Home / Romansa / ALARICK / Alarick Part 14

Share

Alarick Part 14

last update publish date: 2021-06-02 17:08:27

Sudah hari kedua Alarick berada di Annecy, berarti ini hari kedua juga Luciver menggantikan Alarick untuk mengurus perusahaannya.

Hari ini adalah jadwal pertemuan Luciver dengan klien, sebenarnya sudah hampir satu bulan klien itu tidak menghubungi pihak kantor lagi, namun entah mengapa dua hari lalu tepatnya satu jam setelah Alarick pergi ke Annecy, kliennya itu meminta bertemu dan mendiskusikan perihal desain yang belum sempat mereka sepakati dulu.

Entah sudah berapa menit Luciver mengobrak-abrik isi nakas di ruangan Alarick, namun dia tak kunjung menemukan apa yang dicarinya. Pilihan terakhir Luciver adalah menghubungi pemilik ruangan ini.

“Ada apa?” tanya orang dari seberang sana.

“Di mana kau menyimpan desain milik klien dua bulan lalu?” Luciver tak tinggal diam, tangannya masih terus mencari-cari desain itu.

“Yang mana maksudmu?’’ Seingat Alarick dia tidak pernah menyimpan sebuah desain.

“Klien yang tidak menghubungi lagi setelah kita menunjukan desain yang dia inginkan, dua bulan lalu kau ingat?” Alarick mencoba mengingat klien tersebut. Setelah cukup lama berkutat dengan pikirannya, akhirnya pria itu menjentikan jarinya.

“Ah desain itu? Aku menyimpannya di rumah, di nakas di ruangan kerjaku,” jawab Alarick akhirnya.

“Baiklah, aku akan ke rumahmu untuk mengambilnya. Klien itu kembali dan meminta kita melanjutkannya.” Di seberang sana Alarick mengangguk.

“Ya, mungkin Nerissa juga ada di rumah,” ucap Alarick.

Luciver memutuskan sambungan telepon saat dirasa tak ada yang perlu disampaikan lagi. Kakinya melangkah menuju parkiran. Tak ingin menunggu lama, pria itu segera menancap gas menuju rumah Alarick.

Walaupun kini di apartemen Alarick bertambah jiwa, namun tetap saja suasana sepi masih sangat mendominasi di sana. Luciver memang salah satu orang yang sangat dipercayai Alarick hingga pria itu berani memberikan password apartemennya pada Luciver.

Langkah Luciver terhenti saat netranya menangkap tubuh mungil yang tergeletak begitu saja di depan pintu kamar Alarick. Dengan cepat Luciver menghampirinya.

“Nerissa! Kau kenapa? Bangunlah!” Luciver menggoyangkan tubuh Nerissa. Pria itu juga menepuk pelan pipi Nerissa berharap gadis yang ada di hadapannya akan segera membuka matanya.

Luciver menyerah, setelah beberapa menit dia mencoba membangunkan Nerissa namun gadis itu sepertinya masih sangat nyaman untuk tertidur.

Tanpa berpikir lagi, pria itu segera mengangkat tubuh Nerissa dan membaringkannya di tempat tidur. Luciver melupakan niat awalnya untuk membawa sebuah dokumen, saat ini pria itu lebih memilih mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Apa lagi? Kau tidak menemukannya?” kesal Alarick dari seberang sana.

“Pulang sekarang! Istrimu pingsan.” Luciver tahu, dia tak berhak ikut campur dalam urusan rumah tangga temannya, namun bisakah pria itu sedikit perhatian terhadap temannya? Dia juga tahu walaupun Alarick pulang, tidak mungkin pria itu akan berada di sana dalam waktu beberapa menit, namun setidaknya Alarick lebih memperlihatkan kepeduliannya pada Nerissa.

“Biarkanlah, dia akan bangun lagi nanti. Itu sudah sering terjadi,” ucap Alarick santai. Memang pria itu sering mendapati Nerissa pingsan begitu saja, namun dia tak mempermasalahkannya karena dia pikir Nerissa hanya kelelahan.

“Kau gila! Kau tahu bahwa istrimu sering pingsan dan sekarang kau malah bersenang-senang dengan selingkuhanmu?! Lakukan apa maumu!” Luciver benar-benar hilang kendali saat ini. Dia sungguh tak lagi peduli jika dia akan dipecat.

Pilihan terakhir, pria itu segera menghubungi Tuan Mauricio.

“Selamat pagi, Tuan,” sapanya pada atasannya itu.

“Pagi, ada apa?” Seperti biasa, seorang Tuan Mauricio akan berbicara tanpa basa-basi.

