Home / Romansa / ALARICK / Alarick Part 10

Share

Alarick Part 10

last update Petsa ng paglalathala: 2021-05-30 23:03:07

Pagi ini terasa begitu asing bagi Nerissa. Gadis cantik itu mengedarkan pandangannya. Ini bukan kamarnya, hanya itu yang terlintas di pikirannya sebelum akhirnya dia mengingat dengan jelas proses pengucapan janji yang mereka lakukan kemarin sore. Ya, Nerissa kini sudah menjadi seorang istri. Istri dari seorang Alarick Mauricio.

Cinta pertamanya yang kini berhasil dia miliki sepenuhnya namun tidak dengan hatinya. Perlahan Nerissa melirik seseorang yang tidur dengan pulas di sampingnya. Alarick, pria itu terlihat lebih tampan saat tertidur seperti ini.  Ya, mereka memutuskan untuk tidur di kamar yang sama mengingat orang tuanya bisa datang kapan saja.

Mentari memang belum menampakkan dirinya, pantas saja jika pria di sampingnya ini masih tertidur begitu nyenyak. Tangan Nerissa terangkat untuk menyentuh pahatan indah di depan matanya sebelum dia mengurungkan niatnya.

Alarick mengerjapkan matanya. Entah apa yang membuat pria itu terbangun. Apakah gerakan Nerissa menganggu pria itu? Sudahlah, Nerissa tak akan mempedulikan itu saat ini. gadis itu segera beranjak dari sana sebelum kesadaran Alarick benar-benar kembali.

Nerissa melangkahkan kakinya menuju dapur, tangannya yang bergerak dengan lincah menandakan bahwa gadis itu memang sudah terbiasa dengan alat-alat dapur. Hari pertama menjadi istri dari seorang Alarick, Nerissa hanya memasak dua piring nasi goreng. Bukannya tak ingin memasak menu lain, hanya saja bahan makanan yang memang sangat terbatas yang hanya memungkinkan Nerissa memasak nasi goreng saja.

“Apa yang kau masak?” Alarick berjalan untuk duduk di kursi makan. Penampilan acak-acakannya sukses membuat Nerissa kehilangan konsentrasinya untuk beberapa detik. Bagaimana tidak, kaos putih polos yang melekat di tubuh Alarick membuat pria itu terlihat begitu memesona, apalagi dengan rambut kusutnya.

“Nasi goreng. Tak ada lagi bahan masakan, mungkin nanti siang aku akan pergi berbelanja.” Tangan Nerissa dengan cekatan memindahkan nasi goreng yang sudah matang itu dari wajan ke piring sebelum kemudian menyajikannya di depan Alarick.

Nerissa juga tak melupakan segelas teh yang biasa Alarick minum. Ah bagaimana Nerissa tahu? Bukan hal yang aneh jika Nerissa mengetahui segalanya tentang pria itu. Bagaimapun Nerissa telah menyukai Alarick saat mereka masih SMA.

Alarick menyantap makanannya dengan lahap hingga tandas. Ponsel yang ada di sampingnya berdering menandakan ada pesan masuk. Dengan segera pria itu membuka pesannya setelah mengetahui siapa yang menghubunginya.

Nerissa tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui siapa yang mengirim pesan pada suaminya. Haleth, melihat raut wajah Alarick Nerissa yakin bahwa Haleth lah yang kini menghubungi suaminya.

“Habiskan makananmu dulu,” ucap Nerissa mengingatkan Alarick. Namun pria itu mengacuhkan peringatannya. Senyum cerah terukir di bibirnya saat pria itu membaca pesan di ponselnya.

“Sialan!” umpat Nerissa. Alarick sontak mengalihkan perhatiannya dan memandang Nerissa yang saat ini sudah beranjak dari tempatnya. Tentu saja umpatan Nerissa tidak di tujukan untuk Alarick, melainkan pada cairan merah segar yang lagi-lagi keluar dari hidungnya.

Nerissa mengunci pintu kamar mandi. Walaupun kecil kemungkinan untuk Alarick menyusulnya, namun setidaknya dia harus waspada. Dengan kasar Nerissa membilas darah itu. Gadis malang itu menengadahkan wajahnya memandang pantulan dirinya pada cermin di hadapannya.

“Sebenarnya berapa lama lagi?” Dia tak pernah ingin melakukan program yang disarankan dokternya dulu. Lagi pula, sudah tak ada gunanya dia bertahan lebih lama.

“Nerissa?” Pilihannya untuk mengunci pintu sangat tepat. Siapa yang mengira jika Alarick akan menyusulnya.

