Início / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 20 KEBERHASILAN YANG TAK DIAKUI

Compartilhar

BAB 20 KEBERHASILAN YANG TAK DIAKUI

Autor: Yoongina
last update Data de publicação: 2026-02-24 00:04:13

Aula besar di Marina Bay Sands itu riuh dengan bisik-bisik dalam berbagai bahasa. Para pakar bedah dan peneliti medis dari berbagai negara telah berkumpul, menciptakan suasana yang sangat menegangkan. Devan berdiri di sisi panggung, merapikan dasinya dengan jemarinya yang panjang. Pandangannya lurus ke arah Vanya yang sedang menyiapkan bahan presentasi untuk Devan di meja operator samping podium.

​Vanya tampak pucat, namun matanya memancarkan rasa percaya diri dibandingkan saat di restoran tad
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • ANESTESI RINDU   BAB 86 RAHASIA DELINE

    Suara tetesan cairan infus dan mesin pemantau tanda vital menjadi satu-satunya suara yang memecahkan kesunyian di ruang perawatan VIP nomor 103. Setelah melewati jam-jam kritis di ruang ICU pasca operasi tiga hari lalu, Tifani dan Jessi akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan. Meski kondisi mereka sudah stabil, sisa-sisa trauma kecelakaan masih terlihat jelas pada tubuh yang kini terbalut perban dan gips itu. ​Tifani, wanita berambut pendek sebahu, terbaring di bed sebelah kanan, dadanya masih dibalut kencang untuk menstabilkan flail chest yang dialaminya, sementara luka trauma abdomennya menuntutnya untuk tetap dalam posisi diam, tidak boleh banyak bergerak. Di ranjang kiri, Jessi tampak lebih terjaga meski wajahnya pucat pasi. Kaki kanannya yang mengalami fraktur femur terbuka kini terpasang sistem traksi skeletal. Sebuah pin logam tipis namun kuat telah menembus bagian bawah tulang paha Jessi melalui prosedur bedah, dan di ujung pin tersebut, terikat sebuah tali nilon yang te

  • ANESTESI RINDU   BAB 85 CEO MERLION CAPITAL

    "Bagaimana menurutmu? Putraku meminta agar Vanya sembuh total dan benar-benar bisa menerima statusnya sebagai putri kandungmu sebelum mereka melangsungkan pernikahan. Lagipula, masalah putri pertamaku dengan suaminya pun belum menemukan titik temu." ​Henry meletakkan cangkir porselen mewah itu di atas tatakannya dengan denting pelan yang terdengar elegan. ​"Aku setuju dengan Devan," ucap Henry sambil menyandarkan punggungnya pada sofa yang empuk. "Sampai saat ini pun, aku masih tidak tahu bagaimana caranya membuat putriku mau memelukku dan memanggilku Papa," lirihnya sedih, mengusap titik air mata yang merembes di sudut matanya. ​Frans bergeser mendekat. Tangannya terangkat, mengusap punggung Henry dengan gerakan perlahan guna menyalurkan kekuatan bagi calon besannya itu. "Aku pun merasakannya, Henry. Melihat Aurel menderita di tangan Farel saja sudah cukup membuatku merasa gagal sebagai ayah," sahut Frans dengan suara yang berat oleh rasa bersalah. "Kita terlalu sibuk memba

  • ANESTESI RINDU   BAB 84 SATU ATAP YANG SAMA

    "Papa tidak habis pikir, Farel bisa berbuat seburuk itu." Frans Alaric melepaskan kacamata bacanya di atas meja kerja. Menatap kedepan, melihat wajah Aurel yang sudah memucat dibawah lampu temaram ruang kerjanya di kediaman Alaric. Vida yang juga ada di sana, menatap Aurel dengan wajah tegang. "Apa sebelumnya kalian memang selalu bertengkar?" tanya Vida pada putrinya. Aurel hanya menggeleng tanpa berkata apapun. Dia lelah. Sangat lelah dengan semua hal yang menimpa hidupnya. Sejak awal ia tidak menyetujui untuk dijodohkan dengan Farel karena laki-laki itu mengatakan dia sudah memiliki kekasih. Tapi kedua keluarga seakan tidak perduli dan tetap menikahkan mereka. Hingga dua tahun pernikahan, Farel sama sekali tidak mau menyentuhnya. Lagi-lagi karena desakan keluarga, mereka akhirnya melakukan hubungan suami istri yang sepertinya juga dilakukan oleh Farel bersama kekasihnya yang ternyata adalah Evelyn. "Sekarang, perempuan itu hamil," desis Frans, suaranya memberat karena menahan a

