Home / Romansa / ALARICK / Alarick Part 11

Share

Alarick Part 11

last update publish date: 2021-05-30 23:06:32

Setelah keberangkatan Alarick ke kantornya, Nerissa tak membuang-buang waktu. Gadis itu segera bersiap-siap untuk pergi ke sebuah mini market. Keadaan lemari es yang begitu kosong membuat Nerissa berinisiatif untuk membeli beberapa bahan makanan.

Tak banyak yang akan gadis itu beli. Langkahnya terhenti di sebuah rak sayuran. Tangan mungilnya bergerak dengan lincah memilih sayuran yang hendak dibelinya. Tak hanya itu, Nerissa juga ingin membeli beberapa daging dan telur.

Walaupun makanan instan lebih menggiurkan, namun dia tahu jika itu tak baik untuk kesehatannya begitu pula dengan kesehatan Alarick.

Nerissa memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan sesaat setelah kasir memberitahu total belanjaannya.

“Apakah siang ini harus memasak?” monolognya dalam perjalanan pulang. Sebenarnya memasak bukan hal yang sulit, namun dia tak tahu apakah Alarick akan pulang siang ini atau tidak.

Sesampainya di rumah, Nerissa bergegas menuju dapur dan membereskan bahan makanan yang baru dia beli. Tak lupa dia membuang beberapa sayur yang telah kering dalam lemari es.

Nerissa memutuskan untuk tak masak karena sepertinya Alarick tak akan pulang di siang hari. Gadis itu pergi mengambil laptopnya dan melanjutkan pekerjaan yang sepertinya cukup lama dia tinggalkan.

Menjadi seorang penulis yang berhasil dan terkenal seperti saat ini bukan perjalanan mudah bagi Nerissa. Dia harus melewati berbagai macam rintangan dan penolakan dari perusahaan penerbit. Tak jarang pula dia merevisi naskahnya agar menjadi lebih baik.

Namun perjuangan yang dia lakukan memang tak sia-sia. Dalam hal ini semesta masih mengijinkan Nerissa untuk menikmatinya. Dia juga tak pernah kekurangan uang semenjak bekerja dalam dunia kepenulisan ini.

Entah karena dia terlalu fokus atau karena dia melamun, Nerissa terlonjak saat mendengar ketukan pintu. Kepalanya menoleh ke arah pintu sebelum akhirnya dia beranjak dari duduknya. Sebenarnya agak ragu untuk membuka pintu, dia takut tamu itu untuk Alarick namun dengan terpaksa Nerissa menarik knop pintu hingga terlihat sosok yang ada di hadapannya.

“Hai?” ucap pria itu. Perlahan senyum Nerissa mengembang dan helaan nafas lega terdengar setelahnya.

“Apakah aku sungguh menakutkan?” Wajah polos pria itu benar-benar membuat Nerissa jengkel, namun dia tahu wajah polos itu hanya dibuat-buat untuk sekedar mengejeknya.

“Ya, sangat menakutkan hingga membuatku hampir kehilangan napas. Masuklah.” Keduanya terkekeh sembari berjalan ke dalam apartemen.

“Kenapa begitu sepi? Ke mana suamimu?” Pria itu mendudukan bokongnya di sofa, matanya berputar mengitari ruangan mencari seseorang.

“Kau lupa ini hari apa? Lagi pula kenapa kau tak kerja?” Nerissa menyodorkan segelas air putih di hadapan pria tampan itu.

“Justru aku ke sini karena ingin pamit untuk kembali bekerja di luar kota, ayah bilang aku harus pamit padamu.” Dengan percakapan ini kalian pasti tahu siapa pria ini.

“Padahal kau bisa menghubungiku lewat telepon tanpa harus repot ke sini.” Ya, pria itu Jason. Saudara Nerissa.

“Sudahlah, lagi pula saat ini aku sudah ada di sini. Jadi, apa kau punya makanan? Aku sangat lapar.” Nerissa merotasikan bola matanya. Sedewasa apapun kakaknya ini tetap saja akan bersikap seperti ini jika sedang bersama Nerissa.

“Tunggu sebentar.” Niat awal Nerissa untuk tidak memasak ternyata salah, buktinya saat ini dia harus berkutat dengan peralatan dapur demi menyiapkan sebuah makanan untuk kakaknya.

“Ada yang bisa aku bantu?”

