INICIAR SESIÓNAKAN KUTUNGGU
- 6 Keguguran "Nin, kasih tahu aku." Suara besar dan berat itu terdengar di seberang. Memaksa Nindiya untuk bicara. Khaisar terdengar tak sabar karena penasaran. Nindiya menarik napas panjang, lalu menyudahi panggilan. "Ya sudah, Mas. Makasih banyak karena bantuannya untuk ayahku kemarin." "Nin ...." Wanita itu menutup panggilan. Dalam hitungan detik, Khai menelepon balik. Dengan hati perih, Nindiya mem-blokir nomer itu. Kemudian tergesa masuk ke butik dan memberikan ponsel pada karyawannya. "Maafkan aku," ujarnya dalam hati. Nindiya duduk di ruangannya dengan perasaan campur aduk. Ia tidak ingin lagi bertemu Khaisar kalau bisa. Namun ada saja momen yang membuatnya kembali harus bicara dengan pria itu. Pria yang pernah menjadi kekasihnya selama lima tahun. Pria yang berusaha melindungi dan memperjuangkannya. Nindiya menarik napas panjang sambil bersandar pada kursi. Perih merayap ulu hati. Hingga lamunannya dikejutkan oleh suara panggilan masuk dari suaminya. Nindiya menghela napas panjang. "Halo." "Kamu di mana?" Suara Indra terdengar serak. "Aku di butik." "Kenapa nggak bangunin aku tadi. Aku tidak ngantor hari ini. Tiba-tiba badanku menggigil lagi." "Kupikir kamu sudah baik-baik saja, Mas. Mengingat tadi malam Mas spontan pergi setelah mendapatkan telepon. Padahal tubuhmu sedang demam." "Nin, Cinda sendirian di apartemen dan ...." "Iya. Sudah, ya. Mas, segera sarapan dan minum obat. Aku banyak kerjaan di butik. Nanti aku bilang sama Buk Sum untuk bikinin sup ayam." Selesai bicara, Nindiya langsung mematikan ponselnya. Seketika itu air mata tak bisa ditahan lagi. Merambat turun di pipinya. Disaat dia butuh suaminya, Indra sibuk dengan wanita yang disebut sebagai sepupu. Giliran Indra sakit, pria itu sibuk mencari perhatiannya. Sebab sang suami kalau sakit seperti anak kecil, manja, harus diperhatikan, sudah seperti orang tak berdaya saja. Sebelum ini, Nindiya selalu memprioritaskan sang suami jika sakit. Ditunggu seharian di kamar. Dielus, dipeluk, dilandeni dengan sabar. Namun sekarang Indra harus tahu, istri juga punya batas kesabaran dan toleransi sendiri. Sejak Cinda dirasakan seolah menjadi prioritas utama bagi Indra. Dada Nindiya terasa sesak saat ingat suatu malam. Ketika ia sendirian di rumah. Lalu tiba-tiba pendarahan. Indra sedang ada urusan kerja di Jakarta. Sambil menahan sakit yang begitu hebat, Nindiya tertatih keluar rumah jam sembilan malam. Dia duduk bersimpuh di depan gerbang pagar sambil menunggu taksi yang dipesannya datang. Saat itu darah sudah membasahi rok yang dipakainya. "Tolong, Pak." Ia melambaikan tangan pada sopir taksi yang masih di mobil. Laki-laki setengah baya itu langsung keluar dan berlari menghampiri. "Mbak, kenapa?" tanya si bapak panik dan bingung. Pikirannya sudah ke mana-mana. Dia tidak ingin terseret pada permasalahan besar jika wanita itu ternyata sedang dalam konflik keluarga. "Pak, tolong antarkan saya ke rumah sakit. Saya hamil dan sedang pendarahan. Saya sendirian di rumah. Suami saya di Jakarta," jawab Nindiya dengan suara bergetar dan napas tertahan. Sebab sedang menahan sakit yang tak terkira. Sopir itu untungnya langsung percaya. Ia membimbing