Home / Rumah Tangga / AMBISI IBU MERTUA / Bab 108: Kemenangan.

Share

Bab 108: Kemenangan.

Author: Putrisyamsu
last update Last Updated: 2026-01-07 22:07:52

Bab 108: Kemenangan.

Pesta pernikahan yang seharusnya penuh gelak tawa itu kini menyisakan aroma amis darah dan debu aspal yang pekat. Meskipun musik rebana kembali terdengar sayup-sayup untuk mencairkan suasana, ketegangan masih menggantung di udara seperti kabut tipis. Pak Hardi duduk di kursi pelaminan, membiarkan Nadya membersihkan luka sayatan di lengannya dengan kapas dan alkohol.

​"Pelan-pelan, Mas," bisik Nadya, matanya masih sembab. "Untung pisaunya tidak kena urat nadi."

​Hardi hanya tersenyum tipis, meski pikirannya melayang pada pesan ancaman di ponselnya. Ia melirik ke arah gerbang, di mana Pak RT masih berdiri terpaku, dikelilingi oleh beberapa tokoh masyarakat. Namun, pandangan Hardi teralihkan oleh sosok wanita yang berjalan mendekat dengan langkah gontai dan kepala tertunduk dalam.

​Itu adalah Bu RT.

​Wanita yang biasanya tampil paling mentereng dengan perhiasan emas yang mencolok dan gaya bicara yang merendahkan itu, kini tampak sangat kerdil. Kebaya mahalnya terlih
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 111: Perang algoritma.

    ​Bab 111: Perang Algoritma​Matahari baru saja naik, tapi notifikasi di ponsel Pak Hardi sudah meledak. Suara denting pesan masuk terdengar bertubi-tubi seperti rentetan peluru. Hardi terbangun dengan dahi berkerut, meraih ponselnya di atas nakas. Begitu layar menyala, dadanya langsung sesak.​Ada ratusan sebutan (mention) di akun Instagram pribadinya. Di aplikasi TikTok, sebuah video dengan caption bombastis sedang memuncaki daftar FYP (For Your Page).​"TERBONGKAR! PENGUSAHA 'AGAMIS' SEROBOT TANAH WARGA UNTUK PROYEK ELIT!"​Video itu memperlihatkan potongan gambar Pak Hardi yang sedang berdiskusi keras dengan Pak RT (yang sudah dipotong bagian konteksnya), ditambah narasi suara AI yang terdengar sangat provokatif. Di kolom komentar, ribuan akun yang sebagian besar terlihat seperti akun bodong atau buzzer menghujatnya habis-habisan.​"Mas, jangan buka Facebook dulu," suara Nadya terdengar gemetar dari arah dapur. Ia datang membawa tabletnya. "Grup komunitas perumahan kita sedang 'dig

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 110: Awal kemenangan.

    ​Bab 110: Awal kemenangan. Matahari mulai meninggi di atas langit kompleks perumahan Harmoni Residence, namun udara dingin sisa hujan semalam masih terasa menggigit. Setelah keluarga besar membubarkan diri dari teras Bude Ijum untuk menjalankan peran masing-masing, Pak Hardi masih terdiam di kursi kayu itu. Di depannya, tas cokelat yang menjadi incaran Wijaya tergeletak. Sebuah benda kusam yang ternyata menyimpan sejarah besar—bukan hanya soal batas tanah, tapi soal kehormatan ayahnya.​"Mas, jangan terlalu banyak melamun," suara lembut Nadya memecah keheningan. Ia mengusap bahu Pak Hardi yang masih kaku. "Lenganmu harus diganti perbannya. Darahnya merembes lagi."Pak ​Hardi menoleh, tersenyum tipis. "Aku hanya sedang berpikir, Nad. Ayah dulu mempertaruhkan segalanya untuk menjaga makam keramat itu agar tidak digusur Wijaya. Sekarang, aku harus menjaga amanah ini untuk masa depan kita, dan juga warga di sini."​Di sisi lain kota, Bu Fatma tidak membuang waktu. Dengan setelan blazer f

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 109: Permainan dimulai.