“Ya,” teriaknya dari dalam. Nerissa menopang dirinya pada wastafel yang ada di dalam, kepalanya menoleh ke arah pintu sebelum tarikan nafas yang sangat dalam terdengar begitu putus asa.

“Ada apa?” tanya Alarick setelah Nerissa membuka pintu kamar mandinya.

“Bukan apa-apa.” Gadis itu berlalu begitu saja tanpa memperdulikan tatapan bingung Alarick. Alarick masih tetap di tempatnya. Apakah Nerissa mengumpatinya karena pria itu mengabaikan peringatan Nerissa? Tapi jika iya, mengapa gadis itu harus pergi ke kamar mandi?

***

“Apa yang sedang kau lakukan?” Tangan kekar itu melingkar dengan indah di pinggang Haleth. Haleth hanya memandang tangan kekar itu karena kedua tangannya sibuk dengan gelas dan ponselnya. Ya, minuman yang ada di tangan kirinya menandakan bahwa gadis itu baru meminumnya sedikit. Dan ponsel itu? Entahlah.

“Menghubungi Alarick?” jawabnya ragu namun senyum di wajahnya menjadi tanda bahwa menghubungi Alarick bukanlah niat baik.

Tanpa menjawab penuturan Haleth, Jaylen pria itu terus mengendus leher Haleth. Tempat itu sudah lama menjadi tempat favorit nya.

Halteh meneguk minumannya sebelum kemudian pandangannya menerawang jauh. Senyum licik terukir di bibirnya. Entah apa yang saat ini ada dalam pikirannya.

“Mau belanja?” tanya Jaylen tiba-tiba. Haleth menoleh heran ke arah sahabatnya ini.

“Tak biasanya kau mengajakku belanja.”

“Hanya ingin, bagaimana?” Tanpa menunggu lama, Jaylen mendapat anggukan dari gadis di hadapannya.

***

“Apa jadwalku hari ini?” Alarick membuka pintu ruangannya diikuti sekretaris di belakangnya.

“Untuk pagi ini kosong, siang anda ada penandatanganan kontrak dengan DT Group, hanya itu.” Dengan telaten sekretarisnya itu membacakan jadwal Alarick. Luciver memang sahabat Alarick, namun pada jam kerja dia dituntut untuk bersikap profesional.

“Oke, ingatkan aku nanti. Kau boleh keluar.” Luciver mengangguk dan segera keluar untuk kembali ke ruangannya.

Alarick membuka ponselnya, kini harapannya serasa telah kembali. Haleth kembali menghubunginya dan mengatakan bahwa gadis itu pasti akan kembali. Tentu saja hal itu membuat Alarick senang bukan main. Bahkan tanpa dia sadari kini senyumnya kembali mengembang saat melihat notifikasi panggilan dari Haleth.

“Halo, apa kabar?” Nada canggung yang keluar dari bibir Alarick terdengar begitu jelas, namun tak dapat dia pungkiri jika hatinya kini berdebar dengan kencang.

“Baik, bagaimana denganmu?” jawab orang di sebrang sana.

“Aku baik.” Alarick menjawab dengan sedikit ragu. Pria tampan itu menunduk memikirkan apakah dirinya memang baik-baik saja? Sebuah suara berhasil membangunkan Alarick dari lamunannya.

“Maafkan aku,” lirih Haleth. Alarick yang mendengar permintaan maaf dari Haleth terlihat sangat terkejut.

“Untuk apa?” tanyanya meminta penjelasan.

“Memutuskanmu. Ternyata aku tak bisa jika tanpamu.”Memang terdengar begitu tulus namun apakah memang tulus?

Senyum cerah terpancar di wajah Alarick. Ternyata masih ada harapan untuknya melanjutkan kisah cinta dengan Haleth.

“Aku tak pernah mengiyakan kata putusmu. Bukankah itu artinya kita belum putus?” Haleth hampir berteriak mendengar penuturan Alarick. Itu berarti mereka akan melanjutkan hubungan bukan?

“Ya, mungkin kau benar.”

Perbincangan antara mereka berlangsung cukup lama. Mereka membahas segalanya. Haleth juga memberitahu Alarick jika saat ini dirinya tengah berada di Prancis untuk melanjutkan karirnya. Sampai di mana Luciver memasuki ruangannya dan memintanya untuk segera menemui kliennya.

