登入AKAN KUTUNGGU
- 7 Konsultasi "Net, saya pulang duluan ya. Mau mampir bengkel untuk benahi mobil." Jam dua sore itu Nindiya keluar ruangannya dan menemui Nety di meja kasir. "Nanti Mbak Nindi pulang naik apa? Di luar sudah mulai gerimis." Gadis itu memandang bosnya. "Saya bisa naik taksi." "Hati-hati, Mbak." Nindiya mengangguk. Kemudian melangkah cepat ke arah mobilnya. Jarak butik dan bengkel langganannya sekitar empat kilometer. Di sana ia disambut mekanik yang sudah mengenalnya. Kemudian mereka berbincang sejenak mengenai perbaikan, setelah itu Nindiya langsung pamit pulang. Wanita itu berlari kecil ke arah halte bus kota. Di sana ada beberapa orang yang menunggu bus. Sedangkan Nindiya masih diam. Nanti kalau ada bus yang lewat, ia naik kendaraan itu. Jika tidak ada baru memesan taksi. Ia duduk paling pinggir di bangku besi. Termenung sambil memperhatikan lalu lalang kendaraan. Pikirannya hampa. Yang tersisa hanya rasa perih. Lantas ia mengambil ponsel untuk menelepon seseorang. "Halo," suara wanita di seberang. "Bu, ada waktu?" "Datanglah ke sini, Mbak Nin." Ah, suara itu begitu lembut. "Iya, Bu." Tanpa menunggu lama, ia bangkit dari duduknya lalu menyetop taksi yang masih di kejauhan. Nindiya menyebut sebuah alamat yang belakangan ini sering ia datangi. Di lingkungan perkantoran elite. Saat muncul di depan kantor, seorang wanita setengah baya menyambutnya dengan senyum ramah. "Ayo, masuklah?" Nindiya mengangguk. Ia masuk ruangan setelah melepaskan sepatunya. Kemudian duduk di sofa empuk. Wanita usia setengah baya itu membuka kulkas dan meletakkan air mineral dingin di meja depan Nindiya. "Diminum." "Makasih, Bu." Dibukanya botol dan minum beberapa teguk. "Kamu dari butik?" "Dari bengkel nganterin mobil yang ketabrak kemarin." Wanita yang bernama Bu Marwa itu menghela napas panjang. Lantas memandang Nindiya dalam-dalam. "Bagaimana? Ada perubahan?" "Kadang saya bisa bodo amat, terkadang juga saya tetap merasakan sakit. Apa saya harus mengakhirinya sekarang, Bu. Tapi dengan alasan apa? Nggak ada bukti dia selingkuh. Semuanya berkedok sebagai saudara sepupu. Saya nggak bisa melawannya, Bu. Dia nggak akan terima dikalahkan. Pasti ada alasan untuk menang." Bu Marwa diam beberapa saat. "Mbak Nin, kalau Mbak terus fokus mencari bukti kalau dia salah. Mbak, akan kehabisan tenaga. Karena permainannya dia yang pegang. Bener, nggak? Dia mengelak dan mengendalikan semuanya. Dan perempuan itu sepertinya bisa jaga jarak dan tahu apa yang dilakukan supaya Mbak nggak curiga." "Ya." "Jadi menurut saya, Mbak juga imbangi dengan sikap cerdik. Dia cuek, Mbak cuek. Lelaki akan tertantang kalau awalnya dipedulikan, diperhatikan, sekarang dibiarkan. Membangun karir, jaga harga diri, siap-siap untuk mandiri. Perempuan harus punya pintu darurat supaya kamu kuat. Baik secara mental maupun finansial. "Artinya Mbak sudah nyiapin buat tidak tumbang di dalam hubungan itu. Mau pergi atau bertahan, itu keputusan Mbak nanti. Jika bertahan tetap dengan harga diri, kalau pun akhirnya memutuskan pergi, Mbak tidak hancur dan bisa melangkah dengan pasti. "Sayangi dirimu, jangan biarkan stres itu menguasaimu. Mbak Nindi, masih mencintainya?" Hening. Nindiya terdiam. Perih menusuk dadanya. Ada sesuatu yang rumit, yang tak