Share

13. Berkumpul Di Siau

Author: Rumi Cr
last update Last Updated: 2025-08-16 07:58:31

Amalia berdua rekannya memutuskan pergi ke Siau untuk merayakan hari Raya Idul Fitri. Dua hari menjelang lebaran mereka bersiap melakukan perjalanan menuju Siau. Karena otto beroperasi seminggu tiga kali, pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu.

Kebetulan lebaran jatuh pada hari Kamis, jadi memilih pergi pada H-2. Usai mengajar, ketiganya mempersiapkan diri untuk pergi ke pelabuhan Tagulandang kemudian melanjutkan perjalanan naik kapal menuju pelabuhan Siau. 

Sebelum menunggu otto yang melintas, mereka bertiga berpamitan kepada Mama Marta dan suaminya. Bahwa ketiganya akan berlibur di Siau.

Setali tiga uang teman-teman yang bertugas di pulau terpencil lainnya, juga memilih berkumpul ke Siau untuk merayakan hari Raya Idul Fitri. Mereka berkumpul di kontrakan peserta SM-3T yang bertugas di Siau. Ada sekitar empat belas rekan Amalia berkumpul di sana yang bertugas di pulau Biaro dan Siau.

"Lha ini bawa ayam bangkok hidup, mau disembelih di sini?" Gurau Amalia melihat Reza rekannya, yang bertugas di Pahepa membawa dua ekor ayam bangkok yang besar.

"Begitulah, setidaknya dengan makan kare ayam serasa lebaran di rumah, Bu Alia," balas Reza seraya menenteng kedua ayam di tangan kiri-kanannya.

"Aku mau bikin buras, ah. Besok kita ke pasar berburu daun pisang dan tali rafia ya, Bu Alia." Anik, gadis Bugis yang berdomisili di Samarinda mengacungkan tangannya.

"Siap. Nanti kita bikin opor ayam untuk nemani buras," jawab Amalia.

Sore itu, Ardin selaku tuan rumah. Penyewa base camp, mempersilakan tiga belas rekannya masuk. Teman ceweknya termasuk Amalia, dipersilakan membawa tas menuju kamar dimana dirinya berada.

Rumah itu sengaja disewa oleh Ardin, berempat dengan kawannya untuk mengerjakan laporan dan tugas akhir mereka. Kebetulan ketiga rekannya yang bertugas di Pareng memilih liburan ke Gorontalo. Sedangkan ia memilih tinggal untuk menyambut rekan seperjuangan di kabupaten Sitaro itu.

"Di rumah ini, kamar ada tiga. Kebetulan kamar mandinya ada dua. Satu di kamar utama, yang akan ditempati para ibu guru. Terus kamar depan, kita pakai buat salat saja. Baru kamar sebelahnya bisa dipakai untuk nyimpan baju bapak-bapak." Ardin memberi instruksi pada rekannya.

"Alhamdulillah bisa puas mandi hari ini." Yuni bersenandung seraya mengeluarkan perlengkapan mandinya. "Di tempat kami, harus hemat air."

"Bu Ardin tempat tugasnya bagaimana?" tanya Anik yang bersiap masuk kamar mandi sesudah Yuni, rekannya bertugas di pulau Pahepa.

"Sama saja. Kalau berbeda, enggak mungkin 'kan, kami memutuskan untuk ngontrak rumah singgah ini, untuk dua bulan. Kita butuh sinyal dan tanpa terkendala listrik untuk mengerjakan laporan," jawab Ardin duduk di tepi ranjang, menunggu semua teman-teman bersiap mandi, menghilangkan penat perjalanan.

"Enggak terasa ya, bulan depan sudah sayonara saja kita ini, dari tanah Sitaro," ujar Amalia memandang teman-temannya.

"Iya, benar. Setelah kita lewati, tahu-tahu di ujung masa bertugas juga. Mengingat awal tiba di tempat tugas. MasyaAllah perjuangan banget." Hadinda turut berkomentar seraya merapikan baju dalam tas ranselnya.