“Tak usah, terakhir kali kau hampir membakar apartemenku saat kau membantuku memasak. Jadi alangkah baiknya sekarang kau duduk manis dan menunggu makananmu siap, oke?” Jason tersenyum menampilkan deretan giginya.

“Itu dulu, mungkin sekarang jika aku membantumu hanya akan menghancurkan dapurnya saja.” Jason terkekeh melihat respon adiknya yang terlihat jengah.

***

Mentari telah kembali ke peraduannya. Secangkir teh hijau menemani Nerissa menunggu datangnya sang tuan rumah. Tak membutuhkan waktu lama, pintu terbuka menandakan orang yang dia tunggu telah tiba.

“Sudah pulang? Mandi lah, aku sudah siapkan air hangat setelah itu makan.” Nerissa beranjak dari tempatnya untuk memanaskan makanan.

Alarick sendiri berjalan menuju kamar dengan tangannya yang sibuk membuka dasi di lehernya. Seperti yang diminta Nerissa tadi, dia segera membersihkan badannya kemudian berlajan mendekati meja makan.

“Untuk apa kau memasak sebanyak ini?” tanyanya pada Nerissa setelah dia melihat begitu banyak makanan di meja makan.

“Sebenarnya sore ini aku hanya memasak ini, dan ini.” Jari telunjuk Nerissa menunjuk dua menu makanan yang memang baru dia masak sore ini.

“Sementara yang lain aku memasaknya siang tadi, kakakku mampir,” lanjutnya. Alarick mengangguk, dia mengeluarkan sebuah kartu dan diserahkannya pada Nerissa.

“Apa ini?” Gadis itu bertanya dengan tangan yang terulur untuk mengambil kartu yang diberikan Alarick.

“Uang bulanan, aku akan transfer setiap bulan.”

“Sebenarnya uangku masih cukup.” Bukannya meremehkan pemberian Alarick, hanya saja dia memang masih bisa membeli kebutuhan rumah tangga dengan uangnya sendiri.

“Itu terserah padamu, yang ini aku akan tetap berikan padamu.” Akhirnya Nerissa mengangguk mendengar penuturan Alarick.

“Makanlah,” ucap Nerissa. Suasana seperti ini memang asing bagi Nerissa maupun Alarick karena mereka terbiasa menyiapkan segala sesuatu sendiri.

***

Suasana di kamar tidur terlihat begitu canggung padahal semalam mereka bisa tidur dengan nyenyak.

“Jangan dulu tidur, ada yang ingin aku bicarakan padamu.” Nerissa yang telah membaringkan badannya sontak bangkit kembali.

“Ada apa?” Raut bingung Nerissa cukup membuat Alarick kehilangan fokusnya untuk sesaat.

“Perjanjian. Aku ingin sebuah perjanjian dalam pernikahan kita.” Dan dimulailah penderitaan Nerissa. Di sini dia harus siap dengan keputusan apapun yang diinginkan Alarick walaupun mungkin dia bisa menolak beberapa.

“Baiklah, katakan.” Nerissa  berusaha menahan getaran dalam suaranya. Dia juga menelan ludahnya dengan susah payah, mungkin karena terlalu gugup.

“Aku tahu kau juga tak menginginkan pernikahan ini,” ucap Alarick.

Aku menginginkannya tentu saja Nerissa tak menjawabnya dengan keras. Dia hanya mengucapkannya dalam hati.

“Dan kau juga tahu jika aku sudah memiliki kekasih. Salah satu keinginan terbesarku adalah menikahinya, namun karena adanya perjodohan ini semua hangus begitu saja.” Alarick menghela nafasnya berat.

“Aku tahu.  Jadi kau mau apa?” Nerissa berusaha mati-matian untuk menghalau air matanya. Dia tak bisa menangis begitu saja di depan Alarick, apalagi mereka sedang membahas Haleth yang notabenenya kekasih Alarick.

Suasana terasa lebih hening untuk sesaat. Nerissa tak menyukainya karena rasa gugupnya semakin bertambah.  Alarick menatap dalam netranya, begitu serius hingga Nerissa mengalihkan pandangannya agar tidak beradu tatap dengan Alarick.

Entah karena berat atau apa, Alarick menyugar rambutnya bersamaan dengan helaan nafas yang terdengar begitu berat.

