Beranda / Romansa / AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG / Bab 2 Liontin Biru Motif Matahari

Share

Bab 2 Liontin Biru Motif Matahari

Penulis: Lyren Kael
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-15 02:32:54

Dua bulan sebelumnya di langit sore kampus Universitas terkenal di Salemba, Jakarta Pusat, berubah jingga, mirip bara api yang perlahan padam.

Lampion-lampion kertas menggantung di taman, dan di antara kerumunan toga hitam, tawa bahagia, serta kilatan kamera, dua sosok manusia berdiri sedikit terpisah dari keramaian.

Vika hanya mengenakan kemeja putih dan rok panjang hitam sederhana, bukannya toga, karena ia memang belum waktunya lulus dari program sarjana beasiswanya.

Salah satu toga itu dikenakan oleh Nayottama Dirgantara, kakak tingkatnya beda dua tahun, dengan jas hitam yang terlalu formal untuk sekedar wisuda, menatapnya seperti sedang menghafal sesuatu yang tak ingin dilupakannya.

“Kamu datang juga, Vik,” suara Tama hampir tenggelam di tengah sorak sorai mahasiswa lain dan keluarganya.

“Tentu. Aku kan udah janji, Mas,” jawabnya ringan, meski genggaman tangannya gemetaran di balik tas kecil di gantungan pundaknya.

Tama tersenyum singkat, tapi matanya gelisah. Ada sesuatu yang ia sembunyikan.

Mereka berjalan ke sisi taman, di dekat pohon flamboyan tua yang sedang gugur bunganya.

Vika menyodorkan kotak kecil, berisi liontin biru berbentuk motif matahari.

“Selamat diwisuda ya, Mas Tama. Ini cuma hadiah kecil. Gak mahal, tapi aku pilih sendiri dengan cinta.”

Tama membuka kotak itu, menatapnya lama, tampak sederhana namun indah, lalu berkata pelan,

“Kamu tahu aku gak pantas nerima ini, Vik.”

“Maksudmu... Kenapa?”

“Karena... karena aku nggak bisa janji akan dapat terus ada di sisimu. Tapi kamu harus tahu, itu bukan karena aku nggak mau, Vik.”

Kata-kata itu seperti guncangan angin topan yang menciptakan retakan kecil, yang kemudian melebar jadi jurang.

“Kenapa ngomong gitu sekarang, setelah semua ini, Mas?” mata Vika mendadak berubah memerah, suaranya sontak bergetar.

Tama menarik napasnya panjang. Ada bongkahan berat di dada yang menghalanginya untuk bisa berkata jujur.

“Papaku…papaku nggak setuju dengan hubungan kita, Vik. Dia udah menyiapkan rencana lain, semuanya. Setelah ini, aku akan langsung ke London, ikut pelatihan manajemen agar siap di perusahaan Papa, lalu kembali untuk… untuk pernikahan," suaranya terbata.

“Pernikahan...?” nada Vika tercekat, hampir hilang.

“Iya. Mereka bilang, ini keputusan dua keluarga, dua perusahaan. Untuk merger. Menjaga citra dan nama baik.”

Vika mundur setapak, menatap Tama dengan mata yang mulai menggenang.

“Kamu tahu, nama baik bukan cuma milik keluargamu, tapi punya kita kamu yang hancurin barusan. Kamu juga baru aja hancurin aku, Mas.”

Tama mencoba mendekat, tapi Vika menahan dadanya dengan kedua telapak tangannya.

“Jangan," cegahnya keras.

“Dengar aku dulu, Vik.”

“Enggak. Kamu yang denger aku. Kalau kamu gak bisa milih aku, kenapa dulu kamu ajarin aku percaya tentang kesetiaan cinta?”

Suara musik dari lapangan menggema keras, lagu kelulusan yang harusnya menciptakan kebahagiaan semua orang, mendadak bagi Vika, setiap nadanya terdengar seperti ejekan yang menusuk jantung.

"Aku udah ngelawan, Vik. Tapi di rumah itu, aku masih cuma sebatas anak yang dikasih uang buat diam, nggak bisa apa-apa.”

