LOGINJangan sampai demi Nindiya, kalian nanti cekcok," tutur Bu Mira pada Erni sore itu."Nggak, Bu. Mas Tino ngerti kok.""Kamu pulang saja. Biar Ibu yang jagain Nindiya. Besok pagi Nila sampai di Surabaya. Nanti ada yang bantu jagai Nin.""Terus Ayah di rumah sama siapa, Bu?""Ditemani Pak Prapto."Akhirnya Erni menelepon suaminya supaya tidak menyusul ke rumah sakit, karena ia hendak pulang.Bu Mira juga sangat pengertian dan tidak enak hati pada pasangan suami istri itu. Dia pernah muda, tahu apa yang dibutuhkan pasangan yang belum lama menikah. Sepuluh menit setelah bersiap, Erni pamitan pada Nindiya dan Bu Mira. Sebelumnya ia juga memberitahu kalau nantinya akan ada dokter spesialis syaraf yang akan merawat Nindiya. Hal yang membuat Bu Mira tambah penasaran. "Er, siapa yang membayar untuk perawatannya Nin?""Dia orang baik. Ibu nggak usah khawatir. Yang penting Nindiya sembuh, ya. Percayalah sama saya, Bu."Baru juga selesai bicara, pintu kamar diketuk dari luar. Saat pintu terkuak
Saat berada di lorong luar yang lengang, Khaisar menghentikan langkah dan membalikkan badan."Er, kalau ada perkembangan apa pun soal kesehatannya tolong langsung kabari aku," pesan Khaisar dengan nada pelan. "Aku sudah mencarikan Dokter Spesialis Saraf terbaik di kota ini. Beliau yang akan menangani Nindiya sampai pulih. Aku yang akan membayar semuanya.""Mas, terima kasih banyak. Semoga Nindiya lekas sembuh," jawab Erni gugup penuh haru. Khaisar menarik napas dalam-dalam. Matanya memerah. "Bagaimana dengan sopir taksi yang kecelakaan bareng Nin?""Beliau nggak apa-apa. Hanya luka ringan dan sudah pulang kemarin. Soal mobilnya sudah diurusi oleh Indra.""Ini bukan kecelakaan biasa, Er. Kamu tidak merasa seperti itu?""Iya. Menurutku ini disengaja, Mas. Ada yang ingin mencelakakan Nindiya. Tapi siapa? Kalau Indra rasanya tidak mungkin. Dia sangat terpukul saat tahu kondisi Nindiya.""Aku akan menyelidikinya." Tatapan Khaisar menerawang jauh ke langit siang.Keduanya diam beberapa saa
AKAN KUTUNGGU- 30 Pengorbanan Saat pintu kamar perlahan terbuka, dua pasang mata seketika bertaut. Dada Khaisar dan Nindiya bergemuruh hebat. Erni yang membukakan pintu juga mematung tercekat.Akhirnya Khaisar bisa masuk ke kamarnya Nindiya. Sebab untuk membesuk pasien VIP harus laporan dulu pada petugas resepsionis di lobi kamar VIP. Aturan khusus untuk ruangan itu tidak sama seperti kamar perawatan kelas lainnya.Khaisar melepas kacamata cokelatnya lantas melangkah makin mendekat ke sisi ranjang. Wajah tampannya tertekuk lesu, memancarkan rasa sedih yang tak mampu ditutupi lagi. Namun di atas bantal putih, paras pucat Nindiya justru mengulas senyum tipis yang begitu hangat."Kamu bisa mengingatku?" tanya Khaisar."Iya, Pak Khai."Jawaban sederhana itu seketika menghantam dada Khaisar. Pria itu terhenyak beberapa saat di tempatnya berdiri. Pak Khai. Sebutan formal dan berjarak itu adalah sapaan yang dulu Nindiya pakai ketika masih menjadi mahasiswi magang di kantornya. Sebelum takd