“Aku ingin—” belum sempat Alarick mengutarakan keinginannya, suara dering telepon berhasil mengalihkan perhatiannya. Dia juga semakin bersemangat saat melihat siapa orang yang menghubunginya di malam hari.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ALARICK   Alarick Part 39

    "Nerissa!" Dibantingnya pintu dengan kencang. Gadis itu masuk ke apartemennya setelah mendapatkan kabar dari Nerissa tentang perceraiannya. Dibantingnya tas selempang yang dia gunakan sembarangan. Saking terburu-burunya, dia sampai lupa ada orang lain yang mengekor dari belakang. Kali ini pintu dibuka dan ditutup dengan lebih manusiawi.Nerissa menolehkan kepalanya melihat dua orang yang baru saja tiba. Beberapa menit lalu, Nerissa memberitahu kedua temannya untuk bertemu di apartemen Lovetta. Gadis itu juga memberitahu akan perceraiannya dengan Alarick."Jelaskan!" Masih Lovetta yang menggebu-gebu, sementara Raquil hanya menyimaknya."Kau ingat saat malam aku pingsan dan kau yang membawaku ke rumah sakit?" tanya Nerissa."Tentu saja aku ingat. Aku hampir gila saat itu melihat keadaanmu," jawab Lovetta.Pandangan mata Nerissa kosong. Ingatannya menerawang jauh ke hari di mana dia pingsan."Sebelum menelponmu, aku menelepon Alarick. Tapi, dia tak mengangkat telponnya dan juga tidak ba

  • ALARICK   Alarick Part 38

    Keheningan menyelimuti ruang tamu apartemen Alarick, padahal di sana ada dua orang yang sedang berkecamuk dengan pikiran mereka.Sepasang suami istri itu duduk berhadapan dengan meja sebagai perantara. Di atas meja itu terdapat sebuah map yang malam tadi diberikan oleh Nerissa pada Alarick—lengkap dengan pena yang tergeletak di atasnya.Masing-masing sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ya, Nerissa memuskan untuk pergi menemui Clara setelahnya."Sudah kau tandatangani?" Nerissa memecah keheningan di antara mereka.Alarick membasahi tenggorokannya. "Apa kau sudah memikirkan alasan yang akan kau sampaikan pada kedua orang tua kita?" tanya Alarick.Nerissa berdecak. "Jika yang kau takutkan kau tidak akan mendapatkan semua harta ayahmu, tenang saja. Seperti keinginanmu, kau akan mendapatkan semuanya tanpa kehilangan sepeser pun," jawab Nerissa.Niatnya dulu menikahi Nerissa memang karena sebuah warisan, tapi mendengar Nerissa berkata demikian mengapa rasanya ada yang mengganjal dalam hatin

  • ALARICK   Alarick Part 37

    Pernihakan Nerissa dan Alarick belum genap satu tahun. Bisa dikatakan pernikahan mereka masih seumur jagung. Namun, selama mereka menjadi bagian satu sama lain, Nerissa tak pernah merasakan kebahagiaan.Bukan hanya Nerissa, Alarick juga sama tersiksanya. Bagi Alarick, kebahagiaannya hanya Haleth.Tapi, meski Nerissa sama sekali tak merasakah bahagia, tak mendapatkan perlakuan sebagai seorang istri dan tak mendapatkan haknya dari seorang suami, Nerissa tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri.Melayani Alarick setelah pria itu pulang bekerja, berbenah rumah, dan juga memasak, itu sudah menjadi rutinitasnya selama menikah dengan Alarick.Nerissa memandang setiap sudut apartemen milik suaminya—takut suatu saat dia akan merindukannya. Meski dia selama ini hanya tidur di sofa saja.Letak apartemen Alarick yang strategis membuat pemandangan malam kota terlihat begitu memanjakan mata. Nerissa sengaja memindahkan sebuah meja bulat di sudut ruangan ke dekat jendela. Tak lupa,

  • ALARICK   Alarick Part 36

    Banyaknya hal yang Nerissa pikirkan membuat gadis itu sulit sekali terlelap. Sudah hampir tengah malam tapi matanya sangat segar. Dia sedari tadi hanya berguling-guling tak menentu di sofa.Suaminya juga belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Jadi, Nerissa merasa bosan. Meski keberadaan Alarick juga tak berpengaruh sebanyak itu, tapi setidaknya dia tahu suaminya ada di rumah."Ah kenapa sulit sekali tidur," ucapnya pelan.Dia memutuskan untuk bangun. Dengan ponsel dalam genggamannya, gadis itu pergi ke dapur hendak mengambil minum dengan harapan dia akan terlelap setelah minum beberapa teguk air.Namun, begitu dia kembali ke sofa, entah kenapa kepalanya terasa pening. Semuanya terasa berputar. Nerissa beberapa kali menggelengkan kepalanya, menutup dan kembali membuka matanya berharap rasa pusingnya menghilang. Namun, harapan hanya harapan. Nyatanya, bukannya membaik, rasa pusing itu kian menjadi.Beruntung, ponselnya ada dalam genggaman. Menelpon Alarick adalah pilihannya karena

