INICIAR SESIÓNNindiya menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Rasa sakitnya hendak dibeli dengan materi. Benteng kesabarannya runtuh. Ia memandang kedua mertuanya bergantian. "Saya tidak butuh mobil baru, Pa. Saya juga tidak butuh cabang butik baru. Saya hanya ingin bercerai," ucap Nindiya dingin. "Apakah Papa dan Mama tahu, apa yang dilakukan Mas Indra saat saya mengalami keguguran waktu itu?" Ruang keluarga itu mendadak hening mencekik. Indra yang duduk di samping Nindiya seketika memucat, menyembunyikan wajahnya yang pias. Ia tidak kepikiran Nindiya akan mengungkapkan semuanya. Nindiya menceritakan peristiwa waktu itu. Pak Ikram dan Bu Cahya terperanjat hebat. Mata Bu Cahya membelalak tak percaya, menatap putranya dengan napas tertahan. Saat kejadian keguguran itu, mereka berdua sedang fokus menjalankan ibadah umroh di Tanah Suci sehingga tidak tahu pasti apa yang terjadi pada Nindiya. Setelah kembali ke Indonesia, mereka hanya menemui Nindiya dan menghiburnya. Dipikir kesedihan Nin
Erni menghela napas berat. "Baiklah kalau begitu. Tolong hati-hati ya, Nin. Hubungi aku kalau ada apapun.""Iya. Terima kasih, Er."Setelah mematikan sambungan, Nindiya melangkah keluar dari unit apartemen. Indra yang bersandar di dinding koridor langsung menegakkan tubuhnya begitu melihat istrinya muncul. Tanpa bicara, Nindiya berjalan mendahului Indra menuju lift.Sepanjang perjalanan turun hingga menuju pelataran parkir, Indra sengaja membisu. Demi menjaga agar Nindiya tidak mendadak berubah pikiran atau melarikan diri, pria itu terus mengekor ketat di belakangnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hingga akhirnya mereka berdua masuk dan duduk di dalam mobil."Kamu tinggal di apartemen siapa?" tanya Indra setelah mereka dalam perjalanan."Teman," jawan Nindiya singkat.Darah Indra naik ke ubun-ubun kepala. Teman? Teman siapa yang dimaksud Nindiya? Khaisar kah?Bukankah kemarin ia melihat mobil laki-laki itu di seberang jalan apartemen. Meski terlihat sedang bersama rekan kerjanya,
AKAN KUTUNGGU- 23 Tak Akan Mundur"Grabfood." Terdengar sahutan samar dari balik pintu unit apartemennya. Suaranya tak seberapa jelas, tetapi Nindiya mendengar jawaban di tengah keheningan siang itu.Seketika ia berpikir bahwa Erni telah memesankan makanan untuknya. Tadi pagi, sahabatnya itu memang sempat mengantarkan sarapan sembari bilang kalau ia tidak bisa terlalu sering bolak-balik datang ke apartemen. Erni khawatir pergerakannya akan diikuti oleh Indra atau anak buahnya. Lagipula siang ini Erni juga sedang kerja.Tanpa curiga dan menunggu lama, Nindiya memutar kunci lalu membuka pintu. Namun alangkah terkejutnya saat mendapati sosok yang kini berdiri tegak di depan pintu. Bukan kurir pengantar makanan, melainkan Indra.Pria itu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kelelahan. "Akhirnya aku menemukanmu, Nin."Nindiya tidak ingin menunjukkan rasa kaget yang berlebihan, takut, atau khawatir. Ia bersikap tenang memandang pria itu. Tidak heran kalau Indra akhirnya bisa menemu
"Mas ... aku mendengar kabar kalau aku mau dipindahkan ke kantor cabang di Gresik," cicit Cinda di selang isakannya yang tersendat. "Kenapa tiba-tiba begini, Mas?"Indra terdiam sejenak. Rupanya sang papa tidak sekadar menggertak saat mengamuk di ruang kerjanya tadi. Tanpa menunggu besok atau lusa, keputusan memutus akses Cinda di kantor pusat langsung dieksekusi hari ini juga."Mas, sebenarnya ada apa?" desak Cinda lagi, suaranya meninggi menuntut penjelasan."Papa dan Mama sudah tahu," sahut Indra dingin. "Mereka tahu Nindiya mengajukan gugatan cerai. Dan mereka tahu kamu penyebab utamanya."Tangisan Cinda seketika pecah melengking di ujung sana. "Kenapa mereka bisa tahu? Apa kamu yang cerita ke Om?""Ya," jawab Indra dingin."Kenapa kamu tega, Mas? Bukankah dia pergi karena ulahmu sendiri?" Cinda berteriak di ujung telepon. Ia tidak terima."Kenapa kamu harus melibatkan aku dalam prahah rumah tangga kalian? Kenapa aku yang dikorbankan?""Karena kamu tidak pernah bisa menjaga mulutm
Tidak susah bagi Indra untuk mendapatkan foto-foto siapapun yang dekat dengan istrinya. Sebab di media sosial, mereka saling menandai postingan masing-masing. Meski Indra tak pernah dekat dengan orang-orang yang menjadi rekan Nindiya. "Pak, nggak salah ini kalau saya harus mengawasi Pak Khaisar juga?" Suara di ujung sana terdengar lirih karena ragu."Iya. Kenapa? Kamu takut?""Bu-bukan, Pak. Saya nggak takut. Khawatir Pak Indra salah sebut.""Saya tak salah sebut.""Baik, Pak. Akan kami kerjakan. Nanti ada info apapun langsung saya kabarkan."Indra mematikan panggilan lalu menghela nafas panjang. Ia tidak salah memberikan perintah. Memang benar, ia memasukkan Khaisar ke dalam orang-orang yang harus diawasi. Siapa tahu Nindiya bersamanya. Bukankah Khaisar masih mengharapkan mantan kekasihnya itu.Ingat hal itu, dada Indra terasa panas. "Kamu tidak akan bisa kembali padanya, Nindiya," desis Indra lirih dengan tatapan mata tajam keluar jendela kaca.🖤LS🖤Sepulang dari kantor, Indra ke
AKAN KUTUNGGU- 22 Tidak Main-main "Kamu dan Nindiya mau cerai?" tanya Pak Ikram dengan nada membentak seraya menarik kursi dengan kasar di hadapan meja kerja putranya. Pria paruh baya itu duduk sambil memandang Indra dengan tatapan tajam penuh amarah.Indra refleks menegakkan posisi duduknya. Keringat dingin mulai membasahi pelipis. "Jelaskan pada Papa, ada masalah apa sebenarnya dengan kalian?" cecar Pak Ikram, dadanya naik turun menahan gumpalan kekecewaan."Tiba-tiba saja ada surat gugatan begini. Jadi beneran rumor yang Papa dengar, kamu masih punya hubungan diam-diam dengan Cinda? Kalian bukan cuma ketemuan untuk urusan pekerjaan, tapi kencan."Mendengar ucapan papanya, Indra terpaku. Bingung dan kehabisan kata-kata untuk menjawab. Ia sama sekali belum siap jika orang tuanya memergoki prahara ini sekarang. Niat hatinya ingin menutupi masalah ini sembari berusaha menemukan keberadaan Nindiya, tapi sang papa yang mendadak masuk ke ruangannya telah menemukan surat panggilan sidang







