ホーム / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 120 TERHASUT

共有

BAB 120 TERHASUT

作者: Yoongina
last update 公開日: 2026-05-26 13:34:06

Kenan menarik napas panjang, membiarkan keheningan makam kembali menyelimuti mereka. Tatapannya tertuju pada barisan tulisan di atas nisan marmer, mengantar ingatan yang selama setahun ini terkunci rapat di kepalanya kembali berputar ke permukaan.

​"Mereka mencari kalung itu, Devan." Suara Kenan terdengar datar, namun sanggup membekukan seluruh isi dalam otak Devan. Pria berjas hitam itu kembali menatap lurus ke wajah Devan yang pucat pasi. "Kalung yang ada di tangan Vanya saat ini bukan sekeda
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Nopphy_lolipop
semoga heppy ending
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • ANESTESI RINDU   BAB 123 GUDANG TUA

    Devan memasuki halaman parkir stasiun. Matanya menatap fokus kedepan mencari sosok Vanya, lalu meraih ponselnya dan membuka pesan dari gadis itu yang belum sempat dibukanya selama perjalanan. Pesan baru tentang titik lokasi terkini yang Vanya kirimkan beberapa menit lalu, menunjukkan posisinya yang bergerak menjauh dari stasiun. Devan mengerutkan keningnya tak mengerti. "Kemana dia?kenapa tidak menunggu di stasiun?" gumam Devan kesal karena Vanya pergi meninggalkan area stasiun tanpa menunggunya. "Apa mungkin Nathan menghubungi Vanya dan memintanya untuk segera meninggalkan stasiun?" Tanpa pikir panjang, Devan segera menekan tombol panggil pada nomor Vanya, namun panggilan itu berakhir tanpa mendapat respon dari Vanya. Devan mencoba sekali lagi, namun Vanya tetap tidak mau menerima panggilannya. "Brengsek!" geram Devan memukul kemudi dengan keras. Ia lalu mencoba menghubungi Nathan, berharap mendapatkan informasi apakah benar sahabatnya itu yang telah meminta Vanya untuk per

  • ANESTESI RINDU   BAB 122 TARGET ADAM

    Begitu pintu kaca otomatis IGD bergeser menutup di belakangnya, Devan langsung melesat membelah koridor luar menuju area parkir khusus dokter. Ia menyentak ritsleting jaketnya ke atas sambil berjalan cepat, menyembunyikan kaos ketatnya yang tadi sempat membuat gaduh fokus para perawat. ​Langkah kakinya yang panjang terasa begitu ringan. Setidaknya, Nathan sudah berhasil ia kurung di dalam ruang operasi selama beberapa jam ke depan. ​Sambil melompat masuk ke balik kemudi sedan hitamnya, Devan menyalakan mesin. Raungan knalpot mobil itu menggema di area parkir saat ia memundurkan kendaraan dengan satu sentakan cepat, lalu melesat keluar dari gerbang rumah sakit. ​Ia segera menyalakan layar GPS di dasbor, menatap lekat-lekat satu titik merah yang dikirimkan oleh Vanya beberapa menit lalu. ​Stasiun Kereta Api. ​"Bodoh," umpat Devan pelan pada dirinya sendiri. Tangannya mencengkeram erat setir, memutar kemudi dengan lincah menyalip beberapa kendaraan di jalur cepat. "Kenapa aku

  • ANESTESI RINDU   BAB 121 KALAH LANGKAH

    "Char–lie?" Bukan nama itu yang Devan harapkan untuk mengetahui identitas pria yang keluar bersama Nathan dari lobi hotel. 'Kau yakin?" tanya Devan untuk memastikan. Namun, belum sempat Nathan menjawab, notifikasi dari ponsel Devan berbunyi. Satu pesan dari Vanya yang telah membuka blokirnya pada nomor laki-laki itu, menunjukkan titik lokasi keberadaannya saat ini. "Urusan kita belum selesai!" Ujar Devan hendak berlalu dari IGD. Namun, tangan Nathan menahan bahunya. "Kamu mau kemana? jangan bilang kalau mau jemput Vanya!" Geram Nathan. Mata Devan melirik tangan Nathan yang menahan bahunya lalu beralih menatap tajam wajah Nathan. "Kalaupun aku menjemputnya, apa urusannya denganmu? dia pacarku!" Nathan tertawa mengejek, "Pacar?" ulangnya masih dengan tawa yang meremehkan. "Vanya sudah bilang padaku kalau kalian sudah putus. Jadi, kita bersaing sekarang." Devan menepis kasar tangan Nathan dari bahunya, "Bersaing? kamu tahu dari dulu aku tidak suka persaingan." "Kenapa Devan

