Home / Romansa / AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG / Bab 1 Takdir yang Menghancurkan Segalanya

Share

AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG
AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG
Author: Lyren Kael

Bab 1 Takdir yang Menghancurkan Segalanya

Author: Lyren Kael
last update Last Updated: 2025-10-15 02:30:41

Ravika memandangi hasil test pack di tangannya seperti surat panggilan takdir, setelah seminggu terakhir ia sering mual muntah. Dua garis merah. DUA... GARIS... MERAH... Tertera jelas.

"Ya Tuhan..."

Untuk sepersekian detik, dunia seperti kehilangan gravitasi, melayang tanpa jangkar. Suara kipas angin berisik seakan berhenti, bunyi motor lewat seolah diterbangkan, dan jantungnya... hampir menolak kerja.

Ayahnya paham lebih dulu sebelum ia sempat menyusun kata-katanya.

Marno, lelaki yang biasanya pulang sore dengan bau semen dan debu proyek, berdiri di ambang pintu rumah petak dengan wajah yang bukan hanya marah ke anak semata wayangnya, tapi juga... patah berkeping.

“Ini… apa?” suaranya pecah, bergetar, lontaran pertanyaan yang ia sendiri tak mau dengar jawabannya.

Ravika tak bisa menyembunyikan apa pun. Tangannya gemetar di pangkuan duduknya.

“Ayah…”

“Dari siapa?!”

Pekik tertahan pertanyaan itu lebih seperti palu godam daripada kata-kata.

Ravika menggigit bibirnya sampai terasa asinnya darah. Nama itu berputar di kepalanya, nama yang tak berani ia ucapkan, nama yang masih membawa hangat sekaligus pedih. Nayottama. Lelaki yang dua bulan lalu diwisuda, sebelum benteng status sosial dan dunia yang terlalu timpang memisahkan cinta mereka secara paksa.

“Ayah nggak perlu tahu,” ucap Ravika dengan suara lirih yang bahkan ia sendiri hampir tak dengar.

Marno meremas rambut di kepalanya yang memutih.

“Ravika! Anak siapa?!”

Nada itu bukan cuma marah, tapi juga refleksi ketakutan. Takut kehilangan wibawa sebagai orang tua, takut omongan tetangga, takut masa depan anaknya hancur.

Ravika justru menggenggam test pack lebih kuat.

“Anak orang yang aku cintai, Yah.”

Kalimat itu malah bikin Marno tersentak, seperti BBM yang disiram ke bara api.

“Cinta? Kamu pikir cinta bisa bayar beras? Bisa bikin kamu nggak dikatain orang kampung?! Kamu itu perempuan, Naaakk...!”

Ravika memotong, tanpa teriak, tapi tegas. “Aku betul perempuan, Yah, bukan barang. Dan aku yang tanggung semuanya.”

Marno menatapnya, rahangnya tegang. “Kuliahmu? Beasiswamu? Kerja keras kamu selama ini? Buat apa kalau ujungnya begini?!”

“Buat hidup...” jawab Ravika cepat dan tegas. Tapi suaranya tetap gemetar. “Buat jalan hidup yang aku pilih.”

Marno membalikkan badannya, menendang kursi plastik di depannya sampai mental hancur di dinding.

BRAAKKK!!!

“Kamu bikin malu ayah!”

Ravika berdiri, lalu mundur satu langkah, tapi bukan kabur. Dadanya naik turun cepat.

“Aku juga malu, Ayah. Tapi aku lebih malu kalau buang darah dagingku sendiri.”

Kata-kata itu membelah amarah Marno jadi serpihan kecil.

Marno berhenti. Seperti seseorang yang baru kena hantaman di bagian yang paling rapuh. Bahunya yang kaku turun perlahan, napas tersengalnya melemah.

“Jadi kamu pilih anak itu… daripada masa depanmu?” suaranya serak, nadanya menurun.

Ravika mengangkat wajahnya. Ada ketakutan, itu pasti. Tapi ada sesuatu yang lebih keras daripada takut.

