Home / Romansa / ALARICK / Alarick Part 5

Share

Alarick Part 5

last update Petsa ng paglalathala: 2021-05-24 23:26:46

Seperti yang direncanakan beberapa hari yang lalu, kini kedua keluarga itu dipertemukan kembali untuk membahas apa yang seharusnya mereka bahas. Wajah Alarick seperti biasanya, terlihat datar. Pria itu mengeluarkan ponsel setelah menyelesaikan acara makannya. Jari-jarinya menari indah di atas ponsel pintar itu.

Nomor yang ditujunya saat ini adalah mantan kekasihnya. Entah gadis itu akan membalas atau tidak, yang penting dia sudah mencoba.

“Baiklah, seperti yang kita bicarakan beberapa hari lalu Nerissa, maukah kau menikah dengan putraku?” Tuan Maurucio memandang penuh harap pada Nerissa.

Sejenak gadis itu terdiam mengingat percakapannya dengan Alarick di telepon satu hari lalu.

“Aku benar-benar tak ingin menikah denganmu, dan sayangnya hanya kau yang bisa menolak pernikahan ini. Aku harap kau mengerti maksudku.” Katakanlah Alarick labil. bukannya dia sudah menyetujui untuk pernikahan ini?

Lagi dan lagi serangkaian kalimat yang membuat Nerissa muak itu keluar dari bibir Alarick, dan saat ini perkataan Alarick masih terus terngiang di telinganya, namun dengan tenang Nerissa menjawab pertanyaan Tuan Mauricio.

“Ya, tentu saja aku menerimanya.” Nerissa tersenyum sinis. Berbeda dengan Alarick yang saat ini sudah mendongakkan kepalanya menatap Nerissa dengan pandangan tidak menyangka. Dia kira Nerissa akan menolak perjodohan ini mengingat dia sudah memperjelas perasaannya satu hari yang lalu lewat telepon.

“Aahhh leganya. Baiklah, pernikahan kalian akan dilaksanakan tiga hari lagi.” Tuan Frore tersenyum mendengar penuturan Tuan Mauricio.

“Boleh aku berbicara sebentar dengan Nerissa?” Pandangan Alarick terarah pada Ayah Nerissa dan Ayahnya meminta persetujuan.

“Ya tentu saja.” Alarick menatap Nerissa memberikan kode agar menjauh dari sana. Nerissa yang mendapat sinyal itu segera beranjak dari sana menuju sebuah kursi yang jaraknya cukup jauh.

“Ada apa denganmu?” Alarick melayangkan sebuah pertanyaan begitu dia duduk di kursi itu.

“Memangnya ada apa?” Nerissa seakan tak merasa bersalah sedikitpun. Tunggu, bukankah dia memang tidak salah? Dia hanya berusaha membalas budi pada keluarga Mauricio.

Alarick berdecak mendengar pertanyaan Nerissa.

“Bukannya aku sudah memperjelasnya satu hari lalu bahwa aku tak ingin menikah denganmu?” Alarick sedikit meninggikan nada bicaranya.

“Ya, kau memang sudah memberitahuku dengan sangat jelas bahwa kau tak ingin menikah denganku,” jawab Nerissa dengan penekanan di setiap katanya.

“Kau sudah tahu perasaanku padamu, kau juga sudah tahu bahwa aku memiliki kekasih. Bukannya namamu yang akan buruk jika seorang penulis terkenal menikahi pria yang telah memikili kekasih?” ucapan Alarick memang ada benarnya. Lalu Nerissa bisa apa jika dia tidak diberi hak untuk menolak pernikahan itu?

Nerissa tersenyum sinis.

“Dan sekarang kau peduli padaku?” tanya Nerissa. Alarick membuang muka, tangannya terangkat memegang pelipisnya. Apa lagi yang harus dia lakukan agar pernikahan ini tak terjadi?

“Terserah padamu.” Alarick beranjak dari sana kembali ke kursi di mana ayah dan ayahnya Nerissa berada.

***

Satu hari sebelum pernikahan. Setelah Nerissa menerima lamaran beberapa hari ke belakang, dia benar-benar tak bertemu lagi dengan Alarick. Yang dia tahu, saat ini Alarick marah padanya karena mengiyakan perjodohan itu.

Perkataan Alarick terus saja terngiang-ngiang di telinganya.

“Kau sudah tahu perasaanku padamu, kau juga sudah tahu bahwa aku memiliki kekasih. Bukannya namamu yang akan buruk jika seorang penulis terkenal menikahi pria yang telah memikili kekasih?”  Memang benar, bisa dikatakan bahwa nama Nerissa sangat besar, selain statusnya sebagai putri keluarga Frore, dia juga merupakan seorang penulis yang tentu saja namanya terkenal di mana-mana.

