Mag-log in“Minumlah selagi hangat.” Nerissa memandang ragu pada Lovetta. Lovetta yang mengerti dengan tatapan temannya mendengus kesal.
“Sudah aku rebus. Memang kau kira sudah berapa lama kita berteman?” Nerissa yang mendengar penuturan temannya itu tersenyum simpul.
“Terima kasih.”
“Sepertinya bukan aku yang harus hati-hati dengan menu makananmu, tapi dirimu sendiri. Makanan macam apa lagi yang kau makan dalam seminggu ini?” Lovetta menatap Nerissa curiga karena dia memang sudah tahu seperti apa sifat Nerissa.
“Hanya dua potong sandwich,” ujar Nerissa tanppa beban. Sebuah bantal melayang tepat mengenai kepalanya.
“Aku jadi ragu kau punya umur pendek.” Lovetta kesal dengan temannya ini.
“Sudahlah, aku sedang menikmati masa-masa hidupku.” Penuturan Nerissa sukses membuat Lovetta bungkam. Dengan segera gadis itu mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Jadi, apa lagi kali ini?” Lovetta meneguk teh yang sebelumnya dia seduh. Pandangannya terarah pada Nerissa meminta jawaban pada gadis itu.
“Ayah ingin aku menikah.” Jari telunjuknya memutar menyentuh tepian cangkir. Matanya menerawang, pikirannya melayang ke moment di mana dia dipertemukan dengan Alarick dan ayahnya.
“Bagus, lagipula umurmu sudah cocok untuk berkeluarga,” ucap Lovetta diiringi dengan anggukannya, namun sepertinya orang yang ada di hadapannya tidak setuju dengan pendapat Lovetta. Nerissa memandang lekat Lovetta sebelum berkata.
“Bahkan jika aku harus menikahi Alarick?” Ucapan Nerissa berhasil membuat Lovetta tersedak, matanya membulat, fokusnya kini hanya pada Nerissa saja.
“What?” Lovetta menyimpan cangkirnya di meja dan segera berjalan ke samping Nerissa.
“Ayahku ingin aku menikah dengan Alarick.” Lovetta tak menjawab, dia ingin tahu kelanjutan cerita Nerissa.
“Alarick bilang, satu minggu lagi.” Lovetta bangkit dari duduknya kedua tangannya menggebrak meja yang membuat Nerissa tersentak.
“Bagus, kamu menyukainya, kan? Dan satu minggu lagi kalian akan menikah.” Di sini entah siapa yang akan menikah. Mengapa Lovetta begitu bersemangat atas pernikahannya?
“Ya. Dan bagus juga karena alasan mereka menjodohkanku adalah sebuah balas budi. Keluarga Alarick menolong keluargaku saat perusahaan ayah hampir bangkrut. Bukankah secara tidak langsung dia sudah menjualku?” Nerissa kembali melanjutkan acara minumnya.
“Ya. Dan sekarang aku mulai setuju dengan raut wajahmu itu. Bagaimana bisa ayahmu melakukan itu?” Nerissa yang mendengar penuturan Lovetta langsung memutar bola matanya.
“Bagaimana bisa kau berubah pikiran begitu cepat?”
“Karena sebelumnya aku tak mengetahui alasannya.” Nerissa berdecak dan mengacuhkan ucapan Lovetta.
“Lihatlah, sebenarnya ada apa dengan penampilanmu?” Nerissa menunjuk ujung kepala Lovetta hingga ujung kakinya.
Lovetta tak menjawab pertanyaan Nerissa. Gadis itu mengacungkan ponselnya yang menampilkan aplikasi baca online. Nerissa memegang kepalanya. Bagaimana bisa temannya ini begitu kecanduan platform baca satu itu.
“Ya. Itulah dirimu. Jika tidak begitu, maka aku akan sangat takut saat ini.” Mereka berdua terkekeh.
***
Alarick memandang langit-langit kamarnya. Pikirannya melayang ke masa di mana Haleth memutuskannya. Otaknya mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja walaupun dia putus dengan Haleth, namun hatinya tak dapat berbohong bahwa dia masih menginginkan gadis itu di sisinya.
Tanganya bergerak mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas di samping ranjang. Beberapa kali dia berpikir ulang untuk menelpon ayahnya atau tidak.
“Halo, Ayah. Tentang perjodohan itu, aku akan melakukannya.” Matanya terpejam kuat. Entahlah apakah ini pilihan yang tepat atau tidak.