“Aku pilih keduanya, Yah,” jawab Ravika. “Tapi kalau Ayah cuma bisa nerima salah satu… aku pilih anak ini.”

Kalimat itu seperti air yang akhirnya menyurutkan bara api. Marno terdiam, menutupi wajahnya yang kusut dengan kedua tangannya yang belepotan adukan semen. Napasnya berat, seperti setiap tarikan adalah perlawanan terhadap kenyataan di depannya.

Tapi ia tidak langsung luluh. Ia lalu hanya duduk di lantai, punggungnya menyandar ke dinding bercat kusam yang mengelupas, seolah tulang-tulangnya mendadak lembek. Tangannya masih menutupi wajahnya.

“Ayah capek, Vik…” katanya pelan, sedikit pecah. “Ayah cuma takut kamu hidup susah kayak Ayah.”

Ravika perlahan mendekat, tapi tetap jaga jaraknya.

"Mungkin aku akan hidup susah, Yah. Tapi aku akan tetap hidup. Dan aku punya alasan untuk terus jalan demi anak ini.”

Marno menggeleng-gelengkan kepala kecil, suaranya berat. Ia belum seratus persen menerima kenyataan pahit ini.

“Kalau kamu mati-matian mau lahirin anak ini… Ayah...Ayah nggak akan tega suruh kamu pergi, Nak. Kamu milik Ayah satu-satunya.”

Ravika menahan napasnya. Sudut matanya mengembun.

“Tapi jangan minta Ayah senyum dulu,” sambungnya. “Ayah perlu waktu.”

Ravika mengangguk, bulir air matanya akhirnya jatuh, bukan karena penuh kelegaan, tapi setengahnya saja sudah cukup untuk membuatnya berdiri tegak.

Di titik itulah, tanpa kata manis, Marno akhirnya luluh, bukan karena ia setuju, tapi karena ia sadar anaknya tak lagi bisa dibenturkan agar berubah. Nasi sudah menjadi bubur. Dunia sudah memilih jalannya sendiri.

Rumah sempit itu mendadak jadi arena perang tanpa suara. Ibu sudah meninggal bertahun-tahun lalu, jadi tak ada pelukan yang menengahi, tak ada suara lembut yang bisa melarutkan amarah dan frustasi.

Malam itu, Ravika tak tidur. Perutnya memang belum tampak apa-apa, tapi ketakutan yang tumbuh di dalam dirinya jauh lebih besar dari ukuran janin yang masih sebesar titik. Sebagai mahasiswi beasiswa yang selama ini dielu-elukan kampus, ia hancur dalam satu hari.

Keesokan paginya...

Ia memutuskan menghadap ke pihak kampus.

“Saya mengajukan cuti dua tahun, Bu,” ujarnya datar.

"Ada apa, Vik?"

"Cuma urusan keluarga yang nggak bisa ditunda, Bu."

Dosen pembimbing memandangnya lama, seolah menimbang apakah Ravika kelak masih akan kembali seperti dirinya yang dulu.

Jelas ia tidak akan kembali, setidaknya bukan sebagai orang yang keadaannya sama.

Hari-hari selanjutnya berjalan dengan ritme yang sunyi, bangun tengah malam, muntah, menahan sakit pinggang, menghindari bisik-bisik tetangga, mengumpulkan dan mencatat tabungan seadanya, mengurus pemeriksaan ke puskesmas, berdebat dengan ayahnya lagi yang sekarang tampak seperti lelaki yang bertambah tua sepuluh tahun hanya dalam seminggu.

Kadang Ravika mendengar tetangganya berbisik,

“Kasihan Pak Marno, udah tua tapi anak yang cuma satu malah bikin susah…"

"Yaa, begitulah...anak zaman sekarang...” sahut lainnya.

Kadang ia melihat ayahnya duduk di bale bambu teras rumah melamun sampai malam, hanya memandangi langit seperti mencari jawaban yang tak pernah turun.