Apakah namanya akan tercoreng jika dia melakukan pernikahan dengan pria yang telah memiliki kekasih? Lalu apa yang harus dia lakukan saat ini? Apakah dia harus mempercepat waktu kematiannya?

Nerissa segera beranjak di saat dia tahu apa yang harus dilakukannya untuk membatalkan pernikahan ini. Memang tidak bisa dia pungkiri bahwa rencana pernikahan ini membuatnya bahagia, namun dia juga tak bisa merenggut kebahagiaan Alarick begitu saja.

Nerissa memilih memesan taksi dengan segala pertimbangan, salah satunya agar dia tak merepotkan orang lain nantinya.

Setelah sampai di tempat tujuannya, ah bukan, sebenarnya dia hanya mencari tempat yang ramai dengan kendaraan. Gadis itu keluar dari dalam taksi dan melihat sekeliling. Salah satu jalan yang ramai dengan kendaraan dengan kecepatan yang tidak bisa dikatakan pelan.

Deru kendaraan terdengar di seluruh penjuru tempat yang ada di sana. Suara klakson mampu membuat orang-orang yang mendengarnya secara spontan menutup telinga mereka untuk meminimalisir suara yang mengganggu itu.

Dari arah sebelah kanan, Nerissa melihat sebuah mobil yang melaju begitu kencang. Dengan sigap, Nerissa melepaskan tas yang semula mengantung dengan indah di bahunya. Ketika mobil itu mendekat ke arahnya, Nerissa melemparkan tubuhnya ke tengah jalan.

Tubuhnya terpental setelah bertabrakan dengan bagian depan mobil tersebut. Suara tabrakan itu terdengar cukup nyaring sehingga membuat orang-orang yang ada di sana tersentak.

“Aku berhasil, bukan? Membatalkan  pernikahan ini?” bisiknya. Senyum simpul terukir di bibirnya sebelum rasa kantuk merenggut kesadarannya.

Beberapa orang berpakaian hitam lengkap dengan earpiece yang tertempel di telinganya segera mengerubungi Nerissa yang kini sudah tidak berdaya. Mereka segera mengangkat Nerissa untuk di bawa ke rumah sakit.

Sementara pengendara mobil yang menabrak Nerissa terluka kecil di bagian pelipisnya juga di bawa ke rumah sakit.

“Maafkan aku tuan, gadis ini tiba-tiba melompat ke arah mobilku,” jelasnya pada orang-orang berpakaian hitam itu.

“Tak apa, aku tahu.” Gadis berkulit putih itu kini memperhatikan setiap bagian wajah gadis yang kini terbaring lemah di sampingnya itu. Ya, dia mengetahui gadis ini. Nerissa Frore seorang penulis terkenal dan seorang putri dari pengusaha sukses di negeri ini. Bukannya besok hari pernikahannya?

Gadis dengan name tag Raquil Caliana itu mengusap darah di pelipisnya dengan tissu.

“Kami ingin meminta maaf atas kejadian beberapa menit lalu.” Raquil mengangguk menanggapi perkataan pria berpakaiann hitam di sampingnya. Dia mengerti apa yang maksud pria itu. Entah masalah apa yang dihadapi penulis ini hingga memilih untuk mengakhiri hidupnya.

“Namaku Fillan, Fillan Elfern. Hubungi nomor ini jika kau membutuhkan sesuatu atau jika kau membutuhkan ganti  kerugian.” Pria yang menjadi bodyguard Nerissa itu memberikan sebuah kartu kecil yang berisi nomor ponsel dan sebuah alamat.

Sebuah brankar didorong mendekati Nerissa saat mobil yang ditumpangi Nerissa berhenti di depan rumah sakit.

“Lakukan apapun untuk menyelamatkannya.” Fillan merogoh ponsel di saku sebelah kanannya, dia segera menghubungi Tuan Frore secara langsung.

“Maaf Tuan, kami tak sempat menghentikan Nona Nerissa. Sekarang kami ada di rumah sakit xxx.” Tuan Frore memutuskan sambungannya setelah dia mendapatkan lokasi putrinya saat ini.

Beberapa orang melangkahkan kakinya cepat menuju ruangan dimana Nerissa ditangani. Raquil juga ada di sana, bagaimanapun dia yang membuat Nerissa menjadi seperti ini.