Vika terdiam menahan tangis, sementara Tama hanya menatap, tanpa keberanian, tanpa alasan yang lebih bisa membenarkan pengkhianatannya.

Lampion-lampion mulai dilepaskan ke udara.

Satu, dua, tiga...

Teriakan para mahasiswa menggelegar. Menandai keputusan besar yang mendadak harus Vika buat.

“Selamat jalan, Mas Nayottama,” kata Vika akhirnya. “Semoga langitmu cukup tinggi buat menutupi jejakku.”

Ia berbalik pergi sebelum air matanya jatuh, sementara Tama hanya berdiri mematung, memegangi liontin yang belum sempat ia kembalikan.

Malamnya…

Tama datang sendiri ke rumah Vika, mengetuk pintu rumahnya pelan, sekali, dua kali...

Dari dalam kamar, Ravika memeluk dirinya sendiri, lutut ditarik ke dada, menahan isakan supaya tak terdengar. Dunia rasanya terlalu sempit buat menampung sakit yang baru saja menggempurnya.

Ketukan itu tak berhenti.

TOK... TOK... TOK...

Marno, ayahnya muncul di ambang pintu kamar, wajahnya kaget melihat putrinya bersembunyi di bawah selimut.

“Dia di luar,” ucap Marno lirih. “Katanya mau bicara.”

“Bilang aja aku nggak mau ketemu!” seru Ravika, suaranya pecah. “Aku capek, Yah… aku capek diingkari orang yang aku percayai.”

Marno mendekat dua langkah.

“Vik, kamu jangan begini. Setidaknya dengerin dia dulu.”

“Untuk apa?” Ravika mendongak, matanya merah, napasnya tersengal seperti habis marathon. “Buat apa aku denger orang yang bahkan nggak punya keberanian buat milih aku, Yah?”

Marno terdiam, agak kikuk. Ravika nyaris tak pernah meninggikan suara kepadanya.

Suasana berubah mencekat, ia tak tahu lagi cara membujuk Ravika.

“Ayah cuma nggak mau kamu nyesel, Nak,” ucap Marno, pelan tapi tegas.

“Aku nggak nyesel, Yah. Yang nyesel itu aku dulu, karena percaya hidup itu baik sama orang yang berjuang. Nyatanya, enggak sama sekali.”

Marno menarik napasnya panjang. Pandangannya melembut, ia tak mau merendahkan dan menghakimi.

Dia juga pernah muda, pernah jatuh cinta, pernah kalah oleh kenyataan. Ia mengenali luka seperti itu.

“Vika…” suaranya lebih rendah sekarang, “Kalau kamu mau marah, marah aja. Kalau kamu mau nangis, nangis aja. Tapi jangan tutup pintunya ke Ayah.”

Ravika menunduk. Dadanya sesak.

Marno lalu duduk di tepian kasur, perlahan, seolah takut mengganggu dunia rapuh yang sedang berantakan di depan matanya.

“Kamu tahu kenapa Ayah ngomong lembut sama kamu?” tanyanya.

Ravika menggeleng, bingung dan lelah. Pikirannya gelap. Sempat terpikir sebaiknya ia akhiri saja hidupnya.

Tapi Ayahnya memberikan jaminan kasih sayang.

“Karena Ayah cuma punya kamu, Nak.”

Marno menghela napas pendek, menahan getar di suaranya. “Ayah nggak bisa bantu banyak, Ayah bukan orang kaya. Tapi Ayah mau lihat kamu berdiri, bukannya hancur begini.”

Kalimat itu masuk seperti pelukan tanpa sentuhan tangan.

Perlahan, kemarahan Ravika runtuh, bukan karena datangnya Tama, tapi karena Ayahnya sedang berusaha merapikan dunianya yang tak mampu ia genggam.

Ravika tiba-tiba meraih tangan Ayahnya. “Aku cuma… aku cuma merasa bodoh, Yah.”

Marno mengusap kepala putrinya. “Kalau soal cinta, semua orang pernah bodoh, Vik. Tapi kamu kan nggak sendiri.”