Meski begitu, Ravika tidak menyerah. Tidak untuk anak itu. Tidak juga untuk cinta ke lelaki yang tak pernah sepenuhnya padam di dadanya.

Seperti kejadian dua bulan sebelumnya...

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nunik Sobari
kasian ya bapaknya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 66 Publik Mulai Bertanya

    Di tempat lain, Tama duduk sendirian di rumah lamanya. Rumah yang terlalu besar untuk satu orang, tapi cukup sunyi untuk berpikir jernih.Di meja makan, ada map hasil pemeriksaan kesehatannya sendiri. Semua berlabel hijau, yang berarti layak dan siap ke tahap berikutnya.Ia teringat hari-hari saat obseevasi, dokter menyebut kemungkinan transplantasi. Bukan dengan nada darurat. Tapi dengan kepastian ilmiah yang dingin.“Ini soal kapan, bukannya apa.”Saat itu, Tama tidak ragu. Ia tidak bertanya apa dampaknya pada karier, reputasi, atau masa depannya. Ia hanya bertanya satu hal.“Apakah anak saya bisa hidup normal?”Dokter mengangguk. “Peluangnya besar, Pak.”Dan sejak saat itu, semuanya menjadi seperti gangguan suara.Ponselnya bergetar. Notifikasi datang bawa berita baru. Beberapa judul mulai berubah arah. Tidak membela Ravika. Tapi mulai mempertanyakan Alya.“Kontradiksi Pernyataan dalam Kasus Istri CEO, Publik Mulai Bertanya.”Diamnya Ravika tidak menciptakan simpati massal. Tapi ia

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 65 Keraguan yang Tak Terduga

    Keraguan yang pertama itu justru tidak datang dari Ravika. Ia datang dari orang-orang yang selama ini merasa aman berada di sisi cerita yang ramai.Pagi itu, sebuah akun analis media mengunggah sebuah utas pendek. Bukan berisi pembelaan. Bahkan tidak menyebut nama Ravika secara eksplisit. Hanya berupa tampilan grafik durasi tayang.Nama Alya muncul secara konsisten. Komentar emosionalnya dipotong rapi. Narasi ia sebagai "korban" dibingkai dengan jelas.Di sisi lain, nama Ravika hanya muncul sebagai subjek pasif. Tidak ada kutipan langsung. Tidak ada satu suara pun yang keluar darinya. Di bawah grafik itu, ada satu kalimat pendek yang ditulis dengan jelas, "Diam yang terlalu lama biasanya menandakan dua hal, ketakutan atau keyakinan." Tayangan itu tidak meledak. Apalagi sampai viral besar. Tapi cukup untuk terlihat oleh orang-orang yang terbiasa membaca di antara baris kebohongan.Beberapa jam kemudian, satu pembawa acara televisi yang biasanya agresif malah terdengar ragu saat meny

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 64 Diam yang Membara

    Malam itu, Ravika dan Tama berbicara lewat telepon. Obrolan yang tidak lama dan tanpa ada keluhan panjang.“Sekolah baru Elyra minta Elyra belajar dari rumah, Mas,” kata Ravika.Hening di seberang beberapa detik. “Alasannya?” tanya Tama kemudian. “Perlindungan semua pihak,” jawab Ravika singkat.Tama menghela napasnya. “Aku juga dibekukan total. Akses, dokumen, semuanya.”“Kita yang tidak pernah bersatu masih sedang dipisahkan pelan-pelan, Mas,” kata Ravika.“Iya, Vik,” sahut Tama. “Bukan dipukul. Tapi dipersempit.”Di kamar sebelah, Elyra sedang menggambar lagi. Kali ini bukan gambar rumah. Ia menggambar jalan yang panjang. Di ujungnya, ada tiga orang yang sedang berdiri berjajar.Ravika menutup panggilan itu dan masuk ke kamar.“Besok Ely sekolah kan, Ma?” tanya Elyra tanpa menoleh.Ravika berlutut. “Besok kita belajar di rumah dulu ya, Sayang.”“Karena Papa?”“Karena orang dewasa lagi semakin ribet.”Elyra mengangguk. “Nanti Papa marah, nggak?”“Enggak, Sayang,” kata Ravika. “Pap