  • ALARICK   Alarick Part 35

    Kondisi Nerissa semakin hari semakin memburuk. Setelah mengganti obatnya, tubuhnya lebih sering terasa lemas, darah dari hidungnya juga lebih sering menetes. Bukan salah obatnya ataupun Raquil yang tidak cakap. Tapi semua ini Nerissa penyebabnya. Deadline yang selalu mengejarnya membuat gadis itu sering kali melupakan obat yang menjadi penopang hidupnya.Hari ini tepat dua minggu setelah dia mendapatkan obat baru. Dan pertemuan dengan Raquil tadi adalah kali kedua bagi Nerissa.Temannya itu memarahi Nerissa karena gadis itu kerap melewatkan obatnya. Ditambah kesibukan Nerissa membuat fisiknya lebih lemah dari biasanya."Aku akan benar-benar mengurungmu di Rumah sakit jika kau berani melewatkan obatmu lagi," ancamnya.Raquil dan Nerissa berjalan beriringan di lorong Sakit yang tak begitu ramai. "Jangankan obat ini, nasi pun kadang aku lupa memakannya." Sambil mengangkat kotak obatnya, Nerissa masih bisa membantah.Raquil sangat geram dibuatnya. Kenapa temannya ini sangat sulit diberi

  • ALARICK   Alarick Part 34

    Dulu, Nerissa sangat mendambakan pernikahan. Dia membayangkan bagaimana bahagianya dia jika bisa menikah dengan pria yang dia sayangi dan keluar sepenuhnya dari keluarganya—yang dia pikir tidak menyayanginya sama sekali.Namun, semua bayangan tentang indahnya sebuah pernikahan itu pupus begitu saja setelah dia merasakannya sendiri. Mengerikan dan hampir membuatnya gila.Dengan mata sembab, gadis itu melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Beberes rumah, memasak, menyiapkan pakaian untuk Alarick, dia lakukan semua itu setelah apa yang suaminya lakukan malam tadi.Bekas merah di pipinya masih tercetak jelas. Sakitnya pun masih terasa olehnya, namun dia berpura-pura tidak pernah mengalaminya.Suara langkah yang sudah sangat dia kenali mulai mendekat. Namun, Nerissa memilih untuk melajutkan kegiatannya."Ner—""Makanlah. Aku pergi duluan, ada yang harus aku kerjakan." Tanpa menunggu Alarick menyelesaikan ucapannya, Nerissa pergi setelah membawa tas kerjanya.Sementara itu, Alarick hanya

  • ALARICK   Alarick Part 18

    Sesuai dengan yang dikatakan Nerissa, kini gadis itu telah mengganti pakaian rumah sakitnya dengan pakaian biasa. Walaupun dia baru saja membaik, tapi keadaan memaksanya untuk membereskan peralatannya sendiri.Nerissa kira Alarick akan datang menjemputnya setelah dia mengatakan waktu kepula

  • ALARICK   Alarick Part 17

    Bukan suatu hal yang aneh jika sebuah perusahaan mengalami kerugian, namun untuk saat ini keadaannya jauh berbeda. Di mana hanya seorang sekretaris yang mengurus lonjakan kerugian ini sementara sang Tuan sama sekali tak ada kabarnya.“Sialan! Apa yang harus aku lakukan?” Luciver

  • ALARICK   Alarick Part 15

    “Apa yang ingin kau bicarakan?” Pertanyaan itu muncul begitu mereka sampai di ruang Dokter Lee.“Kau kenal dengan pasien yang baru saja aku tangani?” Raquil mengangguk menanggapi pertanyaan dokter muda itu.“Sebenarnya aku bukan orang yang suka membeberka

  • ALARICK   Alarick Part 26

    Nerissa tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.“Menurutmu, apakah aku bisa bertahan sampai akhir?” tanya Nerissa. Kedua gadis itu mulai mendudukan dirinya di sofa yang tersedia di sana.“Apa? Dengan suamimu?” tanya Lovetta memastikan.Nerissa mengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status