LOGIN118 Aditya terhenyak, sesaat setelah mendengarkan penjelasan psikiater, yang telah menangani adiknya pada 2 jam lalu. Aditya merutuki dirinya yang kurang peka dengan suasana hati Asmiratih, hingga gadis itu lepas kendali tempo hari.Aditya akhirnya sadar, jika beberapa minggu terakhir Asmiratih memang sering dipergoki tengah melamun. Aditya ingat cerita istrinya, yang juga kesulitan mengorek informasi dari Asmiratih.Belasan menit terlewati. Aditya telah berada di mobil MPV putih yang dikemudikan Zikria. Aditya menimbang-nimbang sesaat dalam hati, sebelum memutuskan untuk menerangkan semuanya pada Zikria. Pria berkumis tipis itu telah menjadi sahabat Asmiratih sejak lama. Terutama, karena mereka sering bekerjasama untuk mengawal Vanetta, jika tengah syuting. Selain itu, Zikria yang cukup menguasai wilayah China, sering berkunjung ke negara itu dan bisa membantu Aditya dalam mengawasi adiknya, selama setahun ke depan."Abang nggak tahu, kalau dia pacaran sama cowok itu?" tanya Zikria
117*Tim PBK dan CJC* To Mu : Siapa yang punya ide naruh ular di dekat dedaunan? Harzan : Girish, @Koko To Mu. Jianzhen : Idenya bagus.Syafid : Kriminal itu.Chyou : yang ditaruh pun jenis ular berbisa. Lakhsyan : Kacau emang Girish. Yuze : Ular apa? Shen : Ular daun, yang hijau kecil itu. Xiuhuan : Ada berapa ekor? Yichen : 30, dan semuanya baru netas.Tang Jason : Dia pintar. Yang ditaruh itu telur, bukan anak ular. Rebecca : Tapi, hebat, loh. Girish bisa tahu kalau ular itu sudah mau netas. Zhu Hadwin : Dia pakar ular. Gwenyth ; Yoih. Lulusan Universitas Sydney. Sha Jun Hui : Baru ingat aku. Girish sempat tugas di sana 3 tahun.Hana : Dia itu pengendali ular. Donnie : Siluman ular. Asmiratih : Pacarnya Nyai Centini. Liu Bin : Harusnya yang ditaruh itu ular derik. Seng Esther : Mana ada ular derik di sini. Chen Wayne : Ada, tapi mahal. Xi Madison : Aku merinding.Chang Guo : Sini, @Maddie. Kupeluk, supaya hangat. Sha Guan Lin : Chang Guo, modus! Chao Gabby : Mes
116"Huang Miller!" seru Aditya. Pria yang disebut itu melengos. "Kenapa kamu terus yang jadi lawanku?" tanyanya. "Mungkin Tuhan ingin aku menghajarmu lagi." "Jangan mimpi! Kemampuanku sudah jauh lebih tinggi daripada dulu." "Yeah, aku pun begitu." Huang Miller menatap tajam pria yang diketahuinya sebagai direktur operasional PBK. "Apa kamu masih jadi kacung 4 klan?" celanya. "Aku tidak pernah jadi kacung. Mereka adalah keluargaku." Huang Miller berdecih. "Aku heran. Kenapa kamu bisa bertahan kerja sama orang-orang sombong itu?" "Aku juga heran. Kenapa kamu masih akrab sama orang-orang tolol, yang cuma memamerkan otot, tapi otaknya kosong?" "Kami tidak tolol! Kamu, Setan!" "Jangan memaki diri sendiri, Babi!" Huang Miller memelototi lelaki yang tengah berdiri tegak sembari memasang tampang selembe. Huang Miller mengangkat pedang di tangan kanannya, lalu menyerang Aditya sembari berteriak. Huang Miller kaget, ketika Aditya maju menyongsongnya dan meninju berulang kali. Belum
115Lembayung senja perlahan menghilang di garis cakrawala. Malam menjelang dengan kondisi langit yang gelap. Sekali-sekali terlihat petir di kejauhan, pertanda bila kemungkinan besar hujan akan segera turun.Aditya menengadah menatap langit. Dia berusaha menenangkan degup jantung yang menggila sejak tadi. Terutama saat mendengar informasi dari tim pengintai di radius 2 km dari area, yang menerangkan jika pasukan musuh mulai bergerak. Aditya mengalihkan pandangan ke sekeliling. Raut wajah tegang ditunjukkan semua orang di lobi utama gedung kantor. Seperti halnya Aditya, mereka juga cemas, karena mengetahui bila lawan yang akan dihadapi bukanlah preman biasa. Klan Ruan, Wang dan Jiang, telah membentuk aliansi baru. Jumlah pasukan mereka merupakan terbesar ketujuh di seluruh China, dan sebagian besarnya adalah para profesional. Tim CJC dan PBK sudah belasan kali berhadapan dengan kelompok itu, tetapi tetap saja mereka tidak bisa menganggap remeh lawan, karena pihak gangster memiliki