“Pilihan yang bagus, Nak. Mari kita atur pertemuan kembali.”
“Hhmm.” Alarick memandang ponselnya lekat-lekat setelah ayahnya memutuskan sambungan telepon.
Kakinya melangkah menuju dapur. Hidup sendiri membuat dirinya terbiasa melakukan apapun sendiri. Seperti saat ini, dengan telaten tangannya menggerakkan pisau mengiris daun bawang dan sayuran lainnya.
Menu sarapan kali ini hanya sepiring nasi goreng dengan omelet di atasnya. Memasaknya sendiri, Alarick juga makan sendiri. Ayahnya pernah menawarkan seorang maid untuk bekerja di apartemennya, namun dengan berbagai alasan Alarick menolak tawaran itu.
“Tak terlalu buruk,” desisnya. Mungkin bukan tak terlalu buruk, tapi lebih ke jauh dari kata buruk. Mungkin karena terbiasa, hingga Alarick benar-benar bisa memasak apapun dengan tangannya sendiri.
Beruntunglah mereka yang nantinya berhasil mendapatkan Alarick karena selain pintar berbisnis, pria itu juga pandai memasak. Mungkin hanya satu yang tidak bisa dilakukan pria itu, membereskan rumah menurutnya merupakan hal yang merepotkan, sehingga dia selalu meminta maid di rumahnya untuk berbenah di sini sesekali.
Dering ponsel memaksa Alarick untuk menunda sarapannya. Tangannya terarah untuk mengangkat panggilan itu.
“Hmm ada apa?” ucapnya dingin seperti biasa.
“Bisakah kau ke kantor lebih cepat? Klienmu meminta memajukan jadwal pertemuannya.” Alarick mendengus mendengar penuturan sekretarisnya itu.
“Oke, beri aku 20 menit untuk sampai ke sana.” Alarick bangkit dari duduknya. Nafsu makannya hilang karena telepon itu.
Lekuk tubuh atletisnya terlihat saat dia membuka pakaiannya. Jika dilihat dari penampilan fisiknya, Alarick bisa dikatakan manusia yang sangat sempurna. Bentuk tubuh berotot, bergelimang harta, ketampanan pria itu yang bisa dikatakan di atas rata-rata dan jangan lupakan jika dia juga merupakan pewaris tunggal Mauricio Corp.
Dengan semua yang dia miliki, bukan berarti kehidupannya sempurna. Pria itu sering kali merasa tertekan dengan segala keputusan ayahnya, seperti saat ini.
Dia harus mengurus segala hal tentang perusahaan ayahnya walaupun dia belum diresmikan menjadi CEO, namun dia tetap melakukannya karena alasan berbakti kepada orang tuanya.
Setelah selesai dengan segala persiapannya, Alarick mengambil kunci mobilnya dan segera pergi ke kantornya.
Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh mengingat jarak apartemennya yang terbilang cukup jauh dari kantornya.
Seperti biasa, sesampainya di sana banyak sekali mata yang terpusat padanya. Bahkan ketika pria itu tak tersenyum sedikitpun, pesonanya akan tetap memancar ke setiap penjuru ruangan.
Alarick masuk ke ruangannya setelah beberapa menit lalu dia menyelesaikan pertemuannya. Dia menyandarkan badannya pada sandaran kursi. Rasanya sangat lelah, mungkin karena pikirannya yang bercabang saat ini.
***
“Jadi ... apa keputusanmu?” Pria itu meneguk minuman yang ada di hadapannya. Tempat favorit untuknya dan tentu saja untuk gadis yang ada di sampingnya.
“Aku memutuskannya. Tentu saja aku tak ingin menikah dengan orang miskin.” Gadis itu berjalan ke arah kerumunan orang yang tengah meliukkan badannya mengikuti alunan musik.
“Lalu?” Pria itu ternyata mengikutinya. Mereka ikut meliukkan badannya.
“Lalu aku akan kembali menemuinya setelah dia berhasil mendapatkan harta ayahnya.” Gadis itu tersenyum simpul.
“Ohoo, seperti yang aku duga, itulah Haleth temanku.” Pria itu tertawa bersama dengan musik yang memekakkan telinga.
“Tentang kepergianmu ke luar negeri?” lanjut pria itu.
