeh siapa yang ninju atau tendang. Karena fokusku adalah menangkis dan balik nyerang."
Alvaro menatap tajam sang pasien. "Sekali lagi aku tanya. Siapa yang meninju rahangmu? Lalu, apa yang kamu lakukan untuk bertahan? Jelaskan."
Ramzi mengerjapkan mata. Dia kesulitan untuk menjawab pertanyaan pria blasteran itu. Ramzi kembali meneguk ludah, karena dia merasa terintimidasi oleh tatapan tajam komisaris 4 PB dan PBK tersebut.
Pintu terbuka dan beberapa orang memasuki ruangan. Ramzi terkesiap ketika Alodita lari mendekat dan langsung menamparnya dua kali. Kala gadis itu hendak memukul kembali, dia langsung dicekal Satria dan Ethan.
"Tahan, Ta," cetus Satria sembari menarik adiknya menjauhi Ramzi.
"Lepas, Kang! Biar aku bisa mukulin dia lagi!" jerit Alodita.
"Jangan biarkan dia menggunakan itu buat melaporkanmu," bisik Ethan.
"Ethan benar, Ta. Dia itu licik. Bisa saja dia akan mengambil kesempatan dari sini," cakap Levin yang turut menenangkan sang gadis.
"Baru ditampar Dita aja, kamu sudah bengong. Gimana kalau Akang dan adiknya yang memukulmu?" ledek Benigno.
"Dia pasti masang CCTV di hidung. Supaya hafal siapa yang mukul, dan di mana kena pukulannya," cibir Tio sembari mendekati ujung ranjang. "Kupikir kamu cocok jadi pemain sinetron. Bagian antagonis. Dipukul ke kiri, tapi lebamnya di kanan," celanya.
"Mas, tolong jangan bikin aku ngikik," canda Alvaro.
"Beneran, kan?" tanya Tio. Dia mengalihkan pandangan pada kedua rekan Ramzi. "Kalian, dikeroyok juga?" tanyanya.
"Enggak, Pak. Aku cuma berantem sama Aditya," jelas Darius.
"Abang. Dia lebih tua darimu."
"Ehm, ya."
"Lalu, kamu?" Tio menatap pria berambut ikal dengan intens.
"Aku juga berantem sama A ... ehh, Bang Aditya. Terus, aku jatuh ke lantai," lontar Nolan.
"Pingsan?"
"Enggak. Cuma pusing aja."
"Apa yang ditinju?"
"Bukan ditinju, tapi ditendang."
"Yang maju duluan, siapa?"
"Aku."
"Berarti Aditya cuma membalas."
"Ehm, ya."
"Ubah laporanmu. Karena di awal karanganmu itu disebutkan kalau Aditya yang nyerang lebih dulu." Tio menunjuk Darius. "Kamu juga, ubah kesaksian. Kalau nggak, aku akan membiarkan Larasati menuntutmu, karena kamu juga ngasih serbuk yang sama ke minumannya," tambahnya.
"Tapi, dia lebih kuat daripada Dita, dan Laras cuma pusing aja," papar Tio. "Dia nggak ngelaporin kamu, karena takut divisum juga. Tapi, kalau kamu nggak ubah keterangan, maka Laras akan maju buat melaporkanmu," pungkasnya yang menyebabkan nyali Darius menciut.
76*Fans Alvaro Handsome*Jauhari : Grup naon, iyeu, teh? Yoga : @Varo. Hobi banget bikin grup baru.Nanang : Hapeku langsung ngadat. Kebanyakan grup. Haryono : @Bule, aku keki baca nama grupnya! Ganti ke Fans HAPD. Jeffrey : Lebih rumit itu, @Mas Yono. Erni : Pelik. Qadry : Sulit. Zulfi : Aya deui grup anyar! Dimas : Anggotanya banyak dan dari semua lapisan. Gilang : Aku kaget. Kirain grup Power Rangers. Logonya sama.Yusuf : @Padre, usilnya kumat. Nugraha : Kacau ini si bule. Hisyam : Aku malah mikirnya, ini bukan Bang Varo yang bikin.Mardi : Sudah jelas dia yang jadi adminnya, @Hisyam.Hisyam : Ya, @Bang Mardi, tapi coba cek semua anggotanya. Sebagian besar adalah mantan asisten atau ajudan Padre.Chairil : Aku baru cek, dan itu benar, @Hisyam Jaka : Apakah hape Varo dibajak? Fawwaz : Dijambret? Salman : Dicuri? Gumelar : Dibegal? Satrio : Dirampok? Harun : Dipinjam? Said : Diperiksa Madre? Beni : Aku langsung deg-degan. Fajar : Aku sampai celingukan. Ngeri istr
75Awal pekan itu, Aditya dan tim telah berada di area proyek Toronto. Sebagai ketua pengawas sekaligus yang paling senior, Aditya mengarahkan semua junior. Terutama beberapa bos PCT dan PCE yang baru kali itu menjadi pengawas proyek luar negeri. Alodita yang ikut ke lokasi proyek, membaca semua detail keuangan buatan staf dari tim support, yang isinya adalah warga lokal. Alodita mengernyitkan kening, saat merasa ada yang tidak beres dengan laporan itu. Sebagai direktur keuangan Daryantha Company, Alodita sudah terbiasa membaca banyak laporan yang rumit. Hingga dia cukup hafal dengan berbagai trik para pencuri uang proyek, yang melampaui batas kewenangan mereka dalam memegang uang kas. Selama hampir 1 jam, Alodita memeriksa detail pengeluaran dari awal mula proyek itu dicanangkan tim pusat. Alodita mendengkus kesal, ketika menyadari celah kecil yang digunakan pencuri, guna mengambil dana proyek yang nyaris tidak terpantau. Alodita memanggil Yuniar dan membisikkan sesuatu. Sang bod