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 63 Tekanan yang Tidak Pernah Berteriak

    Di sisi lain kota, tekanan bekerja dengan cara yang jauh lebih sunyi.Elyra duduk di bangku sekolahnya, kakinya menggantung sedikit karena kursinya masih ketinggian. Di papan tulis, gurunya menulis soal matematika seperti biasa.Yang tidak biasa di dalam ruang kelas itu adalah bisik-bisik yang berhenti setiap kali Elyra menoleh.Bukan ejekan. Atau mungkin saja belum terjadi.Hanya perubahan jarak duduk. Teman sebangkunya dipindahkan “sementara”. Ada undangan ulang tahun yang tidak jadi disampaikan kepada Elyra. Tatapan orang tua murid yang terlalu lama ketika menjemput anak-anaknya. Seorang anak laki-laki akhirnya bertanya dengan nada ingin tahu, yang belum belajar sopan santun. “Papa kamu yang di TV itu ya?”Elyra dengan polos mengangguk. “Iya.”“Katanya papa kamu jahat.”Elyra mengernyit. Ia tidak marah. Ia hanya bingung kenapa orang dewasa selalu memakai kata yang terlalu besar.“Papa aku baik,” katanya akhirnya. “Dia cuma lagi disalahpahami.”Anak itu diam. Tidak membantahnya. T

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 62 Rumah yang Riuh

    Sore itu hujan turun tanpa niat menghibur siapa pun. Hujan yang tidak deras, hanya gerimis panjang yang membuat dunia terlihat kusam dan sedikit malas bergerak.Ravika menutup jendela kamarnya setengah. Bukan karena dingin, tapi karena suara luar terasa terlalu ramai meski tak ada siapa-siapa yang berteriak.Marno sedang mengupas apel di dapur. Tangannya bergerak pelan, teratur, seperti orang yang sengaja memperlambat hidup agar tidak ikut terseret. Pisau kecil itu menari hati-hati, seolah satu gerakan ceroboh saja bisa memicu sesuatu yang lebih besar dari sekedar buah yang terpotong.Elyra duduk di lantai ruang tamu, ia sedang menggambar kesukaannya. Ia membuat rumah. Atapnya segitiga. Jendelanya dua. Pintu besar ada di tengah. Lalu menambahkan satu sosok tinggi di samping satu sosok yang lebih kecil.Ravika memperhatikannya dari sofa butut.“Papa lagi kerja ya?” tanya Elyra tanpa menoleh.Pertanyaan itu tidak mengandung kecemasan. Tidak ada nada mencari pembenaran. Hanya fakta yang

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 61 Cinta di Bawah Sorotan

    Pagi itu Ravika tidak langsung menyadari bahwa dunianya sudah berubah.Ia masih bangun di jam yang sama. Masih menyeduh teh dengan takaran yang sama. Ia juga masih mengecek tas mengajarnya, memastikan spidol cadangannya ada, buku absensi tidak tertinggal. Hidupnya, setidaknya di dapur sempit rumah sewaan baru itu, semuanya masih berjalan lurus.Yang berubah justru cara sunyi yang menyelinap.Teleponnya bergetar sejak subuh. Ia membiarkannya. Bukan karena tidak peduli, tapi karena sudah belajar lebuh tegar, kabar buruk selalu merasa sok penting.Ketika akhirnya ia membuka layar, tidak ada pesan panjang. Tidak ada kata-kata yang kasar. Hanya satu tautan yang dikirimkan berulang oleh nomor berbeda.Judulnya pendek. Terlalu rapi.“Direktur DharmaLux Terseret Isu Hubungan Gelap dengan Guru SD”Ravika menatap layar itu lama. Tidak ada reaksi spontan. Tidak kaget dan tiada rasa marah. Tubuhnya hanya terasa sedikit lebih dingin, seperti seseorang yang baru sadar hujan sudah turun sejak tadi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status