Tangis Ravika malah pecah total, tanpa pertahanan. Ia memeluk Ayahnya kuat-kuat.

Marno membalas pelukan itu, patah, tapi hangat, berusaha tegar.

Sementara di luar...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Nunik Sobari
kan tetep aja ayahnya yang paling perduli
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 66 Publik Mulai Bertanya

    Di tempat lain, Tama duduk sendirian di rumah lamanya. Rumah yang terlalu besar untuk satu orang, tapi cukup sunyi untuk berpikir jernih.Di meja makan, ada map hasil pemeriksaan kesehatannya sendiri. Semua berlabel hijau, yang berarti layak dan siap ke tahap berikutnya.Ia teringat hari-hari saat obseevasi, dokter menyebut kemungkinan transplantasi. Bukan dengan nada darurat. Tapi dengan kepastian ilmiah yang dingin.“Ini soal kapan, bukannya apa.”Saat itu, Tama tidak ragu. Ia tidak bertanya apa dampaknya pada karier, reputasi, atau masa depannya. Ia hanya bertanya satu hal.“Apakah anak saya bisa hidup normal?”Dokter mengangguk. “Peluangnya besar, Pak.”Dan sejak saat itu, semuanya menjadi seperti gangguan suara.Ponselnya bergetar. Notifikasi datang bawa berita baru. Beberapa judul mulai berubah arah. Tidak membela Ravika. Tapi mulai mempertanyakan Alya.“Kontradiksi Pernyataan dalam Kasus Istri CEO, Publik Mulai Bertanya.”Diamnya Ravika tidak menciptakan simpati massal. Tapi ia

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 65 Keraguan yang Tak Terduga

    Keraguan yang pertama itu justru tidak datang dari Ravika. Ia datang dari orang-orang yang selama ini merasa aman berada di sisi cerita yang ramai.Pagi itu, sebuah akun analis media mengunggah sebuah utas pendek. Bukan berisi pembelaan. Bahkan tidak menyebut nama Ravika secara eksplisit. Hanya berupa tampilan grafik durasi tayang.Nama Alya muncul secara konsisten. Komentar emosionalnya dipotong rapi. Narasi ia sebagai "korban" dibingkai dengan jelas.Di sisi lain, nama Ravika hanya muncul sebagai subjek pasif. Tidak ada kutipan langsung. Tidak ada satu suara pun yang keluar darinya. Di bawah grafik itu, ada satu kalimat pendek yang ditulis dengan jelas, "Diam yang terlalu lama biasanya menandakan dua hal, ketakutan atau keyakinan." Tayangan itu tidak meledak. Apalagi sampai viral besar. Tapi cukup untuk terlihat oleh orang-orang yang terbiasa membaca di antara baris kebohongan.Beberapa jam kemudian, satu pembawa acara televisi yang biasanya agresif malah terdengar ragu saat meny

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 64 Diam yang Membara

    Malam itu, Ravika dan Tama berbicara lewat telepon. Obrolan yang tidak lama dan tanpa ada keluhan panjang.“Sekolah baru Elyra minta Elyra belajar dari rumah, Mas,” kata Ravika.Hening di seberang beberapa detik. “Alasannya?” tanya Tama kemudian. “Perlindungan semua pihak,” jawab Ravika singkat.Tama menghela napasnya. “Aku juga dibekukan total. Akses, dokumen, semuanya.”“Kita yang tidak pernah bersatu masih sedang dipisahkan pelan-pelan, Mas,” kata Ravika.“Iya, Vik,” sahut Tama. “Bukan dipukul. Tapi dipersempit.”Di kamar sebelah, Elyra sedang menggambar lagi. Kali ini bukan gambar rumah. Ia menggambar jalan yang panjang. Di ujungnya, ada tiga orang yang sedang berdiri berjajar.Ravika menutup panggilan itu dan masuk ke kamar.“Besok Ely sekolah kan, Ma?” tanya Elyra tanpa menoleh.Ravika berlutut. “Besok kita belajar di rumah dulu ya, Sayang.”“Karena Papa?”“Karena orang dewasa lagi semakin ribet.”Elyra mengangguk. “Nanti Papa marah, nggak?”“Enggak, Sayang,” kata Ravika. “Pap