Selesai mandi para ibu guru muda itu berjamaah, menj@mak salat Dzuhur dan Ashar. Kemudian mereka melanjutkan aktivitas ke dapur menyiapkan menu berbuka hari ini.

🌹🌹🌹

Keesokan harinya sepulang belanja dari pasar, keenam cewek ini berkumpul di ruang tengah. Bercengkrama seraya membereskan belanjaan masing-masing.

"Kita mulai persiapan untuk membuat hidangan besok ini. Masak sesuai kemampuan masing-masing, ya ...." candaan Ardin mengeluarkan sayuran dari kantong belanjaannya.

"Tadi sebelum berangkat ke pasar. Pak Agus manggil Bu Alia, ada perlu apa, ya?" tanya Nura penasaran.

"Oh, itu ... Pak Agus ngasih uang untuk belanja dengan request menu masakannya," jawab Amalia tersenyum.

"Oh, begitu ...." Nura mengangguk-anggukan kepalanya.

"Sudah biasa itu, Bu Nura. Saya di sana. Udah kayak emak keluarga bahagia. Pak Agus bapaknya, Aldory anaknya, hehe ...."

"Pantesan belanjanya banyak sekali tadi. Begitu keluar pasar, dah disambut sama Pak Agus dan Reza. Untuk membawakan belanjaan." Anik turut berkomentar seraya membersihkan daun pisang dengan serbet. Rencananya buras akan dibuat nanti malam.

"Pak Agus narik para bapak untuk iuran juga. Makanya banyak banget bahan yang kita beli tadi. Syukur, Bu Hadinda mau bantuin belanja."

"Dan, kayak pesan di restoran saja itu para bapak request untuk menu lebaran. Mereka mau ikan bakar, cumi pedas manis, soto, opor,  sambal goreng kentang, cap jay. Terus minta gorengan ote-ote dan pisang." Hadinda berkata seraya menggelengkan kepalanya.

"Secara mereka berdelapan, kita berenam. Ngikut saja menunya, walaupun kita yang masak." Ardin berujar sembari memberikan beberapa wadah untuk tempat mengupas bawang merah, bawang putih dan kentang kepada Yuni dan Amalia.

🌹🌹🌹

Acara berbuka di penghujung Ramadan sangat ramai malam itu. Usai berbuka dan beberes semua bersiap jamaah sholat Isya secara bergantian. Setelahnya takbir dan berpesta kembang api di halaman base camp.

"Ayo teman-teman ... bantuin saya bungkusin buras, ya," pinta Anik begitu nasi aron santan sudah siap di panci tanggung yang dirasakannya barusan. 

Selain membeli bahan buras. Anik juga membeli panci baru untuk membuat buras malam itu. Totalitas memberikan persembahan masakan khas daerahnya.

Yuni, Nura dan Hadinda yang membantunya membungkus nasi dengan daun pisang. Anik yang mengikat 3-4 bungkus nasi menjadi satu dengan tali rafia.

Amalia ditemani Ardin di dapur mengoreng kentang dan bumbu untuk masak sayur dan lauk besok Subuh. Karena sunnahnya sebelum berangkat salat Idul Fitri, dianjurkan untuk makan terlebih dahulu.

"Pengalaman yang sangat berharga kita ikut program SM-3T ini. Jauh dari keluarga, meninggalkan kemewahan, dan kenyamanan. Jujur nih, ya ... sebesar ini. Baru kali ini merasakan tinggal di mess. Enggak ada listrik, sinyal sulit, air bersih terbatas." Yuni berkisah dengan senyum terukir di bibirnya.

"Hmm ... Iya, benar. Pengalaman yang sangat berharga sekali. Meski di awal tugas banyakan ngeluh dan berkeluh kesahnya." Sahut Gufron mencebik ke arah Yuni. Seakan mengejek wanitanya itu.

"Cie, cie ... langsung nyambung. Wkwkwk ...." Tawa dan tepukan tangan menyoraki mereka. Sudah menjadi rahasia umum. Antara keduanya terlibat cinta lokasi di lapangan.

.

.