“Luar negeri? Aku akan melakukannya, tapi bukan untuk karirku. Aku ingin bersenang-senang denganmu Jaylen.” Haleth mengalungkan tangannya ke leher Jaylen. Perlahan wajah mereka saling mendekat sebelum kemudian ciuman panas itu mereka lakukan.
"Nerissa!" Dibantingnya pintu dengan kencang. Gadis itu masuk ke apartemennya setelah mendapatkan kabar dari Nerissa tentang perceraiannya. Dibantingnya tas selempang yang dia gunakan sembarangan. Saking terburu-burunya, dia sampai lupa ada orang lain yang mengekor dari belakang. Kali ini pintu dibuka dan ditutup dengan lebih manusiawi.Nerissa menolehkan kepalanya melihat dua orang yang baru saja tiba. Beberapa menit lalu, Nerissa memberitahu kedua temannya untuk bertemu di apartemen Lovetta. Gadis itu juga memberitahu akan perceraiannya dengan Alarick."Jelaskan!" Masih Lovetta yang menggebu-gebu, sementara Raquil hanya menyimaknya."Kau ingat saat malam aku pingsan dan kau yang membawaku ke rumah sakit?" tanya Nerissa."Tentu saja aku ingat. Aku hampir gila saat itu melihat keadaanmu," jawab Lovetta.Pandangan mata Nerissa kosong. Ingatannya menerawang jauh ke hari di mana dia pingsan."Sebelum menelponmu, aku menelepon Alarick. Tapi, dia tak mengangkat telponnya dan juga tidak ba
Keheningan menyelimuti ruang tamu apartemen Alarick, padahal di sana ada dua orang yang sedang berkecamuk dengan pikiran mereka.Sepasang suami istri itu duduk berhadapan dengan meja sebagai perantara. Di atas meja itu terdapat sebuah map yang malam tadi diberikan oleh Nerissa pada Alarick—lengkap dengan pena yang tergeletak di atasnya.Masing-masing sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ya, Nerissa memuskan untuk pergi menemui Clara setelahnya."Sudah kau tandatangani?" Nerissa memecah keheningan di antara mereka.Alarick membasahi tenggorokannya. "Apa kau sudah memikirkan alasan yang akan kau sampaikan pada kedua orang tua kita?" tanya Alarick.Nerissa berdecak. "Jika yang kau takutkan kau tidak akan mendapatkan semua harta ayahmu, tenang saja. Seperti keinginanmu, kau akan mendapatkan semuanya tanpa kehilangan sepeser pun," jawab Nerissa.Niatnya dulu menikahi Nerissa memang karena sebuah warisan, tapi mendengar Nerissa berkata demikian mengapa rasanya ada yang mengganjal dalam hatin
Pernihakan Nerissa dan Alarick belum genap satu tahun. Bisa dikatakan pernikahan mereka masih seumur jagung. Namun, selama mereka menjadi bagian satu sama lain, Nerissa tak pernah merasakan kebahagiaan.Bukan hanya Nerissa, Alarick juga sama tersiksanya. Bagi Alarick, kebahagiaannya hanya Haleth.Tapi, meski Nerissa sama sekali tak merasakah bahagia, tak mendapatkan perlakuan sebagai seorang istri dan tak mendapatkan haknya dari seorang suami, Nerissa tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri.Melayani Alarick setelah pria itu pulang bekerja, berbenah rumah, dan juga memasak, itu sudah menjadi rutinitasnya selama menikah dengan Alarick.Nerissa memandang setiap sudut apartemen milik suaminya—takut suatu saat dia akan merindukannya. Meski dia selama ini hanya tidur di sofa saja.Letak apartemen Alarick yang strategis membuat pemandangan malam kota terlihat begitu memanjakan mata. Nerissa sengaja memindahkan sebuah meja bulat di sudut ruangan ke dekat jendela. Tak lupa,