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 63 Tekanan yang Tidak Pernah Berteriak

    Di sisi lain kota, tekanan bekerja dengan cara yang jauh lebih sunyi.Elyra duduk di bangku sekolahnya, kakinya menggantung sedikit karena kursinya masih ketinggian. Di papan tulis, gurunya menulis soal matematika seperti biasa.Yang tidak biasa di dalam ruang kelas itu adalah bisik-bisik yang berhenti setiap kali Elyra menoleh.Bukan ejekan. Atau mungkin saja belum terjadi.Hanya perubahan jarak duduk. Teman sebangkunya dipindahkan “sementara”. Ada undangan ulang tahun yang tidak jadi disampaikan kepada Elyra. Tatapan orang tua murid yang terlalu lama ketika menjemput anak-anaknya. Seorang anak laki-laki akhirnya bertanya dengan nada ingin tahu, yang belum belajar sopan santun. “Papa kamu yang di TV itu ya?”Elyra dengan polos mengangguk. “Iya.”“Katanya papa kamu jahat.”Elyra mengernyit. Ia tidak marah. Ia hanya bingung kenapa orang dewasa selalu memakai kata yang terlalu besar.“Papa aku baik,” katanya akhirnya. “Dia cuma lagi disalahpahami.”Anak itu diam. Tidak membantahnya. T

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 62 Rumah yang Riuh

    Sore itu hujan turun tanpa niat menghibur siapa pun. Hujan yang tidak deras, hanya gerimis panjang yang membuat dunia terlihat kusam dan sedikit malas bergerak.Ravika menutup jendela kamarnya setengah. Bukan karena dingin, tapi karena suara luar terasa terlalu ramai meski tak ada siapa-siapa yang berteriak.Marno sedang mengupas apel di dapur. Tangannya bergerak pelan, teratur, seperti orang yang sengaja memperlambat hidup agar tidak ikut terseret. Pisau kecil itu menari hati-hati, seolah satu gerakan ceroboh saja bisa memicu sesuatu yang lebih besar dari sekedar buah yang terpotong.Elyra duduk di lantai ruang tamu, ia sedang menggambar kesukaannya. Ia membuat rumah. Atapnya segitiga. Jendelanya dua. Pintu besar ada di tengah. Lalu menambahkan satu sosok tinggi di samping satu sosok yang lebih kecil.Ravika memperhatikannya dari sofa butut.“Papa lagi kerja ya?” tanya Elyra tanpa menoleh.Pertanyaan itu tidak mengandung kecemasan. Tidak ada nada mencari pembenaran. Hanya fakta yang

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 61 Cinta di Bawah Sorotan

    Pagi itu Ravika tidak langsung menyadari bahwa dunianya sudah berubah.Ia masih bangun di jam yang sama. Masih menyeduh teh dengan takaran yang sama. Ia juga masih mengecek tas mengajarnya, memastikan spidol cadangannya ada, buku absensi tidak tertinggal. Hidupnya, setidaknya di dapur sempit rumah sewaan baru itu, semuanya masih berjalan lurus.Yang berubah justru cara sunyi yang menyelinap.Teleponnya bergetar sejak subuh. Ia membiarkannya. Bukan karena tidak peduli, tapi karena sudah belajar lebuh tegar, kabar buruk selalu merasa sok penting.Ketika akhirnya ia membuka layar, tidak ada pesan panjang. Tidak ada kata-kata yang kasar. Hanya satu tautan yang dikirimkan berulang oleh nomor berbeda.Judulnya pendek. Terlalu rapi.“Direktur DharmaLux Terseret Isu Hubungan Gelap dengan Guru SD”Ravika menatap layar itu lama. Tidak ada reaksi spontan. Tidak kaget dan tiada rasa marah. Tubuhnya hanya terasa sedikit lebih dingin, seperti seseorang yang baru sadar hujan sudah turun sejak tadi.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status