bisa diceritakan pada wanita di hadapannya itu. Seharusnya ia cerita saja, tapi tak bisa. Masalahnya sekarang hanya antara dirinya, sang suami, dan wanita itu. Nindiya hanya ingin mempertahankan rumah tangganya kalau bisa. Tapi apa ia masih kuat? "Cari waktu yang tepat dan ajak suami bicara, Mbak." "Sudah beberapa kali, Bu. Jawabannya tetap sama. Saya yang berlebihan. Cemburu buta pada saudara yang seharusnya saya kasihani. Dia bilang, sesama perempuan saya nggak punya empati. Terlebih wanita itu mendapatkan kekerasan secara verbal dari mantan suaminya. "Saya disuruh mengerti. Dan dia tidak sadar apa yang telah dilakukan pada istrinya sendiri. Saya harus mengerti saudaranya, sedangkan dia nggak peduli bagaimana hati saya." "Untuk sekarang kontrol diri kamu sendiri. Seperti yang saya bilang di awal tadi. Bersikap bodo amat. Dia yang mengajari nggak peduli, kamu juga lakukan hal itu. Sebab kamu sudah cukup mengalah dalam hubungan kalian. "Jika butuh sesuatu untuk kepentingan bersama, minta saja sama dia. Mbak Nin ini bukan pelayan, tapi pasangan hidupnya. Wajar kalau meminta atau menuntut sesuatu hal. Termasuk menuntut perhatian dan melarangnya menjauhi sepupunya itu." Nindiya tersenyum getir. "Saya sudah nggak mengeluh atau meminta apapun, Bu. Saya atasi kesulitan saya sendiri semenjak kejadian malam itu. Waktu ada orang gila membuat saya ketakutan dan dia menganggap saya terlalu cengeng." Bu Marwa manggut-manggut dan memperhatikan kliennya. Untuk sekarang ini ia paham kalau Nindiya hanya ingin didengarkan saja. Mencari teman yang mau mendengarkan isi hatinya. Sebab wanita itu sepertinya belum punya keputusan. Bertahan atau cerai. Beberapa saat kemudian Nindiya pamitan. "Sudah gerimis, Mbak Nin," ujar Bu Marwa sambil memandang langit kelabu. "Nggak apa-apa, Bu. Saya akan naik taksi di depan. Saya pamit, Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam." Nindiya melangkah di trotoar. Melewati gedung-gedung perkantoran. Di jalan itu tidak ada kendaraan umum yang lewat. Di sana jalan buntu. Khusus wilayah perkantoran elite. Tanpa Nindiya sadari, ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak ia keluar dari tempat praktek seorang psikolog. Di balik kaca sebuah kantor, pandangan Khaisar mengikuti langkah Nindiya. Relasi bisnis yang duduk ngobrol dengannya terlihat heran. "Pak, ada apa?" Lelaki itu ikut memperhatikan keluar. "Maaf, saya tinggal sebentar." Tanpa menjawab, Khaisar pamit keluar dan menelepon asisten pribadinya yang belum kembali dari bank. "Nang, kamu di mana?" "Ini sudah mau sampai kantor, Pak." Khaisar memandang ke arah ujung jalan. Tampak mobilnya yang dikendarai asisten pribadinya melaju lambat. "Kamu jangan kembali dulu. Tolong awasi perempuan yang mengenakan blazer hitam." Yang berjalan di trotoar." "Mbak Nindiya, Pak." Anang langsung mengenali wanita yang melangkah beseberangan dengan dirinya. "Iya. Tolong awasi dia pulang naik apa. Setelah memastikan dia aman, kamu kembali ke sini." "Siap, Pak." Khaisar mematikan panggilan sambil memandang wanita yang melangkah kian menjauh. Nindiya tidak membawa mobil. Apa mobilnya diperbaiki setelah srempetan pagi itu? Pria itu kembali masuk ke kantor untuk bertemu relasinya. Ia minta maaf karena meninggalkan percakapan mereka. Tidak lama kemudian Anang kembali. Pria itu memandang bosnya dan memberikan isyarat dengan jempol. Khaisar menatap sekilas dan ia tahu semuanya baik-baik saja. 