Nindiya masuk ke taksinya. "Pak, jangan khawatir. Saya akan membayar lebih karena sudah mengotori taksinya Bapak," ucap Nindiya dengan lemas dan suara terengah-engah. Nindiya nyaris pingsan saat sampai di rumah sakit. Bapak sopir menghentikan kendaraannya tepat di depan ruang IGD. Beberapa perawat yang berjaga malam itu langsung berlari memberikan pertolongan. Si bapak masih menunggu hingga Nindiya benar-benar bisa diajak ngomong. Dan saat itu sudah jam sebelas malam. Ia sangat prihatin melihat penumpangnya begitu terpukul karena kehilangan janin dalam kandungannya. "Sabar ya, Mbak." "Makasih banyak ya, Pak. Sudah nolongin saya." "Apa Mbak nggak punya kerabat di Surabaya ini? Yang bisa dihubungi untuk menjaga Mbak. Dalam kondisi seperti ini, jelas Mbak nggak bisa apa-apa sendiri." Nindiya menggeleng. "Saya nggak apa-apa sendirian, Pak. Mungkin besok sudah pulih. Nanti saya telepon suami saya." "Baiklah, kalau begitu saya tinggal pulang ya, Mbak. Saya turut prihatin karena Mbak keguguran." "Makasih banyak, Pak." Kemudian Nindiya meminta nomer rekening bapak itu. Tak lama sejumlah uang sudah ditransfer. "Kenapa banyak sekali, Mbak?" Laki-laki itu kaget dengan jumlah nominal yang dikirim oleh Nindiya. "Nggak apa-apa. Bapak, harus bersihin jok mobil, kan?" "Makasih, Mbak. Semoga Mbak lekas pulih. Kalau begitu saya pamit ya, Mbak." Nindiya mengangguk sambil tersenyum samar. Setelah bapak itu pergi, seorang perawat membantu Nindiya pindah ke kamar perawatan. Malam itu Nindiya benar-benar sendirian. Hatinya hancur, sedih, dan remuk rasanya. Sakit badan, pedih dalam hati juga. Beban terberat seorang perempuan bukan yang dipikul dibahunya, tatapi yang disembunyikan di dalam hatinya. Pesan yang dikirimkan pada Indra tidak dibuka. Ia hendak mengabari Erni, tapi ini sudah malam dan sahabatnya itu juga punya anak bayi. Mengabari ibu hanya akan membuatnya semakin bingung dan khawatir. Sedangkan mertuanya masih umroh. Paginya ia menelepon Nety dan gadis itu langsung ke rumah sakit. Nety yang menemani dan mengurus semuanya. Kemudian Erni datang membawakan makanan dan pakaian. Lalu Indra? Sang suami baru membuka pesannya sudah jam delapan pagi. "Nin, bagaimana, Nin? Maaf aku baru buka pesanmu." Indra menelepon dengan suara panik. Saat itu Nindiya yang sangat kecewa masih diam mematung. Padahal tadi pagi aplikasi pesan suaminya sudah dibuka. Terlihat jam berapa dia terakhir online. Indra selalu menganggap pesan dari istrinya tidak penting. Jadi sering dibuka telat. "Nin, bagaimana bayi kita? Keadaanmu bagaimana?" Indra kembali mencecar pertanyaan. Sebab Nindiya hanya mengetik pesan singkat, memberitahu kalau dia sedang pendarahan dan sudah di rumah sakit. "Sudah nggak ada," jawab Nindiya lemah. "Apa?" Suara Indra meninggi karena kaget. Suasana hening sejenak. "Kamu bagaimana? Biar kusuruh asistenku untuk mengurusi di rumah sakit. Kutelepon Duma sekarang." "Nggak perlu. Ada Nety yang sudah mengurusiku. Sudah, Mas. Aku mau istirahat." Nindiya langsung menyudahi panggilan. Tidak lama kemudian Indra menelepon Nety. Entah bicara apa, Nindiya tak menghiraukan. Indra memang terlihat peduli, tapi dia baru pulang ke Surabaya keesokan paginya. Ternyata