Home / Romansa / AKAN KUTUNGGU / 53. Tak Akan Mundur 3

Share

53. Tak Akan Mundur 3

last update publish date: 2026-09-21 13:44:19
Nindiya menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Rasa sakitnya hendak dibeli dengan materi. Benteng kesabarannya runtuh. Ia memandang kedua mertuanya bergantian. "Saya tidak butuh mobil baru, Pa. Saya juga tidak butuh cabang butik baru. Saya hanya ingin bercerai," ucap Nindiya dingin. "Apakah Papa dan Mama tahu, apa yang dilakukan Mas Indra saat saya mengalami keguguran waktu itu?"

Ruang keluarga itu mendadak hening mencekik. Indra yang duduk di samping Nindiya seketika memucat, menye
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (61)
goodnovel comment avatar
Ria Nur
Ayo Nin,,,buruan pulang
goodnovel comment avatar
Min Yesi
si Indra manipulatif bngt jadi laki
goodnovel comment avatar
Lis Susanawati
xixixixixixi, tenang tenang
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • AKAN KUTUNGGU   147. Double Kill 3

    "Mama tahu kan, aku mabuk dikit saja kayak orang mati. Mana mungkin aku bisa melakukan hal itu."Mendengar kronologi yang sebenarnya meluncur dari mulut Indra, Bu Cahya mematung. Air matanya tertahan."Apa kamu nggak ngecek dirimu sendiri, ada bekas apa gitu setelah kamu terbangun?" Tanpa malu Bu Cahya menanyakannya. Jelas saja yang ia maksud adalah belas sperm."Aku tidak kepikiran hal itu, Ma. Aku panik."Bu Cahya mendesis jengkel campur murka. "Tapi Cinda bilang, kamu merasa bersalah karena telah merusak keperawanannya," bisik Bu Cahya parau, mencoba mencerna benang kusut di hadapannya.Indra terkekeh sinis, tawa pahit yang sarat akan penyesalan mendalam. "Itu omong kosong Cinda, Ma. Dia sengaja membuat cerita itu untuk mengikatku. Membuatku takut dengan ancamannya dan khawatir Nindiya tahu. Makanya aku baikin dia agar tak membuka rahasia itu pada Nindiya. Aku baru sadar sekarang kalau dia manfaatin aku, Ma."Napas Indra terengah. Kebenaran pahit yang selama ini ia kubur rapat-rapa

  • AKAN KUTUNGGU   146. Double Kill 2

    Ternyata Bu Juliana sudah menyelidiki keberadaan Nindiya. Ia menyuruh orang untuk mencari tahu tentang keluarga wanita itu. Namun para tetangga hanya bilang, mereka ke Bangka. Sebab yang kebetulan mereka ketahui Nindiya pun berangkat menyusui ke Bangka setelah beberapa hari Pak Tirto dan Bu Mira pergi. Orang yang ditanya itu tidak tahu Nindiya kerja di mana, terus pas Nindiya pulang beberapa hari ke rumah, tetangganya juga tidak sempat melihatnya. Sebab setelah pulang kerja, Nindiya juga langsung diam masuk rumah. Lantas diajak Khaisar pindah ke apartemen.Bu Juliana menghela nafas panjang. Kemudian memejam. Ia tak akan rela, Khaisar kembali bersama Nindiya. Khaisar bisa mendapatkan perawan mana pun, bukan janda. Apalagi itu Nindiya.🖤LS🖤Tiga hari berlalu. Pengakuan panas Cinda terus berputar di kepala Bu Cahya. Tak sabar untuk mendengarkan penjelasan dari putranya. Begitu mendengar kabar dari sekretaris bahwa Indra baru saja mendarat di Surabaya sore tadi dan langsung pulang ke r

  • AKAN KUTUNGGU   145. Double Kill 1

    AKAN KUTUNGGU- 54 Double Kill "Honey, kamu resign saja. Fokus sama kehamilanmu dan tinggal di apartemen ini. Kamu bisa sambil mendesain agar tak bosan, kalau lelah tinggal istirahat," kata Khaisar lembut setelah mereka kembali duduk di atas pembaringan.Nindiya terdiam sejenak. Jemarinya masih menggenggam erat stik kecil yang menjadi saksi kebahagiaan mereka. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya sebelum ia mengangguk pelan. "Iya, aku akan selesaikan urusan pekerjaanku di kantor dulu. Setelah semua transisinya kelar, baru aku mengajukan berhenti kerja, Mas."Khaisar menghela napas lega, lalu merengkuh bahu istrinya. "Oke. Besok, kita harus periksa ke dokter kandungan."Mendengar kata dokter, raut wajah Nindiya mendadak berubah ragu. Ia menoleh cepat menatap suaminya. "Tapi kita mau periksa di mana yang aman dan nggak bakal kepergok siapa pun, Mas? Aku belum siap kalau kehamilan ini ketahuan sekarang."Biarlah kehamilanku melewati trimester pertama dulu, masa-masa yang paling rawan