Banyaknya hal yang Nerissa pikirkan membuat gadis itu sulit sekali terlelap. Sudah hampir tengah malam tapi matanya sangat segar. Dia sedari tadi hanya berguling-guling tak menentu di sofa.Suaminya juga belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Jadi, Nerissa merasa bosan. Meski keberadaan Alarick juga tak berpengaruh sebanyak itu, tapi setidaknya dia tahu suaminya ada di rumah."Ah kenapa sulit sekali tidur," ucapnya pelan.Dia memutuskan untuk bangun. Dengan ponsel dalam genggamannya, gadis itu pergi ke dapur hendak mengambil minum dengan harapan dia akan terlelap setelah minum beberapa teguk air.Namun, begitu dia kembali ke sofa, entah kenapa kepalanya terasa pening. Semuanya terasa berputar. Nerissa beberapa kali menggelengkan kepalanya, menutup dan kembali membuka matanya berharap rasa pusingnya menghilang. Namun, harapan hanya harapan. Nyatanya, bukannya membaik, rasa pusing itu kian menjadi.Beruntung, ponselnya ada dalam genggaman. Menelpon Alarick adalah pilihannya karena
Kondisi Nerissa semakin hari semakin memburuk. Setelah mengganti obatnya, tubuhnya lebih sering terasa lemas, darah dari hidungnya juga lebih sering menetes. Bukan salah obatnya ataupun Raquil yang tidak cakap. Tapi semua ini Nerissa penyebabnya. Deadline yang selalu mengejarnya membuat gadis itu sering kali melupakan obat yang menjadi penopang hidupnya.Hari ini tepat dua minggu setelah dia mendapatkan obat baru. Dan pertemuan dengan Raquil tadi adalah kali kedua bagi Nerissa.Temannya itu memarahi Nerissa karena gadis itu kerap melewatkan obatnya. Ditambah kesibukan Nerissa membuat fisiknya lebih lemah dari biasanya."Aku akan benar-benar mengurungmu di Rumah sakit jika kau berani melewatkan obatmu lagi," ancamnya.Raquil dan Nerissa berjalan beriringan di lorong Sakit yang tak begitu ramai. "Jangankan obat ini, nasi pun kadang aku lupa memakannya." Sambil mengangkat kotak obatnya, Nerissa masih bisa membantah.Raquil sangat geram dibuatnya. Kenapa temannya ini sangat sulit diberi
Dulu, Nerissa sangat mendambakan pernikahan. Dia membayangkan bagaimana bahagianya dia jika bisa menikah dengan pria yang dia sayangi dan keluar sepenuhnya dari keluarganya—yang dia pikir tidak menyayanginya sama sekali.Namun, semua bayangan tentang indahnya sebuah pernikahan itu pupus begitu saja setelah dia merasakannya sendiri. Mengerikan dan hampir membuatnya gila.Dengan mata sembab, gadis itu melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Beberes rumah, memasak, menyiapkan pakaian untuk Alarick, dia lakukan semua itu setelah apa yang suaminya lakukan malam tadi.Bekas merah di pipinya masih tercetak jelas. Sakitnya pun masih terasa olehnya, namun dia berpura-pura tidak pernah mengalaminya.Suara langkah yang sudah sangat dia kenali mulai mendekat. Namun, Nerissa memilih untuk melajutkan kegiatannya."Ner—""Makanlah. Aku pergi duluan, ada yang harus aku kerjakan." Tanpa menunggu Alarick menyelesaikan ucapannya, Nerissa pergi setelah membawa tas kerjanya.Sementara itu, Alarick hanya
“Apa yang ingin kau bicarakan?” Pertanyaan itu muncul begitu mereka sampai di ruang Dokter Lee.“Kau kenal dengan pasien yang baru saja aku tangani?” Raquil mengangguk menanggapi pertanyaan dokter muda itu.“Sebenarnya aku bukan orang yang suka membeberka
Nerissa tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.“Menurutmu, apakah aku bisa bertahan sampai akhir?” tanya Nerissa. Kedua gadis itu mulai mendudukan dirinya di sofa yang tersedia di sana.“Apa? Dengan suamimu?” tanya Lovetta memastikan.Nerissa mengan
Semesta seakan tak rela melihat kebahagiaan Nerissa. Baru saja beberapa hari lalu sikap Alarick sedikit menghangat padanya, kini pria itu terasa kembali berbeda.Sejak matahari muncul pagi ini, pria itu terus saja sibuk dengan ponselnya. Telepon yang masuk setiap satu jam sekali dan jangan
Setelah hari di mana Alarick membawa Nerissa ke rumah sakit, kini hati Nerissa benar-benar tak tenang. Dia takut Alarick akan mengetahui semuanya. Kalimat yang dia tulis dalam novelnya benar-benar hancur karena pikirannya yang bercabang. “Nerissa aku mau mandi.” Ucapan seseorang mem