    Bab 109: Permainan dimulai. Kota masih terlelap dalam pelukan fajar yang dingin, namun di sebuah Griya Tawang (penthouse) mewah di pusat kota, suasana justru mencekam. Pria itu, Wijaya, berdiri menghadap jendela kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota yang mulai memudar. Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi cairan amber digenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.​Wijaya bukanlah orang sembarangan. Ia adalah "pemain lama" di dunia properti yang dikenal dengan julukan Si Pemotong Kompas. Strateginya selalu sama: mencari lahan-lahan sengketa, membiayai salah satu pihak untuk memicu konflik horizontal, lalu masuk sebagai "penyelamat" dengan harga murah setelah warga kelelahan bertikai. Baginya, tanah bukan soal tempat tinggal, tapi soal angka-angka di atas kertas sertifikat.​"Gagal?" suara Wijaya berat dan dingin, memecah kesunyian ruangan.​"Maaf, Pak. Tedi tertangkap. Warga di sana ternyata jauh lebih militan dari yang kita perkirakan. Hardi... dia punya

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 108: Kemenangan.

    Bab 108: Kemenangan. Pesta pernikahan yang seharusnya penuh gelak tawa itu kini menyisakan aroma amis darah dan debu aspal yang pekat. Meskipun musik rebana kembali terdengar sayup-sayup untuk mencairkan suasana, ketegangan masih menggantung di udara seperti kabut tipis. Pak Hardi duduk di kursi pelaminan, membiarkan Nadya membersihkan luka sayatan di lengannya dengan kapas dan alkohol.​"Pelan-pelan, Mas," bisik Nadya, matanya masih sembab. "Untung pisaunya tidak kena urat nadi."​Hardi hanya tersenyum tipis, meski pikirannya melayang pada pesan ancaman di ponselnya. Ia melirik ke arah gerbang, di mana Pak RT masih berdiri terpaku, dikelilingi oleh beberapa tokoh masyarakat. Namun, pandangan Hardi teralihkan oleh sosok wanita yang berjalan mendekat dengan langkah gontai dan kepala tertunduk dalam.​Itu adalah Bu RT.​Wanita yang biasanya tampil paling mentereng dengan perhiasan emas yang mencolok dan gaya bicara yang merendahkan itu, kini tampak sangat kerdil. Kebaya mahalnya terlih

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 107: Pesta yang berdarah.

    Bab 107 Pesta yang berdarah. ​Pria berjaket kulit hitam itu tidak membuang waktu. Dengan gerakan yang sangat terlatih. Terlalu rapi untuk sekadar maling kelas teri. Ia menyambar tas kulit coklat milik asisten Pak Hardi yang diletakkan di bawah meja administrasi. Tas itu bukan sekadar berisi uang tunai, melainkan seluruh nyawa dari proyek perumahan "Harmoni Residence" yang sedang dalam sengketa, serta buku nikah yang tinta tanda tangannya bahkan belum kering benar.​"Berhenti!" teriak Bang Didin. Niatnya untuk menebus kesalahan pada Pak Hardi memicu adrenalinnya. Ia mencoba menjegal kaki pria misterius itu saat ia berlari menuju pagar samping.​Namun, pria itu tidak menghindar. Dengan gerakan bahu yang efisien, ia menghantam dada Bang Didin hingga pria itu terjungkal ke barisan kursi plastik. Pria misterius itu terus berlari menuju tanah di samping rumah Nadya yang menjadi proyek Pak Hardi. Di bawah pohon matoa tempat motor matic tanpa plat nomor sudah menunggu dalam keadaan mesin men

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 106: Pak RT jadi malu sendiri.

    Bab 106: Pak RT Jadi malu. Pria tua itu melangkah tertatih, namun setiap ketukan tongkatnya di aspal terdengar seperti detak jantung yang memburu. Warga terperangah. Pak RT, yang tadinya congkak, mendadak lemas hingga harus berpegangan pada bahu Pak Asep.​"Mbah... Mbah Jono?" bisik Bu Nur, hampir tidak percaya. "Bukannya Mbah sudah pindah ke Jawa dan kabarnya sudah meninggal?"​Mbah Jono, mantan juru ukur tanah paling senior di daerah itu, menghentikan langkahnya tepat di antara Pak Hardi dan Pak RT. Matanya yang rabun namun tajam menatap Pak RT dengan penuh kekecewaan.​Rahasia di Balik Patok Tanah​"Paijo," suara Mbah Jono bergetar menyebut nama asli Pak RT. "Sudah puluhan tahun kamu memelihara api di dalam kepalamu. Ayahmu dulu bukan kalah karena dicurangi, tapi karena dia memang sudah menjual tanah itu secara sah kepada ayah Pak Hardi untuk biaya pengobatan ibumu."​Suasana mendadak hening sesaat, sebelum kemudian riuh oleh bisik-bisik warga. Pak RT menggeleng keras, wajahnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status