“Aku tutup, nanti aku hubungi kembali.” Dengan senyum lebar Alarick menutup sambungan telepon itu. Luciver yang melihat sahabatnya begitu bahagia tentu sudah mengetahui apa penyebabnya. Entah apa yang membuat sahabatnya ini begitu tergila-gila dengan Haleth yang menurutnya tak lebih baik dari wanita-wanita yang kerap dia jumpai di sebuah club malam.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • ALARICK   Alarick Part 39

    "Nerissa!" Dibantingnya pintu dengan kencang. Gadis itu masuk ke apartemennya setelah mendapatkan kabar dari Nerissa tentang perceraiannya. Dibantingnya tas selempang yang dia gunakan sembarangan. Saking terburu-burunya, dia sampai lupa ada orang lain yang mengekor dari belakang. Kali ini pintu dibuka dan ditutup dengan lebih manusiawi.Nerissa menolehkan kepalanya melihat dua orang yang baru saja tiba. Beberapa menit lalu, Nerissa memberitahu kedua temannya untuk bertemu di apartemen Lovetta. Gadis itu juga memberitahu akan perceraiannya dengan Alarick."Jelaskan!" Masih Lovetta yang menggebu-gebu, sementara Raquil hanya menyimaknya."Kau ingat saat malam aku pingsan dan kau yang membawaku ke rumah sakit?" tanya Nerissa."Tentu saja aku ingat. Aku hampir gila saat itu melihat keadaanmu," jawab Lovetta.Pandangan mata Nerissa kosong. Ingatannya menerawang jauh ke hari di mana dia pingsan."Sebelum menelponmu, aku menelepon Alarick. Tapi, dia tak mengangkat telponnya dan juga tidak ba

  • ALARICK   Alarick Part 38

    Keheningan menyelimuti ruang tamu apartemen Alarick, padahal di sana ada dua orang yang sedang berkecamuk dengan pikiran mereka.Sepasang suami istri itu duduk berhadapan dengan meja sebagai perantara. Di atas meja itu terdapat sebuah map yang malam tadi diberikan oleh Nerissa pada Alarick—lengkap dengan pena yang tergeletak di atasnya.Masing-masing sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ya, Nerissa memuskan untuk pergi menemui Clara setelahnya."Sudah kau tandatangani?" Nerissa memecah keheningan di antara mereka.Alarick membasahi tenggorokannya. "Apa kau sudah memikirkan alasan yang akan kau sampaikan pada kedua orang tua kita?" tanya Alarick.Nerissa berdecak. "Jika yang kau takutkan kau tidak akan mendapatkan semua harta ayahmu, tenang saja. Seperti keinginanmu, kau akan mendapatkan semuanya tanpa kehilangan sepeser pun," jawab Nerissa.Niatnya dulu menikahi Nerissa memang karena sebuah warisan, tapi mendengar Nerissa berkata demikian mengapa rasanya ada yang mengganjal dalam hatin

  • ALARICK   Alarick Part 37

    Pernihakan Nerissa dan Alarick belum genap satu tahun. Bisa dikatakan pernikahan mereka masih seumur jagung. Namun, selama mereka menjadi bagian satu sama lain, Nerissa tak pernah merasakan kebahagiaan.Bukan hanya Nerissa, Alarick juga sama tersiksanya. Bagi Alarick, kebahagiaannya hanya Haleth.Tapi, meski Nerissa sama sekali tak merasakah bahagia, tak mendapatkan perlakuan sebagai seorang istri dan tak mendapatkan haknya dari seorang suami, Nerissa tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri.Melayani Alarick setelah pria itu pulang bekerja, berbenah rumah, dan juga memasak, itu sudah menjadi rutinitasnya selama menikah dengan Alarick.Nerissa memandang setiap sudut apartemen milik suaminya—takut suatu saat dia akan merindukannya. Meski dia selama ini hanya tidur di sofa saja.Letak apartemen Alarick yang strategis membuat pemandangan malam kota terlihat begitu memanjakan mata. Nerissa sengaja memindahkan sebuah meja bulat di sudut ruangan ke dekat jendela. Tak lupa,

  • ALARICK   Alarick Part 36

    Banyaknya hal yang Nerissa pikirkan membuat gadis itu sulit sekali terlelap. Sudah hampir tengah malam tapi matanya sangat segar. Dia sedari tadi hanya berguling-guling tak menentu di sofa.Suaminya juga belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Jadi, Nerissa merasa bosan. Meski keberadaan Alarick juga tak berpengaruh sebanyak itu, tapi setidaknya dia tahu suaminya ada di rumah."Ah kenapa sulit sekali tidur," ucapnya pelan.Dia memutuskan untuk bangun. Dengan ponsel dalam genggamannya, gadis itu pergi ke dapur hendak mengambil minum dengan harapan dia akan terlelap setelah minum beberapa teguk air.Namun, begitu dia kembali ke sofa, entah kenapa kepalanya terasa pening. Semuanya terasa berputar. Nerissa beberapa kali menggelengkan kepalanya, menutup dan kembali membuka matanya berharap rasa pusingnya menghilang. Namun, harapan hanya harapan. Nyatanya, bukannya membaik, rasa pusing itu kian menjadi.Beruntung, ponselnya ada dalam genggaman. Menelpon Alarick adalah pilihannya karena