"Ed, aku pamit keluar sebentar," ucap Khaisar. "Aku pergi naik taksi."Edi kaget. Kenapa bosnya mau naik taksi. Padahal mobilnya ada di basement. "Kamu mau ke mana? Jangan bilang kamu hendak ke rumah sakit.""Iya, aku mau ke sana," jawab Khaisar jujur.Dahi Edi mengernyit tajam. "Kamu bilang tadi kalau proses cerainya Nindiya belum kelar, Bro. Kamu jangan cari masalah. Kalau papa dan mamamu tahu bisa murka. Kalau sampai ada wartawan atau orangnya Indra yang ngelihat, bisa panjang urusannya. Ingat, Khai. Nindiya bahkan belum memulai menjalani masa Iddahnya." Edi benar-benar khawatir. Khaisar mendekatkan wajahnya dan berbisik pada Edi. "Anggap saja aku menyambagi seorang teman. Aku akan hati-hati dan tahu resikonya. Aku tidak akan lama di sana. Cuma kamu yang tahu soal hal ini." Keputusan Khaisar tak lagi bisa digoyahkan."Katanya dia mengalami amnesia retrograd. Belum tentu Nindiya ingat kamu, Bro.""Aku tak peduli." Jawaban Khaisar yang membuat Edi hanya geleng-geleng kepala. Bosnya
Di sudut ruangan, Erni begitu geram pada Indra. Namun ia mati-matian menahan diri agar tak menunjukkan sikap emosi di depan Nindiya. Dalam hati, Erni sangat berharap saat ingatan Nindiya pulih nanti, kenangan manis di masa lalulah yang muncul pertama kali, bukan pengkhianatan menyakitkan dari pria ini.Sore berganti malam. Usai azan Maghrib berkumandang dari masjid tak jauh dari rumah sakit, Erni langsung berdiri dan menghampiri Indra. "Mas, kamu pulang saja sekarang," tegas Erni.Awalnya Indra enggan beranjak. Namun Erni menarik lengannya sedikit memaksa hingga mereka keluar pintu."Berbuat sewajarnya saja, Mas. Nggak usah berlebihan," bisik Erni yang mungkin ini terdengar kejam. "Sikapmu yang seperti ini cuma bakal bikin Nindiya makin curiga dan banyak pikiran. Kasihan dia, jika yang diingat pertama kalinya adalah rasa sakitnya."Indra menarik napas panjang. Rasa pedih menusuk hati. "Siapa yang memindahkan Nindiya ke ruang VIP ini, Mbak? Kemarin Ibu menolak tawaranku.""Kakaknya Nin
AKAN KUTUNGGU- 29 Sebentar Saja "Tolong jangan dipindahin dulu anak saya, Sus. Ini pasti ada kesalahan," cegah Bu Mira pada dua perawat yang bersiap-siap hendak memindahkan Nindiya. Suster yang bertugas tersenyum ramah seraya meneliti kembali lembar dokumen di tangannya. "Tidak ada yang salah, Bu. Pasien atas nama Ibu Nindiya Adhiswari memang mendapatkan upgrade fasilitas ruang VIP penuh dari program khusus rumah sakit kami."Bu Mira menggeleng keras, raut wajahnya diliputi kecurigaan. Ia bukan wanita bodoh. Jadi paham betul bagaimana sistem rumah sakit bekerja, ia tahu fasilitas mewah semacam itu tak mungkin jatuh begitu saja pada pasien biasa seperti putrinya."Tolong tunggu sebentar, Sus. Saya mau menelepon dulu," ujar Bu Mira tergesa seraya melangkah menjauh. Di atas brankar, Nindiya hanya diam membisu dengan pandangan polos, sama sekali tidak paham dengan kegaduhan di sekitarnya.Panggilan Bu Mira langsung diangkat oleh Erni di seberang sana."Er, ini kenapa Nindiya mau dipin