“Di mana Nerissa?” Tuan Frore tergopoh dan tanpa jeda langsung menanyakan keberadaan putrinya pada Fillan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • ALARICK   Alarick Part 39

    "Nerissa!" Dibantingnya pintu dengan kencang. Gadis itu masuk ke apartemennya setelah mendapatkan kabar dari Nerissa tentang perceraiannya. Dibantingnya tas selempang yang dia gunakan sembarangan. Saking terburu-burunya, dia sampai lupa ada orang lain yang mengekor dari belakang. Kali ini pintu dibuka dan ditutup dengan lebih manusiawi.Nerissa menolehkan kepalanya melihat dua orang yang baru saja tiba. Beberapa menit lalu, Nerissa memberitahu kedua temannya untuk bertemu di apartemen Lovetta. Gadis itu juga memberitahu akan perceraiannya dengan Alarick."Jelaskan!" Masih Lovetta yang menggebu-gebu, sementara Raquil hanya menyimaknya."Kau ingat saat malam aku pingsan dan kau yang membawaku ke rumah sakit?" tanya Nerissa."Tentu saja aku ingat. Aku hampir gila saat itu melihat keadaanmu," jawab Lovetta.Pandangan mata Nerissa kosong. Ingatannya menerawang jauh ke hari di mana dia pingsan."Sebelum menelponmu, aku menelepon Alarick. Tapi, dia tak mengangkat telponnya dan juga tidak ba

  • ALARICK   Alarick Part 38

    Keheningan menyelimuti ruang tamu apartemen Alarick, padahal di sana ada dua orang yang sedang berkecamuk dengan pikiran mereka.Sepasang suami istri itu duduk berhadapan dengan meja sebagai perantara. Di atas meja itu terdapat sebuah map yang malam tadi diberikan oleh Nerissa pada Alarick—lengkap dengan pena yang tergeletak di atasnya.Masing-masing sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ya, Nerissa memuskan untuk pergi menemui Clara setelahnya."Sudah kau tandatangani?" Nerissa memecah keheningan di antara mereka.Alarick membasahi tenggorokannya. "Apa kau sudah memikirkan alasan yang akan kau sampaikan pada kedua orang tua kita?" tanya Alarick.Nerissa berdecak. "Jika yang kau takutkan kau tidak akan mendapatkan semua harta ayahmu, tenang saja. Seperti keinginanmu, kau akan mendapatkan semuanya tanpa kehilangan sepeser pun," jawab Nerissa.Niatnya dulu menikahi Nerissa memang karena sebuah warisan, tapi mendengar Nerissa berkata demikian mengapa rasanya ada yang mengganjal dalam hatin

  • ALARICK   Alarick Part 37

    Pernihakan Nerissa dan Alarick belum genap satu tahun. Bisa dikatakan pernikahan mereka masih seumur jagung. Namun, selama mereka menjadi bagian satu sama lain, Nerissa tak pernah merasakan kebahagiaan.Bukan hanya Nerissa, Alarick juga sama tersiksanya. Bagi Alarick, kebahagiaannya hanya Haleth.Tapi, meski Nerissa sama sekali tak merasakah bahagia, tak mendapatkan perlakuan sebagai seorang istri dan tak mendapatkan haknya dari seorang suami, Nerissa tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri.Melayani Alarick setelah pria itu pulang bekerja, berbenah rumah, dan juga memasak, itu sudah menjadi rutinitasnya selama menikah dengan Alarick.Nerissa memandang setiap sudut apartemen milik suaminya—takut suatu saat dia akan merindukannya. Meski dia selama ini hanya tidur di sofa saja.Letak apartemen Alarick yang strategis membuat pemandangan malam kota terlihat begitu memanjakan mata. Nerissa sengaja memindahkan sebuah meja bulat di sudut ruangan ke dekat jendela. Tak lupa,

  • ALARICK   Alarick Part 36

    Banyaknya hal yang Nerissa pikirkan membuat gadis itu sulit sekali terlelap. Sudah hampir tengah malam tapi matanya sangat segar. Dia sedari tadi hanya berguling-guling tak menentu di sofa.Suaminya juga belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Jadi, Nerissa merasa bosan. Meski keberadaan Alarick juga tak berpengaruh sebanyak itu, tapi setidaknya dia tahu suaminya ada di rumah."Ah kenapa sulit sekali tidur," ucapnya pelan.Dia memutuskan untuk bangun. Dengan ponsel dalam genggamannya, gadis itu pergi ke dapur hendak mengambil minum dengan harapan dia akan terlelap setelah minum beberapa teguk air.Namun, begitu dia kembali ke sofa, entah kenapa kepalanya terasa pening. Semuanya terasa berputar. Nerissa beberapa kali menggelengkan kepalanya, menutup dan kembali membuka matanya berharap rasa pusingnya menghilang. Namun, harapan hanya harapan. Nyatanya, bukannya membaik, rasa pusing itu kian menjadi.Beruntung, ponselnya ada dalam genggaman. Menelpon Alarick adalah pilihannya karena