“Saat ini saya berada di apartemen tuan Alarick, Tuan. Saat saya sampai, saya mendapati nona Nerissa pingsan di depan kamarnya. Saya meminta ijin untuk membawa beliau ke rumah sakit,” ucap Luciver.

Tuan Mauricio terperangah mendengar penuturan bawahannya itu.

“Segera bawa ke rumah sakit, aku akan menyusul.” Tuan Mauricio memutuskan sambungannya. Luciver segera mengangkat tubuh Nerissa dan membawanya ke rumah sakit.

***

“Jangan lupa untuk memberinya pil pereda nyeri siang nanti,” ucap gadis ber-snelly itu.

“Baik, Dok.” Kakinya terus melangkah hendak kembali ke ruangannya, namun suara ramai di depan rumah sakit cukup menarik perhatiannya. Gadis itu segera mengubah haluan dan melihat apa yang terjadi di depan rumah sakit.

“Ada apa di sana?” tanyanya pada pengurus resepsionis.

“Nona Nerissa, Dok.” Dengan segera dokter dengan name tag Raquil Caliana itu menghampiri brankar yang saat ini bergerak dengan cepat menuju IGD.

“Apa yang terjadi?” tanya Raquil sambil terus berlari mendorong brankar itu.

“Dia ditemukan pingsan di apartemennya,” jawab perawat yang juga mendorong brankar. Berita saat ini memang sangat cepat menyebar.

Raquil melepaskan brankar saat mereka sampai di IGD. Semua perawat dan seorang dokter masuk ke dalam menyisakan Raquil dan pria tampan yang mengantar Nerissa ke rumah sakit.

Raquil memegang kepalanya dengan satu tangan dengan napas yang terengah. Pikirannya melayang, apakah Nerissa mencoba bunuh diri lagi?

Perlahan netranya bertemu dengan netra pemuda yang kini berada disana.

“Kau kenal dengan Nerissa?” tanya Luciver. Pertanyaan itu sudah sangat ingin dia layangkan sedari tadi karena melihat raut khawatir di wajah dokter itu.

“Ya, aku temannya.” Sejak kejadian percobaan bunuh diri itu, Nerissa menjadi banyak bicara dengan Raquil sehingga bisa dikatakan mereka sangat akrab.

“Kau sendiri?” tanya Raquil.

“Aku teman suaminya,” ucap Luciver. Sungguh tak disangka jika Luciver hanya sebatas teman suaminya.

“Lalu mengapa kau yang membawanya?” Belum sempat Luciver menjawab sebuah suara menginterupsinya.

“Luciver di mana Nerissa?” Tuan Frore ada di sana bersama Tuan Mauricio.

“Dia di dalam, Tuan. Dokter sedang memeriksanya,” ucap Luciver.

“Lalu di mana Alarick? Kenapa kau yang membawanya?” Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sangat Luciver hindari.

“Kenapa kau hanya diam? Di mana anak itu?” lanjut Tuan Mauricio saat dia tak kunjung mendapatkan jawaban dari Luciver.

“Kau tak menjawabku berarti kau memilih keluar dari perusahaanku,” ancamnya. Belum sampai dia melangkah terlalu jauh Luciver baru membuka suaranya.

“Annecy. Dia pergi ke Annecy.” Luciver tak punya pilihan lain. Dia tak bisa mempertaruhkan karirnya hanya untuk melindungi Alarick, dia tahu kekuatan seorang Tuan Mauricio, dia benar-benar tak akan mendapatkan pekerjaan di manapun setelah keluar dari Mauricio Corp.

Perlahan Tuan Mauricio, Tuan Frore dan Raquil memandang Luciver meminta jawaban.

“Ada sesuatu yang harus dia lakukan,” putusnya. Dia berharap dengan berbohong mampu melindungi Alarick dan juga pekerjaannya.

Sejenak Tuan Mauricio memandang Luciver curiga, namun dia segera mengangguk mengiyakan perkataan Luciver.

Dia akan mencari tahu nanti setelah menantunya baik-baik saja.

Seorang dokter keluar dari IGD, dan segera menyapa keluarga Nerissa.

“Bagaimana , Dokter?” tanya Tuan Frore.

“Tak apa, dia hanya kelelahan dan hanya perlu istirahat. Pasien akan di pindahkan ke ruang rawat,” jelasnya.

Kedua pria yang sangat mengkhawatirkan putri dan menantunya itu segera menuju ruang rawat di mana sang putri berada.

Sementara Raquil kini tengah memandang Luciver dengan penuh curiga, walaupun tatapan itu hanya dihiraukannya.