🖤LS🖤 Khaisar yang tengah duduk di sudut restoran menoleh saat pintu kaca itu terbuka. Tatapannya bentrok dengan mata lelaki yang masuk ruangan bersama seorang wanita. Indra tampak kaget sejenak. Lalu menyeringai samar tapi sinis melihat Khaisar yang menatapnya tajam. Aroma permusuhan terbaca di antara mereka. Next ...."Oke. Aku ke kantor dulu." Erni memeluk Nindiya. Kemudian meninggalkan sahabatnya di lobi. Sebab Nindiya menunggu pengacaranya.Jarak seperempat jam, Nindiya menerima telepon dari Billy. Pengacara itu sudah menunggunya di depan. "Iya, Pak. Saya ke depan."Nindiya meraih tasnya, kemudian keluar lobi. Pria tampan berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu tersenyum ramah dan mempersilakan Nindiya masuk ke mobilnya. "Saya di belakang saja, Pak.""Oke, Mbak." Billy tersenyum.Sepanjang perjalanan sampai mereka duduk menunggu jadwal sidang, Nindiya menceritakan semua yang terjadi kemarin. Pengacara berkacamata itu mendengar dengan penuh perhatian. Ia mencerna setiap kejadian yang bisa dijadikan senjata untuk melawan pihak tergugat jika mereka ingin mempersulit proses.Saat Nindiya dan pengacaranya masuk ke ruang sidang, Indra dan pengacaranya tergesa menyusul. Mereka hampir terlambat datang. Majelis hakim langsung membuka sidang pagi itu. Pertama memastikan identitas para pihak itu benar-
Namun bagi jiwa yang menjalani belum tentu cocok, meski di mata orang lain mereka berdua sepadan.Mobil akhirnya berhenti di depan gedung menjulang milik PT Cahaya Gemilang. Amara bersiap turun, merapikan tali tas di pundaknya seraya menggenggam erat kresek makanan."Mas, thanks sudah ditraktir makan siang." Amara mengangkat bungkus nasinya."Sama-sama," balas Khaisar pendek."Lain kali biar aku yang ganti bayarin. Nggak boleh ditolak pokoknya," ujar Amara yang disambut tawa pendeknya Khaisar.Kemudian Amara turun. Setelah gadis itu melambaikan tangan dan melangkahkan kakinya memasuki lobi gedung. Khaisar kembali memutar kemudi. Pria itu menginjak pedal gas, membawa kendaraannya melaju membelah padatnya jalan raya menuju kantornya. Dengan pikiran yang masih tertinggal pada senyuman tipis Nindiya yang penuh luka di kasir tadi.🖤LS🖤Indra mematung lama di depan pintu unit apartemen yang didatanginya tadi siang. Berkali-kali mengetuk pintu, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Lorong itu
"Oke, setuju." Amara mengangguk. "Tapi aku langsung pulang ke kantorku saja, Mas.""Berarti nanti aku langsung mengantarmu?""Yess." Amara memandang Khaisar sambil tersenyum.Khaisar menjalankan mobilnya. Ia sengaja melintas perlahan tepat di samping sedan silver misterius itu. Hanya dalam hitungan detik, memori Khaisar yang tajam sudah merekam tiap digit pelat nomor kendaraan itu. Tangan kanannya mengendalikan kemudi, sedangkan tangan kirinya meraih ponsel yang tadi di taruh di console box. Lantas ia mengetikkan barisan angka dan huruf pelat nomor untuk dikirimkan kepada anak buahnya."Siap, Bos." Pesannya langsung dibalas.Di tengah laju kendaraan membelah arus jalanan, Khaisar melirik sekilas pada Amara. "Kamu mau makan apa siang ini?""Nasi rames saja deh, Mas. Yang praktis," sahut Amara ringkas."Oke."Tak berselang lama, mobil itu berbelok menepi di pelataran sebuah restoran prasmanan yang ramai pengunjung. Khaisar mematikan mesin lalu turun. Ia mengekor di belakang Amara yang s