Next ..

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AMALIA, Kesetiaanku Diragukan   75. Ending

    Saka memperhatikan gambar-gambar bayi di sekitar ruangan, juga ibu-ibu hamil yang tampak berlalu-lalang. Hal itu membuatnya penasaran hingga ia bertanya pada sang ayah yang memangkunya. “Papa, kenapa ada gambar adik bayi banyak? Ibu-ibu hamilnya juga?” “Karena ini namanya bagian obgyn, tempat khusus dokter memeriksa ibu-ibu hamil,” jawab Satria, lalu tersenyum ketika melihat anaknya mengerjapkan mata—jelas mulai tersadar. Kanaya kemudian meraih tangan Saka, menempelkan telapak hangat itu ke perutnya. “Tadinya Papa dan Mama mau memberi tahu pas ulang tahun Saka yang ke-7. Tapi Saka selama ini jadi anak baik, enggak banyak nangis walaupun Papa sering kerja lama, sudah begitu pintar belajarnya … jadi hadiahnya Mama dan Papa kasih lebih cepat.” Satria tersenyum, lalu menunduk untuk berbisik, “Ini hadiahnya hebat banget, lho.” Saka menyimak, kemudian memperhatikan tangannya yang menempel di perut sang ib

  • AMALIA, Kesetiaanku Diragukan   74. Jangan Menguji

    "Mama ngapain?” tanya Kanaya setelah mandi dan mendapati bundanya antusias di depan lemari, mengeluarkan setelan pakaian formal. “Fran keluarkan mobilnya kakek. Satria mau pakai dan katanya sudah izin untuk antar kamu periksa.” Kanaya mengerjap. “Serius? Kakek izinkan?” “Iya. Semalam dia minta izin waktu mereka nonton bareng. Mbak Heni jam sebelas masih bangun, lalu keluarkan almond panggang sama bikinin teh hangat ... paginya bersih, enggak ada sisa di bak cuci.” Bu Syaiba mendekat. “Satria juga sudah kasih resume e-jurnal ke Kakek. Lima lembar dan semuanya tulisan tangan. Lumayan bisa dibaca, enggak berantakan.” “Masak sih, Mas Satria bisa begitu?” Kanaya sulit percaya. Bu Syaiba terkekeh. “Ya, nyatanya dia bisa melakukan itu, Nay ... Suamimu, menantu lelaki satu-satunya Bunda, papanya Sangsaka.” Kanaya berusaha tidak terlalu tersenyum. Ini jelas kemajuan. “Terus Mama kenapa keluarkan baju formal?” “Kamu enggak mau tampil cantik lagi?” “Mau ... tapi jangan yang fo

  • AMALIA, Kesetiaanku Diragukan   73. Tidak Terlalu Buruk

    YAYA’S TEAM > GHEA “Gimana, ? Berhasil?” >DAFFA “Enggak ada foto pamer. Berarti gagal.” “Ckckckk, sudah diduga emang.” > GHEA “Siapa tahu lupa ngasih kabar karena keburu asyik ☺.” >DAFFA “Asyik dicuekin maksudnya? Wkwkwk!” >GHEA “Jangan jahat gitu! Kita, kan sudah janji bantuin Kaka.” >DAFFA “Ya kita bantu, tapi Yaya ini mentalnya belum sanggup. Enggak bisa strategi tarik-ulur, dia maunya langsung ikat-ikat merapat.” >GHEA “Ikat-ikat? Ih, bikin kangen. Udah lama kita enggak ☺.” >DAFFA “Yuk, Bby ☺.” “Cari kata aman dulu.” >DAFFA (Sticker acak) >Satria Mandala “KAMU MAU KU IKAT LEHERNYA BEGITU PULANG YA, FA!!!” >Satria Mandala “KAMPRET!!!” Satria mengirimkan lebih banyak emoji jari tengah ke chat pribadi Daffa, diikuti puluhan voice note makian yang tidak layak dengar. Daffa membalas satu menit kemudian. >DAFFA “Udah jelas gagal kamu ya. Ckckck.” Sialan! Satria memaki dalam hati, lalu beralih ke kontak Kanaya. Tadi ia menitipk

