Beranda / Romansa / AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG / Bab 4 Dua Matahari Terpisah

Share

Bab 4 Dua Matahari Terpisah

Penulis: Lyren Kael
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-05 19:15:22

Waktu tujuh tahun sangat cepat berlalu...

Pagi di gang sempit itu masih basah, meski hujan semalam sudah lama berhenti.

Air menetes dari talang bocor, menghunjam ember plastik yang menampung cucian malam tadi. Dari dalam kontrakan paling ujung, sayup terdengar suara perempuan menyanyi kecil, pelan, tak sepenuhnya merdu, tapi hangat.

Nyanyian itu terputus..., berganti nada suara tergesa dikejar waktu, namun lembut.

“Bangun, Sayaaang… sudah pagi,” kata Vika sambil menepuk punggung kecil di bawah selimut lusuh bergambar Tayo. “Mama udah gorengin telur.”

Bocah kecil perempuan itu menggeliat malas. Elyra Ananda kini rambutnya bergelombang sebahu, pipinya tembem membuat semua tetangga gemes.

“Mama, tadi aku mimpiin dua matahari,” suaranya kecil, setengah mengantuk, seperti masih mengumpulkan nyawanya.

“Dua matahari?” ulang Vika.

“Iya. Satunya di sini…” ia menunjuk gambar krayonnya di tembok, “...satunya lagi di sana, jauh banget. Tapi cahayanya masih nyampe.”

Vika teringat kompornya menyala. "Sebentar, ya Nak."

Setelah mematikannya, ia kembali ke kamar melalui pintu yang hanya tertutupi gorden lusuh yang disingkap ke paku di samping.

Satu detik yang sunyi menggantung di awang-awang.

“Terus?” lanjut Vika.

“Tapi satunya kayak sendirian banget, Ma. Nggak punya temen awan buat main. Terus aku gambar pelangi biar mereka bisa nyebrang," ungkapnya polos.

Ada rasa sesak halus yang merayap di dada Vika. Ia tersenyum agar anaknya tak membaca raut getir di wajahnya.

“Bagus sekali. Nanti kamu gambar lagi di kertas, ya. Nanti mama laminating, biar nggak rusak.”

“Beneran, Ma?”

“Iya, serius.”

Ely tersenyum lebar, lalu lari ke kamar mandi, bersenandung lagu iklan sabun yang sering ia dengar di TV dengan suara imutnya.

Sementara itu, Vika menatap dinding kusam dengan noda lembap di ujung bawah yang mengelupas catnya.

Ia tahu, kenapa anaknya menggambar dua matahari. Karena tanpa sadar, ia tumbuh di bawah dua langit, satu penuh cahaya, satu lagi penuh bayangan.

Ravika Alendra kini 29 tahun, masih menempati kontrakan sederhana yang sama, dengan dua kamar, satu untuknya dan Ely, dan satu lagi untuk kakeknya Ely, dengan teras kecil yang selalu panas di siang hari. Tapi setiap sudut punya cerita.

Di rak atas lemari, masih tersimpan sebuah kotak beludru kecil, tempat liontin biru berbentuk matahari, yang beberapa hari ini selalu dipakai Ely di balik bajunya.

Warnanya mulai kusam, tapi setiap kali terkena cahaya pagi, masih memantulkan kilau seperti kenangan yang menolak padam.

Di sela pagi itu Vika terdiam, menatap liontin yang dilepas Ely saat mandi, di genggamannya. Permukaannya sudah tergores sedikit, tapi kilau kecilnya masih menari di bawah cahaya pagi.

Ia meletakkannya di meja belajar Ely, karena Ely pasti meminta untuk memakainya setelah mandi. Ia lalu menatap foto kecil di meja itu, terpampang dirinya, Ely, dan Marno di acara sekolah.

“Delapan tahun rasanya kayak baru kemarin. Udah cukup, Vik,” gumamnya pada bayangannya sendiri di kaca jendela teringat masa saat wisuda kekasihnya.