“Dokter Raquil, bisa saya bicara sebentar?” tanya dokter yang baru saja menangani Nerissa. Dengan cepat gadis itu mengangguk dan mengikuti dokter itu menuju ruangannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ALARICK   Alarick Part 39

    "Nerissa!" Dibantingnya pintu dengan kencang. Gadis itu masuk ke apartemennya setelah mendapatkan kabar dari Nerissa tentang perceraiannya. Dibantingnya tas selempang yang dia gunakan sembarangan. Saking terburu-burunya, dia sampai lupa ada orang lain yang mengekor dari belakang. Kali ini pintu dibuka dan ditutup dengan lebih manusiawi.Nerissa menolehkan kepalanya melihat dua orang yang baru saja tiba. Beberapa menit lalu, Nerissa memberitahu kedua temannya untuk bertemu di apartemen Lovetta. Gadis itu juga memberitahu akan perceraiannya dengan Alarick."Jelaskan!" Masih Lovetta yang menggebu-gebu, sementara Raquil hanya menyimaknya."Kau ingat saat malam aku pingsan dan kau yang membawaku ke rumah sakit?" tanya Nerissa."Tentu saja aku ingat. Aku hampir gila saat itu melihat keadaanmu," jawab Lovetta.Pandangan mata Nerissa kosong. Ingatannya menerawang jauh ke hari di mana dia pingsan."Sebelum menelponmu, aku menelepon Alarick. Tapi, dia tak mengangkat telponnya dan juga tidak ba

  • ALARICK   Alarick Part 38

    Keheningan menyelimuti ruang tamu apartemen Alarick, padahal di sana ada dua orang yang sedang berkecamuk dengan pikiran mereka.Sepasang suami istri itu duduk berhadapan dengan meja sebagai perantara. Di atas meja itu terdapat sebuah map yang malam tadi diberikan oleh Nerissa pada Alarick—lengkap dengan pena yang tergeletak di atasnya.Masing-masing sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ya, Nerissa memuskan untuk pergi menemui Clara setelahnya."Sudah kau tandatangani?" Nerissa memecah keheningan di antara mereka.Alarick membasahi tenggorokannya. "Apa kau sudah memikirkan alasan yang akan kau sampaikan pada kedua orang tua kita?" tanya Alarick.Nerissa berdecak. "Jika yang kau takutkan kau tidak akan mendapatkan semua harta ayahmu, tenang saja. Seperti keinginanmu, kau akan mendapatkan semuanya tanpa kehilangan sepeser pun," jawab Nerissa.Niatnya dulu menikahi Nerissa memang karena sebuah warisan, tapi mendengar Nerissa berkata demikian mengapa rasanya ada yang mengganjal dalam hatin

  • ALARICK   Alarick Part 37

    Pernihakan Nerissa dan Alarick belum genap satu tahun. Bisa dikatakan pernikahan mereka masih seumur jagung. Namun, selama mereka menjadi bagian satu sama lain, Nerissa tak pernah merasakan kebahagiaan.Bukan hanya Nerissa, Alarick juga sama tersiksanya. Bagi Alarick, kebahagiaannya hanya Haleth.Tapi, meski Nerissa sama sekali tak merasakah bahagia, tak mendapatkan perlakuan sebagai seorang istri dan tak mendapatkan haknya dari seorang suami, Nerissa tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri.Melayani Alarick setelah pria itu pulang bekerja, berbenah rumah, dan juga memasak, itu sudah menjadi rutinitasnya selama menikah dengan Alarick.Nerissa memandang setiap sudut apartemen milik suaminya—takut suatu saat dia akan merindukannya. Meski dia selama ini hanya tidur di sofa saja.Letak apartemen Alarick yang strategis membuat pemandangan malam kota terlihat begitu memanjakan mata. Nerissa sengaja memindahkan sebuah meja bulat di sudut ruangan ke dekat jendela. Tak lupa,

  • ALARICK   Alarick Part 36

    Banyaknya hal yang Nerissa pikirkan membuat gadis itu sulit sekali terlelap. Sudah hampir tengah malam tapi matanya sangat segar. Dia sedari tadi hanya berguling-guling tak menentu di sofa.Suaminya juga belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Jadi, Nerissa merasa bosan. Meski keberadaan Alarick juga tak berpengaruh sebanyak itu, tapi setidaknya dia tahu suaminya ada di rumah."Ah kenapa sulit sekali tidur," ucapnya pelan.Dia memutuskan untuk bangun. Dengan ponsel dalam genggamannya, gadis itu pergi ke dapur hendak mengambil minum dengan harapan dia akan terlelap setelah minum beberapa teguk air.Namun, begitu dia kembali ke sofa, entah kenapa kepalanya terasa pening. Semuanya terasa berputar. Nerissa beberapa kali menggelengkan kepalanya, menutup dan kembali membuka matanya berharap rasa pusingnya menghilang. Namun, harapan hanya harapan. Nyatanya, bukannya membaik, rasa pusing itu kian menjadi.Beruntung, ponselnya ada dalam genggaman. Menelpon Alarick adalah pilihannya karena

