Share

Bab 12

Author: Olivia Yoyet
last update Last Updated: 2026-01-05 11:17:05

12

Hari berganti hari. Malam itu, Aditya telah berada di rumah orang tuanya di kawasan Ciledug, Tangerang. Pria berusia 35 tahun itu menerangkan keputusannya untuk menikahi Alodita.

Sesuai dugaan Aditya, Syahban dan Natarina, sama-sama terkejut dengan kabar itu. Keduanya saling menatap, sebelum kembali memandangi putra sulung mereka di kursi tunggal.

"Ayah bingung, Bang. Bukannya waktu itu, Abang bilang mau pendekatan dengan Haifa?" tanya Syahban.

"Ehm, sebetulnya waktu itu, aku dan Alodita sudah cukup dekat, tapi kami masih ragu-ragu buat mengungkapkan perasaan," terang Aditya, sesuai dengan skenario yang dibuat Jauhari, dan Wirya.

"Terus, gimana ceritanya bisa langsung mutusin buat nikah?" desak Syahban.

"Waktu dinas ke Bandung minggu lalu, kami janjian ketemuan. Aku nekat ngelamar dia. Tahunya, diterima. Lalu dia omongin tentang itu ke orang tuanya. Tiga hari lalu, aku dipanggil Pak Bahir, dan ternyata beliau minta pernikahan kami disegerakan."

Syahban menatap putra sulungnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 16

    16Aditya dan Alodita mencatat semua hal yang diucapkan Bahir. Sekali-sekali, Nerissa, Satria, dan Karenina, akan menimpali guna memberikan masukan. Sedangkan Bahuraska tetap diam sambil mengamati pasangan calon pengantin, yang duduk berdampingan di sofa sisi kanan. Bahuraska mengulum senyuman, saat mengingat ucapan pacarnya, Claire Banafri, tentang kemiripan paras Aditya dan Alodita. Bahuraska akhirnya mengakui jika perkataan kekasihnya itu benar. Seusai rapat keluarga, Bahuraska berdiri dan mengikuti langkah Satria serta Aditya, menuju teras depan, di mana Sofyan menunggu sejak tadi. "Yan, kita nginap. Besok pagi aku mau lihat gedung buat resepsi," ujar Aditya, seusai duduk di sebelah kanan anak buahnya. "Aku izin cari baju, ya, Bang. Buat besok, nggak ada," jelas Sofyan. "Aku punya baju baru, belum buka bungkus. Ukuran badan kita nggak beda jauh. Pasti muat ke Akang," sela Bahuraska. "Muhun, Kang. Tapi aku tetap mau nyari underwear," papar Sofyan. "Ada, Kang. Lengkap. Nggak p

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 15

    15Seunit mobil MPV biru tua meluncur di jalan raya bebas hambatan, siang menjelang sore itu. Di belakangnya, satu mobil sedan putih mengekori dari jarak aman. Aditya mendengarkan ocehan Alodita tanpa menyela sedikit pun. Aditya mempraktikkan tips dari teman-temannya. Yakni, dia harus menjadi pendengar dan tidak memberikan solusi tanpa diminta. Kendatipun itu berat, tetapi Aditya berusaha mengamalkannya. Pria berhidung bangir itu juga akhirnya menyadari, penyebab dirinya selalu gagal dalam membina hubungan di masa lalu. Yakni, karena dia kurang mendengarkan penuturan perempuan yang tengah didekati, kala itu.Aditya melirik Alodita yang telah berhenti mengoceh. Pria yang mengenakan t-shirt hijau tersebut menguatkan hatinya, agar bisa lebih sabar menghadapi Alodita yang sedikit perajuk dan manja. Aditya teringat ucapan Hisyam. Dia membandingkan Alodita dengan istri para sahabatnya, sebelum memahami, jika karakter Alodita merupakan perpaduan antara Utari yang manja, Naysila yang peraj