“Kamu udah kuat sejauh ini. Jangan jatuh cuma karena kenangan yang nggak mau pergi.”

Tiba-tiba, dari kamar mandi terdengar suara Ely memanggilnya yang sontak membangunkan lamunannya.

"Maaa...handuknya mana?!"

Buru-buru Vika lari menghampiri anak kesayangannya dengan handuk di pundaknya.

Selesai sarapan, suara Ely yang penuh semangat kembali pecah,

“Ma! Aku duluan ya!”

“Ati-ati di jalan, Sayang!” serunya.

Ravika pun mengambil tas lusuhnya, menatap dinding sekali lagi, dinding yang jadi saksi hidup sederhana dan cinta yang tak pernah mati, hanya berubah warnanya lebih kusam.

Lalu ia keluar, berpamitan kepada Marno yang masih ngopi di teras.

"Vika berangkat, Yah. Nggak usah nguli ke proyek dulu, kalo masih sakit."

Marno menatap putri tangguh satu-satunya itu dengan anggukan dan senyum, sambil melambaikan tangannya.

"Iyaa...ati-ati."

Sisa cahaya matahari pagi itu menerobos lewat sela tirai kontrakan sederhana itu, jatuh tepat di tempat kotak, yang liontinnya dipakai Ely.

Satu cahaya kecil di ruang yang suram, seolah dunia diam-diam selalu mengingatkan, sesuatu yang benar-benar dicintai tidak pernah benar-benar hilang.

Menjelang siang, matahari menembus sela-sela ranting flamboyan di halaman sekolah dasar tempat Ravika mengajar. Bangunannya sederhana, dengan cat biru muda, dindingnya sedikit lembap di pojokan kelas, dan suara anak-anak berlarian jadi musik harian yang tak pernah selesai.

“Anak-anak, ayo dikumpul dulu bukunya,” kata Ravika sambil menepuk meja ringan. Suaranya lembut tapi tegas.

Ely di barisan depan langsung mengangkat tangan kecilnya.

“Mamaaa...eh, Bu Guru!” serunya spontan menutup mulut, membuat seisi kelas tertawa.

Pipi Ravika memerah.

“Di sini, bilangnya Bu Vika, ya, bukan Mama.”

“Iya, Bu Vika,” jawab Ely manis, meski senyum nakalnya belum hilang.

Tawa kecil mengalir di antara murid-murid.

Ravika ikut tertawa, tapi di balik senyum itu, ia selalu merasa canggung, mengajar di tempat yang sama dengan anaknya sekolah, berarti setiap hari menyeberang antara dunia pribadi dan publik. Ia tak bisa benar-benar memisahkan keduanya.

Saat anak-anak mulai menggambar bebas di jam terakhir, Ravika menata buku tugas di mejanya. Di antara kertas kerja, selembar pengumuman berwarna oranye mencolok terselip.

"Program Pemeriksaan Gratis untuk Siswa, Pemeriksaan darah dan DNA dasar oleh Kementerian Kesehatan."

Tulisan itu membuat Ravika terpaku sejenak.

“DNA”, tiga huruf yang menggigit pikirannya diam-diam.

“Bu Vika,” suara Bu Sri, kepala sekolah, terdengar dari pintu. “Nanti tolong bantu bagikan formulir ini ke kelas 1 dan 2, ya. Minggu depan tim medisnya datang.”

Ravika tersenyum sopan.

“Siap, Bu Sri.”