  • ANESTESI RINDU   BAB 83 KENAN

    Suasana di dalam ruang operasi terasa sangat dingin, ketegangan yang menyelimuti membuat udara seakan membeku. Bunyi teratur dari mesin anestesi dan monitor jantung menjadi satu-satunya melodi yang menemani fokus Devan. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan baju bedah steril, tangannya yang terbungkus sarung tangan lateks kini tengah memegang skalpel. ​Di atas meja operasi, Deline, adik kandung mendiang Rossa, terbaring tak berdaya. Cedera kepala berat yang dialaminya menuntut Devan untuk melakukan kraniotomi darurat guna mengurangi tekanan intrakranial akibat perdarahan hebat di otaknya. ​"Bor," perintah Devan singkat. Suaranya rendah namun waspada. ​Vanya, yang bertindak sebagai asisten satu dalam operasi ini, menatap wajah Devan. Ia bisa melihat betapa kaku otot-otot bahu pria itu. Devan tidak sedang sekedar melakukan operasi pada pasien kecelakaan, ia sedang berperang melawan trauma masa lalunya sendiri. Setiap tetes darah Deline seolah menjadi pengingat kegagalannya menyelam

  • ANESTESI RINDU   BAB 82 PERTEMUAN TIDAK TERDUGA

    Devan melangkah maju dengan kemarahan yang terpeta di wajah tampannya, mengikis jarak di antara mereka hingga Vanya terdesak ke dinding ruangan. Vanya bisa merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh Devan, berbeda dengan dinginnya dinding beton di punggungnya. Mata Devan yang biasanya tenang dan menyejukkan, kini berkilat penuh amarah dan rasa sakit yang teramat dalam. ​"Mas, jangan seperti ini..." bisik Vanya, suaranya bergetar hebat saat tangan Devan terkunci di kedua sisi kepalanya, mengurungnya tanpa celah untuk melarikan diri. ​"Kenapa? Bukankah ini yang kamu pikirkan sejak tadi? Bahwa aku menikmati setiap detik bersamanya?" Devan menyeringai perih, wajahnya merunduk hingga napasnya yang memburu terasa di permukaan kulit Vanya. "Kamu tidak tahu rasanya harus menyentuh orang yang paling kamu benci hanya untuk memastikan orang yang paling kamu cintai tetap bernapas!" ​Tanpa peringatan, Devan mencengkeram dagu Vanya, memaksanya menatap langsung ke dalam badai di matanya. "Eve

  • ANESTESI RINDU   BAB 81 TERLALU BANYAK RAHASIA

    "Apa yang kamu lakukan di sini?!" Bentakan itu meledak dari mulut Aurel. Tubuhnya bergetar hebat menahan amarah. Melihat Evelyn berdiri di depan matanya, Aurel seolah dipaksa menyaksikan bagaimana tubuh ramping itu melayani suaminya di ranjang yang hangat. Rasa mual seketika menguap ke tenggorokannya. Aurel merasa kotor karena telah menyerahkan kesuciannya pada laki-laki brengsek seperti Farel, semua pengorbanan yang ia lakukan demi memenuhi tuntutan keluarga kini terasa sia-sia dan menjijikkan. "Kak, tidak apa-apa?" tanya Devan khawatir. Aurel menatap tajam Evelyn dengan nafas memburu. "Aku tidak tahan lagi berlama-lama di sini!" geramnya melangkah pergi. ​Evelyn sama sekali tidak menghiraukan kemurkaan Aurelia yang berlalu melewatinya begitu saja. Ia melangkah maju dengan angkuh, tatapannya terkunci rapat pada Devan. ​"Mas Devan, apa kita bisa bicara berdua?" tanyanya tanpa nada berdosa. ​"Tidak ada bicara berdua dengan calon menantuku!" Potong Henry yang berdiri di belak

  • ANESTESI RINDU   BAB 36 KETULUSAN YANG TIDAK BISA DIBELI

    "Maaf, kamu siapa, Nak?" suara lemah namun ramah itu keluar dari mulut Kemuning saat ia membuka pintu jati di depan rumahnya yang asri. ​"Saya Aurelia, Bu. Temannya Vanya," jawab Aurel dengan nada yang dijaga setenang mungkin. ​Kemuning sedikit terperanjat, matanya yang mulai sayu tampak berbinar

  • ANESTESI RINDU   BAB 34 HARI PERTUNANGAN

    Acara pertunangan itu digelar di ballroom hotel bintang lima milik keluarga Harrington, sebuah tempat yang tampak seperti istana kristal. Karangan bunga mawar putih setinggi dua meter berjejer di sepanjang koridor, namun bagi Devan, tempat itu terasa seperti ruang tunggu eksekusi mati. ​Devan berd

  • ANESTESI RINDU   BAB 32 PERATURAN KELUARGA

    "Pa! Devan itu sedang sakit. Kenapa malah dikurung di kamarnya!" teriak Aurelia yang tidak bisa menahan amarah saat menerima pesan dari Devan, memintanya untuk datang dan memberitahukan kondisinya saat ini. "Kamu tidak usah ikut campur, Aurel. Papa terpaksa melakukan itu karena adikmu selalu memb

  • ANESTESI RINDU   BAB 31 SYARAT UNTUK DEVAN

    "Devan!" suara pelan namun tegas itu keluar dari mulut Dr. Gunawan yang sudah menyeruak masuk ke dalam ruang ICU pagi ini. Devan yang terjaga di samping ranjang Vanya sepanjang malam, terkesiap dan mengerjapkan kedua matanya, mencoba menarik kesadaran dirinya yang belum sepenuhnya kembali. Kelel

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status