  • ALARICK   Alarick Part 35

    Kondisi Nerissa semakin hari semakin memburuk. Setelah mengganti obatnya, tubuhnya lebih sering terasa lemas, darah dari hidungnya juga lebih sering menetes. Bukan salah obatnya ataupun Raquil yang tidak cakap. Tapi semua ini Nerissa penyebabnya. Deadline yang selalu mengejarnya membuat gadis itu sering kali melupakan obat yang menjadi penopang hidupnya.Hari ini tepat dua minggu setelah dia mendapatkan obat baru. Dan pertemuan dengan Raquil tadi adalah kali kedua bagi Nerissa.Temannya itu memarahi Nerissa karena gadis itu kerap melewatkan obatnya. Ditambah kesibukan Nerissa membuat fisiknya lebih lemah dari biasanya."Aku akan benar-benar mengurungmu di Rumah sakit jika kau berani melewatkan obatmu lagi," ancamnya.Raquil dan Nerissa berjalan beriringan di lorong Sakit yang tak begitu ramai. "Jangankan obat ini, nasi pun kadang aku lupa memakannya." Sambil mengangkat kotak obatnya, Nerissa masih bisa membantah.Raquil sangat geram dibuatnya. Kenapa temannya ini sangat sulit diberi

  • ALARICK   Alarick Part 34

    Dulu, Nerissa sangat mendambakan pernikahan. Dia membayangkan bagaimana bahagianya dia jika bisa menikah dengan pria yang dia sayangi dan keluar sepenuhnya dari keluarganya—yang dia pikir tidak menyayanginya sama sekali.Namun, semua bayangan tentang indahnya sebuah pernikahan itu pupus begitu saja setelah dia merasakannya sendiri. Mengerikan dan hampir membuatnya gila.Dengan mata sembab, gadis itu melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Beberes rumah, memasak, menyiapkan pakaian untuk Alarick, dia lakukan semua itu setelah apa yang suaminya lakukan malam tadi.Bekas merah di pipinya masih tercetak jelas. Sakitnya pun masih terasa olehnya, namun dia berpura-pura tidak pernah mengalaminya.Suara langkah yang sudah sangat dia kenali mulai mendekat. Namun, Nerissa memilih untuk melajutkan kegiatannya."Ner—""Makanlah. Aku pergi duluan, ada yang harus aku kerjakan." Tanpa menunggu Alarick menyelesaikan ucapannya, Nerissa pergi setelah membawa tas kerjanya.Sementara itu, Alarick hanya

  • ALARICK   Alarick Part 23

    “Maafkan aku, aku terpaksa melakukannya. Kau tahu jika aku mengatakan yang sebenarnya apa yang akan terjadi,” bujuk Alarick sambil berjalan menjauh dari sana. Dia khawatir Nerissa akan mendengar apa yang dia bicarakan. Pria jangkung itu memindahkan ponselnya ke telinga sebelah kiri. Terden

  • ALARICK   Alarick Part 22

    Setelah berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, Nerissa mulai menghubungi satu persatu kontak yang diberikan Lovetta. Dia memang tak berharap banyak pada cara ini, namun tak salah juga jika dia mencoba. Nerissa tak mau mengambil resiko jati dirinya diketahui oleh orang-orang me

  • ALARICK   Alarick Part 21

    “Kau? Sedang apa kau di sini?” Seseorang masuk begitu saja ke dalam ruangan Tuan Frore. “A-Aku sedang berbicara dengan Ayahmu,” jawab Alarick. Pria itu sedikit tergagap karena kedatangan istrinya yang tiba-tiba. “Kau sendiri sedang apa di sini?” lanjut Alarick. “Ada sesuatu y

  • ALARICK   Alarick Part 19

    “Setidaknya kau bilang padanya, bukannya membiarkan orang berharap atas kedatanganmu!” Emosi Lovetta sudah tak terbendung. Awalnya dia akan membiarkan Nerissa yang mengurus rumah tangganya sendiri. Lovetta tahu dia tidak berhak ikut campur dalam rumah tangga seseorang, tapi sahabat mana ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status