Setelah pintu tertutup, ia duduk diam sebentar, menatap kertas itu lama. Ely tentu harus ikut, tapi… bagaimana kalau data itu membuka sesuatu yang seharusnya terkubur?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 92 Lingkaran yang Lebih Besar

    Beberapa hari setelah itu, suasana mulai menemukan ritmenya sendiri. Bukan berarti semuanya langsung terasa normal. Normal itu kata yang terlalu sederhana untuk keluarga yang baru saja menata ulang definisi darah dan perannya. Tapi setidaknya, tidak ada lagi ketegangan yang bersembunyi di balik sebuah kalimat.Sore itu, Elyra kembali ke rumah Tama. Kali ini bukan hanya untuk bermain. Ia membawa hasil kontrol perkembangan transplantasi ginjal terbarunya.“Dokter bilang jahitannya udah bagus,” katanya pelan sambil duduk di sofa.Karin langsung mendekatinya. “Berarti bentar lagi boleh lari-lari?”“Katanya sih jangan dulu,” jawab Elyra sambil tersenyum tipis.Sony memiringkan kepalanya. “Ginjalnya Papa masih di dalam Kakak, ya?”Tama yang sedang menuang air hampir tersedak kecil.“Iya, Nak.”“Terus Papa sekarang nggak pakai ginjal?”Tama tersenyum lebar. “Papa masih punya satu, Sony.”Sony tampak berpikir keras."Tiap orang punya ginjal dua, Nak. Di kanam sama kiri," imbuh Tama sambil

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 91 Titipan yang Tidak Diucapkan

    Malamnya, Ravika menghubungi Tama.“Alya kirim surat ke aku, Mas,” katanya pelan.Tama terdiam di ujung telepon.“Apa isinya?”“Bukan marahan, sih.”“Hmm... terus apa?”“Dia bilang terima kasih.”"Terima kasih...?" ulang Tama heran.Hening beberapa detik menjeda.Tama mengembuskan napasnya perlahan.“Tentang apa?” lanjutnya. Ravika menatap meja di depannya yang terdapat buku-buku Elyra yang masih berserakan. Ia lalu memotret surat tulsan Alya dan mengirimkannya ke Tama. Tama membacanya dengan seksama. Dadanya menghangat. "Itu memang tulisan Alya, Vik."“Aku nggak tahu harus apa jawabnya, Mas.”“Tidak semua surat butuh balasan, Vik,” jawab Tama.Di rumahnya, Tama duduk sendirian setelah menutup telepon dari Ravika.Ia mengenal Alya.Ia tahu mantan istrinya bukan orang yang mudah mengakui sesuatu.Jika ia menulis surat seperti itu, berarti ia sudah melewati fase marahnya sendiri.-oOo- Keesokan paginya, Karin menemukan Alya duduk di teras rumahnya."Mamaaaa... Kok Mama ada di sini?"

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 90 Hal Yang Tak Bisa Diulang

    Halaman kosong di album foto itu bukan lagi simbol keterlambatan. Ia menjadi ruang harapan yang belum diisi.Dan mungkin memang harus kosong dulu selama delapan tahun lalu, sebelum akhirnya diisi dengan kesadaran yang nyata.“Pa,” kata Karin tiba-tiba, “Papa sedih nggak waktu baru tahu itu?”Tama berpikir sejenak.“Terkejut, iya. Sedih juga pastinya. Tapi lebih takut kehilangan kesempatan kedua.”“Kehilangan siapa?”“Elyra dan... Mamanya.”Elyra menunduk sedikit mendengar itu. “Papa nggak marah sama Mama?” tanya Karin hati-hati."Mama siapa?" "... T-Tante Ravika... maksudnya," jawab Karin terbata. Tama menggeleng.“Waktu itu bukan waktunya marahan, Nak. Tapi waktunya menyelamatkan.”Karin mengangguk pelan.Di kepala anak kecil itu, mungkin belum semua tersusun rapi semua potongan puzzle masa lalu. Tapi satu hal sudah jelas, tidak ada yang berbohong lagi di antara mereka.Dan halaman kosong di album itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang hilang. Ia terasa seperti awal dari kehid

