Se connecterVanya berbalik dengan mata yang panas terbakar air mata. Di luar ruangan, ia melihat Evelyn berdiri bersandar di dinding dengan tangan bersedekap, senyum kemenangan terukir jelas di wajahnya.
"Selamat menikmati tugas administratifmu, Vanya," bisik Evelyn dengan nada puas saat Vanya melintas di depannya. Vanya sudah tidak punya kekuatan untuk membalas provokasi Evelyn. Bagaimanapun, kejadian hari ini memang mutlak karena kesalahannya. Ia sendiri yang memberi ruang untuk Evelyn agar menjadi orang terdekat dan kepercayaan Devan. Ia terus berjalan mengabaikan Evelyn dan meraih handphone di sakunya. Vanya membuka catatan proyek 'Bedah hati dr. Devan'. Ia menambah catatan : proyek Bedah Hati selesai dengan status GAGAL! ditutupnya catatan itu diringi dengan tetesan air mata yang sudah luruh sejak keluar dari ruangan Devan. *** Vanya duduk di meja perpustakaan rumah sakit yang sepi. Jarum jam menunjukkan pukul 03.30 pagi. Di hadapannya, tumpukan kertas folio baru terisi tiga puluh halaman. Jemarinya kaku, bergetar karena kelelahan. Sejak siang tadi, IGD tampak penuh dengan pasien. Devan yang memberi hukuman untuknya, memberi tugas IGD seluruhnya pada Vanya, membuat gadis itu kewalahan. Ditambah, sejak siang ia belum mengisi perutnya dengan makanan. IGD baru tenang sekitar pukul 9 malam. Vanya menahan lapar dan lelah nya, karena harus melanjutkan hukuman 100 lembar laporan yang diminta Devan sudah harus ada di atas mejanya pukul 7 pagi. Vanya mencoba berkonsentrasi agar bisa menebus kesalahannya. Tapi setiap kali ia mencoba menulis tentang hemodinamik atau ruptur arteri, bayangan cengkeraman tangan Adam dan tatapan kecewa Devan terus membuyarkan pikirannya. Tubuhnya telah mencapai batas. Kepalanya terasa berat, dan pandangannya mulai mengabur. Efek asam lambung yang naik akibat stres dan lupa makan sejak siang tadi membuat ulu hatinya berdenyut nyeri hebat, dan Vanya tetap melanjutkan tugasnya hingga jemarinya memerah dan terluka. *** Pagi harinya, pukul 06.55 WIB. Pintu ruangan Devan diketuk pelan. Vanya melangkah masuk dengan wajah sepucat kapas. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan. Rambut panjangnya terurai berantakan. Ia berjalan dengan tubuh gemetar mendekati meja Devan yang terasa sangat jauh. Vanya meletakkan setumpuk kertas di meja Devan, namun tumpukan itu belum mencapai 100 lembar. Devan melirik tumpukan kertas itu, lalu beralih menatap Vanya. Ia tidak menyentuh laporan itu, hanya melipat tangan di dada. "Mana sisanya?" tanya Devan, suaranya rendah namun menusuk. "Saya... saya hanya mampu menyelesaikan empat puluh halaman, Dok," jawab Vanya jujur. Suaranya serak dan terbatuk pelan. "Saya tidak mencari alasan, tapi kondisi fisik saya tidak memungkinkan untuk menyelesaikan seratus halaman dengan waktu semalam." Devan berdiri, berjalan perlahan mengitari mejanya hingga berdiri tepat di depan Vanya. "Saya memberikan tugas itu bukan sekadar hukuman, tapi untuk melihat sejauh mana determinasi kamu setelah melakukan kesalahan fatal. Dan kamu gagal lagi, Vanya." "Dok, tolong beri saya waktu sampai siang ini—" "Tidak ada waktu tambahan di dunia bedah!" Devan memotong dengan keras. "Pasien kemarin tidak punya 'waktu tambahan' saat arterinya pecah. Kegagalanmu menyelesaikan tugas ini membuktikan bahwa fokusmu memang sudah hancur. Kamu tahu dr. Bram sedang cuti. dr. Evelyn dan dr. Siska sedang membantuku di operasi kedua. Tapi dengan gampangnya kamu meninggalkan IGD tanpa penjagaan. Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Evelyn masuk dengan wajah cerah, membawa map yang tampak rapi. "Dokter Devan, ini laporan observasi pasien kecelakaan kemarin yang Anda minta saya lengkapi jika Vanya kesulitan," ujar Evelyn dengan nada manis yang dibuat-buat. Ia meletakkan laporannya tepat di atas tumpukan kertas Vanya yang belum selesai. "Aku sudah menyelesaikannya sampai analisis pasca operasi." Vanya menunduk, merasa harga dirinya benar-benar runtuh ke titik bawah. Ia merasa tidak punya tempat lagi di sini dan baru menyadari bahwa semua ucapan Siska memang benar, bahwa ia dan Devan sangat tidak sebanding. Berbeda dengan Evelyn yang cantik dan cerdas. Devan mengambil laporan Evelyn, namun matanya tetap tertuju pada Vanya yang tampak hampir pingsan. Ia melihat tubuh Vanya yang limbung. Rambut panjangnya yang berantakan menutupi wajahnya yang tertunduk dalam, tidak berani menatap Devan sedikit pun. "Evelyn, keluar. Saya belum selesai dengan dr. Vanya." Setelah Evelyn keluar dengan perasaan puas, Devan melemparkan tumpukan kertas empat puluh halaman milik Vanya ke tempat sampah di sudut ruangan. Suara jatuhnya kertas itu terdengar seperti vonis akhir bagi Vanya. Bahunya tersentak. Ia menarik nafas panjang untuk memberikan kekuatan pada tubuhnya yang sudah lemah karena tidak makan dan tidur. Vanya mencoba menahan airmata yang sudah siap untuk tumpah. Bibir pucatnya bergetar hebat. "Keluar dari ruangan saya," ucap Devan dingin. "Jangan kembali ke bangsal sebelum kamu bisa berdiri tegak tanpa gemetar seperti itu. Hari ini, kamu saya skors dari seluruh kegiatan klinis. Pulang dan bereskan kekacauan di kepalamu, atau jangan pernah kembali lagi sebagai residen saya. Dokter ceroboh seperti kamu tidak pantas ada di bedah umum." Hati dan tubuh Vanya bergetar hebat mendengar amarah Devan. Ia berbalik tanpa sepatah kata pun, berjalan gontai keluar ruangan. Namun baru beberapa langkah menuju pintu ruangan Devan, pandangannya menggelap. Tubuhnya limbung. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, ia merasakan sepasang tangan yang kuat menangkap bahunya agar tidak menghantam lantai. "Vanya!"Suara Devan yang biasanya tenang dan terkontrol kini pecah oleh kepanikan yang tak tertahankan. Ia menangkap tubuh mungil itu sebelum benar-benar membentur lantai marmer. Devan berlutut, menopang kepala Vanya dengan lengannya yang kokoh.
"Vanya, bangun!" Devan menepuk pipi Vanya pelan. Tidak ada respon. Napas gadis itu pendek dan dangkal, sementara suhu tubuhnya terasa sangat tinggi di bawah telapak tangan Devan. Di depan pintu ruangannya, Evelyn yang belum jauh melangkah, berbalik dan mematung melihat pemandangan itu. Wajahnya yang semula penuh kemenangan mendadak berubah masam saat melihat raut kecemasan yang begitu nyata di wajah Devan. Ekspresi yang belum pernah Devan tunjukkan pada siapa pun. "Dok, biar saya panggil perawat—" Evelyn mencoba mendekat. "Siapkan brankar! Cepat!" bentak Devan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah pucat Vanya. Tatapannya yang tajam kini dipenuhi kilat kemarahan pada dirinya sendiri. Devan mengangkat tubuh Vanya ke dalam dekapannya. Ia bisa merasakan betapa ringannya tubuh residennya itu, seolah-olah Vanya memang sudah lama mengabaikan dirinya sendiri demi mengejar standarnya yang terlalu tinggi. Saat mereka tiba di ruang perawatan darurat, Devan sendiri yang memasang monitor dan memeriksa refleks pupil Vanya. Ia melihat jemari dan telapak tangan Vanya yang lecet, mungkin karena tekanan saat ia memaksakan diri menulis 40 halaman semalaman. "Hipoglikemia dan dehidrasi berat," gumam Devan setelah memeriksa hasil laboratorium. Ia berdiri di samping tempat tidur Vanya, memandangi selang infus yang kini terpasang di tangan gadis itu. Pikiran Devan melayang pada tumpukan kertas yang tadi ia ambil lagi setelah membuangnya ke tempat sampah. Empat puluh halaman tulisan tangan dalam waktu kurang dari tujuh jam dengan kondisi fisik yang lelah. Devan menyadari bahwa ia mungkin sudah melangkah terlalu jauh. Ia memberi hukuman yang terlalu berat untuk gadis ini. Pintu ruang perawatan terbuka pelan. Siska masuk setelah ia baru saja tiba di Rumah Sakit dan mendengar kalau Vanya pingsan di ruangan Devan. "Dokter Devan," sapa Siska terkejut dengan keberadaan Devan di samping brankar Vanya. "Maaf kalau saya-" "Tidak apa-apa, saya hanya sedang mengecek hasil lab nya." Ujar Devan membaca ulang kertas hasil lab Vanya. "Kemarin saya sudah bilang, supaya Vanya istirahat