  • ANESTESI RINDU   BAB 120 TERHASUT

    Kenan menarik napas panjang, membiarkan keheningan makam kembali menyelimuti mereka. Tatapannya tertuju pada barisan tulisan di atas nisan marmer, mengantar ingatan yang selama setahun ini terkunci rapat di kepalanya kembali berputar ke permukaan.​"Mereka mencari kalung itu, Devan." Suara Kenan terdengar datar, namun sanggup membekukan seluruh isi dalam otak Devan. Pria berjas hitam itu kembali menatap lurus ke wajah Devan yang pucat pasi. "Kalung yang ada di tangan Vanya saat ini bukan sekedar perhiasan dan foto biasa. Di dalamnya, aku menyimpan mikro-SD berisi salinan dokumen asli serta bukti kelicikan Hani yang memaksa Papaku menandatangani pengalihan aset perusahaan keluarga kami secara ilegal."​Devan merasa dunianya runtuh seketika. Kepalan tangannya yang semula siap menghantam Kenan perlahan mengendur, tubuhnya bergetar hebat di sepanjang jemarinya. Otak cerdasnya yang biasa tenang saat menghadapi situasi darurat di meja operasi, kini mendadak buntu.​Ia sudah kalah langkah. T

  • ANESTESI RINDU   BAB 119 CERITA DI MAKAM ROSSA

    Devan membeku. Kata putus yang keluar dari mulut Vanya membuatnya tidak mampu mengeluarkan kalimat bantahan. Setelah beberapa menit berlalu, dengan suara bergetar menahan amarahnya, Devan mencoba bicara. "Jangan main-main dengan kata putus, Vanya." "Aku tidak main-main! lebih baik kamu pulang ke Jakarta dan selesaikan urusan masa lalumu." Ujar Vanya bangkit dari kursi. Dengan cepat Devan meraih pergelangan tangan Vanya menahannya agar tidak pergi. "Kamu serius?" Vanya tidak menjawab, ia hanya menarik tangannya dari genggaman Devan dan berlalu menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Devan menatap pilu punggung Vanya yang menghilang di balik anak tangga dengan isakan tangis yang menusuk hati Devan. *** Devan mencengkeram kemudi dengan erat, menembus jalur tol Cipularang yang siang itu terasa begitu panjang. Di sebelahnya, kursi penumpang tetap kosong. Vanya benar-benar membuktikan ucapannya, gadis itu menolak pulang bersamanya. Rasa lelah yang menumpuk di tubuhnya

  • ANESTESI RINDU   BAB 118 PUTUS

    Devan mengulurkan tangannya yang agak bergetar, membiarkan jemarinya menggantung beberapa senti di atas pipi Vanya. Ia ingin sekali mengusap sisa air mata yang mengering di sana, namun ia urungkan karena takut sentuhannya mengejutkan dan membangunkan tidur nyenyak gadis itu.​Keheningan kamar terasa mencekik bagi Devan. Di bawah pendar lampu tidur yang temaram, ia hanya bisa memandangi wajah wanita yang begitu ia cintai. “Mas Devan selalu mengundur jadwal fitting baju pengantin dengan alasan sibuk ini-itu... Pada akhirnya, semua ini selalu tentang Rossa!”​Untaian kalimat getir Vanya tadi pagi kembali terngiang, menorehkan rasa bersalah yang teramat dalam di dada Devan. Ia menghela napas panjang, menumpu sikunya di atas lutut dan menundukkan kepala dalam-dalam.​"Kamu salah Vanya, ini bukan tentang Rossa," bisik Devan teramat pelan pada kesunyian malam. "Ini tentang kamu. Tentang bagaimana caranya agar aku nggak kehilangan kamu."​Mendengar bisikan lirih itu, tubuh Vanya bergerak sed

  • ANESTESI RINDU   BAB 36 KETULUSAN YANG TIDAK BISA DIBELI

    "Maaf, kamu siapa, Nak?" suara lemah namun ramah itu keluar dari mulut Kemuning saat ia membuka pintu jati di depan rumahnya yang asri. ​"Saya Aurelia, Bu. Temannya Vanya," jawab Aurel dengan nada yang dijaga setenang mungkin. ​Kemuning sedikit terperanjat, matanya yang mulai sayu tampak berbinar

  • ANESTESI RINDU   BAB 34 HARI PERTUNANGAN

    Acara pertunangan itu digelar di ballroom hotel bintang lima milik keluarga Harrington, sebuah tempat yang tampak seperti istana kristal. Karangan bunga mawar putih setinggi dua meter berjejer di sepanjang koridor, namun bagi Devan, tempat itu terasa seperti ruang tunggu eksekusi mati. ​Devan berd

  • ANESTESI RINDU   BAB 32 PERATURAN KELUARGA

    "Pa! Devan itu sedang sakit. Kenapa malah dikurung di kamarnya!" teriak Aurelia yang tidak bisa menahan amarah saat menerima pesan dari Devan, memintanya untuk datang dan memberitahukan kondisinya saat ini. "Kamu tidak usah ikut campur, Aurel. Papa terpaksa melakukan itu karena adikmu selalu memb

  • ANESTESI RINDU   BAB 37 HILANG INGATAN

    Suasana di dalam ruang ICU bangsal nomor dua, Vanya masih belum sadarkan diri. Bram dengan setia mematuhi perintah Devan untuk terus memantau kondisi gadis itu. Ia melangkah pelan mendekati ranjang Vanya, suara langkahnya menggema di atas lantai ICU rumah sakit yang dingin. Di ruangan itu, hanya te

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status