FAZER LOGIN"Oke. Aku ke kantor dulu." Erni memeluk Nindiya. Kemudian meninggalkan sahabatnya di lobi. Sebab Nindiya menunggu pengacaranya.Jarak seperempat jam, Nindiya menerima telepon dari Billy. Pengacara itu sudah menunggunya di depan. "Iya, Pak. Saya ke depan."Nindiya meraih tasnya, kemudian keluar lobi. Pria tampan berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu tersenyum ramah dan mempersilakan Nindiya masuk ke mobilnya. "Saya di belakang saja, Pak.""Oke, Mbak." Billy tersenyum.Sepanjang perjalanan sampai mereka duduk menunggu jadwal sidang, Nindiya menceritakan semua yang terjadi kemarin. Pengacara berkacamata itu mendengar dengan penuh perhatian. Ia mencerna setiap kejadian yang bisa dijadikan senjata untuk melawan pihak tergugat jika mereka ingin mempersulit proses.Saat Nindiya dan pengacaranya masuk ke ruang sidang, Indra dan pengacaranya tergesa menyusul. Mereka hampir terlambat datang. Majelis hakim langsung membuka sidang pagi itu. Pertama memastikan identitas para pihak itu benar-
Namun bagi jiwa yang menjalani belum tentu cocok, meski di mata orang lain mereka berdua sepadan.Mobil akhirnya berhenti di depan gedung menjulang milik PT Cahaya Gemilang. Amara bersiap turun, merapikan tali tas di pundaknya seraya menggenggam erat kresek makanan."Mas, thanks sudah ditraktir makan siang." Amara mengangkat bungkus nasinya."Sama-sama," balas Khaisar pendek."Lain kali biar aku yang ganti bayarin. Nggak boleh ditolak pokoknya," ujar Amara yang disambut tawa pendeknya Khaisar.Kemudian Amara turun. Setelah gadis itu melambaikan tangan dan melangkahkan kakinya memasuki lobi gedung. Khaisar kembali memutar kemudi. Pria itu menginjak pedal gas, membawa kendaraannya melaju membelah padatnya jalan raya menuju kantornya. Dengan pikiran yang masih tertinggal pada senyuman tipis Nindiya yang penuh luka di kasir tadi.🖤LS🖤Indra mematung lama di depan pintu unit apartemen yang didatanginya tadi siang. Berkali-kali mengetuk pintu, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Lorong itu
"Oke, setuju." Amara mengangguk. "Tapi aku langsung pulang ke kantorku saja, Mas.""Berarti nanti aku langsung mengantarmu?""Yess." Amara memandang Khaisar sambil tersenyum.Khaisar menjalankan mobilnya. Ia sengaja melintas perlahan tepat di samping sedan silver misterius itu. Hanya dalam hitungan detik, memori Khaisar yang tajam sudah merekam tiap digit pelat nomor kendaraan itu. Tangan kanannya mengendalikan kemudi, sedangkan tangan kirinya meraih ponsel yang tadi di taruh di console box. Lantas ia mengetikkan barisan angka dan huruf pelat nomor untuk dikirimkan kepada anak buahnya."Siap, Bos." Pesannya langsung dibalas.Di tengah laju kendaraan membelah arus jalanan, Khaisar melirik sekilas pada Amara. "Kamu mau makan apa siang ini?""Nasi rames saja deh, Mas. Yang praktis," sahut Amara ringkas."Oke."Tak berselang lama, mobil itu berbelok menepi di pelataran sebuah restoran prasmanan yang ramai pengunjung. Khaisar mematikan mesin lalu turun. Ia mengekor di belakang Amara yang s
AKAN KUTUNGGU- 24 Sidang "Kamu mau ke mana?" panggil Indra dengan raut kaget begitu melihat Nindiya mendadak bangkit dari duduknya seraya menyambar tali tas di atas meja."Aku pergi dulu. Kita bertemu besok di pengadilan, Mas," sahut Nindiya dingin tanpa menatapnya.Wanita itu membalikkan badan lalu melangkah cepat meninggalkan ruang keluarga menuju ruang tamu. Di sana ia menghampiri Pak Ikram dan Bu Cahya yang sedang berbincang dengan relasi bisnis penting yang berkunjung.Nindiya tersenyum sopan, mencium tangan kedua mertuanya untuk berpamitan. "Ma, Pa, saya pamit dulu," ucap Nindiya pelan.Pak Ikram dan Bu Cahya terpaku. Mereka tak bisa menahan atau membujuk Nindiya lebih jauh demi menjaga wibawa di hadapan tamu terhormat mereka. Nindiya juga menyalami tamu mertuanya dengan ramah, lalu bergegas melangkah keluar melewati pintu utama.Indra yang panik menyusul ke ruang depan. Namun sang relasi langsung menyapa dan mengulurkan tangan begitu melihatnya. "Wah, Mas Indra juga di rumah.
Nindiya menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Rasa sakitnya hendak dibeli dengan materi. Benteng kesabarannya runtuh. Ia memandang kedua mertuanya bergantian. "Saya tidak butuh mobil baru, Pa. Saya juga tidak butuh cabang butik baru. Saya hanya ingin bercerai," ucap Nindiya dingin. "Apakah Papa dan Mama tahu, apa yang dilakukan Mas Indra saat saya mengalami keguguran waktu itu?" Ruang keluarga itu mendadak hening mencekik. Indra yang duduk di samping Nindiya seketika memucat, menyembunyikan wajahnya yang pias. Ia tidak kepikiran Nindiya akan mengungkapkan semuanya. Nindiya menceritakan peristiwa waktu itu. Pak Ikram dan Bu Cahya terperanjat hebat. Mata Bu Cahya membelalak tak percaya, menatap putranya dengan napas tertahan. Saat kejadian keguguran itu, mereka berdua sedang fokus menjalankan ibadah umroh di Tanah Suci sehingga tidak tahu pasti apa yang terjadi pada Nindiya. Setelah kembali ke Indonesia, mereka hanya menemui Nindiya dan menghiburnya. Dipikir kesedihan Nin
Erni menghela napas berat. "Baiklah kalau begitu. Tolong hati-hati ya, Nin. Hubungi aku kalau ada apapun.""Iya. Terima kasih, Er."Setelah mematikan sambungan, Nindiya melangkah keluar dari unit apartemen. Indra yang bersandar di dinding koridor langsung menegakkan tubuhnya begitu melihat istrinya muncul. Tanpa bicara, Nindiya berjalan mendahului Indra menuju lift.Sepanjang perjalanan turun hingga menuju pelataran parkir, Indra sengaja membisu. Demi menjaga agar Nindiya tidak mendadak berubah pikiran atau melarikan diri, pria itu terus mengekor ketat di belakangnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hingga akhirnya mereka berdua masuk dan duduk di dalam mobil."Kamu tinggal di apartemen siapa?" tanya Indra setelah mereka dalam perjalanan."Teman," jawan Nindiya singkat.Darah Indra naik ke ubun-ubun kepala. Teman? Teman siapa yang dimaksud Nindiya? Khaisar kah?Bukankah kemarin ia melihat mobil laki-laki itu di seberang jalan apartemen. Meski terlihat sedang bersama rekan kerjanya,