  • ALARICK   Alarick Part 35

    Kondisi Nerissa semakin hari semakin memburuk. Setelah mengganti obatnya, tubuhnya lebih sering terasa lemas, darah dari hidungnya juga lebih sering menetes. Bukan salah obatnya ataupun Raquil yang tidak cakap. Tapi semua ini Nerissa penyebabnya. Deadline yang selalu mengejarnya membuat gadis itu sering kali melupakan obat yang menjadi penopang hidupnya.Hari ini tepat dua minggu setelah dia mendapatkan obat baru. Dan pertemuan dengan Raquil tadi adalah kali kedua bagi Nerissa.Temannya itu memarahi Nerissa karena gadis itu kerap melewatkan obatnya. Ditambah kesibukan Nerissa membuat fisiknya lebih lemah dari biasanya."Aku akan benar-benar mengurungmu di Rumah sakit jika kau berani melewatkan obatmu lagi," ancamnya.Raquil dan Nerissa berjalan beriringan di lorong Sakit yang tak begitu ramai. "Jangankan obat ini, nasi pun kadang aku lupa memakannya." Sambil mengangkat kotak obatnya, Nerissa masih bisa membantah.Raquil sangat geram dibuatnya. Kenapa temannya ini sangat sulit diberi

  • ALARICK   Alarick Part 34

    Dulu, Nerissa sangat mendambakan pernikahan. Dia membayangkan bagaimana bahagianya dia jika bisa menikah dengan pria yang dia sayangi dan keluar sepenuhnya dari keluarganya—yang dia pikir tidak menyayanginya sama sekali.Namun, semua bayangan tentang indahnya sebuah pernikahan itu pupus begitu saja setelah dia merasakannya sendiri. Mengerikan dan hampir membuatnya gila.Dengan mata sembab, gadis itu melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Beberes rumah, memasak, menyiapkan pakaian untuk Alarick, dia lakukan semua itu setelah apa yang suaminya lakukan malam tadi.Bekas merah di pipinya masih tercetak jelas. Sakitnya pun masih terasa olehnya, namun dia berpura-pura tidak pernah mengalaminya.Suara langkah yang sudah sangat dia kenali mulai mendekat. Namun, Nerissa memilih untuk melajutkan kegiatannya."Ner—""Makanlah. Aku pergi duluan, ada yang harus aku kerjakan." Tanpa menunggu Alarick menyelesaikan ucapannya, Nerissa pergi setelah membawa tas kerjanya.Sementara itu, Alarick hanya

  • ALARICK   Alarick Part 21

    “Kau? Sedang apa kau di sini?” Seseorang masuk begitu saja ke dalam ruangan Tuan Frore. “A-Aku sedang berbicara dengan Ayahmu,” jawab Alarick. Pria itu sedikit tergagap karena kedatangan istrinya yang tiba-tiba. “Kau sendiri sedang apa di sini?” lanjut Alarick. “Ada sesuatu y

  • ALARICK   Alarick Part 19

    “Setidaknya kau bilang padanya, bukannya membiarkan orang berharap atas kedatanganmu!” Emosi Lovetta sudah tak terbendung. Awalnya dia akan membiarkan Nerissa yang mengurus rumah tangganya sendiri. Lovetta tahu dia tidak berhak ikut campur dalam rumah tangga seseorang, tapi sahabat mana ya

  • ALARICK   Alarick Part 18

    Sesuai dengan yang dikatakan Nerissa, kini gadis itu telah mengganti pakaian rumah sakitnya dengan pakaian biasa. Walaupun dia baru saja membaik, tapi keadaan memaksanya untuk membereskan peralatannya sendiri.Nerissa kira Alarick akan datang menjemputnya setelah dia mengatakan waktu kepula

  • ALARICK   Alarick Part 17

    Bukan suatu hal yang aneh jika sebuah perusahaan mengalami kerugian, namun untuk saat ini keadaannya jauh berbeda. Di mana hanya seorang sekretaris yang mengurus lonjakan kerugian ini sementara sang Tuan sama sekali tak ada kabarnya.“Sialan! Apa yang harus aku lakukan?” Luciver

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status