pekerjaan lebih penting dari istri yang mengalami keguguran. "Maafkan, aku baru bisa pulang. Aku benar-benar minta maaf." Indra bicara seakan begitu menyesal. Namun Nindiya hanya diam menahan pedihnya kehilangan. Mengingat kenangan itu, Nindiya menghela napas panjang. Jika bayi itu bertahan, mungkin sekarang dia sedang menggendong anaknya. Next ....Khaisar menghela nafas panjang. Ia berdiri sambil mondar-mandir di kamarnya. "Aku dan Amara sepakat hanya berteman, Ma.""Mau sampai kapan?" Tatapan Bu Juliana berubah tajam. "Jangan kau katakan kamu masih memikirkan perempuan yang sudah mengkhianatimu.""Aku sudah melupakannya," jawab Khaisar datar sambil memandang keluar dari pintu kaca balkon yang masih terbuka. Bu Juliana menghela napas panjang, menyabarkan hatinya. "Pertimbangan lagi. Amara gadis yang baik. Walaupun kamu menunggu Nindiya, dia nggak akan kembali padamu. Dia sudah menikah. Apakah kamu akan menunggu bekasnya orang? Kamu sangat berharga, Khai." Selesai bicara, Bu Juliana meninggalkan kamar putranya.Dan Khaisar kembali ke balkon untuk meneruskan merokok.🖤LS🖤Akhirnya Nindiya mendapatkan kosan atas bantuan pengacaranya. Khusus kosan putri yang tidak boleh sembarang orang masuk tanpa izin. Hari itu ia bertemu dengan sang kakak di rumah orang tuanya. Nindiya duduk berdua di kamar bersama Nila."Kapan sidang keduamu
Baru saja masuk kamar hotel dan merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang, ponsel Nindiya bergetar panjang. Ibunya menelepon. Nindiya menarik napas dalam-dalam sebelum menggeser tombol hijau."Halo, Assalamu'alaikum, Bu." sapa Nindiya, berusaha menata suaranya agar tetap terdengar tegar."Wa'alaikumsalam, Nin. Kamu sudah pulang ke apartemen?""Ya, Bu. Baru masuk kamar.""Bagaimana sidang pertamamu hari ini?" tanya Bu Mira di seberang sana, suaranya dipenuhi nada cemas seorang ibu.Nindiya menghembuskan napas pelan lalu menceritakan semuanya. Tentang proses mediasi yang berakhir gagal karena ia keukeuh pada keputusannya, hingga jalannya persidangan yang akan berlanjut ke tahap berikutnya.Bu Mira menghela napas panjang, mengerti betul beban sang putri. "Ibu paham, Nin. Kalau memang ini jalan terbaik, Ibu cuma bisa berdoa supaya kamu diberi kekuatan. Tetap kuat ya, Nak. Oh iya, kapan kamu mau pulang ke rumah?"Nindiya mengusap sudut matanya yang terasa hangat. "Nanti aku cari waktu
AKAN KUTUNGGU- 25 Ingin Bertahan "Ada lagi yang perlu dibahas, Mas? Bukankah semuanya sudah jelas tadi." Nindiya berkata tenang sambil memandang suaminya tanpa rasa gentar.Indra melirik sekilas pada pria berkacamata di sebelahnya Nindiya. Indra tahu dari pengacaranya tadi, siapa sosok muda di hadapannya itu. Dia pengacara yang sedang naik daun. Hampir tak pernah kalah dalam memenangkan perkara yang ditanganinya."Masih ada kesempatan untuk kita membicarakannya lagi," paksa Indra dengan tatapan penuh harap.Nindiya menggeleng samar. "Kamu tahu, Mas. Di antara semua rasa sakitku, ada satu yang benar-benar membuatku sangat kecewa dan marah. Saat aku kehilangan calon anakku. Sopir taksi itu yang justru punya hati menolongku sampai benar-benar ditangani dokter. Aku ke rumah sakit tanpa keluarga, hanya ditemani bapak tua itu. Beliau mengabaikan beberapa panggilan pelanggan demi menolong wanita yang nggak berdaya. Saat itu kamu di mana? Saat janin yang baru berusia delapan minggu itu gugu