  • ALARICK   Alarick Part 35

    Kondisi Nerissa semakin hari semakin memburuk. Setelah mengganti obatnya, tubuhnya lebih sering terasa lemas, darah dari hidungnya juga lebih sering menetes. Bukan salah obatnya ataupun Raquil yang tidak cakap. Tapi semua ini Nerissa penyebabnya. Deadline yang selalu mengejarnya membuat gadis itu sering kali melupakan obat yang menjadi penopang hidupnya.Hari ini tepat dua minggu setelah dia mendapatkan obat baru. Dan pertemuan dengan Raquil tadi adalah kali kedua bagi Nerissa.Temannya itu memarahi Nerissa karena gadis itu kerap melewatkan obatnya. Ditambah kesibukan Nerissa membuat fisiknya lebih lemah dari biasanya."Aku akan benar-benar mengurungmu di Rumah sakit jika kau berani melewatkan obatmu lagi," ancamnya.Raquil dan Nerissa berjalan beriringan di lorong Sakit yang tak begitu ramai. "Jangankan obat ini, nasi pun kadang aku lupa memakannya." Sambil mengangkat kotak obatnya, Nerissa masih bisa membantah.Raquil sangat geram dibuatnya. Kenapa temannya ini sangat sulit diberi

  • ALARICK   Alarick Part 34

    Dulu, Nerissa sangat mendambakan pernikahan. Dia membayangkan bagaimana bahagianya dia jika bisa menikah dengan pria yang dia sayangi dan keluar sepenuhnya dari keluarganya—yang dia pikir tidak menyayanginya sama sekali.Namun, semua bayangan tentang indahnya sebuah pernikahan itu pupus begitu saja setelah dia merasakannya sendiri. Mengerikan dan hampir membuatnya gila.Dengan mata sembab, gadis itu melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Beberes rumah, memasak, menyiapkan pakaian untuk Alarick, dia lakukan semua itu setelah apa yang suaminya lakukan malam tadi.Bekas merah di pipinya masih tercetak jelas. Sakitnya pun masih terasa olehnya, namun dia berpura-pura tidak pernah mengalaminya.Suara langkah yang sudah sangat dia kenali mulai mendekat. Namun, Nerissa memilih untuk melajutkan kegiatannya."Ner—""Makanlah. Aku pergi duluan, ada yang harus aku kerjakan." Tanpa menunggu Alarick menyelesaikan ucapannya, Nerissa pergi setelah membawa tas kerjanya.Sementara itu, Alarick hanya

  • ALARICK   Alarick Part 25

    Semesta seakan tak rela melihat kebahagiaan Nerissa. Baru saja beberapa hari lalu sikap Alarick sedikit menghangat padanya, kini pria itu terasa kembali berbeda.Sejak matahari muncul pagi ini, pria itu terus saja sibuk dengan ponselnya. Telepon yang masuk setiap satu jam sekali dan jangan

  • ALARICK   Alarick Part 24

    Setelah hari di mana Alarick membawa Nerissa ke rumah sakit, kini hati Nerissa benar-benar tak tenang. Dia takut Alarick akan mengetahui semuanya. Kalimat yang dia tulis dalam novelnya benar-benar hancur karena pikirannya yang bercabang. “Nerissa aku mau mandi.” Ucapan seseorang mem

  • ALARICK   Alarick Part 23

    “Maafkan aku, aku terpaksa melakukannya. Kau tahu jika aku mengatakan yang sebenarnya apa yang akan terjadi,” bujuk Alarick sambil berjalan menjauh dari sana. Dia khawatir Nerissa akan mendengar apa yang dia bicarakan. Pria jangkung itu memindahkan ponselnya ke telinga sebelah kiri. Terden

  • ALARICK   Alarick Part 22

    Setelah berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, Nerissa mulai menghubungi satu persatu kontak yang diberikan Lovetta. Dia memang tak berharap banyak pada cara ini, namun tak salah juga jika dia mencoba. Nerissa tak mau mengambil resiko jati dirinya diketahui oleh orang-orang me

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status