AKAN KUTUNGGU- 24 Sidang "Kamu mau ke mana?" panggil Indra dengan raut kaget begitu melihat Nindiya mendadak bangkit dari duduknya seraya menyambar tali tas di atas meja."Aku pergi dulu. Kita bertemu besok di pengadilan, Mas," sahut Nindiya dingin tanpa menatapnya.Wanita itu membalikkan badan lalu melangkah cepat meninggalkan ruang keluarga menuju ruang tamu. Di sana ia menghampiri Pak Ikram dan Bu Cahya yang sedang berbincang dengan relasi bisnis penting yang berkunjung.Nindiya tersenyum sopan, mencium tangan kedua mertuanya untuk berpamitan. "Ma, Pa, saya pamit dulu," ucap Nindiya pelan.Pak Ikram dan Bu Cahya terpaku. Mereka tak bisa menahan atau membujuk Nindiya lebih jauh demi menjaga wibawa di hadapan tamu terhormat mereka. Nindiya juga menyalami tamu mertuanya dengan ramah, lalu bergegas melangkah keluar melewati pintu utama.Indra yang panik menyusul ke ruang depan. Namun sang relasi langsung menyapa dan mengulurkan tangan begitu melihatnya. "Wah, Mas Indra juga di rumah.
Nindiya menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Rasa sakitnya hendak dibeli dengan materi. Benteng kesabarannya runtuh. Ia memandang kedua mertuanya bergantian. "Saya tidak butuh mobil baru, Pa. Saya juga tidak butuh cabang butik baru. Saya hanya ingin bercerai," ucap Nindiya dingin. "Apakah Papa dan Mama tahu, apa yang dilakukan Mas Indra saat saya mengalami keguguran waktu itu?" Ruang keluarga itu mendadak hening mencekik. Indra yang duduk di samping Nindiya seketika memucat, menyembunyikan wajahnya yang pias. Ia tidak kepikiran Nindiya akan mengungkapkan semuanya. Nindiya menceritakan peristiwa waktu itu. Pak Ikram dan Bu Cahya terperanjat hebat. Mata Bu Cahya membelalak tak percaya, menatap putranya dengan napas tertahan. Saat kejadian keguguran itu, mereka berdua sedang fokus menjalankan ibadah umroh di Tanah Suci sehingga tidak tahu pasti apa yang terjadi pada Nindiya. Setelah kembali ke Indonesia, mereka hanya menemui Nindiya dan menghiburnya. Dipikir kesedihan Nin
Erni menghela napas berat. "Baiklah kalau begitu. Tolong hati-hati ya, Nin. Hubungi aku kalau ada apapun.""Iya. Terima kasih, Er."Setelah mematikan sambungan, Nindiya melangkah keluar dari unit apartemen. Indra yang bersandar di dinding koridor langsung menegakkan tubuhnya begitu melihat istrinya muncul. Tanpa bicara, Nindiya berjalan mendahului Indra menuju lift.Sepanjang perjalanan turun hingga menuju pelataran parkir, Indra sengaja membisu. Demi menjaga agar Nindiya tidak mendadak berubah pikiran atau melarikan diri, pria itu terus mengekor ketat di belakangnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hingga akhirnya mereka berdua masuk dan duduk di dalam mobil."Kamu tinggal di apartemen siapa?" tanya Indra setelah mereka dalam perjalanan."Teman," jawan Nindiya singkat.Darah Indra naik ke ubun-ubun kepala. Teman? Teman siapa yang dimaksud Nindiya? Khaisar kah?Bukankah kemarin ia melihat mobil laki-laki itu di seberang jalan apartemen. Meski terlihat sedang bersama rekan kerjanya,