"Oke. Aku ke kantor dulu." Erni memeluk Nindiya. Kemudian meninggalkan sahabatnya di lobi. Sebab Nindiya menunggu pengacaranya.Jarak seperempat jam, Nindiya menerima telepon dari Billy. Pengacara itu sudah menunggunya di depan. "Iya, Pak. Saya ke depan."Nindiya meraih tasnya, kemudian keluar lobi. Pria tampan berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu tersenyum ramah dan mempersilakan Nindiya masuk ke mobilnya. "Saya di belakang saja, Pak.""Oke, Mbak." Billy tersenyum.Sepanjang perjalanan sampai mereka duduk menunggu jadwal sidang, Nindiya menceritakan semua yang terjadi kemarin. Pengacara berkacamata itu mendengar dengan penuh perhatian. Ia mencerna setiap kejadian yang bisa dijadikan senjata untuk melawan pihak tergugat jika mereka ingin mempersulit proses.Saat Nindiya dan pengacaranya masuk ke ruang sidang, Indra dan pengacaranya tergesa menyusul. Mereka hampir terlambat datang. Majelis hakim langsung membuka sidang pagi itu. Pertama memastikan identitas para pihak itu benar-
Namun bagi jiwa yang menjalani belum tentu cocok, meski di mata orang lain mereka berdua sepadan.Mobil akhirnya berhenti di depan gedung menjulang milik PT Cahaya Gemilang. Amara bersiap turun, merapikan tali tas di pundaknya seraya menggenggam erat kresek makanan."Mas, thanks sudah ditraktir makan siang." Amara mengangkat bungkus nasinya."Sama-sama," balas Khaisar pendek."Lain kali biar aku yang ganti bayarin. Nggak boleh ditolak pokoknya," ujar Amara yang disambut tawa pendeknya Khaisar.Kemudian Amara turun. Setelah gadis itu melambaikan tangan dan melangkahkan kakinya memasuki lobi gedung. Khaisar kembali memutar kemudi. Pria itu menginjak pedal gas, membawa kendaraannya melaju membelah padatnya jalan raya menuju kantornya. Dengan pikiran yang masih tertinggal pada senyuman tipis Nindiya yang penuh luka di kasir tadi.🖤LS🖤Indra mematung lama di depan pintu unit apartemen yang didatanginya tadi siang. Berkali-kali mengetuk pintu, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Lorong itu
"Oke, setuju." Amara mengangguk. "Tapi aku langsung pulang ke kantorku saja, Mas.""Berarti nanti aku langsung mengantarmu?""Yess." Amara memandang Khaisar sambil tersenyum.Khaisar menjalankan mobilnya. Ia sengaja melintas perlahan tepat di samping sedan silver misterius itu. Hanya dalam hitungan detik, memori Khaisar yang tajam sudah merekam tiap digit pelat nomor kendaraan itu. Tangan kanannya mengendalikan kemudi, sedangkan tangan kirinya meraih ponsel yang tadi di taruh di console box. Lantas ia mengetikkan barisan angka dan huruf pelat nomor untuk dikirimkan kepada anak buahnya."Siap, Bos." Pesannya langsung dibalas.Di tengah laju kendaraan membelah arus jalanan, Khaisar melirik sekilas pada Amara. "Kamu mau makan apa siang ini?""Nasi rames saja deh, Mas. Yang praktis," sahut Amara ringkas."Oke."Tak berselang lama, mobil itu berbelok menepi di pelataran sebuah restoran prasmanan yang ramai pengunjung. Khaisar mematikan mesin lalu turun. Ia mengekor di belakang Amara yang s