114 Ruang rapat Hotel CJC di Shanghai, siang itu dipenuhi banyak orang berseragam hitam dan biru. Mereka tengah mendengarkan strategi yang dipaparkan Zikria dalam bahasa Mandarin yang fasih.Pria berkulit putih itu tampak sangat tenang dalam memaparkan detail rencana yang dibuatnya bersama Deswin, Harzan, dan Girish. Zikria mempersilakan peserta rapat untuk bertanya, lalu dia menjawabnya dengan lugas. Setelah Zikria kembali menempati kursinya, Tang Jason berdiri dan berpindah ke dekat layar besar, yang memantulkan denah proyek hotel dan gedung perkantoran di wilayah Kunshan.Kota itu terletak di antara Shanghai dan Suzhou, serta merupakan kota industri maju. Proyek di tempat itu sejak awal memang sudah sering ditekan dari pihak triad, tetapi bisa dikendalikan para pengawas dan pihak keamanan gabungan CJC serta PB.Akan tetapi, seminggu lalu, sekelompok orang yang diduga merupakan anggota gangster lokal, mendatangi lokasi proyek guna memeras pengelola. Sempat terjadi perkelahian anta
113 Aditya meringis ketika Alodita memerintah Dante dengan santainya. Perempuan berkaus biru muda itu berulang kali menunjuk jambu yang diinginkannya, yang segera diambilkan Dante dengan galah. Selain sang pemilik rumah, Daiyan dan Radeya juga sibuk memetik mangga di pohon ujung kanan halaman. Sedangkan Yuniar dan Asmiratih, bertugas mencuci serta mengupas mangga dengan dibantu Edelweiss. Belasan menit terlewati. Kelompok kecil itu telah berpindah ke ruang tamu. Mereka menikmati rujak dan sambal buatan Edelweiss, yang tingkat kepedasannya telah disesuaikan. Tidak berselang lama, Yusuf, Jauhari dan Hisyam muncul. Disusul Harun, Sunardi, Gumelar dan Nanang. Para mantan ajudan Dante itu ikut merujak sambil berbincang tentang banyak hal. "Kapan kalian berangkat, Dit?" tanya Dante. "Senin malam, Pak," jawab Aditya. "Dita, ikut?" "Enggak. Dilarang Pak Ben, Kak Falea dan orang tua kami. Mereka ngeri Dita kenapa-kenapa. Apalagi unit proyek yang mau dikunjungi ini jauh dari pusat kota.
41Aditya tidak jadi melanjutkan ucapannya, karena pintu kamar dibuka dengan cara didorong keras. Ketiga bocah laki-laki memasuki kamar dan langsung mendekap Aditya, yang balas memeluk mereka, lalu menciumi pipi Renze, Qizar, dan Ryker, secara bergantian. Alodita mengulaskan senyuman saat Aditya m
40 Pagi menjelang dengan bunyi musik dari depan rumah, yang mengejutkan Alodita. Dia bangkit dari kasur, lalu jalan ke dekat jendela. Alodita melongok keluar dan seketika terperangah. Alodita berbalik dan jalan cepat ke toilet. Dia menunda mandi dan hanya menggosok gigi serta mencuci muka. Kemudi
43Langit sudah gelap sepenuhnya, ketika Aditya dan Alodita tiba di kediaman mereka. Alodita bergegas mandi di toilet kamar utama, sedangkan Aditya membersihkan diri di bilik mandi dekat dapur. Belasan menit berlalu, pasangan tersebut menunaikan ibadah salat Magrib. Setelahnya mereka tetap duduk u
46"Mohon maaf, Hadirin. Tim penari dan musik telah selesai perform," ungkap Akhtar. "Kita kasih kesempatan buat mereka untuk beristirahat," sahut Hana. "Betul. Mereka pasti kelelahan, karena pertunjukan tadi menghabiskan waktu lebih dari setengah jam," papar Akhtar. "Beneran waktunya segitu?"