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 14

    14Niat Alodita untuk pulang ke Bandung malam itu, akhirnya dibatalkan. Hujan petir yang turun dari selepas magrib tadi, membuat banyak orang khawatir melepas Alodita pergi. Utari menghubungi Nerissa dan menerangkan situasi. Istri Hisyam itu juga berjanji untuk mengurus Alodita dengan baik. "Oke, beres. Mamamu sudah ngasih izin," cakap Utari sembari meletakkan ponselnya di meja. "Horee! Kita party!" seru Avreen, istri Jauhari. "Bapak-bapak, tolong diasuh dulu para bocah," pinta Naysila, istri Yusuf. "Kami mau ladies party di kamar tamu," ujar Yuli, istri Qadry. "Bocah-bocah, tolong jangan ganggu, ya. Bunda mau me time," seloroh Yuranita, istri Ibrahim. "Apa aja yang mau diangkut ke atas?" tanya Delissa, istri Chairil. "Bentar. Kuambil dulu di belakang," sahut Utari. "Kalian bawa banyak minuman aja. Supaya nggak bolak-balik ke bawah," lanjutnya, sebelum berdiri dan bergegas ke dapur. Para lelaki yang berada di ruang tamu, saling menatap sesaat, sebelum sama-sama mendengkus pela

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 13

    13Beberapa saat berikutnya, Alodita telah berada di kursi teras depan. Dia tidak berani mengajak Cheva masuk ke ruang tamu, karena khawatir Nerissa akan mengomelinya. "Kamu, kenapa ke sini?" tanya Alodita, setelah sekian menit tidak ada yang urun suara. "Aku baru dengar kabar, kalau kamu mau nikah. Itu beneran?" tanya Cheva. "Ya," sahut Alodita. "Kamu tahu dari siapa?" desaknya. "Thalita. Kami ketemu di mal, tadi sore." "Hmm, ya. Dia salah satu panitia dari GPCI." "Kata Thalita, calon suamimu itu, ajudan. Tapi, dia nggak nyebutin namanya, dan itu bikin aku penasaran.""Kamu kenal, kok, sama orangnya." "Siapa, Ta? Tolong jelaskan. Supaya aku nggak kepo terus." "Ngapain juga kamu kepo?" "Aku ... masih sayang sama kamu. Jadi, aku harus tahu, siapa orang yang berhasil mendapatkan restu orang tuamu. Hal yang nggak pernah bisa kudapatkan, selama setahun lebih kita pacaran." "Aku nggak mau jawab. Nanti kamu bisa lihat sendiri siapa orangnya." "Aku diundang juga?" Alodita terdiam

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 12

    12Hari berganti hari. Malam itu, Aditya telah berada di rumah orang tuanya di kawasan Ciledug, Tangerang. Pria berusia 35 tahun itu menerangkan keputusannya untuk menikahi Alodita. Sesuai dugaan Aditya, Syahban dan Natarina, sama-sama terkejut dengan kabar itu. Keduanya saling menatap, sebelum kembali memandangi putra sulung mereka di kursi tunggal. "Ayah bingung, Bang. Bukannya waktu itu, Abang bilang mau pendekatan dengan Haifa?" tanya Syahban. "Ehm, sebetulnya waktu itu, aku dan Alodita sudah cukup dekat, tapi kami masih ragu-ragu buat mengungkapkan perasaan," terang Aditya, sesuai dengan skenario yang dibuat Jauhari, dan Wirya. "Terus, gimana ceritanya bisa langsung mutusin buat nikah?" desak Syahban. "Waktu dinas ke Bandung minggu lalu, kami janjian ketemuan. Aku nekat ngelamar dia. Tahunya, diterima. Lalu dia omongin tentang itu ke orang tuanya. Tiga hari lalu, aku dipanggil Pak Bahir, dan ternyata beliau minta pernikahan kami disegerakan." Syahban menatap putra sulungnya

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 11

    11Matahari baru naik sepenggalah, tetapi ruang tamu di depan kamar perawatan Bahir, telah ramai orang. Alodita tengah mendengarkan percakapan Nerissa dan keempat tantenya. Alodita tidak bisa memprotes, ketika kelima perempuan tersebut sibuk menyiapkan detail acara pernikahannya. Alodita menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia mengajak Larasati untuk keluar dan jalan-jalan di seputar rumah sakit. Keduanya berhenti dan duduk di bangku taman yang menghadap ke kolam air mancur. Alodita mencurahkan kegundahan hatinya, sedangkan Larasati tetap diam dan mendengarkan ucapan sang nona. "Aku jadi nggak enak hati sama Bang Aditya," tutur Alodita. "Dia juga korban fitnah, dan pastinya terpaksa menikahiku," lanjutnya. "Mau gimana lagi, Kak? Nolak juga nggak bisa," sahut Larasati. "Ya. Aku takut Papa tambah parah kondisinya. Karena kata dokter, bisa saja sesak napasnya makin memburuk." "Kakak sudah ngobrol berdua sama Bang Adit?" "Belum. Aku lagi nunggu dia datang." "Dit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status