74 Waktu terus berjalan. Seusai beristirahat tiga hari di kediaman keluarga Janitra di tepi Kota Vancouver, Rabu pagi itu Aditya mengunjungi kantor cabang PB dan PBK di pusat kota tersebut. Aditya mengumpulkan semua staf dan ketua regu, guna mendengarkan berbagai hal tentang pekerjaan di seputar Kanada. Aditya mengangguk paham ketika Diaz dan rekan-rekannya membeberkan beberapa kendala, yang mereka hadapi di beberapa unit kerja PB, di mana mereka menjadi pengawasnya. Semua ajudan baru yang akan bertugas di sana, mencatat informasi penting yang disampaikan para senior. Pandu sempat berdiskusi dengan Diaz, untuk mencuri ilmu ketua pengawal lama tersebut. "Wakilmu, siapa, Du?" tanya Diaz, sesaat setelah rapat usai. "Harusnya Abang nanya ke Bang Adit. Aku nggak tahu siapa yang akan ditunjuk," terang Pandu. "Loh, belum ditentukan?" "Belum. Tim cenayang lagi sibuk di banyak proyek." "Tumben? Biasanya Bang W gercep." "Itu gara-gara Bang W nyerahin tugas memantau itu, ke Hisyam dan Q
73Kamis sore, kedua orang tua Alodita datang bersama Bahuraska. Disusul Syahban dan Natarina, hingga suasana kediaman Aditya sontak bertambah ramai. Menjelang magrib, ketiga Adik Aditya muncul sambil membawa banyak makanan yang dipesan sang abang. Natarina, Nerissa, Larasati, dan Yuniar, bergegas memindahkan aneka panganan ke banyak wadah makanan. Sedangkan Asmiratih, Nareswara dan Narapatih, bergantian mandi serta bertukar pakaian. Tepat seusai azan magrib, belasan orang itu menunaikan salat tiga rakaat di ruang tengah. Setelahnya, keenam perempuan itu berdiri dan beranjak menuju dapur, untuk menyiapkan minuman serta peralatan makan. Para lelaki bekerjasama mengemasi sajadah, lalu Narapati menumpuk semua sajadah itu di meja dalam kamarnya, yang berada di dekat ruang tengah. Keluarga tersebut mengambil ransum di meja makan, kemudian Aditya dan keempat adiknya berpindah ke sofa ruang tengah, sedangkan yang lainnya tetap di meja makan. "Bang, jadwal meeting TOPAZ, sudah ada?" tany
72 Kelompok pimpinan Chairil tiba di rumah duka di Purwakarta, sore menjelang magrib. Seusai bersalaman dan berbincang selama belasan menit, tim Utari dan anak-anak diantarkan sopir bus ke hotel di pusat kota. Aditya dan rekan-rekannya tetap bertahan di rumah almarhumah. Mereka bergantian mandi dan bertukar pakaian, lalu bergegas menuju masjid terdekat untuk menunaikan salat Magrib berjemaah. Seusai beribadah, puluhan pria itu kembali ke rumah keluarga Yoga. Para ajudan membantu menyiapkan acara takziah pertama, yang akan dilangsungkan ba'da Isya. Yoga memanggil para juniornya untuk bersantap malam. Mereka harus bergegas makan, karena sejumlah tamu yang akan mengikuti takziah telah datang, dan duduk di karpet bawah tenda besar yang dipasang menutupi area halaman, hingga jalan depan rumah. Selama puluhan menit berikutnya, Aditya terlihat khusyuk melantunkan ayat suci. Dia sempat menengadah kala mikrofon berpindah tangan dari Ustaz setempat, ke seseorang yang suaranya sangat dikena
71Angin laut malam itu yang cukup kencang, diabaikan Aditya dan Alodita yang tengah bersantai di teras belakang bungalo, yang mereka tempati sejak tiga hari silam. Pekikan Avreen dari cottage sebelah kiri, menjadikan Aditya dan Alodita serentak menoleh. Mereka kaget melihat bocah laki-laki terjun ke laut. Disusul Jauhari yang hendak menangkap putra sulungnya. Jeritan Qizar yang protes diangkat papinya menuju tangga, menyebabkan Aditya dan Alodita tersenyum. Keduanya tergelak, karena Qizar berhasil meloloskan diri dan kembali terjun ke laut. Beberapa bocah lainnya menyusul dari balkon bungalo masing-masing. Meskipun diteriaki para Bapak, tetapi Tazara, Ryker, Renze, Qizar, Yazdan, Pasaga, Fahrizal, dan Zifary, tetap berenang dengan gembira. Hanya Yatha yang tidak ikut rekan-rekannya berenang. Gadis kecil itu justru tengah sibuk makan bersama Widha, sambil menonton para bocah lainnya di lautan. "Gusti! Pening pala aing!" seru Hisyam yang menempati bungalo samping kanan. "Dek, nant