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 89 Foto Bersama

    Siang harinya, saat Elyra dan Ravika sedang makan bersama, ponsel Elyra kembali berbunyi.Video call dari Karin.Ravika menatapnya sekilas, lalu mengangguk kecil.Elyra mengangkatnya.Wajah Karin langsung memenuhi layar.“Kak!”Elyra tersenyum.“Iya.”“Kita beneran saudara ya?”“Iya.”“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”Elyra terdiam sebentar.“Aku disuruh nunggu sampai Papa yang cerita sendiri.”Karin mengangguk cepat dan menerima alasan itu tanpa drama.“Berarti waktu Papa donor ginjal itu… kamu takut nggak?”“Takut dong, Rin.”“Tapi kamu tahu Papa pasti nolong, kan?”“Iya.”Karin tersenyum bangga.“Papa emang gitu orangnya.”Ravika mendengarkan kalimat itu tanpa menyelanya. Bibirnya tersenyum tanpa berlebihan. Ia hanya membiarkan dua anak itu membangun hubungan yang memang sudah ada sejak lahir, hanya saja belum pernah dinamai.“Kak,” lanjut Karin, “kamu lebih tua berapa bulan sih?”“Empat bulan.”“Ohya... nggak jauh-jauh amat.”Elyra tertawa kecil.“Aku tetap lebih tua.”“Berarti a

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 88 Sesuatu yang Tak Pernah Diceritakan

    Malam itu, rumah Tama terasa lebih tenang dari hari-hari sejak ia dan anak-anaknya tinggal bersama di rumah lama.Karin duduk di belakang meja makan, ia sedang memainkan pita juara duanya. Sony sudah tertidur duluan di dalam kamarnya.Setelah acara siang tadi di sekolah Karin, Alya pulang ke rumah megahnya, tempat keluarga itu dulu tinggal bersama sebelum perceraiannya dengan Tama. Anak-anak meski sering merindukan mamanya, tapi mereka lebih memilih tinggal bersama papanya, yang selama ini memang selalu dekat. Di kehidupan dulu, Alya lebih sering keluar untuk urusan bisnis hingga terbongkarlah perselingkuhannya. Karin menatap papanya yang sedang menuang air minum ke dalam gelas.“Pa...”“Iya?”“Tante Ravika itu siapa sih sebenarnya?”Tama mengentikan gerakannya, lalu beralih duduk di hadapannya.“Kenapa tanya begitu, Nak?”“Papa kelihatan dekat banget sama dia.”“Oo... Kami memang sudah saling kenal lama.”“Lebih lama dari Mama?”Pertanyaan itu tidak menyerangnya. Hanya keingintahuan

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 87 Demi Anak-Anak

    Malam itu, Elyra duduk di lantai kamar sambil merapikan buku gambarnya.“Ma, tadi Papa telepon ya?”“Iya.”“Kenapa?”“Minggu depan ada Hari Keluarga di sekolah Karin dan Sony.”“Papa datang?”“Iya.”“Terus Mama mau ikut?”“Mama diminta Papa temenin Papa.”Elyra berhenti merapikan pensilnya.“Berari barengan Papa?”Ravika menatapnya tenang. Senyumnya sedikit mengembang. “Mama cuma temenin Papa, kasihan Karin ditinggal Mamanya. Jadi Mama bukan pasangannya Papa.”Elyra mengernyit. “Kenapa Mama sama Papa gak pernah jadi pasangan dan tinggal serumah?”Ravika tidak menghindar.“Kami saling menyayangi sampai sekarang, Nak. Tapi tidak pernah menikah. Jadi tdak pernah tinggal bersama.”“Kenapa?”“Karena tidak semua orang yang saling sayang harus membangun rumah yang sama.”Elyra tampak berpikir keras beberapa detik. Usianya yang masih dini selah dipaksa menghadapi kenyataan itu. “Jadi nanti kalau Mama berdiri dekat Papa, itu bukan balikan?”“Bukan.”“Terus apa namanya?”“Itu dua orang tua y

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status