dan makan dulu, tapi dia kekeh nggak mau pergi dari IGD lagi. Setelah tiba di Rumah Sakit, Vanya belum sempat makan karena dipaksa pergi oleh teman laki-lakinya." Siska berkata pelan sambil menatap prihatin wajah sahabatnya yang masih tertidur di brankar. Devan mengalihkan pandangannya dari kertas hasil lab, mendengar informasi dari Siska. "Belum makan dari siang?" tanya nya terkejut. "Iya, dok. kemarin dr. Vanya cerita, Laki-laki itu memaksa membawanya pergi dari Rumah Sakit karena ingin bicara berdua. Vanya sudah menolaknya tapi dia diseret paksa. Keluar di jam dinas... bukan keinginan Vanya. Tolong maafkan dr Vanya, dok. Dia sudah berusaha sampai tidak makan dan tidur semalaman." Devan mendengarkan ucapan Siska dengan penuh perhatian. Rahangnya mengeras. Ia merasa seperti seorang hakim yang baru saja menghukum orang yang tidak sepenuhnya bersalah. Ia melihatnya di kafetaria kemarin, saat ia diminta dr. Gunawan untuk menghampiri dan berkenalan dengan dokter tamu yang akan melakukan kolaborasi dengan bedah umum. Dokter tamu itu berdiri di hadapan Vanya menggenggam kedua tangannya, dan Vanya yang merasa tidak nyaman dengan situasi itu. "Siska, untuk tugas IGD saya alihkan ke kamu. Sekarang berjaga di IGD, biar saya yang menjaganya di sini," ujar Devan rendah."Baik, dok."
Setelah Siska keluar, Devan menarik kursi ke samping tempat tidur Vanya. Ia duduk di sana, dalam keheningan ruang perawatan yang hanya diisi bunyi bip monitor. Tangannya bergerak ragu, namun akhirnya ia meraih jemari Vanya yang terluka karena terlalu banyak menulis. Devan mengoleskan antiseptic dan menutupnya dengan plester. "Bodoh," bisik Devan pelan, suaranya parau. "Kenapa kamu tidak membela dirimu sendiri?" Keheningan di ruang perawatan itu pecah ketika pintu ganda terbuka dengan kasar. Sosok Adam muncul dengan napas terengah dan wajah yang dipenuhi kecemasan, namun berubah menjadi tegang saat melihat Devan duduk di samping tempat tidur Vanya sambil menyentuh jemari gadis itu."Apa yang kamu lakukan pada Vanya?" tanya Adam dengan suara meninggi, melangkah lebar mendekati tempat tidur. "Dokter Siska bilang dia pingsan di ruanganmu. Kamu menyiksanya dengan banyak tugas karena dia seorang residen kan?"Devan berdiri perlahan. Tubuhnya yang lebih tinggi dan tegap menciptakan bayangan mengancam saat ia berhadapan langsung dengan Adam. Tidak ada lagi sapaan formal antardokter. Di mata Devan, pria di hadapannya ini bukan lagi seorang spesialis jantung tamu, melainkan sumber kekacauan bagi residennya."Keluar, Dokter Adam. Pasien butuh istirahat," ucap Devan dengan suara rendah yang justru terdengar lebih mengancam daripada teriakan Adam."Pasien? Dia mantan kekasihku! Aku yang paling tahu kondisinya!" Adam mencoba meraih tangan Vanya yang bebas dari infus, namun Devan dengan cepat mencekal pergelangan tangan Adam di udara.Cengkeraman Devan begitu kuat hingga Adam meringis. "Lepas!""Jadi, ini tangan yang menyeretnya keluar dari rumah sakit kemarin?" desis De
Vanya berbalik dengan mata yang panas terbakar air mata. Di luar ruangan, ia melihat Evelyn berdiri bersandar di dinding dengan tangan bersedekap, senyum kemenangan terukir jelas di wajahnya. "Selamat menikmati tugas administratifmu, Vanya," bisik Evelyn dengan nada puas saat Vanya melintas di depannya. Vanya sudah tidak punya kekuatan untuk membalas provokasi Evelyn. Bagaimanapun, kejadian hari ini memang mutlak karena kesalahannya. Ia sendiri yang memberi ruang untuk Evelyn agar menjadi orang terdekat dan kepercayaan Devan. Ia terus berjalan mengabaikan Evelyn dan meraih handphone di sakunya. Vanya membuka catatan proyek 'Bedah hati dr. Devan'. Ia menambah catatan : proyek Bedah Hati selesai dengan status GAGAL! ditutupnya catatan itu diringi dengan tetesan air mata yang sudah luruh sejak keluar dari ruangan Devan. *** Vanya duduk di meja perpustakaan rumah sakit yang sepi. Jarum jam menunjukkan pukul 03.30 pagi. Di hadapannya, tumpukan kertas folio baru terisi tiga puluh hala