  • AMALIA, Kesetiaanku Diragukan   72. Kamar Tamu

    "Ya ampun, pulas banget itu,” sapa Bu Syaiba saat Satria turun dari mobil dengan menggendong Saka.Jam segini, memang jam tidur siangnya Saka. Ditambah efek rindu karena sepuluh hari terpisah, Saka bahkan tidak mau duduk sendiri, ia langsung memeluk erat bahu kemeja Satria. “Belum lima menit jalan udah tidur,” jelas Kanaya sambil keluar mobil. “Yang ini udah minta makan lagi.” Ia mengelus perutnya. Bu Syaiba tertawa kecil dan memeluk Satria. “Sehat, Satria?” “Iya, Ma.” “Ayo masuk. Mama baru selesai goreng Chicken Kiev.” Satria masuk dan menoleh ke ruang tamu yang sepi. “Kakek sama Fran enggak di rumah, Ma?” “Kakek terapi lanjutan ditemani Fran. Malam pulang," jawab Bu Syaiba. “Eh, Saka mau dicoba dibaringkan dulu?” tanya Bu Syaiba. “Dia pegangan Ma. Tidurnya,” jawab Kanaya. “Kalau dilepas, rewel.” “Satria belum makan, Nay.” Satria tersenyum. “Kanaya bisa suapin aku, Ma.” “Idih. Orang anaknya dipangku bisa. Tangannya ada dua, juga!” balas Kanaya, matanya melirik tajam

  • AMALIA, Kesetiaanku Diragukan   71. Trik

    “Semua baik-baik saja, Ma … aku pamit langsung tengok mereka,” ujar Satria memberi tahu. Bu Laras kembali memeluknya. “Apa pun yang terjadi, kamu masih punya Mama, Ya ....” “Iya,” jawab Satria sambil membalas pelukan itu beberapa detik. Ghea ikut-ikutan memeluk, membuat Satria tertawa ketika Daffa sudah benar-benar dekat. “Kamu mau ikut peluk juga, Fa?” tawarnya. “Aku normal, cukup peluk adik kamu aja. Sini, Bby,” kata Daffa sambil merentang tangan, dan Ghea benar-benar langsung berpindah memeluknya. “Pamer terus!” Ghea terkekeh, menggeleng sembari bernyanyi, “Jangan iri … jangan iri … jangan iri dengki.” Satria memaki dalam hati. Sialan! Namun ia memutuskan fokus. Waktunya tidak banyak karena ia harus segera ke rumah keluarga Santosa. “Ck! Cepetan, Fa! Mana kopernya?” “Ish, santai napa ... sebenarnya enak barengan kita naik pesawatnya, berangkat sore, kan syahdu. Siapa tahu, langsung bisa ajak Kanaya ke rumah kalian untuk bermalam," canda Daffa, meski ia tetap mendek

  • AMALIA, Kesetiaanku Diragukan   70. Konsultasi

    Kanaya menyipitkan mata karena foto terbaru yang dikirim suaminya lewat email. Ada Fran berdiri di belakang Kakeknya, keduanya tersenyum di samping tong pembakaran yang jelas dipenuhi abu. >satriamandala Selamat pagi dari kami. Gantian PAP dong. Kangen muka bangun tidurnya istriku :) “Dih,” sebut Kanaya. “Kenapa, Bu?” tanya Fran. Kakek Rahmat yang sedang mengaduk susu untuk Saka ikut melirik. “Papanya Saka kirim foto,” kata Kanaya sambil menunjukkan layar tablet. “Oh, masih pagi juga,” ucap Fran tersenyum. “‘PAP’ itu apa, Nak?” tanya Kakek Rahmat setelah membaca sekilas. “Post a picture, kirim foto,” jawab Fran sambil mencondongkan tubuh ke layar cucu majikannya. “Ciyeee… ‘kangen muka bangun tidur istriku’.” “Cheesy banget, kan?” ucap Kanaya sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status