  • AKAN KUTUNGGU   144. Testpack 3

    Bu Cahya mematung kaku di kursinya. Garpu di tangannya bergetar pelan. Pengakuan Cinda benar-benar membuat kepalanya mendadak pening dan dadanya dihimpit rasa sesak yang luar biasa. Makanan yang baru saja mendarat di mejanya terasa begitu hambar dan sangat sulit untuk ditelan.Namun di tengah badai guncangan batinnya, sebuah bisikan nurani di dalam hati Bu Cahya menolak untuk percaya begitu saja pada raut memelasnya Cinda. Ia mengenal betul watak keponakannya ini. Itulah kenapa ia dan sang suami tak pernah merestui Indra ada hubungan khusus dengan Cinda."Aku nggak boleh langsung menelan mentah-mentah ucapan Cinda," batin Bu Cahya berbisik tegas dan mencoba menguasai ketenangannya kembali. Ia harus menanyakan langsung kenyataan ini pada Indra.Sayangnya niat itu harus tertahan. Indra saat ini sedang berada di Jakarta untuk mengurus agenda bisnis. Dan putranya itu baru dijadwalkan pulang ke Surabaya tiga hari lagi. Tiga hari yang dipastikan akan menjadi hari-hari paling menyiksa dan pe

  • AKAN KUTUNGGU   143. Testpack 2

    Cinda bergegas mengambil tas tangannya dan mengekor dari samping. Dadanya berdebar liar, bergemuruh oleh cemas yang tak menentu. Ada apa ini? Kenapa budenya tiba-tiba datang dan mengajaknya makan? Batinnya gelisah.Sejak perselingkuhannya dengan Indra terbongkar dan memicu keretakan rumah tangga putranya itu, Bu Cahya menarik garis batas yang teramat tegas. Wanita itu sengaja menjauh, enggan berdekatan apalagi berbincang hangat seperti dulu dengan sang ponakan. Padahal sebelum hubungan mereka tercium, Bu Cahya lumayan dekat dengan Cinda.Di dalam rumah makan ber-AC yang berada persis di seberang jalan depan kantor, keduanya mengambil tempat duduk di sudut. Agar percakapan tidak terusik pengunjung lain. Usai memesan dua porsi makanan dan minuman pada pelayan, suasana di meja itu kembali diselimuti ketegangan yang dingin.Bu Cahya melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Cinda tajam. "Bude mau tanya. Kenapa kamu belakangan ini sering sekali menemui Indra?"Pertanyaan itu meluncur

  • AKAN KUTUNGGU   142. Testpack 1

    AKAN KUTUNGGU- 53 Testpack "Honey, kamu sudah berangkat kerja?" suara berat Khaisar menyapa lembut begitu sambungan telepon terhubung."Belum, Mas. Apa Mas sudah sampai kantor?""Sudah. Sebentar lagi ada meeting pagi ini," jawab Khaisar dari seberang sana. "Baru saja Manto menelepon Mas, katanya kamu belum turun.""Iya. Ini baru mau siap-siap," jawab Nindiya dengan nada yang diatur sedemikian rupa agar terdengar biasa saja.Sebenarnya ia sempat berniat menceritakan kondisi tubuhnya yang terasa kurang fit sejak pagi. Namun ia mengurungkan niat itu. Jika memberitahu sekarang, suaminya yang posesif itu pasti akan langsung meninggalkan kantor dan meluncur ke apartemen. Apalagi sudah tiga hari ini mereka tidak bertemu."Ya sudah kalau begitu, nanti kita ngobrol lagi, Mas," pamit Nindiya cepat."Oke, Honey. Hati-hati di jalan," balas Khaisar sebelum sambungan itu terputus.Nindiya menghela napas panjang. Ia segera merogoh ponselnya kembali untuk menghubungi nomor Manto."Halo, Mas Manto.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status