Vanya mempercepat langkahnya, berharap Adam tidak melihatnya berjalan menuju kafetaria. Namun, sepertinya sosok Vanya memang telah dinantikan. Dari sudut mata Adam, ia bisa melihat sosok Vanya melintas didepannya dengan tergesa. "Vanya, tunggu. Kita belum selesai bicara," panggil Adam mendekati. Vanya menghela nafas pendek dan menghentikan langkahnya. Adam kini sudah berada di hadapannya dengan wajah sendu menatap Vanya. Tatapan seseorang yang menahan rindu sekian lama. Vanya yang sepenuhnya telah melupakan sosok Adam dalam hatinya karena sudah ada penghuni lain yang masuk kesana, menatap sebaliknya, dengan perasaan jengkel dan merasa sangat terganggu. "Ada apa lagi, dok?saya harus segera kembali ke IGD." Tangan Adam bergerak hendak meraih tangan Vanya, namun gadis itu segera melipat kedua tangannya di dada. Membuatnya mengurungkan niatnya. "Tolong buka blokir handphonemu, ijinkan aku menghubungi dan memperbaiki hubungan kita. Aku serius. Aku tidak bisa melupakanmu, Vanya." Vany
Vanya mematung sejenak di depan pintu otomatis ruang bedah. Kalimat dingin Devan barusan seperti peringatan agar ia tidak tenggelam dalam kenangan masa lalu. Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan membayangkan sosok Adam perlahan memudar, digantikan oleh gambaran anatomi kantung empedu yang pernah ia pelajari dari tugas yang Devan berikan saat awal kedatangannya di Rumah Sakit ini. "Fokus, Vanya. Fokus," bisiknya pada diri sendiri. Ia segera melangkah masuk ke area scrub station. Menanggalkan jas putihnya dan mengenakan seragam bedah yang berwarna biru langit dan mengikat rambut panjangnya untuk mengenakan penutup kepala. Dengan gerakan yang sudah terlatih, ia melakukan prosedur cuci tangan bedah. Air mengalir dingin membasahi lengannya, seolah membasuh sisa-sisa sentuhan Adam di pergelangan tangannya tadi. Setelah mengenakan gaun operasi steril dan sarung tangan dengan bantuan perawat, Vanya melangkah masuk ke dalam ruang operasi yang dingin dan terang benderang.
Pintu ruangan Devan diketuk dua kali sebelum akhirnya terbuka perlahan. Sosok Evelyn muncul dengan senyum menawan yang menjadi ciri khasnya. Ia membawa dua cup kopi dari kafe di lobi rumah sakit. "Dokter Devan? Masih sibuk?" tanya Evelyn dengan nada suara yang lembut namun terdengar percaya diri. Ia melangkah masuk tanpa menunggu jawaban, lalu meletakkan salah satu cup kopi di atas meja kerja Devan, tepat di samping map biru milik Vanya. Devan menutup laci mejanya, menyembunyikan tumpukan notes Vanya dari pandangan Evelyn. "Terima kasih, Evelyn. Ada perlu apa?" "Hanya ingin mengantarkan ini. Dan... aku ingin meminta maaf soal di ruang operasi tadi. Aku perlu menyesuaikan diri karena perubahan bidang bedah yang aku ambil," ujar Evelyn menyandarkan pinggulnya di tepi meja Devan, merasa percaya diri bisa sedekat ini dengan sang dokter spesialis. Mata Devan beralih dari kopi ke wajah Evelyn. "Di ruang operasi, gangguan sekecil apa pun bisa berakibat fatal. Aku harap itu tidak
Vanya terduduk lemas di meja Nurse station IGD. Pikirannya melayang ke kamar operasi nomor tiga. Devan dan Evelyn sedang bersama saat ini, Devan pasti akan terkagum-kagum dengan kepintaran Evelyn di ruang operasi. Di masa koas setahun yang lalu, dokter spesialis jantung yang tampan, sempat mengisi ruang hati dan hidup Vanya. Hubungan mereka baik-baik saja, sampai kedatangan Evelyn setelah tiga bulan Vanya menjalani koas, membuat semua impian Vanya hancur berantakan. Kecerdasan dan kecantikan Evelyn mampu merebut hati Adam dari Vanya dan mereka menjalin hubungan di belakangnya. Vanya sempat stres dan merasa dikhianati teramat dalam, membuat gadis itu dirawat di Rumah Sakit karena dehidrasi berat dan asam lambung akut. Penyakit yang tiba-tiba singgah di tubuhnya karena Vanya memilih mengurung diri di kamar tanpa makan dan minum selama tiga hari lamanya demi melupakan bayangan Adam dalam hati dan pikirannya. Lalu kenapa sekarang Evelyn mendekati dr. devan? Pikir Vanya, Apa hubungan







